Rasyad mendatangi sebuah kamar yang dijaga di depan pintunya, seorang pelayan membungkuk sambil membuka pintu. Senyuman hangat tak pernah lepas dari wajah tampannya, ia mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang yang ada di kamar itu. “Assalamu’alaikum, ya Amati,” ujar Rasyad dengan nada lembut. “Wa’alaikumsalam, ya abni. Kau ke mana saja?” suara seorang wanita mengalun lembut dan penuh kasih. Rasyad mendekati kursi panjang di mana selir Mahrema––yang merupakan ibunya––sedang duduk ditemani pelayan yang mengipasinya dengan kipas dari bulu merak. Pria itu berlutut dan mencium punggung tangan sang ibu dengan hormat. “Aku baru saja dari pelabuhan, untuk mengurus beberapa kapal dari bangsa barat yang akan berlayar. Kapal dari Ghaliah yang berangkat ke Romawi suci mengangkut persediaan m
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


