Begitu pintu mobil ditutup, dunia kantor langsung terasa berbeda untuk Nadira. Cahaya lampu basement, derap langkah pegawai, dan suara lift yang terbuka—semua hal yang biasanya terasa biasa saja, sekarang justru membuat dadanya sesak pelan. Mungkin karena ia mulai tahu… bahwa ini bisa jadi hari-hari terakhirnya bekerja di tempat ini. Alven menggenggam tangan Nadira sebentar sebelum mereka berpisah menuju lift yang berbeda. “Kalau ada apa-apa, kamu chat aku,” katanya perlahan, seolah itu perintah penting. Nadira tersenyum. “Aku kerja, Mas… bukan pergi perang.” Alven mendekat dan membetulkan sisi kerah blazer Nadira, suara rendahnya nyaris berbisik, “Aku tetap waspada.” Nadira hanya bisa geleng-geleng sebelum masuk lift. Pintu tertutup, dan wajah Alven menghilang. *** Begitu Nadira sa

