1. Menikahlah Denganku
“Cepat ganti seragammu dengan gaun ini dan segera pergilah ke ruangan VIP nomor 401.”
Dalam kebingungannya Jiera tertegun, menatap Betty—manajer kelab malam tempat ia bekerja—yang dengan santai meminta dirinya untuk berganti pakaian.
“Berganti seragam?” tanya Jiera memastikan. “T-tapi untuk apa? Ehm … maksudku kenapa aku harus melakukannya?”
“Ck! Sudah jangan banyak tanya dan lakukan saja apa yang aku perintahkan. Waktumu tidak banyak, sepuluh menit lagi kau harus sudah siap.”
“Y-ya, t-tapi—”
“Ini perintah langsung dari atasan, Jiera! Lakukan saja kalau kau tidak mau kehilangan pekerjaanmu esok hari!”
Mendengar kalimat yang berisikan ‘kehilangan pekerjaan’ sontak saja membuat nyali Jiera menciut.
Tentu saja ia tidak mau dipecat. Zaman sekarang, mencari kerja itu susah, di mana lagi ia bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lumayan tinggi.
Dengan penuh keraguan, Jiera pasrah menerima kotak berisi gaun yang akan ia kenakan dan begitu terkejut saat mengetahui bentuknya yang sangat seksi.
Astaga!
Seragam kerjanya saat ini saja sudah terbilang sangat terbuka. Rok mini yang dipadukan dengan kemeja abu-abu ketat. Dan sekarang ia harus memakai gaun kurang bahan ini untuk bekerja?
Ya, Tuhan! Kenapa takdirku bisa seburuk ini?
Meski rasanya ingin menangis, Jiera tidak punya pilihan lain selain memakainya. Jiera harus bisa membuang rasa malu demi bisa tetap bertahan di dunia yang keras ini.
Ingat!
Sekarang ia bukan lagi seorang tuan putri kaya raya yang bisa bermanja-manja dengan gelimpangan harta dari sang ayah.
Sekarang, Jiera tidak lebih dari seorang pelayan yang harus menuruti apa yang diperintahkan oleh atasannya.
“Wow, ternyata kau cantik juga dengan pakaian seperti ini. Pantas mereka banyak yang menyukaimu,” ujar Betty yang tidak begitu dihiraukan Jiera.
Ia masih sibuk berusaha menutupi belahan dadanya sambil sesekali menarik gaun itu turun demi menyembunyikan kain di bagian privasinya yang hampir terlihat akibat potongan gaun yang terlalu pendek.
“Sekarang ayo ikut aku. Sudah ada pekerjaan yang menunggumu.”
Betty menggiring Jiera keluar dari loker karyawan menuju ruangan VIP 401 yang ada di lantai empat.
Sesekali Jiera dapat melihat adanya tatapan lapar dari beberapa pasang mata yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Membuat ia merasa semakin tidak nyaman.
“Nona Betty, sebenarnya pekerjaan apa yang harus aku lakukan dengan pakaian seperti ini? Setahuku, melayani para tamu VIP tidak memerlukan penampilan yang ….”
“Tamu kali ini berbeda. Dia adalah tamu spesial dan sudah menjadi keharusan untuk memberinya pelayanan terbaik,” jawab Betty.
“Ingat! Nanti lakukanlah pekerjaanmu dengan benar, jangan sampai membuat tamu spesial kita merasa tidak nyaman. Apa pun yang dia katakan, kau tidak boleh melawan. Mengerti?!”
Jiera tidak menjawab dan hanya mengangguk tipis. Mendadak degup jantungnya berdetak dengan cepat.
Jujur, ini pertama kalinya ia merasa segugup ini setelah melewati enam bulan lamanya bekerja di sini. Bahkan terasa lebih gugup dari hari pertamanya bekerja.
Ya, Tuhan! Apa pun yang terjadi, kumohon tolong lindungi aku.
Dalam hati Jiera menjerit, menyerukan nama Tuhan berulang kali. Makin intens ketika lift yang mereka tumpangi sudah sampai di lantai empat dan ruangan 401 sudah berada di depan mata.
“Ayo, cepatlah masuk dan ingat untuk melakukan semua pesanku tadi.”
Betty membuka pintu ruangan 401, dengan sedikit mendorong punggung terbuka Jiera, ia memaksa bawahannya untuk segera masuk lantas kembali menutup pintu dan tersenyum sinis.
Sementara Jiera yang sudah berada di dalam sana nampak mematung untuk beberapa saat. Berusaha menyesuaikan netranya dengan cahaya di ruangan yang memiliki suasana temaram.
Untuk beberapa saat Jiera tidak melihat siapa pun selain meja yang sudah ditata sedemikan rupa dengan berbotol-botol alkohol di atasnya. Hingga tanpa sengaja Jiera menangkap adanya sosok yang duduk di ujung sofa.
Kelopak matanya sedikit menyipit, dan beberapa detik kemudian sontak membola kala mengetahui siapa orang yang ada di sana.
“Tuan Brown!" pekik Jiera tanpa terkendali. Tubuhnya spontan bergetar, dan sinyal-sinyal bahaya seolah mulai merayapi seluruh ujung syarafnya.
Jiera mengenal pria itu, bahkan bisa dibilang sangat mengenalnya sebab pria itulah yang membuat hidup Jiera kesusahan seperti sekarang.
“Hai, Sayang." Sapaan Brown membuat Jiera bergidik ngeri.
Lelaki yang rambutnya sudah memutih itu tersenyum licik, memandang calon mangsanya dari atas sampai bawah dengan tatapan buas.
“Lama tidak bertemu, tidak kusangka kau semakin cantik saja.”
Jiera tidak menanggapi, ia justru terlihat semakin takut. “A-apa yang kau lakukan di sini? K-kenapa kau tiba-tiba—”
“Ck! Pertanyaan macam apa itu? Beginikah caramu memperlakukan seorang tamu VIP?” Brown lagi-lagi tertawa, lantas melambaikan tangan meminta Jiera duduk di sofa.
“Kemarilah! Bentuk kaki indahmu bisa rusak jika kau terus berdiri di situ.”
Jiera yang tidak punya pilihan terpaksa berjalan mendekat, duduk di sebelah Brown meski tetap memberi sedikit jarak.
“Bagaimana? Apa uang yang kuminta sudah kau siapkan?” tanya Brown seraya meraih gelas kosong di atas meja.
Jiera yang melihatnya, meski terpaksa tetap harus melayani sang tamu VIP dengan menuangkan sedikit red wine ke dalamnya.
“Perlu kuingatkan jika aku sudah terlalu memberimu banyak waktu, Jiera.”
“B-bukankah masih ada seminggu lagi? Kau berjanji akan memberiku waktu—”
“Oh! Ayolah, Sayang! Kenapa kau suka sekali mempersulit keadaan!? Cobalah berpikir sedikit realistis. 5 juta dollar? Kau pikir bisa melunasi hutang ayahmu hanya dengan bekerja di tempat ini?”
Sudut bibir Brown sekilas terangkat, puas melihat wanita bergaun hitam seksi itu mulai terpancing dengan kalimatnya.
“Bagaimana kalau kita permudah saja. Terima tawaranku,” jedanya seraya menatap belahan terbuka Jiera. “Maka semua hutangmu kuanggap lunas.”
Jiera terdiam untuk beberapa saat. Berusaha menenangkan diri dengan mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia harus tetap tenang, sebab menghadapi lintah darat kurang ajar ini dibutuhkan kesabaran ekstra.
“Maaf, Tuan! Tapi tawaranmu sama sekali tidak membuatku tertarik. Aku akan tetap melunasi hutang mendiang ayahku dengan caraku sendiri. Kau tenang saja, aku pasti akan—”
“Aish! Dasar sok jual mahal! Sudah miskin masih sombong!” Brown mendengus sinis, lantas melemparkan sebuah map ke arah pangkuan Jiera.
“Kalau begitu, maka terpaksa aku harus menyampaikan ini padamu.”
Dahi Jiera nampak terlipat samar, memandang penasaran map berwarna abu-abu itu.
“A-apa ini?”
“Perjanjian yang dulu telah dibuat dengan ayahmu,” jawab Brown. “Di sana tertulis kalau sampai dalam waktu lima tahun dia tidak bisa melunasinya, maka aku berhak memilikimu sebagai jaminan. Dan sekarang sudah waktunya aku mengambil hakku.”
“A-apa!”
Buru-buru Jiera langsung membukanya dan benar saja jika di dalam sana ada tanda tangan sang ayah serta kalimat yang berisikan nama dirinya sebagai jaminan.
Jiera terkejut.
Jujur, ia sama sekali tidak pernah mengetahui jika ayahnya telah membuat perjanjian seperti itu. Seingat Jiera, sebelum ayahnya meninggal, beliau hanya berpesan untuk tetap menjaga perusahaan yang telah dipertahankannya dengan susah payah.
Meskipun hal itu tidak bisa Jiera kabulkan sebab keadaan perusahaan memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Perusahaan sang ayah bangkrut dan sialnya Jiera bahkan harus melunasi hutang-hutangnya.
Astaga! Kenapa jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Wajah Jiera mendadak pias.
“T-tidak! Tidak mungkin! I-ini pasti bohong, kan? Ayahku tidak mungkin—”
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, sayang! Bahkan seekor hamster saja bisa tega memakan anaknya sendiri saat dia membutuhkan sumber protein. Apalagi manusia yang notabene haus akan berbagai hal.”
Brown nampak begitu puas. Bahkan gejolak batinnya seakan sudah tidak sabar untuk mendengar desahan Jiera di bawah tubuhnya.
“Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu hal ini, mengingat kau begitu mengagumi sosok ayahmu. Tapi karena kau begitu keras kepala, sudah sepantasnya dirimu tahu bahwa tubuh ini sebenarnya adalah milikku.”
Dengan tatapan buasnya Brown mulai mendekati Jiera. Mencoba mencari peruntungan dengan meraba tangan lentiknya. Tentu saja hal itu langsung ditepis oleh Jiera.
“Cih! Masih sok jual mahal kau rupanya!” Brown lagi-lagi mendengus. “Apa perlu aku perjelas kalau nyawamu juga ada di tanganku?!”
Kembali mencoba meraba, kali ini lebih berani dengan mendaratkan telapak tangannya ke paha Jiera. Namun spontan Jiera langsung melayangkan tamparannya ke arah Brown.
Plak!
“Singkirkan tangan kotormu itu, sialan! Berani-beraninya kau menyentuhku seperti itu!”
Jiera mendesis, menatap nanar Brown yang justru terkekeh sembari memegang pipinya. Pribadi yang sudah menapaki umur 70an itu mendecih tipis sebelum kemudian ia balik menampar Jiera hingga tersungkur di atas sofa.
Plak!
“Dasar wanita kurang ajar! Berani-beraninya kau melayangkan tangan kotormu di wajahku. Oke! Baiklah! Jika cara halus memang tidak bisa meruntuhkan ego sialanmu itu, mari kita lakukan dengan cara kasar saja.”
Tidak ada kesempatan bagi Jiera untuk berlari, sebab pergerakan Brown sudah lebih dulu menindih tubuhnya dan mencoba mencuri ciumannya. Tangan Brown pun tidak kalah diam ketika Jiera merasakan remasan kuat di area dadanya.
“L-lepas! Lepaskan aku!”
Jiera memekik sejadinya, meronta dengan memukul-mukul tubuh pria yang mencoba melecehkannya. Air matanya spontan mengalir, merasa jika mungkin saja takdir buruk akan menunggunya sebentar lagi.
Namun, entah mendapatkan kekuatan dari mana, tiba-tiba saja Jiera bisa mendorong tubuh tambun itu hingga ia mampu melepaskan diri.
Lantas, tanpa pikir panjang Jiera segera berlari ke arah pintu dan keluar dari sana.
“Dasar jalang rendahan! Pengawal! Cepat kejar wanita sialan itu. Bawa dia ke hadapanku bagaimanapun caranya.”
Mendengar teriakan marah tuannya, para pengawal tuan Brown segera berlari mengejar Jiera.
Hal hasil, terjadilah kejar-kejaran antara Jiera dan juga para pria berbadan besar itu. Jiera nampak begitu panik, bahkan saking paniknya ia sampai menabrak beberapa pengunjung yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
“Sial! Kalau jalan lihat-lihat!”
“M-maaf, maafkan aku!”
Sesekali Jiera sempat meminta maaf, namun tidak jarang ia mengabaikannya dan terus berlari tidak tentu arah.
Dari lantai empat, wanita itu pergi ke tangga darurat menuju lantai lima. Berharap di sana ia bisa bersembunyi.
“Hei, wanita sialan! Mau lari ke mana kau, hah!”
Teriakan dari arah belakang membuat tubuh Jiera semakin bergetar. Dalam keputusasaannya ia terus berlari meski kadang terjatuh berkali-kali.
Sungguh!
Saat ini Jiera sama sekali tidak peduli dengan lututnya yang lecet serta sepatu hak tingginya yang terlepas begitu saja. Kaki Jiera terus menapak satu persatu anak tangga yang membawanya ke lantai lima.
“Sial! Kenapa terkunci semuanya!”
Jiera mengerang frustasi, sebab semua pintu ruangan yang ada di lantai itu seakan tidak bisa berkompromi. Satu persatu coba dibuka, namun semuanya terkunci.
Sampai ia menemukan satu pintu yang bisa terbuka. Pintu itu mengarah ke arah rooftop. Tanpa pikir panjang Jiera mendorongnya sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Aw!”
Jiera tersungkur, tepat ketika pintu rooftop itu tertutup rapat. Tubuhnya meringkuk kesakitan, mendarat cantik pada lantai rooftop yang telah dipenuhi dengan butiran salju tipis.
Sejenak pribadi berambut panjang itu menyempatkan diri untuk menarik nafas, mencoba menetralkan degup jantung dan juga memberi asupan oksigen ke dalam paru-parunya. Tapi tidak berselang lama, nafas Jiera kembali tercekat kala menyadari ada seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.
Astaga! Apalagi sekarang?!
Tubuh Jiera semakin gemetaran, takut jika sosok yang ada di hadapannya kini adalah orang jahat. Namun, karena penasaran Jiera memberanikan diri mendongak, dan raut wajahnya langsung berubah kala melihat siapa sosok lelaki yang memandangnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Kenric Matsui?
Laki-laki dengan tinggi menjulang itu tidak bergeming, ia hanya terdiam memandang Jiera dan tidak ada niatan untuk bertanya apalagi membantu.
Mata monolid yang pribadi itu miliki bahkan tidak menunjukkan rasa iba. Berpikir mungkin saja wanita itu hanyalah salah satu jalang yang ingin menggodanya.
Sangat berbanding terbalik dengan apa yang kini ada di pikiran Jiera.
Mengetahui jika sosok itu adalah Kenric Matsui, gerigi dalam otaknya mulai bekerja, menelurkan satu ide gila yang mungkin akan menjadi solusi terakhir untuk dia bisa menyelamatkan hidupnya.
Baiklah, Jiera! Mari kita pertaruhkan sisa nyawamu. Merana bersama pak tua itu atau mati di tangan pria tampan super kaya ini.
Mata bermanik cokelat terang itu mengerjap untuk beberapa saat, sebelum bibirnya bergerak dan berkata,
“T-tuan, kumohon menikahlah denganku.”