Bayangan itu semakin mengabur dari pandangannya. Dua orang memakai jubah serba hitam mengejarnya dan melesatkan satu anak panah padanya. Ketika dia menghindar, anak panah itu menancap di perutnya. Ia mengerang dan darah merembes dari balik pakaiannya yang indah. Dengan cepat, ia terus memacu kudanya. Sebelah tangannya yang tidak memegang tali kekang mematahkan panah itu hingga menyisakan kepalanya di perut. Erangan kecil terdengar dari bibirnya.
“Ayaz, kau di mana?” bisiknya dengan pelan sambil menahan kesakitan. Kepalanya menoleh ke belakang dan dua pria berjubah hitam dengan kepala tertutup itu masih mengejarnya.
Ia semakin memacu kudanya, dan sesuatu bersinar terang di kantung pakaiannya. Ia mengambilnya dan menemukan jepit rambut berhiaskan bebatuan yang diberikan ibunya bersinar terang. Menyilaukan matanya, ketika kudanya semakin menerobos jauh ke pekatnya malam, ia menemukan sebuah jalan yang disinari cahaya terang. Jalan itu seakan tak berujung dan ia harus bersembunyi.
Melompat dari kuda dan berlari ke jalanan bercahaya itu. Jalan dengan cahaya terang itu terasa aneh dan tak berujung, ia tak ingin pergi ke sana tapi jepit rambut di tangannya seakan menarik tubuhnya untuk pergi ke sana. Langkah kakinya terseok-seok dan darah semakin merembes ke pakaiannya. Sambil menahan sakit, ia terus berjalan hingga menemui kegelapan.
“Amati!” Suara kesiap dan teriakan terdengar dari sosok yang berbaring di tempat tidur tanpa mengenakan pakaian bagian atas.
Mata cokelat amber itu terbuka dan menampakkan binar tajam dan kelam. Ia memejamkan mata sesaat ketika rasa sakit menyerang tubuhnya secara bertubi. Dahinya mengerut dalam dan napasnya sedikit tertahan. Ketika membuka mata lagi, pandangan di depannya sangat berbeda dan aneh. Ia melihat selimut yang menutupi tubuhnya, menyibaknya dan mendapati perban di perut. Tangannya menyentuh luka itu.
Masih dalam diam, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Ranjang yang cukup besar dengan kepala besi. Ada meja nakas dan lampu tidur. Lemari pakaian juga rak berisi tas dan sepatu hak tinggi. Dahinya mengerut semakin dalam mendapati ruangan yang terasa aneh. Kepalanya berputar untuk mencari-cari yang lainnya, dan semuanya sangat aneh dan asing baginya. Atap dengan lampu yang menggantung, jendela yang menampakan pemandangan jalanan beraspal dan orang-orang yang melintas.
“Di mana aku?” bisiknya.
Ia turun dari kasur dan melihat semua barang yang ada di ruangan itu sungguh sangat aneh dan tak pernah ditemuinya. Ada benda berkedip di meja nakas, ada benda di dinding yang mengeluarkan udara dingin. Untuk mengetahui ada di negeri mana dirinya, adalah dengan keluar dan melihat apa pun.
Dengan tertatih ia berjalan ke pintu. Membukanya dan menemukan ruangan lain yang jauh lebih terasa aneh dan asing. Ada benda persegi panjang berwarna hitam di depan tempat duduk. Kepalanya menoleh ke sana-sini bersama dengan pandangannya yang mengedar.
“Tempat aneh apa ini?” bisiknya lagi.
Semuanya terasa aneh, sampai pintu di depan terbuka dan memunculkan satu sosok dalam pakaian yang juga sangat aneh. Wanita itu memakai rok pendek, dengan pakaian lengan panjang, menenteng benda-benda aneh di tangannya. Mencopot alas kakinya yang meruncing di bagian belakang dan cukup tinggi, alas kaki yang sangat aneh. Wanita itu berambut pirang, dengan kulit putih kekuningan. Ketika wanita itu mendongak, ia menahan napas sejenak melihat wajah yang sangat cantik itu dan tatapan dari mata biru safir yang indah.
***
Sudah dua hari Keana merawat pria itu yang sampai saat ini belum sadar juga. Meski pria itu sangat asing dan misterius, tapi hal yang sangat disukainya adalah memandang wajah rupawan yang khas itu tanpa ragu. Entah sejak kapan ia menyukai memandang wajah seorang pria seperti itu. Wajah itu, Keana mendesah dalam hati, wajah itu sangat indah dan seakan menghipnotis mata agar tidak berpaling padanya.
“Iya, aku nanti mampir ke rumah sakit, kau kerja sampai malam? Oh ada operasi, baiklah. Hmm... nanti aku mampir ke rumah sakit untuk menebus obatnya, kau selipkan resepnya di apartemenku kan?” Keana berbicara sambil mengapit ponsel diantara telinga dan bahu, sedangkan tangan kirinya menenteng handbag juga kantong belanjaan. Tangan kanannya mencoba memasukan kode pintu, sambil berbicara pada Robin di ujung telepon. “Aku baru pulang menemui klien-ku, dia belum sadar. Nanti aku telepon lagi.” Keana hendak menutu teleponnya, tapi ia segera teringat sesuatu dan kembali mengatakannya, “Robin, sekarang sudah tanggal 21 April dan aku belum membayar sewa apartemen, kau tidak keberatan kan jika aku pinjam uangmu? Nanti aku ganti setelah mendapat bayaran dari klienku. Thanks, Robin.”
Keana membuka pintu dan segera masuk. Ia memasukan ponselnya ke handbag, melepas stiletto-nya yang cukup tinggi dan meninggalkannya begitu saja. Keana menghela napas pelan karena selesai mencari lokasi dan dekorasi yang sesuai dengan keingin kliennya. Ketika mendongak, jantungnya seakan berdetak lebih keras dan matanya hampir terbelalak. Cengkeramannya di tas semakin erat, dan napasnya seakan tertahan.
Tatapannya bersirobok dengan tatapan tajam dan kelam dari mata cokelat amber yang terlihat sangat indah dan memikat. Mata yang bisa membuat siapapun seakan jatuh terperosok padanya, ditambah tatapan yang sangat tajam dari wajah dinginnya. Keana berusaha mengatur detak jantungnya dan menelan ludah susah payah. Ia hampir kehabisan napas dan sesak, melihat sosok rupawan itu berdiri di depannya sambil menatapnya dengan tajam dan dingin.
“Kau sudah sadar?” tanyanya dengan senyum kecil yang dipaksakan agar tidak terlihat kaku, meski itu hanya pertanyaan basa basi belaka.
Pria itu bergeming, hanya menatap wajah dan mata Keana dengan dalam. Ketika Keana mendekat dan menaruh tas juga belanjaannya, ia mendekati pria itu dan berdiri di hadapannya. Menatap luka yang diperbannya kemudian menyentuhnya, tapi tangannya ditepis dengan kuat hingga membuatnya terkejut. Keana menatap pria itu sambil tersenyum.
“Maaf, kau pasti terkejut ya ada di apartemenku yang sederhana. Kau tidak sadarkan diri selama dua hari karena lukamu yang cukup dalam, tapi Robin memberimu obat yang bagus. Aku harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli obat, dan kau tidak perlu membayarnya nanti, oke.”
Keana berjalan ke dapur membawa kembali kantong belanjaannya, diikuti oleh pria yang tak diketahui siapa namanya dan dari mana asalnya. Pertama, dia akan memasak untuk makan malam, dan kedua mandi lalu menginterogasi pria itu. Ia menyeringai dengan senang menantikan pernyataan pria itu. Keana pun mulai menyiapkan belanjaannya, mengeluarkan daging dan sayur-sayuran di konter dapur. Mengambil beberapa bumbu dan menyiapkan peralatannya.
“Kau tidak masalah kan makan apa yang aku masak?” tanya Keana sambil memotong sayuran. Ia berbalik karena tak mendapat respon apapun dari pria itu, lagi-lagi bibirnya kelu seakan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun ketika mata setajam elang itu menatapnya dengan dalam. “Aku anggap kau mau makan apapun yang aku masak,” putusnya kemudian.
Keana memasak seorang diri, meski di dapur dirinya seakan diawasi oleh pria paling tampan yang pernah ditemuinya itu. Mungkin dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan, katanya dalam hati. Keana pun kembali memasak meski kini mulai kesal karena semua gerak geriknya seakan diawasi.
“Ya ampun, kau bisa duduk di kursi meja makan dan tunggu aku di sana. Jangan terus menatapku sambil berdiri seperti patung!” gerutu Keana yang mulai kesal.
Pria itu melirik kursi meja makan yang ditunjuk Keana, tapi ia tetap bergeming dan memilih menatap Keana yang sedang menyiapkan makanan. Tatapannya terus mengikuti dan tak lepas, sampai Keana menaruh semua masakan di meja makan, mengambil s**u dan membuat kopi.
“Kau tidak mau duduk?” tanya Keana yang sudah duduk dengan wajah kesal. “Meski tampan, tapi kau menyebalkan,” gerutunya.
Pria itu duduk di depan Keana, masih tanpa melepaskan tatapannya dari wajahnya. Bibirnya masih terkatup rapat seakan di jahit dengan erat agar tidak terbuka. Ia menatap piring, sendok, garpu dan pisau yang disodorkan Keana, lalu diisi dengan makanan.
“Makanlah, kau masih bisa kan menyuap sendiri?” tanya Keana lagi.
Bukannya menjawab, pria itu justru melihat kedua tangannya sendiri. Mengambil sendok dan menyendok daging panggang dengan sayuran yang sudah dipotong-potong oleh Keana, mengendusnya dengan waspada kemudian menyuapkannya.
Keana hampir memutar bola matanya melihat pria itu mengendus makanan sebelum memakannya, dan mengambil sendok bukan garpu. Akan tetapi diam-diam ia menahan tawa melihatnya. “Itu namanya steik, di negerimu ada kan? Kurasa ada.”
Keana mulai makan, begitu pun dengan pria itu. Keadaan di ruang makan hening, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Setelah selesai, Keana menatap pria itu dan memerhatikannya makan. Dia sangat tampan dan menggemaskan jika sedang makan dengan hidung dan dahi mengerut, bulu matanya yang lebat membuatku iri, batinnya.
“Hei, siapa namamu?” tanya Keana, menopang dagunya dengan kedua tangan.
Pria itu menghentikan kunyahannya dan melirik air yang ada di depannya, tapi tidak mengambilnya. Ia melirik pada Keana sesaat kemudian melanjutkan makanannya sampai habis, dan Keana menunggu dengan begitu sabar.
“Heh, siapa namamu?” ulang Keana begitu pria itu selesai makan. melihatnya yang hanya melirik gelas air putih tanpa mengambilnya, membuat Keana gemas dan mengambilkannya. “Minumlah, aku tidak mencampur racun.”
Pria itu mengambil gelas dan meneguk isinya sampai tandas, kemudian menatap Keana. “Sheikh Zayed Ali Al-sheiraz bin Ahmed Al-sheiraz.”
“Hah?” Keana mengerutkan dahinya dengan bingung. Dia bilang apa tadi? Tanyanya dalam hati.
“Zayed.”
“Oh...” Keana mengangguk paham, tapi ia segera menatap kembali pria bernama Zayed itu. “Kau tidak bertanya siapa namaku?”
“Tidak.”
Keana berdecak sebal. “Ya sudah. Eh, omong-omong namaku Keana Deidra. Aku wedding planner paling terkenal di London,” katanya seraya tersenyum dengan manis. “Kau dari negeri gurun pasir ya?”
Ketika mendengar Keana mengatakan gurun pasir, Zayed pun bereaksi dengan cepat. Ia bangun dan menghampiri Keana, kemudian berdiri di hadapannya dengan tatapan semakin tajam. “Di negeri mana ini?” tanya Zayed dalam bahasa Inggris dengan aksen khas timur tengah.
Keana menelan ludah menghirup aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh yang tak mengenakan pakaian atas itu. “Ini di London,” jawabnya.
Zayed semakin mengerutkan dahinya. “Britania? Bagaimana aku bisa ada di sini?”
Keana tertawa pelan, dan suara tawa halusnya mengundang Zayed untuk kembali menatapnya. “Mana aku tahu kenapa kau ada di sini, mengetuk pintu apartemenku.”
“Bukankah Britania sedang bergolak dengan Romawi?”
“Kau sedang membicarakan sejarah?”
“Sejarah?” Ujar Zayed, wajah tak mengertinya terlihat menggemaskan meski sebelumnya begitu dingin dan sedikit mengerikan. “Abad berapa ini?”
“Hah? Zayed, aku bingung denganmu. Katakan saja, kau dari negara mana? Kau bukan orang Inggris kan.”
“Abad berapa ini?” tanya Zayed lagi.
“Abad 21. Ya ampun, kau hilang ingatan atau apa? Sampai tidak tahu sekarang abad berapa.”
Keana bangun dan hendak membawa piring kotor ke dapur, tapi tangannya ditahan oleh Zayed. Sesaat ia menahan napas dan melihat tangan besar Zayed mencengkeram pergelangan tangannya. Ia mendongak dan tatapan mereka bersirobok.
“Abad 21? Bagaimana bisa aku ada di masa depan?” bisik Zayed.
Keana terkekeh pelan, ia melepaskan tangan Zayed darinya kemudian mendudukan pria itu di kursi yang baru saja ia duduki. Kedua tangannya berada di kedua bahu Zayed, dan tatapannya masih berpendar geli.
“Kau ada di abad 21, kita hidup di abad 21. Ini kota London, dan kau dari mana?”
Zayed balas menatap Keana dengan dalam, ia memejamkan mata seakan mengingat-ingat sesuatu. “Aku keluar untuk melihat festival rakyat, ada dua orang yang mengejarku dan memanahku. Aku terluka dan mengikuti jalan bercahaya. Aku...”
“Hah?” Keana hanya bergumam tak paham, ia menggaruk belakang kepalanya tak mengerti apa yang Zayed katakan.
“Aku tiba di depan sebuah bangunan asing. Jadi ini masa depan? 500 tahun dari masaku.”
Tiba-tiba Zayed bangun tanpa memedulikan luka di perutnya. Ia berlari ke pintu depan dan membukanya. Ketika pintu terbuka, tubuhnya menegang kaku dengan mata terbelalak dan rahang mengeras. Ada beberapa mobil yang melintas, dan orang-orang yang juga melintas di depan pintu apartemen sambil meliriknya.
“Zayed, kau kenapa?” tanya Keana tak mengerti. Ia menatap Zayed yang sedang memandang keluar seakan melihat fenomena aneh dan hal-hal yang tak diketahuinya. Keana pun menutup pintu kembali dan menarik tangan Zayed agar berhadapan dengannya. “Kau hanya perlu bilang dari mana, nanti aku bantu untuk pergi ke kantor kedutaan.”
Zayed memejamkan matanya sesaat, ia menggeleng dengan pelan. Matanya kembali terbuka dan berpendar dengan tajam dan dingin, seakan begitu kelam dan tak tersentuh. “Aku bukan orang dari dunia ini. Duniaku ada di abad 16. Aku berasal dari Kerajaan Ghaliah di tahun 1560.”
Keana terdiam, ia mencengkeram pakaiannya untuk menahan sesuatu yang menggelitik perutnya. Tawanya pecah dengan begitu keras hingga air mata menitik di ujung matanya. Keana tak berhenti tertawa sampai ia pergi ke sofa dan mendudukan dirinya. Perkataan Zayed seakan membuatnya tergelitik dan tak kuasa menahan tawa. Bagaimana pun selera humor pria itu cukup baik, meski kaku dan dingin.
“Ya ampun. Kau benar-benar sangat lucu, dan leluconmu cukup menghibur,” kata Keana akhirnya setelah tawanya reda.
Zayed yang masih berdiri di depan pintu pun mendekatinya dan berdiri menjulang di hadapannya. “Itu bukan lelucon. Aku hidup di Kerajaan Ghaliah pada tahun 1560, negeri di gurun pasir yang sangat indah. Raja yang berkuasa adalah Raja Ahmed dan Ratu Ameera.”
“Oke, oke. Kerajaan mana?”
“Ghaliah.”
Keana mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukannya pada Zayed. “Kita tanya Google!” katanya.
“Benda apa itu? Siapa itu Google? Apa dia cendekiawan?”
Keana masih menahan tawanya karena Zayed yang terlihat garang, dingin dan kelam itu nampak kebingungan saat ini. “Ini ponsel, smartphone.”
“Apa itu po-ponsel?”
“Lihat? Kau bisa berkomunikasi jarak jauh dengan ini, kau juga bisa menanyakan apapun yang ingin kau tanyakan pada Google. Itu mesin pencarian.”
“Apa itu mesin pencarian?”
“Ya Tuhan.” Keana mengerang sambil tertawa pelan. Ia menggeleng dan merasa bahwa Zayed sedang berbuat jahil padanya, tapi ia sama sekali tak marah. Entah mengapa, Zayed memang terlihat sangat menggemaskan. “Aku ketik Kerajaan Ghaliah.”
Ketika Keana mengetiknya, hanya muncul satu laman mengenai Kerajaan Ghaliah yang tidak banyak informasi. Hanya tertulis bahwa Kerajaan itu pernah ada dan berjaya pada abad ke 16. Kerajaan yang tersohor sangat indah arsiterktur kotanya. Keana terus mencari dan mencari, tapi tak ada hasil apapun. Ada satu informasi lagi yang mengatakan Raja Ahmed dan Ratu Ameera dengan harem Raja yang mencapai 200 orang wanita.
Keana menelan ludah dan menutup ponselnya. Ia berpikir dan terus berpikir kalau Google sedang eror dan mengalami gangguan. Bagaimana bisa orang dari abad 16 bisa datang ke abad 21? Pikirnya. Keana berpikir positif, mungkin saja Zayed yang membuat laman itu dan mengarangnya lalu membuat cerita yang seperti saat ini. Orang gila mana yang membuat cerita seperti itu.
“Zayed, kau benar-benar dari Ghaliah di abad 16? Kau serius, itu 500 tahun yang lalu,” tanya Keana dengan wajah masih tak percaya.
Zayed mengangguk pelan. “Ya, Ghaliah negeri yang tersohor sangat indah arsitektur kotanya.”
“Sulit dipercaya,” gumam Keana dan tubuhnya limbung ke sofa bersama dengan denyutan sakit di kepalanya. Ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum kegelapan menyapanya.
***