Bagian 43

1164 Words

Perjalanan pulang kerja terasa lebih senyap dari biasanya. Nadira duduk di samping Alven, memegang tasnya di pangkuan, sementara lelaki itu menyetir dengan satu tangan, sesekali melirik istrinya. Bukan lirikan genit. Tapi lirikan memeriksa keadaan. Seolah memastikan Nadira belum runtuh setelah hari yang panjang. Belum sempat Nadira membuka mulut, ponsel Alven berbunyi. Nama “Mama” muncul di layar dashboard mobil. Alven menekan tombol panggilan. “Halo, Ma?” Suara lembut tapi cemas terdengar. “Ven, Papah sudah boleh pulang hari ini. Sudah di rumah sekarang. Kamu sama Nadira bisa datang?” Alven menatap sekilas ke arah istrinya sebelum menjawab, “Bisa, Ma. Kami langsung ke sana.” Ada jeda kecil. “Alvin juga sudah di rumah. Dia masih mengurus laporan kasusnya… soal kejadian itu.” Nad

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD