Bagian 47

908 Words

Suasana lantai divisi sore itu sudah mulai sepi. Beberapa pegawai pulang lebih cepat, sebagian lain masih sibuk menyelesaikan laporan. Nadira sendiri duduk diam di depan mejanya, menatap kosong map cokelat itu—surat resign yang rencananya akan ia serahkan besok. Ia belum bisa fokus. Dadanya masih terasa rapuh setelah percakapannya dengan Alven di lorong. Ia bahkan belum bisa memutuskan apa ia harus marah… atau justru sedih. Saat itulah suara langkah sepatu hak tinggi terdengar di belakangnya. Berhenti tepat di samping meja Nadira. Aroma parfumnya terlalu kuat. Terlalu mahal. Terlalu agresif. Nadira tahu sebelum menoleh pun siapa itu. Minthea. “Sendirian?” tanya Minthea manis, tetapi nadanya seperti pisau yang diselipkan bunga mawar. Nadira menghela napas perlahan. “Ada perlu apa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD