Malam semakin larut dan rasa dingin kian menusuk. Keana terbangun pada pukul 2.15 ketika perutnya berbunyi nyaring dan rasa lapar menyerangnya. Ia bangun dan menyingkirkan buku dari wajahnya, karena tertidur ketika membaca. Keana menguap, sambil mengucak matanya dengan wajah mengantuk. Helaan napas keluar dari bibirnya ketika melihat jam yang masih menunjukan sepertiga malam. Keana turun dari ranjang, meraih kaos besar kemudian mengenakannya. Ia terbiasa tidur hanya mengenakan pakaian dalam.
Dengan kesadaran yang masih mengambang dan mata setengah terpejam, Keana berjalan ke dapur yang tak jauh dari kamarnya. Ruang apartemennya sederhana, hanya ada sofa baru dan meja televisi. Dapur dan ruang makan menjadi satu tanpa penyekat dengan ruang tengah. Ia tiba di dapur dan membuka lemari es untuk mengambil minum. Belum sempat minum, suara ketukan di pintu depan mengejutkannya.
Tok tok tok. suara itu masih terdengar dan Keana merasa takut. Ia melirik ke ruang tengah dengan ragu, kemudian berjalan menghampiri pintu depan. Ketukan masih terdengar dan begitu lemah, membuatnya semakin takut. Orang gila mana yang mengetuk pintu apartemennya pada sepertiga malam seperti ini, pikir Keana. Bahkan Robin yang tetangga apartemennya saja tak pernah datang pada sepertiga malam.
“Sebaikanya aku abaikan,” katanya.
Dok dok dok. Ketukan itu kembali terdengar dan berubah menjadi gedoran keras dan tidak sabaran. Keana terdiam sesaat dan berpikir mungkin saja itu Robin, dia mabuk dan lupa kode pintu apartemennya. Mengumpulkan segala keberaniannya, Keana membuka grendel pintu dan mencengkeram knop dengan kuat.
“Calm, Keana. Mungkin itu Robin,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Keana memutar knop dan membuka pintunya. Suaranya tercekat, dengan mata membelalak lebar dan nyaris berteriak. Kakinya mendadak kaku dengan jantung seakan hendak lompat dari rongga dadanya. Di depannya kini, satu tubuh terhuyung dan membentur tubuhnya. Kakinya mundur mendapat beban berat di tubuhnya, bibirnya terbuka lebar ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar.
“Aaaahhh!” Teriaknya dengan lantang, tapi buru-buru bungkam dan mendorong sosok itu hingga terjatuh ke lantai.
Dengan d**a yang berdegup cepat penuh keterkejutan dan takut, Keana mundur dengan waspada tanpa menggeser tatapannya ke arah lain. Sosok itu sangat misterius dan tak berdaya. Dalam balutan pakaian sedikit aneh tapi mewah. Pakaian khas Kerajaan gurun pasir yang memiliki banyak bordiran indah, dengan turban di kepala. Dengan waspada Keana membalikan sosok itu dan menepuk bahunya.
“Heh, kau masih hidup?” tanyanya dengan cemas. Dahinya mengerut dengan mata biru safir yang memicing curiga. “Dari pakaiannya dia sepertinya bukan orang biasa.”
Keana menyusurkan jemarinya ke pakaian bagian punggung yang terasa sangat halus dan lembut, dengan bordiran yang timbul dari benang yang bagus. Pola bordirannya cukup rumit tapi indah, ada ikat pinggang dari kulit yang dihiasi bebatuan yang berkilauan. Turban putih yang dikenakan pria itu pun terasa lembut. Ia hendak mengambil turbannya, tapi rasa hangat dan cengkeraman di tangannya menghentikannya. Keana melirik pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh tangan besar yang dipenuhi darah itu.
Keana terkesiap dan buru-buru menarik tangannya. “Darah?”
Ia mundur dan memperhatikan pria itu, mendengar suara ringisan menahan sakit dan tangan besar dipenuhi darah yang terulur di lantai. keana berpikir jika pria itu mungkin pembunuh berantai yang menjadikannya target, tapi pria itu nampak terluka entah oleh apa. Ia harus menghubungi Robin dan membantunya menangani pria asing itu.
“Li-lindungi Amati.”
Samar-samar Keana mendengar pria itu mengucapkan sesuatu sebelum kepalanya terkulai dan tak bergerak sama sekali. Dengan panik berlari ke pintu dan menguncinya untuk menghindari kecurigaan dari siapapun, jika nanti pria itu mati maka dia akan menjadi tersangkanya. Dengan takut Keana mendekat kembali dan menaruh telunjuk tangannya untuk memeriksa denyut nadi.
“Dia masih hidup,” bisiknya. “Hei, kau siapa?”
Dengan susah payah Keana membalikan tubuh pria itu hingga terlentang. Wajahnya kembali terkejut dengan mata membelalak dan bibirnya nyaris menganga lebar melihat seorang pria yang sangat tampan. Jenis ketampanan yang sangat khas, dengan bibir sedikit tebal dan menggoda, rahang kokoh dan berjambang, juga tulang pipi yang tegas. Alisnya hitam dan tebal, dengan bulu mata lebat yang tertutup rapat. Dalam keadaan tak sadarkan diri saja pria itu sangat tampan, bagaimana jika dia membuka matanya? Pikir Keana.
Tatapannya turun ke bahu lebar dan d**a kokoh yang dibalut pakaian mewah khas Kerajaan itu. ia menyusurkan tangannya di d**a kokoh pria itu, untuk merasakan kehalusan dari kain sutera terbaik yang belum pernah ia temukan seumur hidupnya. Manik-manik dari bebatuan indah berpadu dengan bordiran di pakaiannya. Tangan Keana berhenti di bagian perut ketika melihat ada darah yang merembes dari sana. Ia buru-buru melepaskan ikat pinggang dan menyibak lapisan terluar pakaiannya. Masih ada dua lapisan pakaian lagi, tapi Keana yakin jika luka itu cukup parah.
Ia pun bangun dan bergegas menghubungi Robin untuk memintanya menangani pria itu, meski tidak memungkinkan untuk membawa pria ini ke rumah sakit. Ia masih belum tahu siapa dia dan mengapa ada di depan apartemennya.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau sangat tampan dan begitu berbeda. Apa kau Pangeran dari gurun pasir?” bisiknya.
***
“Kenapa Robin lama sekali,” gerutunya dengan cemas.
Sudah pukul 4.10 pagi tapi Robin belum selesai menangani pria misterius yang terdampar di apartemennya itu. Jika bukan karena Robin seorang dokter bedah dan juga sahabatnya, ia tak tahu harus membawa pria itu ke mana. Tidak memungkinkan membawanya ke rumah sakit, dan jika dugaannya benar bahwa pria itu bukan orang biasa, maka dia akan dituntut. Membayangkannya saja Keana bergidik ngeri.
“Dari mana kau menemukannya, Ke?” suara Robin terdengar bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.
Keana segera bangun dari sofa dan menunjuk pintu depan tanpa kata, membuat Robin mengerutkan dahi dengan bingung. Dengan segera Keana mendekati pintu kamarnya dan masuk, membiarkan Robin masih berdiri di ambang pintu dengan heran.
Dahi Keana mengerut dengan dalam melihat pria tampan itu berbaring tak sadarkan diri di ranjangnya, hanya mengenakan celana putih dengan perban yang berada di perutnya. Wajahnya sangat pucat. Tanpa sadar Keana mendekat dan berdiri memerhatikannya. Tubuh kokoh dengan otot-otot yang kencang, d**a yang bidang dan bahu lebar dengan lengan besar, juga warna kulit yang cokelat kekuningan sewarna zaitun. Sangat seksi dan begitu menggoda. Tatapannya pun terpaku pada wajah yang sangat rupawan dengan rambut cokelat gelap berantakan tanpa turban yang menutupinya.
“Dia seperti bukan orang biasa,” kata Robin di belakang Keana.
“Aku juga berpikir begitu. Robin, bagaimana keadaannya?” tanya Keana seraya berbalik.
Robin melirik pria itu dengan helaan napas pelan. “Dia kehilangan cukup banyak darah dan lukanya cukup aneh.”
“Aneh? Apa dia ditusuk?”
Robin menggeleng pelan, ia berjalan ke meja nakas dan mengambil kain yang menyimpan sebuah benda tajam seperti kepala panah. “Ini kepala anak panah, dan aku baru saja melakukan operasi kecil untuk mengeluarkannya. Ke, dia di panah.”
Keana terdiam sesaat kemudian tertawa dengan wajah tak percaya. “Robin, siapa yang menggunakan panah untuk membunuh orang lain? Memangnya mereka tidak mengenal pistol.”
“Ini anak panah yang baru saja kuangkat dari perutnya. Ini yang melukainya. Kau lihat, anak panah ini bukan yang digunakan pemanah saat ini. Anak panah ini dipahat dengan khusus dan digunakan pada masa abad pertengahan untuk berburu atau berperang.”
Keana mengambil anak panah di tangan Robin dan memerhatikannya. Dari bentuknya yang sedikit bergerigi juga ujung yang berkilat sangat tajam, ia memang yakin jika anak panah itu bukan yang digunakan oleh pemanah dalam olahraga memanah. Lebih tebal, lebih kokoh dan sedikit berat untuk melukai korbannya. Keana merasa semakin bingung, bagaimana bisa pria itu dipanah? Siapa yang memanahnya? Bukankah pistol adalah cara terbaik untuk melukai, kenapa harus repot-repot memanah, pikirnya.
“Tapi, anak panah kan sudah dilarang dipergunakan selain untuk olahraga. Kenapa dia harus dipanah,” gumam Keana tak mengerti.
“Mungkin dia akan sadar dua hari lagi, atau lebih cepat. Aku sudah memberinya infusan untuk membantu memulihkan tubuhnya. Aku juga akan membawa obat dari rumah sakit, sementara ini kita tunggu sampai dia sadar.”
“Hmm... Tapi, dia sangat tampan. Aku belum pernah melihat pria setampan ini.” Keana bergumam sambil menatap wajah itu lekat-lekat.
“Oh, aku patah hati calon istriku mengatakan itu,” ujar Robin dengan nada dibuat-buat.
Keana yang kesal pun menyikut perut Robin hingga pria itu tertawa. “Tapi, dia seperti seorang Pangeran. Mungkinkah dia Pangeran dari salah satu negara gurun pasir?”
“Mungkin saja. Aku juga belum pernah melihat seseorang seperti dia, pakaiannya juga sangat mewah dengan batuan-batuan asli. Jika kau menjual bebatuan di pakaiannya, mungkin kau akan kaya mendadak. Itu bukan manik-manik, tapi batuan asli.”
Keana tersenyum dengan aneh sambil menatap Robin kemudian memukul bahunya. “Kenapa kau selalu memberi ide bagus. Ini benar-benar ide bagus, Robin! Jika aku banyak uang, bisa pindah ke apartemen mewah dan memiliki mobil.”
Robin bergidik ngeri melihat senyuman aneh Keana. “Heh, kau ini wanita tapi mata duitan sekali. Aku hanya memberitahu, bukan menyuruhmu menjualnya. Jika dia bangun dan menanyakan pakaiannya, kau bisa dituntut.”
“Aku hanya bercanda,” balas Keana dengan wajah merengut sebal. “Aku akan membeli pizza, kau mau apa? Biar aku yang bayar kali ini.”
“Aku mau wine putih dan pizza saja.”
Keana memicingkan matanya pada Robin dengan wajah galak siap menerkam. “Robin, kau mau menguras uangku untuk membeli wine putih ya?”
Robin menyengir sambil berjalan ke pintu. “Aku bercanda, kau benar-benar wanita perhitungan, Ke. Pesankan saja bir dan pizza, aku mau tidur sebentar di sofa nanti kau bangunkan.”
“Ya.”
Setelah Robin keluar kini hanya ada Keana bersama pria asing dan misterius itu. Ia mendudukan diri di tepi ranjang sambil menatap lekat-lekat wajah itu. Sebelum pria itu tak sadarkan diri, Keana tak bisa melihat wajah bahkan matanya. Ia sangat penasaran seperti apa mata dari pemilik wajah rupawan ini. Tangannya terulur untuk menyentuh rahang kokoh itu, dan merasakan gelitikan halus dari jambangnya.
“Apa kau seorang Pangeran dari negeri padang pasir?” bisiknya. “Apa kau akan pergi jika bangun?”
Keana menggigit bibirnya pelan, dengan tangan tak melepaskan rahang itu. Entah bagaimana ia merasakan kehangatan yang menjalar dari ujung tangannya yang bersentuhan dan menghantarkannya ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya Keana merasakan kehangatan di dekat laki-laki, dan untuk pertama kalinya Keana merasakan tak ingin lelaki itu pergi.
***