BAGIAN 30| KENAPA HARUS LEANO?

794 Words
Sekarang, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku dan Yuwen tiba di restoran Leano setelah malam menghabisi sinar matahari. Jalanan macet dan membuat kami tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali diam dan menunggu giliran agar mobil yang di kendarai Yuwen bisa melaju di tengah kemacetan yang melanda. Sekarang, kami berdua terdiam menatap kehancuran yang ada di restoran Leano. Kebetulan atau ini sudah direncanakan, beberapa pelayan Leano memang meminta izin untuk mengambil cuti hari ini. Sehingga Leano menutup restorannya lebih awal. Jika aku tidak bersikeras untuk masuk ke dalam, aku tidak akan tahu kekacaun di ruangan ini. Semua isi dapur dan juga meja-meja benar-benar dihancurkan. Tanganku gemetar, ketika melihat ada noda darah yang mengalir dari balik ruang penyimpanan. Aku membuka pintu itu dengan sedikit gemetar, dan hampir saja aku memuntahkan isi perutku ketika melihat tangan, kaki, serta usus yang keluar dari dalam pintu pembeku itu. Aku berdiri dengan kaku sembari menatap ke depan, topi khas yang berserak di depan itu, jelas ini itu adalah milik salah satu koki handal yang dimiliki oleh Leano. “Apa yang…!"huekk, Yuwen muntah begitu melihat potongan tubuh itu yang terserak di dalam ruangan penyimpanan. Darah yang terjebak di sana sampai membeku, bisa aku simpulkan jika kejadian ini sudah berjam-jam lalu, tepatnya saat kami melakukan pengejaran pada pembunuh di Gereja itu. Yuwen tidak akan tahan melihat kejadian seperti ini. Aku berjalan meninggalkan ruangan penyimpanan itu, beberapa detektif yang ikut melihat hal itu juga ada yang muntah. “Jangan berlama-lama di sana, Yuwen. Atau sarafmu akan kembali seperti tempo hari lalu. Sebaiknya bantu aku untuk mencari keberadaan Leano, aku mengkhawatirkannya!” Menuruti permintaanku, Yuwen mengikutiku memasuki lantai 2. Beberapa petugas sudah lebih dulu ada di sana, mereka hadir sesuai dengan panggilan yang aku sampaikan. “Sir…!” Seorang dari pengawas itu menunjukkan ke arah jendela kaca, aku mengamati jendela kaca itu dan melihat kaca yang retak. Aku melangkah mendekat, pecahan kaca yang tidak rata. Pelaku pasti melemparkan sesuatu yang keras,  ah, pelaku melemparkan meja ke sini. Aku melihat ada meja kecil yang terbuat dari kayu. Meja dengan desain Jepang ini adalah salah satu meja terkuat yang di koleksi oleh Leano. Aku melewati pecahan kaca di jendela, lalu menatap ke bawah. Jarak lantai dua dengan aspal memang tidak terlalu tinggi. Jika aku melompat sekarang, tanpa ada septi, masih bisa dikatakan selamat dan bahkan aku masih bisa berlari dengan cepat. Pembunuh melarikan diri dari sini setelah melakukan kekacauan. “Apa kalian menemukan bukti?” “Sir, ini, kami menemukan ponsel yang tertancap oleh pisau. Saya sudah mencoba untuk memeriksa ponselnya tadi, sayang sekali, benda ini sudah…” Aku mengambil ponsel itu, jelas ini adalah miliki Leano dan lekas memberikannya pada Yuwen yang terlihat sudah lebih baik. Dia menatapku dengan kening berkerut saat aku memberinya ponsel itu, “Periksa apakah masih bisa diperbaiki atau tidak.” “Tuan, tidak ada lagi tubuh lain yang ditemukan. Kecuali darah yang ada di anak tangga menuju atap. Hanya ada satu korban yang terlihat, dan itu adalah mayat yang ada di ruang penyimpanan. Tidak ada benda tajam yang ditemukan berdarah. Kabar buruk lainnya, tidak ada jejak tangan sama-sekali di tubuh korban.” Menarik nafas dalam, lalu berusaha untuk tenang. Leano jelas tidak bisa menerima panggilanku karena ponselnya benar-benar sudah tidak bisa lagi digunakan. Yuwen bahkan sudah menyerah dengan ponsel itu. Dengan badan lemas, aku terduduk di lantai sembari menatap ke arah jendela kaca dan berusaha untuk mendengarkan apa yang terjadi di tempat ini. Yuwen mengalihkan perhatian dari pada petugas itu saat melihatku yang tiba-tiba terduduk. “Tidak, lepaskan aku. Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan!” “Dasar tua bangka, seharusnya kau sadar sejak dulu jika lelaki itu berbahaya dan seharusnya kau memberitahukan pada kami dimana keberadaannya. Sekarang katakan, dimana kau menyembunyikan dia. Apa dia adalah pemuda yang aku temui di restoranmu sore ini?” “A—aku tidak tahu, dia adalah keponakanku. Dia—dia tidak…!” Jleb—sebuah pisau memasuki tubuh Leano, darah merembes dari perutnya. Seorang gadis dengan cadar menutupi wajahnya terlihat menaiki anak tangga dengan tubuh bersimbah darah. “Lelaki gendut di bawah itu terlalu cerewet, jadi aku memisahkan tubuhnya!” ucapnya, “Dia sudah tidak bernyawa!” “Tidak masalah, sekarang apa yang harus kita lakukan pada orang tua ini? Dia tidak ingin memberitahu dimana keberadaannya. Apa mungkin dia memang sengaja dan ingin menghianati Toby? Dia jelas tahu dimana lelaki itu!” “Bawa saja dia, kita bisa sedikit bermain dengannya nanti!” Mendengar semua percakapan itu, nafasku naik turun dan benar-benar tidak stabil. Darah kental dari hidungku mengalir. Yuwen menyodorkan sehelai kain, tapi kali ini aku menolak dan lekas berlari dari lantai 2. Aku bahkan meninggalkan Yuwen yang masih berada di rumah Lenao. Tanganku terkepal sepanjang perjalanan, sebenarnya apa yang mereka inginkan? Kenapa selalu melibatkan orang-orang terdekatku? Dan kenapa harus Leano?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD