Begitu pintu rumah orang tua Alven tertutup, udara malam terasa sedikit lebih sejuk. Nadira melirik suaminya yang berjalan di sampingnya, tangan Alven masih menggenggam tangannya seolah otomatis, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dia hentikan. “Hati-hati, langkahmu pelan banget, Ra,” gumam Alven sambil membuka pintu mobil. Nadira masuk, duduk, dan menunggu Alven mengitari kap mobil. Rumah besar tadi masih terbayang—begitu hangat, begitu rapi, dan begitu… keluarga. Ibunya Alven terlihat membaik, Papahnya bisa tersenyum meski masih harus istirahat total. Alvin juga masih sibuk telepon sana sini mengurus berkas kasus ayah mereka. Dan Nadira merasa… diterima. Walau ia hanya menantu baru yang pernikahannya pun bukan lahir dari cinta, tapi malam itu terasa berbeda. Lebih lu

