London, Inggris.
Restoran itu ramai dikunjungi pada malam musim semi, dengan gemerlap lampu jalanan dan dari gedung-gedung di kota London. Suara bincang-bincang dan juga musik menjadi latar di restoran yang ada di salah satu jalanan kota London. Dari dinding kaca restoran terlihat pemandangan orang-orang yang berjalan-jalan di trotoar, mobil-mobil yang melintas, bus-bus bertingkat dan para pasangan yang bersenda gurau.
Di salah satu meja dekat dinding kaca, ada satu pasangan yang berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut pirang yang tergerai indah dan berkilauan di bawah cahaya lampu restoran. Kulitnya kekuningan, dengan bibir kecil dan tipis. Mata bulat dan berwarna biru safir yang kelam dan cemerlang seakan semua terefleksi di bola mata indahnya.
“Jadi, kalian ingin memiliki pesta yang mewah dan bertema timur tengah? Bisa diatur, aku akan membantu kalian mempersiapkan semuanya. Apa kalian sudah memilih gaun?” tanya wanita itu pada pasangan di depannya.
“Kami belum menentukan gaunnya, mungkin Miss Deidra yang akan membantu kami memilihnya?” tanya wanita berambut hitam dengan wajah campuran timur tengah.
Dia tersenyum sambil mengangguk dengan sopan. Keana Deidra, seorang wedding planner yang cukup dikenal di London dan jasanya selalu disewa oleh para pasangan yang akan menikah. Ia pandai dalam mengatur pesta pernikahan dan segala persiapannya, ia pandai mencari lokasi dan gaun yang indah untuk kliennya. Bekerjasama dengan banyak wedding organizer juga para desainer.
“Aku akan mengatur untuk pemilihan gaun pengantinnya, kebetulan aku memiliki teman seorang desainer yang cukup terkenal di London,” kata Keana lagi.
“Terima kasih, Miss Deidra. Kami akan menghubungi Anda jika ada waktu luang untuk fitting gaun pengantinnya,” kata sang klien.
Mereka sama-sama bangun dan menjabat tangan. Setelah dua orang itu berlalu meninggalkannya, Keana hanya sendiri. Duduk kembali dan menyeruput avocado juice-nya dengan wajah muram bercampur kesal. Seakan semua hal berputar di benaknya.
“Mengatur dan merencanakan pernikahan orang lain memang pekerjaanku, tapi aku memang belum berpikir untuk menikah. Apa yang harus aku lakukan?” keluhnya dengan wajah memberengut kesal sambil menumpukkan kepala di meja.
“Heh, jangan murung terus. Ayo pulang.” Sebuah suara muncul dari atasnya.
Dengan enggan Keana mendongak dan mendengkus sebal begitu melihat seorang pria tinggi dengan kulit putih dan memiliki senyuman memikat. Pria itu sedang tersenyum padanya dengan menggoda sambil mengulurkan tangan.
“Ayo pulang, kau kan calon istriku,” katanya lagi.
Dengan sebal Keana menginjak kaki yang dilapisi sepatu kulit itu menggunakan ujung heels-nya, hingga pria itu meringis dan nyaris berteriak dengan wajah merah. Keana bangun dan meraih tangan pria itu, lalu menyeretnya keluar dari restoran setelah mengambil tasnya. Pemandangan Keana yang menyeret seorang pria sambil marah-marah membuat perhatian para pengunjung restoran terarah padanya.
“Robin, kau mau aku tancapkan hak sepatuku di mulutmu ya?” gerutu Keana dengan galak.
Setelah tiba di luar ia melepaskan tangan Robin dan menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya sedikit muram dan nampak tak senang. Robin yang berdiri di sampingnya hanya menepuk bahunya dengan pelan sambil menggeleng dengan prihatin.
“Jangan dibuat pusing, Ke.”
Sambil menenteng tas tangannya, Keana berjalan di trotoar diikuti oleh Robin. Mereka berjalan berdampingan dalam hening, berpapasan dengan pejalan kaki lainnya di malam musim semi yang membawa angin sejuk dan menguarkan wangi bebungaan.
“Apa yang orang tua kita pikirkan? Mereka itu kolot sekali, kenapa harus menjodohkan kita berdua?” gerutu Keana lagi sambil meremas-remas tasnya dengan kesal.
Robin tersenyum jahil sambil merangkul bahu Keana. “Heh, memangnya kau tidak mau punya suami tampan sepertiku?”
Keana menoleh dan memicingkan matanya dengan galak, dan seakan siap mencabik-cabik Robin detik itu juga, membuat Robin menarik tangan dari bahunya. “Lebih baik aku tidak menikah seumur hidup daripada harus menikah denganmu,” katanya dengan sinis.
Robin menampakan raut sedih dan murung, tapi sedetik kemudian tertawa. “Kau jahat sekali, girl. Aku juga masih ingin menikmati masa-masa menjadi pria paling dipuja di London, mengencani wanita-wanita cantik...”
“Dan mendatangi setiap kelab yang ada di London,” sambung Keana. “Aku tak habis pikir, kita ini bersahabat sejak dilahirkan. Kita sekolah bersama sampai pindah ke London, kenapa orang tua kita malah menjodohkan kita? Ya ampun, mereka membuatku murka.”
Robin terkekeh pelan, ia menepuki bahu Keana dengan pelan. “Kau harus sabar menghadapi orang tua kita. Kau ada ide tidak untuk kabur dari perjodohan ini?”
Keana berpikir sejenak dengan dahi mengerut masih sambil berjalan. Ia harus memutar otak untuk melarikan diri dari perjodohan ini. Robin baginya sudah seperti kakak kandung, Robin anak sulung sedangkan dirinya anak tunggal. Mereka bersahabat sejak masih sangat kecil karena rumah mereka bertetangga di Brighton. Bahkan sampai mereka kuliah selalu bersama dan seakan tak terpisahkan, tapi rasa saling menyayangi dan memahami yang mereka miliki adalah persaudaraan.
“Aku masih 22 tahun, belum pernah sekalipun memikirkan pernikahan. Bahkan aku belum pernah jatuh cinta,” renung Keana sambil memandang langit malam kota London yang terlihat bercahaya oleh lampu-lampu dari setiap bangunan.
Keana berhenti berjalan dan menghampiri kursi besi yang ada di dekat trotoar dan di bawah pohon besar. Ia mendudukan diri diikuti oleh Robin. Memikirkan perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan Robin, membuatnya merasa sangat frustrasi dan kebingungan. Orang tua Robin bahkan sudah seperti orang tuanya sendiri, mereka tumbuh bersama dan sekolah bersama meski Robin lima tahun lebih tua darinya, tapi Robin sudah seperti kakak kandungnya. Robin begitu bebas, mengencani banyak gadis sejak sekolah, tapi begitu melindunginya.
Robin tersenyum lembut sambil merangkul bahu Keana. “Aku juga baru 27 tahun, belum memikirkan ingin berumah tangga dan memiliki anak. Aku masih ingin hidup bebas,” ujarnya.
“Kau ada ide tidak agar kita bisa bebas dari perjodohan ini?” tanya Keana seraya menoleh dan menatap wajah Robin. Pria itu memang tampan, dengan rambut kemerahan dan wajah tegas, tapi mereka hanya bersahabat.
“Bagaimana kalau kita terima saja? Kita menikah tapi bertengkar setiap hari, kemudian kita bercerai?” usul Robin dengan wajah sumringah.
Keana memicingkan matanya, wajahnya mengeruh dan kekesalan nampak jelas. Ia mengangkat tangan dan memukul kepala Robin dengan kesal hingga mengaduh. Keana mendorong tubuh Robin agar melepaskan rangkulannya, kemudian menyandarkan tubuh dan kembali menatap langit.
“Kau mau aku menjadi janda di usia muda masih dalam keadaan perawan? Kau mau aku kebiri, ya?” katanya dengan galak.
Robin meringis dan bergidik ngeri mendengar perkataan Keana yang seenaknya. “Kita tidak bisa menghindari perjodohan ini sampai salah satu diantara kita membawa kekasih ke orang tua kita. Aku tidak mungkin membawa kekasih-kekasihku pada mereka, bisa gawat. Kau sendiri? Kenapa tidak mencari kekasih dan membawa pada orang tuamu?”
Keana mengerutkan hidungnya. “Aku masih belum menemukan seseorang yang aku sukai. Aku bahkan belum pernah tahu rasanya jatuh cinta.”
Robin menyenggol bahu Keana dengan bahunya. “Kau masih memikirkan impian masa kecilmu ya? Mendapatkan Pangeran yang turun dari kuda.”
Dengan sebal Keana menginjak kaki Robin lagi yang sedang mengejeknya. “Jangan mengejekku! Kau mau aku injak lagi kakimu?”
“Eh, jangan, jangan!” Robin menjauhkan kakinya dari Keana dan memandang ke depan. “Tapi tidak ada salahnya kau mencari kekasih, Ke. Kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu dalam merancang dan mengatur pernikahan orang lain, kau sendiri seperti ini terus.”
“Aku tidak tahu, kenapa aku sangat suka mengatur pernikahan orang lain, melihat pernikahan megah dan beragam. Aku sendiri tak pernah sekalipun membayangkan pernikahanku akan seperti klienku. Jatuh cinta saja tak pernah.”
Robin menepuk lututnya kemudian bangun sambil merentangkan tangan dan menghirup udara malam. “Ayo kita pulang, sudah larut. Eh, hari minggu besok kau libur kan? Bagaimana kalau kita ke Hyde Park untuk berkuda?”
“Aku sedang malas berkuda. Aku mau merenung saja di apartemen,” balas Keana dengan lesu.
Robin berdecak dan menarik tangan Keana untuk bangun kemudian merangkul bahunya dan membawanya berjalan meninggalkan tempat itu. “Kau itu jangan murung terus. Mana Keana-ku yang galak dan penuh semangat? Heh, aku yang bayar ya, kau mau kan ke Hyde Park untuk berkuda?”
“Ya sudah, aku mau,” kata Keana akhirnya.
Robin menoyor kepala Keana yang mendatangkan protes dari gadis itu. “Kalau aku yang bayar kau bersemangat.”
“Taktik seorang wanita, Robin,” balasnya.
Robin berdecak sebal dan Keana tertawa keras. Mereka terus berjalan bersama di trotoar untuk tiba di apartemen mereka yang terletak di Kensington. Robin pun memilih apartemen yang berdekatan dengan Keana, untuk selalu melindunginya namun tanpa mengusik privasinya. Dua sahabat sejak kecil yang tak terpisahkan, tapi harus mendapatkan masalah ketika orang tua mereka menjodohkan.
“Ke, kau suka baca novel kan? Sarah memberiku satu novel, dia bilang membeli dua.” Robin berdecak seraya mengambil sebuah buku dari dalam tasnya untuk diberikan pada Keana.
“Wah! Novel gratis. Kau tahu saja aku sedang malas keluar uang untuk membeli novel baru. Thanks, Robin!”