Pagi menyingkap tirainya perlahan ketika sinar matahari pertama masuk lewat celah gorden kamar Nadira. Ia membuka mata dengan tubuh terasa sedikit lebih segar, meski lelah semalam masih menggantung di pundaknya. Aroma sabun dan wangi maskulin samar-samar masih terasa dari kamar mandi sebelah—tanda Alven sudah bangun duluan. Nadira menarik napas panjang. “Hari ini… aku harus lakukan itu,” gumamnya pelan. Resign. Kata yang sudah menari-nari di kepalanya seminggu lebih. Ia tidak mau bekerja di perusahaan yang sama dengan Minthea, tidak mau lagi terlibat dalam drama yang menggerus batinnya setiap hari. Setelah merapikan tempat tidur, Nadira turun ke bawah. Di meja makan, Alven sudah duduk sambil membaca sesuatu di tablet kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan sediki

