Keana terbangun dalam keadaan sakit kepala hebat, mendudukan diri dan melihat keadaannya saat ini yang berada di atas ranjangnya. Dengan perlahan ia turun dari ranjang dan melihat jam di meja nakas sudah menunjukan pukul 20.15 malam. Cukup terlambat untuk makan malam, tapi ia harus makam malam dan mandi.
Ketika tiba di pintu, tiba-tiba ia teringat ada seseorang di apartemennya saat ini. Orang yang mengaku dari kerajaan Ghaliah di abad 16. Keana tak ingin memercayainya sama sekali, tapi Zayed berkata seakan dia tidak berbohong sama sekali. Sambil menghela napas pelan, Keana keluar dan berhenti ketika melihat dua sosok pria sedang duduk berdampingan di sofa, masing-masing diam tanpa ada percakapan yang terjalin.
“Robin?” panggil Keana.
Robin segera menoleh dan tersenyum senang melihat Keana, sedangkan Zayed hanya duduk diam menghadap ke depan tanpa menoleh sama sekali. Keana mengerutkan dahi melihat penampilan Zayed saat ini––yang mengenakan kaos milik Robin. Kaos itu terlihat mengetat di tubuh Zayed, padahal jika dikenakan oleh Robin masih sedikit longgar. Penampilan Zayed saat ini terlihat begitu berbeda, membuatnya terlihat lebih fresh. Lengan-lengan kuat dan berotot itu nampak semakin sempurna dibalut lengan kaos pendek. Tungkai-tungkai panjangnya yang tak kalah kokoh terlihat seksi dibalut celana training.
“Zayed?” panggil Keana dengan pelan, tapi Zayed tidak menoleh sama sekali. Keana menatap Robin dan pria itu hanya mengedikkan kedua bahunya.
“Dia terus seperti itu sejak aku datang. Bahkan saat aku memberikannya kaos dan celana, dia hanya diam seperti itu tanpa mau mengatakan terima kasih.”
“Mungkin dia masih belum sepenuhnya sadar. Ah, kau bawa obatnya?”
“Aku sudah bawa obatnya, karena kau tidak datang untuk mengambil obatnya di rumah sakit. Aku pulang lebih awal karena jadwalku diganti dengan dokter lain. Kau harus mengganti perbannya,” kata Robin.
“Thanks, Robin. Kau mau makan malam di sini?”
“Tidak. Aku sudah membawakan makan malam juga untukmu. Aku akan pergi sekarang, ada kencan dengan wanita baru.”
Keana berdecak, tapi ia berterima kasih kembali dan mengantar Robin ke pintu depan. Pria itu pergi dengan mobilnya, untuk berkencan dengan wanita barunya. Keana berbalik dan hampir saja menjerit ketika Zayed berdiri di depannya dengan wajah dingin dan tatapan tajam yang menakutkan.
“Ya ampun, kau mau membuatku jantungan dan tak bisa menjadi wedding planner lagi?” gerutu Keana dengan sebal seraya berjalan menjauh darinya.
“Hey,” panggil Zayed.
Keana berhenti melangkah dan berbalik dengan senyum lebar karena untuk pertama kalinya Zayed mau memanggilnya. “Ada apa?”
“Kau tahu cara mengembalikanku ke Ghaliah?”
“Kalau yang kau maksud Ghaliah di abad 16 aku tidak tahu. Kalau negeri gurun pasir yang ada di abad 21 mungkin aku bisa, membawamu kembali melalui kedutaan,” balas Keana.
Zayed tidak mengatakan apapun lagi, hanya berjalan kembali ke sofa dan duduk dengan tatapan lurus ke depan. Jari jemarinya bergerak dengan berurutan, dan bibirnya bergerak tanpa suara. Ia terus seperti itu sepanjang hari sejak Keana pingsan, tanpa mengatakan apapun lagi. Yang Keana tahu, pria itu berulang kali mengucapkan puji-pujian pada Tuhannya.
“Apa kita bisa meminta paranormal untuk membantumu?” tanya Keana dengan hati-hati sambil memandang Zayed.
Zayed tetap bergeming, dengan jari jemari bergerak bersama bibirnya yang berulang kali melapalkan sesuatu tanpa suara.
Ia sedang bermeditasi, pikir Keana. Eh, aku ingat, mungkin dia sedang melakukan sesuatu yang disebut zikir.
Karena tak mau mengganggunya, Keana pergi ke dapur dan menemukan dua porsi makanan sudah terhidang. Ada paper bag kecil berisi obat-obatan juga yang dibawakan oleh Robin. Keana tersenyum kecil, meski Robin menyebalkan, tapi pria itu bisa diandalkan.
“Zayed, kau mau makan malam?” tanya Keana dari dapur. Ia menyiapkan air putih dan s**u, menunggu Zayed datang tapi pria itu tak kunjung mendatangi dapur.
Dengan sebal Keana mulai menyantap makan malamnya. Kepalanya semakin berdenyut nyeri karena sungguh kebingungan dengan pria asing seperti Zayed yang mengatakan hal-hal diluar nalar. Ia bertekad besok akan meminta kepolisian untuk membantu Zayed kembali ke negaranya. Keana hanya bepikir jika Zayed mungkin seorang Pangeran yang kehilangan segalanya, dan menjadi gila dengan mengatakan hal-hal semacam itu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya seorang diri, Keana kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selama membersihkan diri ia terus merenung apa yang harus dilakukannya pada Zayed, untuk membuktikan bahwa ucapannya tidak main-main. Ia juga harus membuktikan jika Zayed mungkin mengalami gangguan mental. Sampai mandinya selesai, Keana kembali ke kamarnya.
Ketika membuka pintu kamar dengan hanya mengenakan jubah mandi, tiba-tiba tubuhnya menegang dan hampir menjerit melihat Zayed sedang duduk di ranjangnya sambil menatapnya dengan tajam. Keana merasa lama-lama Zayed menakutkan, dengan bibir terkatup rapat dan tatapan setajam mata elang dan kelam yang selalu muncul tak terduga.
“Zayed, kau benar-benar telah menakutiku!” raung Keana dengan wajah seakan siap menangis. “Aku mau pakai baju, keluarlah!”
Zayed keluar dari kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun, dan hal itu membuat Keana memijit keningnya karena denyutan di kepalanya semakin parah. Zayed baru sehari sadar saja sudah membuatnya sakit kepala bukan main, bagaimana jika pria itu setiap hari bersamanya? Tapi, sejenak Keana merasa tak ingin pria itu pergi.
“Aku akan mengajaknya keluar, supaya dia tidak gila terus,” putusnya kemudian.
Keana mengambil celana jeans panjang dengan kaos turtle neck yang dipadu coat berwarna pink. Memulaskan make up sederhana dan mengambil flat shoes-nya. setelah selesai, ia keluar dari kamarnya dan menemukan Zayed sedang ada di dapur.
Merasa tertarik Keana mendekat dan berdiri dengan kedua tangan di d**a. Memerhatikan Zayed yang sedang menyentuh lemari es, membukanya dengan wajah mengerut kemudian menutupnya dengan cepat. Pria itu juga menyentuh microwave dan membukanya lalu menutupnya kembali. Ketika Zayed berbalik, tatapan mereka bertaut dan Keana buru-buru berdeham.
“Aku akan mengajakmu keluar, agar kau tahu inilah duniaku,” kata Keana.
Zayed mendekat dan menatap penampilan Keana dari atas sampai bawah dengan wajah tanpa ekspresi. Melihat tingkah laku dan ekspresi Zayed yang selalu begitu, membuat Keana meringis dalam hati. Dia seperti bertemu dengan patung yang bisa berjalan.
“Ayo. Kita berjalan-jalan saja, karena aku tak memiliki mobil.”
“Mobil? Apa itu?” tanya Zayed akhirnya.
Keana bernapas lega ketika Zayed kembali bersuara. Ia menyukai suara berat dan aksen timur tengah yang sangat khas itu ketika berbicara dalam bahasa Inggris. “Alat transportasi yang dijalankan dengan mesin. Kau akan lihat nanti jika kau benar-benar tidak tahu.”
Mereka sama-sama berjalan keluar dari apartemen, dan pemandangan jalan kompleks apartemen ada di hadapan mereka. Setelah mengunci pintu, mereka menuruni undakan tangga pendek untuk mencapai trotoar dan berjalan berdampingan. Meski Zayed sangat irit bicara dan tak pernah menunjukan ekspresi apapun, tapi setidaknya pria itu mau ikut dengannya.
Mereka masih berjalan-jalan di trotoar, berbelok di blok depan hingga menemui keramaian kota London pada malam hari. Angin segar musim semi berembus menerpa mereka. Orang-orang berpapasan dengan mereka di trotoar, beberapa menoleh untuk sekedar melihat Zayed yang terlihat sangat tampan dan menguarkan aura seorang bangsawan yang kuat.
“Bagaimana? Indah kan kota London?” tanya Keana dengan wajah sumringah.
Keana menoleh pada Zayed dan melihat pria itu sedang mengedarkan tatapannya ke segala penjuru tempat yang bisa ia lihat. Tubuhnya kadang berputar untuk menatap sekeliling dengan kedua tangan saling mengepal erat. Rahangnya mengetat dan lirikan mata sarat akan kegelisahan. Keana yang melihatnya pun menjadi cemas.
“Zayed?” panggil Keana dengan cemas.
Ketika mobil melintas, tatapan Zayed menegang dan mengikutinya. Ketika melihat orang-orang yang baginya berpakaian sangat aneh lewat, terasa begitu mengusik dan menakutkan. Semua ekspresi yang ditampilkan Zayed sangat kentara, bahwa dia merasa tidak nyaman. Zayed pun mencengkeram tangan Keana dengan erat.
“Aw, Zayed.” Keana meringis karena kedua tangannya dicengkeram kuat. Ia melihat titik-titik keringat di dahi Zayed, raut wajahnya pun begitu waspada dan tak nyaman. Membawa Zayed keluar nyatanya merupakan ide buru, pikir Keana. “Kita kembali saja, kau terlihat tidak baik-baik saja,” lanjutnya.
Keana membawa Zayed kembali ke apartemen mereka. Kebisingan, keramaian kota dan lalu lalang kendaraan juga gemerlap lampu kota dan jalanan membuat Zayed terlihat tak nyaman. Mereka terus berjalan dengan Zayed yang tak melepaskan tangan Keana sedikit pun, hingga mereka tiba di apartemen.
“Kita sudah tiba, kau jangan takut lagi ya,” katanya sambil melempar senyum kecil.
Keana pun membimbing Zayed untuk masuk dan mendudukannya di sofa. Mengambil obat yang diberikan oleh Robin padanya kemudian menghampiri kembali Zayed. Tanpa mengatakan apapun Keana meraih kaos Zayed dan menaikan bagian bawahnya. Ia membuka perban di perut rata yang terluka itu, mengoleskan obat kemudian mengganti perban yang baru. Setelah selesai Keana tersenyum dengan senang.
“Sudah selesai, kau tidur di kamarku saja, biarkan aku yang tidur di sofa,” katanya.
Keana mendongak dan saat itu juga wajah Zayed berada dekat dengan wajahnya. Tatapan mereka bertaut dan embusan napas masing-masing terdengar jelas. Tatapan tajam dari iris cokelat amber itu bertaut dalam dengan tatapan polos dari mata biru safir Keana.
“Keana,” panggil Zayed––itu adalah pertama kalinya Zayed menyebut namanya.
Keana tentu sangat senang Zayed mau menyebut namanya, padahal ia berpikir kalau Zayed tidak mengingat namanya atau bahkan tidak peduli. Keana tersenyum manis dan tulus, ketika ia hendak membalikan wajahnya, jari jemari kokoh itu menyentuh rahangnya. Ia terkesiap dengan detak jantung yang berdebar cepat dan desiran darah yang menggila.
Tatapan mereka semakin dalam dan wajah mereka semakin dekat. Keana dapat merasakan sapuan halus dari napas Zayed di bibirnya. Keheningan melanda, dan Keana menahan napas dengan bibir kelu dan tubuh menegang. Bibir dingin dan menggoda itu menyentuh bibirnya. Terasa dingin, namun menghantarkan rasa hangat dan sengatan aneh pada tubuhnya. Bibir itu hanya diam dan menyentuhnya, tanpa bergerak sama sekali.
“Ah, kau sebaiknya istirahat,” kata Keana seraya menjauhkan wajahnya dari Zayed. Ia berdeham dengan wajah bersemu merah, kemudian berjalan ke kamarnya.
Jantungnya berdetak tak karuan dengan desiran halus di tubuhnya. Ketegangan dalam dirinya seakan begitu mengusik, bersama rasa hangat yang menjalar dari ujung kaki sampai kepala. Bagaimana bisa hanya sebuah kecupan ringan––bahkan hanya menempelkan bibir––bisa membuatnya begitu menggila.
“Bibirnya...” bisik Keana sambil menggigit bibir. “Bibirnya sangat seksi dan menggoda, padahal hanya menempel saja.”
***