MALAM DI MANSION — ALVEN & NADIRA Begitu mobil memasuki pekarangan mansion, lampu-lampu taman yang temaram memantulkan bayangan lembut ke kaca jendela. Nadira bersandar pelan di kursinya, memandangi hamparan bangunan besar itu—rumah yang selama berhari-hari ia tempati, tapi tetap terasa seperti dunia baru yang sedang ia pelajari pelan-pelan. “Mas duluan mandi,” ujar Alven begitu pintu mobil ditutup oleh petugas keamanan. “Silakan, Mas,” jawab Nadira sambil tersenyum tipis. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Wangi khas rumah megah—campuran kayu mahal dan diffuser vanilla—langsung menyapa. Alven sempat menepuk pelan puncak kepala Nadira sebelum naik ke lantai dua. “Jangan lama-lama masaknya. Aku lapar.” “Mas ini… nyuruh atau manja?” Nadira mencibir sambil melepas sepatu. “Dua-duan

