Zayed menyeringai dengan misterius, mata cokelat amber itu terlihat sangat menggoda dan berpendar cerah. “Kau ingat saat aku mengatakan, jika kita melewati malam itu bersama, maka kau akan menjadi wanitaku.”
“Aku... Aku sepertinya lupa. Kita ini baru bertemu belum lama, dan aku juga bukan dari dunia ini. Jika kita sering melakukannya, aku hanya... Aku hanya takut.”
“Apa yang kau takutkan?” tanya Zayed menahan geraman dalam suaranya.
Keana menundukan kepalanya dengan wajah muram. “Aku takut tidak bisa berpisah denganmu, jika waktunya tiba di mana aku harus kembali ke duniaku.”
Mendegar perkataan Keana, Zayed merasa seakan ditampar kuat dengan kenyataan. Ya, mereka dari dunia berbeda dan Keana bukanlah dari dunia saat ini. Jika gerbang itu terbuka kembali dan Keana harus kembali, mereka sudah pasti akan berpisah.
Zayed mengusap wajahnya sedikit kasar. “Aku melupakan hal itu,” katanya. “Lalu apa yang akan kau lakukan selama menunggu gerbangnya terbuka kembali?”
Keana menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, mungkin akan terus mengikutimu ke mana pun kau pergi.”
“Jika kau terus mengikutiku, dan kita terus bersama, aku takut tidak bisa menahannya lagi. Kau wanita yang sangat cantik dan menggoda, Keana. Aku takut tidak bisa melepasmu pergi.”
“Aku juga tidak tahu, Zayed! Di sini aku sendirian, aku kesepian dan aku tidak memiliki siapa pun selain dirimu. Ini bukan duniaku!” Keana memekik keras dengan wajah memerah.
Zayed bergeming, mengepalkan kedua tangannya. Keadaan yang terjadi diantara mereka memang sedikit rumit, jika perasaan-perasaan itu muncul dan mereka harus berpisah, itulah ketakutan terbesar yang mereka miliki. Melawan logikanya––yang terus berkata agar hubungan mereka tidak berlanjut––Zayed menarik kembali pinggul Keana merapat padanya. Merundukan kepala dan memagut bibir Keana dengan dalam.
Keana sendiri terkesiap dengan napas tertahan. Ia meremas dadanya sendiri, merasakan bibir dingin itu memagutnya dengan dalam. Menggodanya, dan memaksanya membalas ciuman. Ketika ciumannya melemah, Keana merangkulkan kedua tangannya ke leher Zayed. Membalas ciumannya, saling menyesap bibir masing-masing seakan hari esok tak ada lagi. Perasaan-perasaan aneh yang mulai muncul, bersama dengan gairah-gairah yang timbul sejak awal.
Tanpa melepaskan ciuman mereka, Zayed membawa tubuh Keana. Mendudukan dirinya di atas tumpukan jerami dengan tubuh Keana yang duduk di pangkuannya. Berbagi ciuman dengan dalam, saling mencecap. Erangan halus Keana tertahan, ketika Zayed semakin memperdalam ciumannya.
Tubuh rampingnya bergetar dalam pangkuan Zayed, kedua tangannya menarik keffiyeh yang dikenakan Zayed hingga terlepas, lalu meremas rambutnya. Perasaan asing dan mendamba itu semakin mencengkeramnya dengan erat. Juga sengatan-sengatan yang kembali menerjangnya dengan dahsyat.
“Akh!” Keana melenguh ketika tangan Zayed meremas pinggulnya dan terus naik ke punggungnya sampai tiba di dadanya. “Zayed,” bisik Keana dengan suara tertahan, sambil melepaskan ciuman mereka.
Merasakan tangan-tangan besar Zayed yang kokoh di tubuhnya, Keana semakin merasakan kegilaan itu. Wajahnya mendongak ke atas hingga wajah Zayed berada di dadanya. Kancing-kancing abayanya yang ada di bagian depan dibuka perlahan oleh Zayed, sampai terbuka sepenuhnya dan menampakan d**a montoknya yang mengetat.
“Keana,” geram Zayed dengan suara tertahan.
Keana meremas rambut Zayed dan menjambaknya dengan kepala mendongak ke atas dan tubuh gemetar, saat Zayed menyusupkan wajahnya diantara belahan dadanya, kemudian menggigit kain yang melilit dadanya. Menciumi belahan dadanya dan menggigitnya dengan keras hingga erangan dari bibir mungilnya lepas. Gairah dan kegilaan seakan membutakan mereka, di mana mereka berada, dan apa yang mereka lakukan.
Sampai terdengar suara langkah kaki mendekati pintu istal yang tertutup. Zayed terdiam dan mengangkat wajahnya dari d**a Keana. Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu ketika terdengar kembali suara langkah dan derit pintu yang didorong dari luar.
Keana melompat dari pangkuan Zayed, sambil mengancingkan abayanya yang terasa sulit, dan pintu pun terbuka bersama sosok Akhsan yang muncul membawa ember dan satu kuda hitam. Tangan Keana ditarik ke belakang oleh Zayed untuk bersembunyi dibalik tubuhnya, sambil meringis pelan Keana merutuki kebodohan mereka.
Begitu Akhsan melangkah masuk wajahnya terkejut dan hampir saja menjatuhkan ember di tangannya ke tanah. Pria itu buru-buru menunduk melihat keadaan Zayed dengan rambut berantakan, dishdasha kusut dan keffiyeh di tanah. Lalu di balik tubuhnya terlihat Keana yang sedang merapikan pakaian.
“Maafkan saya, Emir,” kata Akhsan sambil berlutut.
“Keluarlah,” titah Zayed dengan suara dingin.
Akhsan pun keluar, dan Keana menahan tawa di belakang tubuh Zayed. Ia memukul punggung pria itu sambil mengancingkan kembali abayanya.
“Puas kau, Emir. Kita benar-benar tidak tahu tempat,” gumam Keana sambil terkekeh pelan. “Eh, aku ingin bertanya padamu. Emir itu apa artinya?”
Zayed menoleh pada Keana dengan tatapan menggelap. “Aku akan memberitahumu jika urusan kita selesai,” balasnya, mengambil keffiyeh dan egal-nya lalu mengenakannya kembali, sambil menarik tangan Keana keluar dari istal. “Aku ingin kau kembali ke kamarmu dan membersihkan diri, temui aku setelah itu.”
Keana mengerutkan dahinya memandang Zayed yang masih menggenggam tangannya. “Ada sesuatu?”
Zayed menyeringai dengan misterius tanpa mengatakan apa pun lagi. “Kau akan tahu,” jawabnya singkat sambil lalu dan meninggalkan Keana.
Keana hanya memandang kepergian pria itu dengan tak mengerti. Ia pun hanya berdiri sambil memandang punggung kokoh itu, sampai seorang wanita paruh baya mendatanginya dengan wajah dan senyuman ramah, di belakang wanita itu ada Fatimah. Wanita itu mengatakan sesuatu dalam bahasa Arab dan Keana tak paham.
“Nona, ini ibu saya Salama. Ibu baru saja datang,” kata Fatimah, memperkenalkan wanita paruh baya itu.
Keana tersenyum dan menyapa ibu Fatimah. “Halo, bibi Salama!”
“Nona, mari ikut kami.”
Keana mengangguk pelan dan mengekor menyusuri lorong dan tiba di depan pintu kamarnya. Mereka bertiga masuk, dan langkah Keana terhenti ketika ia melihat ada sebuah gaun indah menggantung di tengah kamar. Hati Keana berubah cemas dan detakan aneh muncul, ia menatap Fatimah dan ibunya dengan tak mengerti. Sebelum dirinya keluar dari kamar belum ada gaun itu.
Keana menghampiri gaun berwarna biru cerah dengan bebatuan yang menghiasi bagian dadanya. Berlengan panjang, lebar dan memiliki manset. Tangannya menyentuh gaun itu yang terasa sangat lembut, dari sutera terbaik yang biasa dipakai oleh para bangsawan. Bebatuan itu pun berkilauan oleh cahaya lentera, dan Keana meyakini jika itu asli. Kain bagian lengannya lebih tipis.
“Ini untukku?” tanya Keana seraya berbalik pada Fatimah dan ibunya, yang dibalas dengan senyum dan anggukan oleh bibi Salama.
Fatimah memintanya untuk pergi ke kamar mandi, dan bibi Salama mengikutinya ke kamar mandi untuk membantunya, tapi Keana menolak karena ia tak pernah mandi dibantu orang lain. Meski benaknya bertanya-tanya dan dipenuhi oleh spekulasi-spekulasi, tapi Keana tak ingin terlalu memusingkannya. Ia sendiri terus bertanya, kenapa ibu Fatimah datang dan membantu Fatimah melayaninya. Tak mau ambil pusing ia segera masuk dan membersihkan diri, setelah selesai bergegas kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
Fatimah dan bibi Salama masih menunggu di sana dengan gaun di sampingnya, mempersilakan Keana mengenakannya. Keana membalas dengan senyuman, mengenakan pakaian dalam kemudian gaunnya. Ia juga dibantu bibi Salama untuk mengenakan kerudung panjang yang diselipkan ke rambut pirangnya yang dicepol sederhana. Menaruh mahkota kecil dengan batu safir berwarna merah dan jepit rambut milik Zayed yang selalu dipakaiannya.
Bibi Salama memulaskan pelembab dari rempah-rempah khas dan pemerah bibir dari kelopak bunga mawar merah dan dedaunan herbal yang diolah secara alami. Mata bulat berwarna biru safir dengan kulit putih kekuningan itu nampak sangat cantik meski tanpa polesan make up seperti di dunianya.
“Wah, Anda sangat cantik!” Fatimah berdecak dengan mata berbinar kagum.
Keana tersipu, ia menatap bibi Salama dan Fatimah dengan keheranan yang masih bercokol di kepalanya. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin bergelayut dan membuatnya kebingungan. Ada apa dengan semua ini?
Setelah Keana selesai dengan penampilannya yang sangat cantik meski tanpa riasan sama sekali. Fatimah dan bibi Salama pun membawanya keluar dari kamar, menyusuri koridor cukup panjang untuk tiba di pitu utama bangunan yang besar dan melengkung. Ketika bibi Salama membuka pintunya, Keana dibuat semakin bingung ketika melihat Zayed, Akhsan, dan satu orang pria lainnya.
Bibi Salama menuntun tangan Keana menghampiri mereka semua yang berdiri berkumpul, dengan sosok Zayed yang memunggunginya. Ketika Zayed berbalik, Keana menahan napasnya sesaat dengan wajah terkejut. Pria itu sangat berbeda. Mengenakan pakaian indah khas seorang Pangeran. Pakaian selutut berwarna biru cerah dengan celana senada. Jubah panjang sampai kaki yang bersulaman rumit, dihiasi bebatuan asli yang berkilauan dan ikat pinggang dari kulit berwarna hitam dengan bebatuan yang sama. Di kepalanya ada turban dengan hiasan yang sama.
Keana melangkah ke depan dengan lutut yang nyaris lemas dan langkah goyah. Ia melihat penampilan Zayed begitu menawan dan sangat luar biasa, bahkan pakaian mereka pun terlihat sangat serasi. Sesaat Keana terdiam memikirkan apa yang akan terjadi. mata birunya memandang Akhsan dan satu pria lainnya. Seorang pria tua dengan janggut putih dan panjang, juga jubah hitam dan turban putih.
“Zayed, ada apa ini?” tanya Keana tak mengerti.
Zayed menatapnya, meraih tangannya. “Aku harus menikahimu,” jawabnya.
Keana terkejut dan menutup bibirnya dengan sebelah tangan. Ia tak pernah menyangka Zayed akan menikahinya secara diam-diam, meski pernikahan seperti ini tak pernah ada dalam daftar impiannya. Ia masih tak percaya, karena mereka tak akan mungkin bersama. Mereka dari dunia yang berbeda dan pernikahan mereka tanpa dilandasi cinta atau semacamnya. Keana akui, ia memang telah jatuh cinta pada Zayed sejak mereka masih ada di dunianya abada 21, tapi bagaimana dengan Zayed? Keana merasa Zayed tidak merasakan hal sama.
“Tidak, pasti ada yang salah,” gumam Keana sambil menggelengkan kepalanya.
Zayed mengerutkan dahinya. “Kau tidak mau menikah denganku?”
“Bukan seperti itu. Kita baru bertemu dan aku... aku––“ Perkataan Keana terhenti. Ia menghela napas dan mencerna semuanya, otaknya seakan lumpuh seketika, ketika Zayed ingin menikahinya saat ini juga. Ia bahkan belum memikirkan pernikahan––dan lebih konyolnya di dunia orang lain.
Ia tahu, Kerajaan Zayed memang menjunjung tinggi adat, budaya dan agama, dan ia sangat tahu seorang wanita harus dinikahi sebelum dimiliki. Akan tetapi Keana kembali berpikir, di dunia ini pun para Raja memiliki harem yang tidak dinikahi.
“Dengan menikahimu, aku bisa melindungimu selama di sini. Aku menjamin tak akan ada yang menyakitimu di sini,” ujar Zayed lagi, untuk meyakinkannya.
Keana menatap mata cokelat amber gelap itu dengan dalam. Ia berusaha menyelami apa sebenarnya yang Zayed pikirkan, mengapa pria itu ingin menikahinya. Mereka hanya satu kali bercinta, dan Zayed pria pertamanya. Itu semua atas keinginan mereka berdua. Akan tetapi mata biru safir itu berpendar redup, melihat kesungguhan di mata Zayed. Ia tak bisa menyelami kegelapannya, tapi Keana bisa melihat ada begitu besar kesungguhan di matanya.
“Selama kau di sini, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Aku tidak tahu, kapan kau akan kembali ke negerimu. Di sini juga, aku akan melindungimu dengan apa pun, dan satu-satunya cara dengan menjadikanmu istri sahku.”
Keana tak bisa lagi menahan gemuruh dan degupan menggila di dadanya. Pertama kalinya ia menemukan pria yang bersungguh-sungguh, terlebih pria itu nyaris sempurna seperti Zayed. Mungkin jika di dunianya, ia akan langsung mengatakan ‘ya’, tapi ini bukan dunianya. Ia tak ingin semakin jatuh cinta pada Zayed dan menyisakan luka ketika mereka harus ‘berpisah’.
“Zayed...”
“Keana, apa kau mau kunikahi?”
Degupan itu semakin menggila. Keana memejamkan mata tak sanggup apa yang akan ia lakukan, dan kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
“Ya, Zayed,” bisik Keana nyaris tak terdengar.