“Fatimah, kau tidak gerah terus memakai pakaian seperti ini dari pagi sampai pagi lagi?” tanya Keana seraya menatap Fatimah yang sedang membereskan ranjangnya.
“Tidak. Ini sangat nyaman,” balas Fatimah setelah selesai melipat selimut yang baru di ganti. “Nona ingin mencobanya?”
Keana yang sedang duduk sambil menopang dagu pun mengangguk dan bangun. Ia menghampiri Fatimah dan menyentuh cadar yang menjuntai dari hidung ke bawah. “Tapi wajah cantikku tidak terlihat nanti. Memangnya kau tidak apa-apa wajahmu tidak terlihat?”
“Tidak apa-apa. Semua wanita di Ghaliah diberi kebebasan oleh Sultan Ahmed untuk mengenakan apa pun yang mereka pilih ketika baligh––atau beranjak remaja dan cukup usia. Ada yang memilih tidak memakai kerudung, ada yang memilih untuk memakainya, bahkan ada juga yang memilih untuk memakai kerudung dan cadar.”
“Dan kau memilih mengenakan cadar,” lanjut Keana.
Fatimah mengangguk pelan. Tanpa diduga ia memegangi satu sisi cadarnya dan melepaskannya hingga wajahnya terlihat seluruhnya oleh Keana. Tindakan tak terduga Fatimah membuat Keana terkejut dan menahan tangannya agar kembali menutupnya.
“Fatimah, kau tidak boleh melakukannya kan?”
Fatimah memakai kembali cadarnya. “Tidak apa-apa jika di hadapan orang tua atau wanita lainnya di ruangan tertutup. Memang tidak boleh jika kami membukanya di hadapan pria yang bukan suami. Nona Keana sudah melihat wajah saya?”
Keana tersenyum dan memegang tangan Fatimah kemudian menggenggamnya. “Sudah, kau cantik dan masih sangat muda ternyata dengan hidung mancung. Aku saja iri dengan hidungmu. Kebudayaan kalian memang sangat menarik. Eh, kau pakai skincare apa? kulitmu mulus.”
“Hah? Skincare itu apa?”
“Lupakanlah,” balas Keana sambil merengut sebal karena apa pun yang dia ucapkan terkadang tak dimengerti oleh orang-orang di sini. “Terima kasih ya, kau mau menemaniku selama aku di sini.”
“Itu sudah kewajiban saya, Nona. Anda mau mencoba memakai cadar?”
Keana mengangguk dan menerima cadar berwarna putih dan tipis yang diberikan Fatimah padanya. Dengan abaya besar berwarna biru cerah dan bordiran yang indah, juga kerudung dari sifon berwarna senada membuat kulit putihnya yang kekuningan nampak bercahaya. Keana pun menyampirkan kerudungnya ke kepala dan memakai cadarnya. Ia berdiri di hadapan Fatimah.
“Bagaimana?” tanyanya dengan wajah senang, mata biru safirnya nampak cemerlang.
“Sangat cantik.” Fatimah mengambil cermin bulat dan besar kemudian membawanya ke hadapan Keana.
“Wah!” gumam Keana dengan suara pelan. “Tidak cocok di wajahku,” lanjutnya.
Fatimah tertawa sambil menaruh kembali cerminnya. Meraih tangan Keana dan mengajaknya keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di siang hari. melihat tanaman bebungaan yang bermekaran.
Mereka keluar dari kamar Keana, menyusuri koridor hingga tiba di taman yang berada di sebelah selatan gedung utama paviliun, mereka berhenti untuk melihat tanaman mawar yang bermekaran. Keana memetik satu tangkai mawar dan menghidunya dari balik cadar.
“Uhuk! Uhuk! Ini bau!” gerutu Keana sambil membuang kembali bunganya.
Fatimah kembali tertawa pelan. “Sepertinya Akhsan baru saja menyiramkan sesuatu.”
“Akhsan itu pemalu ya, sangat berbeda dengan Zayed. Fatimah, kau tahu tidak jika Zayed itu seperti patung berjalan? Aku terus berbicara sampai rahangku pegal, dia hanya menjawabnya singkat. Seperti ini...” Keana menatap tajam ke depan mempraktikan apa yang Zayed lakukan. “Hmm... Ya.”
Fatimah kembali tertawa melihat Keana yang begitu lucu dan menggemaskan mempraktikan perilaku Zayed selama ini. “Ya ampun, Nona. Jika Emir tahu Anda melakukan ini, dia pasti akan sangat malu,” kata Fatimah.
“Dia kan memang begitu. Bahkan, saat dia di apartemenku saja, aku terus bertanya tapi dia terus diam. Rasanya aku ingin memukul kepalanya sampai amnesia.”
Keana dan Fatimah tertawa dengan begitu renyah dan ceria. Sambil tertawa, Keana melepaskan cadarnya yang terasa menyesakkan. Ia tak pernah memakai pakaian setertutup itu selama ini, hanya jika musim dingin akan mengenakan mantel dan celana panjang. Ketika ia melepaskan cadarnya, kerudungnya pun ikut terlepas dan merosot ke bahu. Rambut pirangnya yang panjang diterpa angin hingga berterbangan dan nampak berkilauan di bawah sinar matahari.
“Anda sangat cantik,” puji Fatimah.
“Eh, benarkah? Robin juga bilang aku memang cantik, tapi katanya aku berisik. Semua orang bilang aku cantik, wah! Aku juga percaya aku cantik. Kau tahu tidak, aku ingin pergi ke salon kecantikan untuk perawatan tapi selalu tak sempat. Aku menabung untuk membeli mobil dan rumah di London, jadi sayang kan kalau uangnya aku pakai untuk perawatan. Jika aku tidak tidur semalaman karena pekerjaan, aku akan mengompres mataku dengan es batu jika pagi, dan Robin akan menertawakanku sampai kencing! Sahabat menyebalkan memang dia.”
Fatimah hanya diam mendengarkan Keana berbicara begitu cepat dan tak ia mengerti. “Iya, iya...”
“Jangan iya iya saja, aku juga tahu kau tak mengerti apa yang aku katakan. Sudahlah,” balas Keana sambil merengut, membuat Fatimah kembali tertawa geli.
Suara derap langkah terdengar di belakang mereka bersama dengan suara berat seseorang yang memangil Keana. “Keana.”
Keana dan Fatimah menoleh, lalu menemukan sosok Zayed yang berdiri di hadapan mereka. Fatimah membungkuk dengan tangan di d**a memberi hormat, sedangkan Keana hanya merengut dengan wajah kesal karena ditinggal selama satu minggu.
“Assalamu’alaikum, Emir.”
“Wa’alaikumsalam,” balas Zayed, lalu menolehkan pandangannya pada wajah Keana. “Kenapa kau tidak senang?” tanyanya pada Keana.
Keana menatap Zayed dengan wajah sinis dan merengut. “Tidak apa-apa,” jawabnya ketus.
Zayed mendekat dan menyentuh rambut Keana dengan lembut. “Kau marah karena aku tinggal?”
“Aku hanya bosan. Eh tapi tidak bosan, karena ada Fatimah dan Akhsan. Kau tahu tidak, Akhsan itu sangat menyebalkan karena selalu melarangku ini dan itu,” gerutu Keana.
“Aku yang memberinya titah, marahlah padaku,” balas Zayed dengan tatapan tajam dan wajah tanpa ekspresi.
Keana menoleh pada Fatimah yang dibalas oleh gelengan. “Aku tidak marah. Kapan kau kembali?”
“Aku baru saja kembali. Kau ingin melihat kuda-kudaku?”
Wajah merengut Keana berubah cerah kembali ia mengangguk kuat dan memekik pelan. “Mau! Ayo, aku mau menunggangi kuda sendiri,” katanya sambil melompat ke pelukan Zayed. Kedua tangannya merangkul leher Zayed dan wajahnya di bahu pria itu sambil berjinjit.
Zayed menyentuh punggung bagian bawah Keana dan mengusapnya dengan lembut. “Kau tidak bisa memelukku di hadapan orang lain,” bisik Zayed dengan suara beratnya yang menggoda.
Keana segera melepaskan pelukannya dan menoleh pada Fatimah yang sedang memalingkan wajah sambil menunduk.
“Fatimah, maaf ya. Di negeriku hal ini sudah terbiasa, jadi aku memang terbawa kebiasaan,” katanya pada Fatimah dengan nada menyesal.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya paham karena Anda memang dari barat,” balas Fatimah.
***
“Aku dengar dari Akhsan, paviliun ini jadi sangat berisik selama satu minggu ini,” ujar Zayed. Ia sedang memberi makan kuda berwarna cokelat dan besar miliknya.
Mereka kini berada di dalam istal, dengan beberapa kandang dan juga sepuluh ekor kuda jantan asli Arab yang besar dan kokoh. Warna kuda-kuda Arab itu berbeda-beda dengan ciri khasnya. Yang membuat mereka sama adalah, mereka sama-sama pejantan dan besar.
“Kau mengejekku ya?” kata Keana dengan nada sengit dan mata mendelik tajam. “Aku tidak seberisik itu,” lanjutnya, melempar makanan ke kandang kuda.
Zayed melihat Keana yang melemparkan makanan kuda. “Benarkah? Bukankah kau naik ke menara dan berteriak di sana?”
“Akhsan itu benar-benar tukang gosip!” gerutu Keana dengan kesal sambil melempar kembali makanan kuda.
“Kau menakuti kudanya dengan suaramu.”
“Zayed! Ya ampun, aku tidak seberisik itu. Kau ini sama saja seperti Robin, suka mem-bully-ku.”
Keana mengulurkan tangannya dan mengelus kuda berwarna putih yang kepalanya terulur ke luar kandang. Senyum kecil terbit di bibirnya, sambil membelai kepala kuda.
“Kuda-kuda ini sangat bagus. Mereka semua pejantan, kuat, kokoh dan besar. Hmm... Persis seperti pemiliknya,” gumam Keana.
Zayed menoleh dan menaikan sebelah alisnya. “Mereka sama denganku?”
“Ya, sama-sama jantan.”
Ketika Keana menoleh, ia menahan napas sesaat melihat Zayed yang sedang menyandarkan tubuhnya di tiang dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Tatapan tajamnya menghunus wajah cantik Keana, dengan raut wajah tak terbaca. Dari balik pakaiannya, Keana bisa melihat otot-otot kencang dari d**a dan lengannya.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari tubuh Zayed yang menggoda, Keana mencari topik yang pas. “Hmm... Kau memiliki berapa kuda?”
“Tiga ratus ekor.”
Keana membulatkan matanya lebar-lebar dengan wajah tak percaya. Ia merasa pendengarannya sangat bagus, dan dengan jelas mendengar Zayed mengatakan tiga ratus. Akan tetapi, jumlah kuda bagus sebanyak itu sudah pasti membutuhkan banyak uang untuk membeli dan merawatnya, pikirnya.
“Tiga ratus ekor? Wow, kau benar-benar seorang bangsawan ya,” ujarnya dengan nada kagum. Keana menoleh kembali ke kuda putih di depannya. “Yang ini, boleh aku memanggilnya Robin?”
“Namanya Khaud. Kuda ini hadiah dari Kerajaan tetangga, tapi semua keturunannya sangat bagus. Para bangsawan akan datang untuk mengawinkan kuda betina mereka dengan Khaud.” Zayed menjelaskan seraya mendekat dan mengelus leher kudanya.
“Wah, memang persis seperti Robin. Sama-sama playboy,” gumam Keana, menahan tawa. “Baiklah, siapa pun namamu, aku akan memanggilmu Robin! Jika aku merindukannya, aku akan melihatmu.”
Zayed menatap Keana lekat-lekat. “Kau menyamakan temanmu dengan kuda?”
“Dia itu playboy, pemburu wanita. Tidak apa-apa, dia memang seperti kuda, atau buaya.”
“Apa orang-orang di duniamu terbiasa menyamakan manusia dengan hewan?” tanya Zayed lagi dengan sebelah alis terangkat.
Keana meringis pelan sambil menepuk kuda khaud. “Tidak juga, aku hanya asal bicara saja.”
Zayed semakin mendekat, dan Keana mundur selangkah dengan d**a yang mulai berdegup cepat. Ia mendongak dan getaran di d**a juga tubuhnya seakan mengejeknya. Ia bahkan merasakan aura jantan dan mendominasi melingkupi Zayed saat ini. Tubuhnya memanas dan sengatan-sengatan aneh yang ia rasakan malam itu kembali menyerangnya. Sambil menggigit bibir bawahnya Keana menatap Zayed yang semakin mendekat.
“Ki-kita tidak akan melakukan apa pun di sini kan?” tanya Keana sambil mengerjapkan matanya.
“Tidak.”
Hingga tubuh Zayed semakin mendekat dan menghimpit tubuh Keana. Keadaan hening, tarikan napas terdengar dari Keana, bersama dengan sebelah tangan Zayed yang merengkuh pinggulnya dan merapatkan tubuh mereka. Keana menekan d**a bidang Zayed dan menelan ludah susah payah ketika mencium aroma maskulin dari tubuh Zayed, membuatnya setengah terbuai.
Zayed merundukan wajahnya hingga berada di leher Keana, menghirup wangi manis dari sana. “Keana,” bisiknya.
Keana meremang, merinding dan hampir mendesah ketika mendengar suara rendah dan menggoda dari Zayed ketika menyebut namanya. Ia mencengkeram pakaian Zayed di bagian d**a, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh karena kaki-kakinya terasa lembek seperti jeli.
“Aku menginginkanmu,” bisik Zayed lagi tepat di lehernya, bersama dengan embusan napas hangat.
“Ha?” Keana hanya bergumam pelan, dengan kepala yang terasa pening dan tubuh meremang. Ia merasakan sengatan gairah menyerbunya dengan kuat. Perutnya terasa melilit dan panas.
“Aku ingin bercinta lagi denganmu. Kau bersedia?” tanya Zayed lagi, menggigit leher Keana.
“Tu-tunggu!” Keana menyentakkan d**a Zayed dan mendorongnya sekaligus membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dengan tubuh menegang dan d**a berdebar keras. “Kau bilang apa?” tanyanya seraya mendongak.
Tatapan mereka bertaut. Zayed masih menatapnya dengan dalam dan tajam, tapi gairah yang menerjang jelas terlihat di matanya.
“Kau ingin berjalan-jalan dengan kuda kan,” ujar Zayed kemudian.
“Tidak, tidak. Bukan itu yang kau katakan. Kau ingin bercinta denganku?”
Tanpa mengatakan apapun Zayed hanya menaikan sebelah alisnya memandang Keana, dan kedua tangan terlipat di d**a. “Aku tidak mengatakannya.”
Keana berdecak dengan wajah mencibir. “Pembohong. Jika kau mengatakannya, aku tidak keberatan. Aku hanya akan berkata, kita tidak memiliki hubungan apa pun, oke.”