Keana bersiap di tepi kolam pemandian, ia melepaskan jepit rambut dan hiasan dahinya, kemudian melepaskan kerudung yang tersampir di bahunya. Terakhir Keana membuka abayanya dari bagian atas dan melemparnya sembarangan. Berada di dunia orang lain, nyatanya bisa seindah ini meski awalnya ia anggap mimpi buruk yang mengerikan. Tidak salah dirinya bertemu dengan Zayed, karena pria misterius itu benar-benar memiliki tempat yang indah.
Deburan air terdengar bersama dengan tercipratnya air ke permukaan ketika tubuh Keana melompat ke dalam kolam. Ia berenang dengan senang, ke sana-sini dengan begitu bebas meski hanya mengenakan pakaian dalam. Ketika menoleh, Fatimah sudah tidak ada dan kini dirinya sendirian dengan tembok tinggi yang mengelilingi tempat itu, juga pemandangan langit yang mulai menggelap dan berbintang. Seakan bintang-bintang bertaburan itu ikut bahagia bersamanya.
Keana berenang ke pinggir, dengan rambutnya yang mengambang di air. Ia menghela napas pelan dan menyandarkan pipinya di kedua tangan yang terlipat di pinggir kolam. Ia merindukan apartemennya, pekerjaannya, orang tuanya dan juga Robin. Jika dirinya pergi ke masa lalu, apa yang Robin lakukan karena dia menghilang? Keana memikirkan Robin dan orang-orang di dunianya dengan muram dan sedih, ia tidak mencintai Robin seperti kekasih, ia menyayangi Robin karena sahabatnya sejak kecil.
“Aku merindukan apartemen dan Robin. Apa dia mencariku karena menghilang tidak, ya?” gumamnya dengan murung. Mata biru safirnya berpendar redup dan sedih. Dirinya bisa mendapatkan kemewahan saat ini, tapi semua ini tidak benar. Ia tidak bisa hidup di masa ini, karena ini bukanlah dunianya.
Malam semakin beranjak dan bintang-bintang semakin banyak dan bertaburan, seakan menemaninya bermuram durja. Udara semakin dingin dan angin berembus menerpa tubuhnya hingga menggigil. Keana pun naik ke pinggir kolam, ia berjalan ke kamarnya dalam keadaan masih basah dan nyaris telanjang karena Fatimah tidak meninggalkan handuk untuknya.
Ketika membuka pintu, ia melihat Fatimah sedang menghidangkan makanan di meja yang berada tak jauh dari ranjang. Dahinya mengerut dan heran, ia pikir dirinya akan makan malam bersama Zayed, tapi Fatimah membawa makanan ke kamarnya. Keana mendekat dan meraih jubah dari sutera yang berada di ranjang, kemudian mengenakannya dan mengikatnya di pinggang.
“Fatimah, apa Zayed akan makan malam bersamaku?” tanya Keana dengan nada pelan.
Fatimah menoleh dan selesai menghidangkannya. Wanita itu hanya tersenyum dan berbicara dalam bahasa Arab padanya. Keana menyerah dan tak paham sama sekali.
“Fatimah, aku...” Keana menunjuk dirinya sendiri kemudian makanan di meja dan meneruskannya, “Ingin makan bersama Zayed. Iya Zayed. Makan bersama.”
Fatimah menatap Keana dalam-dalam sambil mengerutkan dahinya. Kemudian paham dan menggeleng pelan, untuk menolak. Fatimah juga menyebutkan kata ‘Emir’ yang Keana dengar saat dia menyapa Zayed.
“Emir? Apa itu emir? Ya ampun, jika aku membawa ponsel pasti aku akan bertanya pada google,” gerutunya dengan sebal.
Fatimah hanya membungkuk kecil kemudian pergi dari kamar Keana, menutup pintu hingga kesunyian dan rasa dingin menyergap Keana. Ia menghela napas pelan dan mengambil duduk di kursi yang berbantalan empuk. Mengambil sendok dari perak dan menatapnya dengan wajah merengut.
“Aku memang terbiasa makan sendiri, kadang bersama Robin atau di restoran yang ramai. Rasanya aku kesepian, tidak ada televisi dan ponsel juga.” Keana menaruh kembali sendoknya dan bangun.
Ia melepaskan jubah suteranya dan mengambil abaya berbentuk jubah berwarna biru, mengenakannya dan mengikatnya di pinggang. Ada sisir dan wadah dari keramik berwarna putih. Ia membukanya dan menemukan sebuah pelembab yang sangat wangi dan lembut yang belum pernah ditemuinya. Seakan semuanya terbuat dari rempah-rempah dan madu asli. Selesai menggunakan pelembab dan menyisir rambut, Keana bergegas untuk pergi ke luar. Ia akan menemui Zayed di kamarnya dan mengajaknya makan bersama.
Keana menikmati berjalan-jalan di koridor dengan pemandangan indah lentera-lentera yang tergantung di pohon dan taman, juga di dinding-dinding koridor. Sampai ia berbelok dan menemukan sebuah pintu yang sama besarnya dengan pintunya dan terdapat lentera di depannya. Sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu, Keana menoleh ke sana-sini dengan waspada agar tidak ada Fatimah atau siapa pun yang melarangnya masuk.
Ia pun mengetuk pintu, dan tak berapa lama terbuka dari dalam. Sosok Zayed berdiri menjulang di hadapannya dengan mengenakan celana putih besar dan jubah yang diikat di pinggang. Tatapannya tetap tajam dan kelam.
“Hmm... kau mau makan malam denganku? Aku merasa kesepian jika sendiri,” kata Keana dengan suara dibuat senormal mungkin. Dalam hati ia mati-matian menahan degupan jantungnya melihat penampilan Zayed yang tanpa turban.
“Keana,” ujar Zayed dengan suara seraknya.
“Ya,” sahut Keana seraya mendongak.
“Kita tidak bisa berada dalam satu kamar.”
“Kenapa? Saat di apartemenku, bahkan kita hanya berdua. Kita hanya makan malam, setelah itu aku akan kembali ke kamarku.” Keana menatap Zayed dengan wajah memohon, tapi kemudian ia menghela napas dan mengangguk paham. “Maaf, dunia kita memang berbeda. Aku melupakannya,” lanjutnya dengan nada lesu.
Ketika hendak berbalik dan pergi, tangannya ditahan oleh Zayed dari belakang. Seketika Keana merekahkan senyumannya karena wajah muram dan lesunya berhasil membuat pria bagai manekin berjalan seperti Zayed mau menahannya. Melanjutkan aksi muramnya, Keana berbalik dan balas menatap Zayed.
Tatapan Zayed terlihat begitu gelap dan tak tersentuh. Rasa hangat dari cengkeram tangannya terasa menghantarkan sengatan aneh pada tubuhnya. Keana sedikit gemetar dibawah tatapan gelap dan menghujam itu, bersama dengan wajah Zayed yang mendekat padanya.
“Kita sama-sama dewasa, aku takut tidak bisa menghindari sebuah kemungkinan,” ujar Zayed.
Keana menahan napas mendengar suara berat dan seksi itu menyapa pendengarannya dengan aksen yang sungguh menggoda. Ia hendak membuka bibirnya, tapi tubuhnya tertarik ke dalam dan pintu tertutup. Tubuhnya menabrak tubuh Zayed hingga menempel. Kemudian suara langkah kaki terdengar dari depan pintu, berhenti sejenak lalu pintu diketuk dari luar.
“Ada yang datang,” bisik Keana dengan mata membulat.
Zayed tidak mengatakan apapun, ia menarik Keana ke ranjang dan mendorongnya hingga jatuh terlentang, kemudian menarik kelambu-kelambu yang terikat di setiap pilar ranjang hingga tertutup dan menyembunyikan tubuh Keana.
“Kenapa Zayed tak ingin terlihat bersamaku? Apa karena dia seorang bangsawan?” gumam Keana masih berbaring. Ia membalikan tubuh dan tengkurap sambil mengirup wangi seprei.
Suara langkah kaki saling bersahutan terdengar mendekat, dan dari dalam kelambu Keana bisa melihat ada seorang pria yang sedang berbicara dengan Zayed. Mereka terlihat cukup serius, meski Keana tak mengerti apa yang mereka bicarakan, dan Zayed memanggil pria itu Ayaz, lalu pria itu memanggil Zayed emir. Meski tak mengerti, Keana masih mendengakarkan.
Zayed masih berbicara dengan pria bernama Ayaz dalam bahasa Arab dengan aksen Ghaliah yang kental. Keana senang mendengar mereka berbicara dalam bahasa Arab semenjak dirinya mengenal Zayed. Apalagi suara Zayed yang sangat seksi dan menggoda, seakan memancing letupan-letupan gairah yang tersembunyi.
Sambil menguap pelan, Keana membuka sedikit belahan kelambu dan melihat siapa yang berbicara dengan Zayed secara serius. Mereka tidak takut dirinya menguping, karena Zayed tahu dia tak akan mengerti apa pun. Ketika kepalanya menyembul sedikit, pria bernama Ayaz yang berbicara dengan Zayed menoleh dan tatapan mereka bertemu. Keana yang melihatnya hanya tersenyum manis sambil menyapa tanpa suara.
“Emir?” Ayaz terkejut dan menatap ranjang, hingga mereka sama-sama menoleh dan bertemu Keana.
“Ah, bodohnya aku,” gumam Keana sambil menutup kembali kelambunya.
Suara-suara percakapan Zayed dan Ayaz berhenti bersama dengan langkah kaki keluar dan pintu yang tertutup. Setelah hanya ada Zayed, Keana pun keluar dari balik kelambu sambil menatap Zayed dengan wajah penuh penyesalan.
“Aku minta maaf,” katanya dengan suara pelan. Melihat tatapan tajam dan wajah dingin Zayed, ia takut pria itu marah padanya.
“Tidak perlu meminta maaf,” balas Zayed. Ia duduk kembali dan menuangkan kopi hitam dan kental ke dalam cawan, dari poci antik berwarna emas dan leher yang panjang.
“Tapi Ayaz jadi tahu aku di sini, bagaimana jika dia memikirkan yang iya-iya?”
Zayed berdeham untuk menahan tawa mendengar kembali bahasa Keana yang terkadang sulit dimengerti. “Duduklah, kau ingin makan malam bersamaku kan?”
“Iya! Jadi, kita akan makan malam bersama lalu apa lagi? Di sini tidak ada televisi, jadi kita tidak bisa menonton.”
Zayed menaikan sebelah alisnya. “Tele... televisi? Apa itu?”
“Itu benda besar dan kotak berwarna hitam yang dulu ada di depan sofa apartemenku. Ingat?”
“Oh, ya aku ingat. Jadi apa gunanya benda itu?”
Keana tersenyum senang dan mendudukan diri di depan Zayed ketika mendengar pria itu lebih banyak berbicara padanya, daripada berlaku seperti patung berjalan. “Akhirnya kau berbicara juga, hampir aku menjulukimu Mr. Manekin berjalan.”
“Apa lagi itu?”
“Ah sudahlah, aku sudah lapar. Ayo makan! waktu itu kau bahkan tidak mengatakan apa pun, kau benar-benar seperti patung. Apa aku harus memancingmu dulu agar berbicara? Aku bahkan sudah pegal berbicara, kau masih sangat sedikit mengucapkan kata-kata.” Keana mengambil sendok perak dan sedikit berat daripada stenlis, kemudian menyendok makanan pedas dan menyuapkannya. “Eh, memangnya tidak apa-apa Ayaz tahu ada wanita di ranjangmu?”
Zayed menyeruput kopinya kemudian menaruhnya dengan gerakan yang begitu elegan dan penuh maskulinitas bagai seorang bangsawan sejati. “Tidak apa-apa. Sudah hal biasa jika para bangsawan atau Sultan menyimpan seorang wanita di kamar mereka. Baik dalam persinggahan atau pun di kediaman mereka.”
“Oh, aku pikir di Kerajaanmu ini, wanita harus dinikahi dulu baru bisa ditiduri. Berarti, jika kau mau meniduriku juga tidak masalah kan, meski kau belum menikahiku,” ujar Keana dengan wajah ingin tahu.
“Uhuk! Uhuk!” Zayed tersedak kopinya dan buru-buru menaruh cangkirnya, untuk mengambil air putih dan meneguknya hingga tenggorokannya tidak terasa perih.
“Kau harus pelan-pelan jika tak ingin tersedak.” Keana kembali menyendok makanan ke mulutnya, ia mulai berbicara ketika selesai menelan makanannya. “Berarti kau sering membawa wanita ke ranjangmu? Apa mereka wanita penghibur? Atau jangan-jangan kau sudah menikah?”
Zayed berdeham pelan. Ia menatap Keana dengan dalam dan pandangan semakin menggelap, menyimpan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang panas, membara dan bergelora seakan bisa membakarnya detik itu juga. Sesuatu yang memberontak yang sekuat tenaga ia tahan. Melihat wajah cantik dan lugu Keana, dengan bibir yang seksi, leher yang indah dan tubuh ramping dengan lekuk-lekuk indah itu, telah membangkitkan gairah lelakinya.
“Aku tidak terikat pernikahan saat ini, Keana,” balasnya.
“Oh, seperti dugaanku. Pria sepertimu memang lebih cocok jika jadi playboy.” Keana berdecak dan menopang dagu dengan kedua tangannya sambil memandang Zayed ketika selesai dengan makanannya. “Aku tidak heran jika kau menjadi playboy, kau benar-benar menggoda dan tampan.”
“Aku tidak tahu playboy itu apa.”
“Para pria yang selalu memainkan wanita. Mengencani dan meniduri banyak wanita, tanpa memberikan mereka sebuah hubungan serius. Nah! Seperti Robin sahabatku, dokter yang menolongmu di apartemenku.”
Keana mengambil air putih dan meneguknya, ia juga mengambil buah berwarna merah dengan kulit seperti beledu lalu menggigitnya. Tatapannya kembali pada wajah nyaris sempurna di hadapannya, dengan segala aura seksi dan menggoda yang menguar kuat.
“Aku sendiri penasaran, bagaimana ya pria-pria gurun jika di ranjang? Aku belum pernah bercinta sebelumnya, bahkan dengan pria Inggris pun tidak pernah. Memang, para pria gurun itu lebih menggoda dan hot jika diperhatikan.”
“Kau benar-benar ingin tahu?” tanya Zayed dengan suara serak dan menggoda dengan sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk seringai samar.
Keana terpana dengan seringai samar dan menggoda di wajah Zayed, karena itu eksrpresi lainnya yang ditunjukan Zayed selain wajah dingin dan datar. Pria itu bangun, dan Keana mencengeram pakaiannya di bawah meja dengan erat ketika Zayed melepaskan tali jubahnya hingga menampakan d**a bidang dan perut kencangnya yang terdapat bekas luka yang masih sangat baru. Kedua kakinya saling mengait, dan tubuhnya bereaksi dengan aneh. Melihat gerakan maskulin Zayed, ia merasa tubuhnya memanas dan dadanya berdetak lebih cepat dengan pangkal pahanya yang berdenyut.
Zayed melepaskan jubahnya hingga terjatuh di lantai marmer yang mengkilap itu. Mendekati Keana dan berdiri di belakangnya, kemudian membungkuk dengan kepala berada di sisi kepala Keana. “Kau ingin tahu bagaimana para pria gurun di ranjang?”
Keana menahan napas dan menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya seakan hendak melompat dari rongga dadanya mendapat godaan dahsyat dari Zayed yang hanya berupa bisikan di telinganya. Pahanya semakin berdenyut dan perutnya seakan melilit, dengan tubuh yang mulai panas. Keana sadar, dirinya b*******h. Ia juga merasakan gairah yang membumbung tinggi dari Zayed.
Akankah mereka berakhir di tempat tidur? Keana meringis dalam hati. Ia tak ingin memberikan kesuciannya pada pria yang belum lama dikenalnya, tapi ia tahu mereka berdua sama-sama memendam gairah yang membara dan siap terbakar. Keana menoleh dan tatapannya bertaut dengan Zayed yang masih ada di posisinya.
“Ah, a-aku sudah selesai makan,” kata Keana seraya bangun dan berdiri.
Zayed pun menegakkan tubuhnya dan melihat tubuh Keana yang memberikan reaksi berbeda. Sangat bohong jika tubuh Keana tak bisa ia baca. Wanita itu pun tersulut api gairah yang mereka ciptakan hanya berawal dari tatapan dan percakapan. Zayed mendekat dan merengkuh pinggul Keana, membawanya mendekat dan menempel.
“Kau akan kembali ke kamarmu?” tanyanya dengan suara serak, menahan gairah yang semakin menggelegak. Jika Keana tak siap, dia tak akan memaksa.