Chapter 13

1549 Words
Keana balas menatapnya sambil menggeleng pelan. Tatapan mereka terus terpaut. Zayed mendorong pinggul Keana ke atas, sedangkan Keana merangkulkan kedua tangannya di leher pria itu dengan kaki berjinjit. Dadanya bertubrukan dengan d**a keras Zayed, dan ia bisa merasakan tubuh pria itu mengeras, kuat dan kokoh. Merengkuhnya dengan penuh sensualitas yang menakjubkan. “Apa yang akan kita lakukan malam ini?” tanya Zayed lagi, dengan seringai samarnya. Keana menahan napas dengan denyutan di tubuhnya yang semakin terasa menyesakkan. “Apa pun,” balasnya dengan suara setengah parau. “Melewati malam yang panjang di ranjangku?” Zayed menyusupkan wajahnya ke leher Keana, dan menghirup wangi manis alami. “A-aku tidak masalah. Apa aku terdengar seperti w************n?” Zayed melepaskan wajahnya dari leher Keana dan menatapnya dengan tatapan gelap yang dipenuhi oleh kilatan-kilatan gairah yang tak bisa dibendung lagi. “Tidak sama sekali, kau sangat cantik, menggoda dan juga manis, Keana. Kau siap memberikan kesucianmu padaku?” Keana tak bisa mengatakan tidak, atau pun ya. Dia juga menginginkan Zayed, sama seperti pria itu menginginkan dirinya. Keana tak pernah mengatakan bahwa pria pertamanya adalah suaminya, dia hanya menunggu seseorang yang akan membuatnya jatuh hati dan mampu membuatnya gemetar dan berdebar. Ia membuka bibirnya, menatap bibir menggoda Zayed. “Kau ingin menciumku, Zayed?” bisiknya. Tanpa membalasnya, Zayed semakin menarik tubuh Keana dan merunduk untuk memagut bibirnya. Tangan-tangan kuat dan kokoh itu merengkuhnya erat, seakan bisa mematahkan pinggul Keana dalam sekali hentak. Bibir seksi yang terasa dingin itu memagut bibirnya, bergerak perlahan menggodanya. Bibir itu terasa keras, dingin dan kokoh yang tak pernah Keana rasakan sebelumnya, ia terbuai dan membuka bibirnya untuk membalas ciuman Zayed. Kedua tangannya meremas rambut belakang Zayed, dan kedua kakinya seakan siap meleleh sebentar lagi. Zayed masih memagut bibirnya dengan dalam, menyesap bibirnya seakan hendak mencair. Memberikan ciuman menakjubkan dan luar biasa, yang membuat seluruh tubuh Keana gemetar dan terbuai, kepalanya terasa berputar dengan perut yang seakan melilit. Ciuman mereka terlepas, dan Keana melenguh pelan dengan wajah memanas dan bibir berdenyut. “Kembalilah ke kamarmu,” bisik Zayed dengan suara serak menahan gairah yang siap meledak. Keana terdiam dan menatap mata tajam yang biasanya dingin itu berubah membara. “Kau yakin?” tanya Keana berbisik. “Kembalilah, sebelum aku hilang kendali.” Keana tersenyum lembut seraya mengusap rahang Zayed dengan halus. “Meski pun kita memang belum lama bertemu, bahkan aku belum mengenalmu, tapi kau menginginkanku, kan?” Tatapan Zayed semakin menggelap dengan rahang mengeras, dan bagian tubuhnya yang semakin mengeras. Bagai singai jantan, Zayed menggerung pelan. “Kembalilah ke kamarmu, aku tidak akan melampaui batas.” Zayed berbohong padanya, Keana tahu pria itu sangat b*******h meski ia tahu hanya hubungan fisik yang akan terjalin diantara mereka. Ia pun menginginkan pria itu, menatap d**a bidangnya yang kokoh terlihat mengkilap di bawah sinar lilin yang hangat, kulit kuning kecokelatan itu, tangan-tangan besarnya yang keras. Keana menghela napas untuk menenangkan detak jantung dan mengembalikan kembali suhu tubuhnya yang memanas. “Baik,” katanya kemudian, sedikit terdengar nada kecewa. Meski dalam hati ia merasa sangat kecewa dan seakan tak diinginkan. Pria seperti Zayed yang nyaris sempurna, mana mau dengan gadis biasa sepertinya. Sambil melepaskan tangan Zayed yang terasa erat mencengkeramnya, Keana berbalik dan hendak berjalan. Akan tetapi pria itu memanggilnya dengan suara setengah menggerung frustasi. “Keana.” Keana berbalik dan sedetik kemudian tubuhnya berada dalam pelukan Zayed kembali, dengan bibir yang dipagut. Zayed mencium bibirnya dengan kuat dan dalam, menyesap bibirnya seakan begitu manis bagai madu. Menggoda bibirnya agar terbuka, menyusupkan lidahnya yang hangat dan memberikannya ciuman luar biasa memabukkan. Ruangan yang diterangi lentera-lentera bercahaya hangat itu berubah memanas, dengan dua tubuh yang saling mendamba dan menggoda. Saling membutuhkan untuk mengisi kekosongan masing-masing. Zayed menggeram dalam dan melepaskan ciumannya dari bibir semanis madu itu, mengalihkan ciumannya ke rahang dan leher lembut Keana yang bagai sutera terbaik. Sebelah tangannya terulur ke bawah dan menarik tali pakaian yang terikat di pinggang Keana. “Zayed,” gumam Keana dengan setengah mengerang sambil mencengkeram pundaknya. “Kita harus menggunakan pengaman,” lanjutnya. Zayed menghentikan ciumannya di leher keana dan menatap wanita itu dengan dalam. “Pengaman? Aku pastikan kau tidak akan mengandung.” Dalam sekali tarik, pakaian Keana turun ke bawah dan teronggok di lantai. Ia hanya mengenakan pakaian dalam dengan kulit putih kekuningan yang terlihat bersinar diterpa sinar lilin dari lentera. Wajah sayu, rambut pirang berantakan dan lekukan tubuh yang sangat indah dengan pinggul dan d**a berisi. Untuk seorang wanita yang belum pernah terjamah, Keana memiliki d**a yang berisi dalam lilitan kain putih hingga dadanya terhimpit. Zayed menyeringai dengan gairah yang meletup-letup di kepalanya, tatapannya semakin tajam dan menggelap melihat tubuh indah Keana di hadapannya. Menarik ujung kain yang melilit di d**a Keana, membuatnya berputar dengan gerakan sensual sampai kainnya terlepas sempurna. Menahan geraman dalam suara, Zayed merengkuh kembali pinggang Keana dan membawanya ke meja, menjatuhkan tubuh Keana ke meja hingga poci, cawan dan benda lainnya berjatuhan, menimbulkan bunyi pecahan. Terdengar suara langkah tergesa dan ketukan di pintu. “Emir?” Keana yang berbaring nyaris telanjang di meja, dengan Zayed berada di atas tubuhnya hanya melirik ke arah pintu, dan melihat siluet seseorang dari bawah pintu. “Pergilah, aku tidak apa-apa,” perintah Zayed dengan nada menahan geraman. Keana tersenyum kecil. “Ayaz takut wanita di ranjangmu akan menggigitmu,” bisiknya. Zayed menarik sebelah sudut bibirnya membentuk seringai yang amat tampan. “Dia justru takut, wanita itu akan habis terkoyak di kamar ini.” Embusan napas mereka saling beradu dan tatapan yang bertaut dalam. Zayed menindih tubuh Keana dan mencium bibirnya kembali, sedangkan Keana melilitkan kedua kaki rampingnya pada pinggang kokoh Zayed dengan kedua tangan meremas belakang kepalanya. Mereka berciuman kembali, dan Zayed membawa tubuh Keana di depan tubuhnya ke ranjang, kemudian menjatuhkannya. Berbaring dengan rambut pirang tergerai berantakan di bantal, d**a yang naik turun dengan embusan napas cepat dan kaki ramping yang akan melingkar di pinggulnya, membuat Zayed menggerung kembali bagai singai jantan yang menemukan pengantinnya. Tak pernah ada wanita secantik dan semenarik Keana berada di kamarnya. Dia pria dewasa, seorang Putra Mahkota yang akan mewarisi takhta, tentu saja mendapatkan seorang wanita cantik tidaklah sulit. “Aku tidak bisa berhenti lagi, Keana.” “Kalau begitu jangan berhenti,” balas Keana. Keana tersenyum amat manis dengan wajah memerah sedikit malu, dadanya berdebar kencang seakan hendak loncat. Bagaimana pun ini pengalaman pertamanya, dan pria itu adalah Zayed––pria yang sangat tampan nyaris sempurna. Keana menahan napas dan erangannya, dengan sebelah tangan meremas sprei dan satu tangan lagi menutup mulutnya, ketika ia merasakan sengatan dahsyat di tubuhnya. Saat Zayed mencium dadanya dan terus turun ke perutnya, terus turun ke bagian tubuhnya yang lain. “Zayed.” Keana menahan napasnya yang nyaris terputus, mendapat godaan kuat dari pria seksi itu. “Jika kita melewati malam ini bersama, kau akan menjadi wanitaku. Kau bersedia, Keana?” Keana mengangguk pelan sambil menatap Zayed yang menggoda tubuhnya. “Yah, Zayed.” “Kau tidak akan bisa disentuh pria manapun lagi.” “Yah, Zayed. Akh!” Keana mengerang dengan punggung melengkung dan d**a membusung, kedua tangannya mencengkeram sprei dengan mata tertutup rapat. Serbuan panas menerjangnya dan seakan melesatkannya ke udara saat melepaskan sesuatu. Napasnya memburu dengan keringat di dahi, Keana tertawa kecil sambil memandang Zayed yang berdiri menjulang di pinggir ranjang masih mengenakan celana panjangnya. “Wow,” gumamnya dengan pelan. Keana masih mengatur napasnya ketika Zayed menghampirinya di ranjang dan menindih tubuhnya. Lagi-lagi serbuan gairah menerjangnya, merasakan tubuh besar Zayed menghimpitnya dengan erat. Keana tersenyum sambil mengelus rahang pria itu. Tatapan mereka pun bertaut, dan Keana tak mendapatkan ekspresi apapun dari Zayed selain tatapan tajam dan menggelap. Erangan Keana teredam oleh ciuman Zayed, dan tubuhnya bergetar dengan kedua tangan mencengkeram punggung Zayed ketika tubuh mereka bersatu, saling mengisi dan memenuhi dengan kehangatan dan belaian yang sensual. Keana tak dapat bernapas lancar, saat Zayed menggerakan tubuhnya dan menghujam tubuhnya dengan dalam dan kuat. Ia merasa penuh, panas dan basah. Tubuhnya basah dan tungkai-tungkai mereka saling beradu ketika Keana menurunkan kakinya dari pinggul Zayed. Keringat mereka menjadi satu, erangan dan deru napas mereka berkejaran. “Kau sangat indah, Keana...” bisik Zayed dengan suara serak dan sensual. Zayed masih menghujam tubuh Keana yang ramping dan rapuh, dengan hentakan kuat yang membuat Keana menahan jeritannya. Punggung kokohnya yang berwarna cokelat kekuningan itu berkeringat, otot-ototnya menegang bersama dengan gerakan mereka yang saling berirama. Keana menjatuhkan kepalanya dengan jari-jari mencakar punggung Zayed, ketika dalam hentakan keras Zayed mengisi tubuhnya dengan kehangatan dan menjemput pelepasan bersama. Deru napas mereka saling berkejaran dengan d**a naik turun untuk mengisi kembali paru-paru yang terasa kering. Wajah keana terlihat bersinar meski cahaya lilin di luar kelambu, sedangkan tubuhnya gemetar dan basah. Ia mengusap punggung basah Zayed yang masih berada di atas tubuhnya. “Zayed, itu luar biasa. Terima kasih,” bisik Keana. Zayed mengangkat kepalanya dan menatap Keana. Gairah masih berkabut di matanya, dan belum surut. “Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau satu-satunya wanita yang membuatku menjadi pria sejati. Aku tak pernah merasakan bercinta seindah ini.” Zayed mencium dahi Keana dan kembali berbisik, “Keana, aku masih menginginkannya.” Keana terkesiap dan mencengkeram punggung Zayed ketika pria itu kembali menghujamkan tubuhnya. Mereka melewati percintaan yang panas dan menggairahkan di malam yang dingin itu, dengan cahaya lilin kekuningan yang berpendar hangat. Dilingkupi kelambu yang tertutup dan memberikan siluet tubuh mereka dari baliknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD