Makanan Leano memang tidak pernah ada tandingannya, pagi ini gerimis turun dan seperti hari-hari biasanya—angin berhembus kencang dan membuat mantel tebal harus menutupi tubuh kami. Terlihat Yuwen sudah melupakan masalah kasus pembunuhan itu, Antony dan juga lelaki Scotland ini. Pagi ini aku mengajaknya makan di restoran Leano, setelah semalam niat ini tertunda.
“Aku mendengar kau sedang menangani kasus pembunuhan di Gereja itu. Sudah sejauh mana perkembangannya? Ah, bagaimana dengan orang yang aku katakan itu, maksudku dokter desa itu. Apa kalian sudah menemuinya untuk menanyakan keadaanmu, Emilio?”
Sembari menikmati roti buatan Leano, aku menatap lelaki paruh baya itu, “Kami memang menangani kasus Antony, tapi belum selesai. Pelakunya pintar dan hal itu membuatku sedikit kesulitan. Termasuk juga dengan kasus Fred yang tidak biasa, aku memutuskan untuk menghapus pasal kematian Fred, karena itu berada di luar jangkauan kami. Mengenai dokter yang kau katakan, mungkin aku dan Yuwen akan berkunjung ke sana pekan nanti, setelah jadwal tugasku sedikit longgar!”
“Kapan jadwal mu akan longgar, nak? Tidak akan pernah, dan kau akan terus menerima klien dengan permasalahan rumit mereka, kau juga tidak hanya menerima klien. Tapi berbagai detektif dari daerah terkenal juga meminta bantuanmu untuk memecahkan masalah mereka. Beberapa hari lalu, ada seorang lelaki muda yang makan di sini. Gayanya jelas bukan gaya asia, dia seperti blasteran. Aku tidak tahu apa yang dia tanyakan pada salah satu pengunjung, tapi aku mendengar dia menyebutkan namamu.”
“Siapa yang tidak akan mencari Emillio, Sir Leano. Kau tahu jika dia punya gagasan yang tidak pernah terprediksi dalam memecahkan masalah. Dan coba tebak, kenapa dia tidak punya waktu untuk mengobati dirinya sendiri!” Jelas Yuwen, “Dia bahkan tidak tidur nyenyak dalam waktu 2 hari ini!”
Kring…Bunyi lonceng itu mengalihkan perhatianku, ternyata itu seorang yang kukenal. Antony, aku pikir dia tidak akan tahu dimana aku berada saat ini. Wajahnya terlihat pucat, mantelnya basah—sepertinya dia tidak memakai mobil kemari. Bunyi lonceng kedua kali terdengar, tapi aku menghiraukannya.
“Apa yang membawa Anda kemari, Sir?” Yuwen bertanya lebih dulu, mulutnya masih sibuk untuk mengunyah “Apa Anda sudah menemukan si mata hijau itu?”
Gelengan dari kepala Anthony membuatku tahu jika dia pasti gagal, “Bagaimana dengan detektifmu itu, Anthony?” tanyaku, “Beruntung kamu masih bisa selamat darinya, jika tidak, aku harus mengeluarkan uang yang kau berikan untuk biaya turut berduka cita!”
Antony tertawa, mengambil gelas Wisky dan mengisinya sendiri. Sebelum meneguknya, dia mengangkat tangannya untuk bersulang.
“Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku, Emilio. Jika tidak, mungkin saja aku sudah menjadi debu sekarang. Kau memang sangat jeli dan tidak mudah untuk di tebak, terima kasih sekali lagi. Aku berhutang nyawa padamu!”
“Lalu, bagaimana dengan pengejaranmu? Aku sudah membantumu untuk memblokir beberapa peron kereta, aku rasa dia tidak akan bisa kabur semalam!” selan Yuwen, dia terlihat amat penasaran dengan apa yang terjadi pada si mata hijau itu. Tidak hanya dia sebenarnya, bahkan Leano juga penasaran dengan apa yang terjadi.
Sebelum sempat menjawab, Antony menatap ponselnya yang berbunyi sebanyak 3 kali. “Sial, aku harus segera menuju peron bawah tanah. Anak buahku melihat pergerakan darinya, apa kalian bisa membantuku? Aku akan…”
“Kami pergi dulu, Leano!” selaku, sebelum Antony usai menyelesaikan kalimatnya. Aku sudah lebih dulu mengambil mantel tebalku.
Bruk—“Maaf sir, sa—s…” aku berhenti berbicara, menatap sosok lelaki yang tidak sengaja aku tabrak di depan pintu restoran Leano. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tersenyum menyeringai padaku.
“Lio, cepat. Kita harus lekas pergi!”
Teriakan itu mengalihkan perhatianku, bersamaan dengan berlalunya lelaki tadi. Langkahku berhenti, menatap ke arah sosok itu yang berjalan mendekati Leano. Perasaanku tidak enak, firasatku berkata jika lelaki itu memiliki niat yang tidak baik pada Leano. Teriakan Antony kembali membuyarkan perhatianku, aku lekas memasuki mobil yang sudah siap. Begitu aku masuk, Yuwen lekas menginjak pedal gas dan menuju ke arah peron.
Di perjalanan, sesekali aku menatap ke arah belakang. Sepertinya memang sedang ada yang mengikuti kami. Begitu tiba di peron bawah tanah, Anthony lekas membagi timnya. Aku sendiri memimpin team menuju ke arah utara. Kami berlari memasuki ruang bawah tanah, kereta api berhenti sekitar 40 menit lalu, kemungkinan besar pembunuh itu sudah berlari cukup jauh.
“Lio, apa kau mendengar sesuatu?”
“Emilio!”
Perhatianku tertuju pada lorong di depan, kami sudah berlari beberapa kilometer dari peron. Aku tidak mendengar apa-apa, tapi aku bisa merasakan jika sosok itu bersembunyi di sana. Di lorong panjang itu. Aku berlari lebih dulu dan memasuki lorong itu, Yuwen dan tim yang aku pimpin mengikutiku dari belakang.
“Sir!”
Aku berhenti berlari, lalu menatap sosok di depanku yang mengangkat tangannya tiba-tiba. Dengan langkah mundur, sosok itu menatap ke arah kami. Dari belakang, aku melihat seorang lelaki dengan tubuh gendut, matanya berwarna hijau dan berkumis tipis. Dia adalah sosok yang sedang kami cari.
“Jika tidak ingin lelaki ini aku tembak, letakkan senjata kalian, BAJINGĂN!” teriaknya
Teriakan itu menandakan jika sosok itu sedang ketakutan. Aku terkekeh dan melangkah mendekat, “Arghhhh!” teriak sosok sandara itu saat lelaki itu menarik lehernya dan mengarahkan pistol ke arah lehernya.
“Ku bilang jangan mendekat, bedebáh!”
“Kau membunuh di gereja dan sengaja melakukannya, benar begitu?”
“DIAM, DIAM DAN JANGAN BERGERAK!”
Teriakan itu membuatku semakin bersemangat, pembunuh sudah ada di depan mata kami. Sesuai dengan pendengaranku barusan, dia memang berlari ke arah peron ini. Aku masih berdiri di tempatku, dari arah belakang ada pantulan cahaya. Aku mengerutkan kening, kenapa ada kereta yang masih bisa beroperasi?
Dor—tembakan itu terdengar bersamaan dengan sosok pembunuh itu yang melompat ke arah rel. Beberapa menit sebelum kereta itu membelah rel kereta. Aku menatap tubuh anak buah Antony yang tergeletak dengan bersimbah darah. “Sialan, kejar dia!” teriakku keras dan berlari menyusuri peron semakin dalam.
Bruak—dari arah belakang terdengar bunyi tabrakan yang kuat. Aku yakin kereta yang barusan lewat itu menabrak kereta lain yang diblokir oleh Yuwen. Aku terus berlari dengan cepat, menatap pemuda itu berada beberapa meter di hadapanku. Sialan, dia memiliki kekuatan yang tidak bisa aku temui. Aku berhenti mengejar, membidik kepalanya. Dor—dor, dua kali aku mengeluarkan peluruku. Sosok lelaki di depanku itu berhenti berlari. Terjatuh membentur bebatuan.
Anak buah Antony mengejar ke arah lelaki itu. Darah yang menetes di tanganku membuatku harus mengumpat, kenapa aku semakin sering mengeluarkan darah?
“Lio, kau…”
Menghiraukan Yuwen, aku berlari mendekati para polisi itu. Menatap tubuh tidak bernyawa itu yang terbaring di sana.
“Sir, panggilan dari pusat!”
Sebuah ponsel terulur di depanku, aku menatap Antony yang baru saja tiba dan mengangguk, “Misi selesai!” ujarku, setelah mendapat persetujuan dari pada Antony.
***
Peron penuh dengan pihak kepolisian, mereka tiba setelah kami berhasil menangkap pelaku. Beberapa petugas sudah membawa tubuh pembunuh itu, dia tidak mati. Tapi sekarat, aku sengaja untuk membuatnya tetap bertahan. Peluru yang aku gunakan tidak akan membunuhnya, tapi akan membuatnya sengsara selama dia masih bernafas.
“Sir! Sersan Gerald ingin berbicara dengan Anda, sir Anthony juga sudah ada di sana. Tinggal menunggu Anda saja!”
Seorang lelaki berumur 50-an, lebih tua dariku menghampiriku. Perhatianku tertuju pada Antony yang berbicara dengan seorang lelaki yang juga seumuran dengannya. Yuwen baru saja datang setelah mengambil beberapa gambar yang aku perintahkan padanya.
“Maaf, kami harus segera pergi.”
“Tapi sir…”
“Katakan pada Sir Gerald begitu, aku akan pergi dulu!”
Tanpa menunggu waktu banyak, aku dan Yuwen lekas keluar dari arah kerumunan itu. Dua kereta hancur karena tabrakan, beruntung tidak ada korban, Yuwen juga tidak akan di denda karena melakukan pemblokiran di stasiun kereta. Antony sudah mengatakan akan bertanggung jawab atas semuanya. Sekarang aku ingin kembali ke restoran Leano, perasaanku tidak enak sejak lelaki paruh baya itu tidak menjawab pesanku, bahkan tidak menjawab panggilanku. Tidak biasanya lelaki itu seperti ini.