Mobil hitam itu meluncur kencang di jalanan kota. Menembus hujan yang cukup deras. Kedua penumpangnya bersitegang dan tidak bisa menahan diri sehingga mempengaruhi lajunya. Kendaraan itu mulai oleng.
"David berhenti!" Omy berteriak membuat David yang sudah tidak bisa berkonsentrasi pada mobilnya semakin kesulitan mengendalikan emosi maupun kendaraannya.
"Diamlah!" David pun berteriak penuh marah.
"Kenapa kau selalu memintaku diam dalam segala hal? Kalau kau mau mati, matilah sendiri! Aku masih ingin hidup!" Omy yang sudah tidak dapat menahan beban di hatinya, membalas teriakannya dengan penuh emosi.
"Apa katamu? Kau ingin hidup?" David mengerem kendaraannya mendadak. Mobil berhenti dan dia membuka pintu mobil.
"David apa yang kau lakukan?" Omy mulai merasa panik ketika suaminya itu membuka pintu mobil di sisinya.
"Kau ingin hidup dan membiarkan aku hancur seorang diri? Itu tidak akan kubiarkan!" David berteriak kalap dan menyeretnya dari dalam mobil.
"Lepaskan aku! David kau gila!" Omy berteriak ketakutan. Dia tahu benar karakter suaminya yang temperamen dan kasar. David tidak akan segan menyakitinya jika segala sesuatunya tidak sesuai keinginannya.
"Lepaskan!" Omy berusaha melepaskan diri dari David yang terus menyeretnya hingga ke tepian jalan.
Jalanan sepi karena hujan dan juga hari telah melewati tengah malam. Tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Bahkan lingkungan di sekitar pun sangat sepi, tidak ada orang yang berkeliaran di luar di malam hujan seperti ini.
"Dengarkan aku! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dan hidup tenang!" David berteriak dan menampar Omy.
Seketika Omy limbung dan terjatuh di atas trotoar. Tak cukup sampai di situ, David menendangnya keras-keras hingga Omy terjungkal. Dia terus menendang istrinya itu hingga Omy tak bergerak karena menahan sakit di perutnya. Kemudian pria itu pergi meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan di bawah hujan yang deras.
"Aduh!" Omy mengerang pelan dan berusaha berdiri. Perlahan-lahan dengan menyeret kakinya yang sakit dan menahan sakit di perut dan wajahnya, wanita itu berjalan menuju sebuah minimarket yang masih buka yang nampak di kejauhan.
"Astaga!" Seorang karyawan minimarket yang tengah membuang sampah terkejut melihatnya tersaruk-saruk berjalan di bawah hujan.
"Nyonya ada apa denganmu?" Pemuda itu segera menyongsongnya dan membantunya berjalan. Membawanya ke teras minimarket.
"Tolong aku," gumam Omy lirih. Bibirnya yang pucat bergetar, ada bercak darah di sudut bibirnya karena tamparan David tadi. Seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Baiklah!" Pemuda itu mengangkat tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam minimarket dan mengejutkan rekan-rekan kerjanya.
"Xiao Yan, ada apa ini?" Rekan kerjanya berteriak dan segera membantunya membawa wanita itu.
"Apa dia korban kecelakaan?" Tanya salah seorang dari mereka. "Bawa dia ke gudang!" Seru yang lain.
"Entahlah! Dia berjalan di bawah hujan dan kesakitan. Karenanya aku membawanya kemari!" Xiao Yan menjelaskan dan membaringkan wanita itu di lantai gudang beralaskan kertas kardus.
"Ini handuk, keringkan tubuhnya!" Salah seorang rekan wanitanya memberikan handuk kecil padanya.
Xiao Yan dibantu salah seorang rekannya mengeringkan rambut dan tubuh wanita itu dengan hati-hati. Ada beberapa lebam di tubuhnya.
"Perutku sakit," gumam wanita itu lirih, hampir tidak terdengar.
"Nyonya apa yang terjadi? Apakah Anda mengalami kecelakaan?" Rekan wanita Xiao Yan bertanya dengan hati-hati sementara dia menggenggam erat tangan wanita itu yang terasa dingin.
"Ambilkan minuman hangat untuknya dan telepon ambulans atau dokter!" Teriaknya panik. Dia mulai merasakan ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu dan bisa berakibat fatal.
"Jie, ada darah di kakinya." Xiao Yan tertegun saat tanpa sengaja menyingkap gaun wanita itu. Darah tampak mengalir di pahanya.
"Astaga! Hei kau cepatlah telepon ambulans!" Gadis itu panik dan menepuk-nepuk pipi Omy.
"Nyonya! Nyonya! Sadarlah!" Teriaknya dengan panik.
"Jie, teleponnya tidak tersambung!" Pemuda yang tadi dimintanya membuat minuman hangat dan menelepon ambulans datang dengan membawa segelas teh hangat.
"Xiao Yan, bantu aku mengangkat lehernya. Dia harus meminum sesuatu." Gadis itu perlahan-lahan membantu Ony meminum teh hangatnya dengan sebagian tubuhnya disangga Xiao Yan.
"Xiao Yan, dengarkan aku! Wanita ini sepertinya mengalami keguguran, kita harus segera membawanya ke klinik atau rumah sakit dan kita tidak bisa menghubungi ambulans." Gadis itu berbicara dengan hati-hati, pelan tetapi tegas.
"Ada klinik di blok sebelah! Aku akan membawanya! Lagipula hujan sudah mulai reda!" Xiao Yan melirik pintu kaca.
"Baiklah! Pakai jas hujanmu dan bungkus dia dengan jas hujan juga!" Gadis itu bergegas membuka pintu minimarket.
Rekannya berlari ke dalam dan kembali dengan dua buah jas hujan. Xiao Yan segera mengenakan jas hujannya kemudian membantu Omy mengenakan jas hujan ala kadarnya.
"Aku bisa memotong jalan lewat belakang! Tolong buka pintu belakang!" Xiao Yan mengangkat tubuh lemah Omy dan membawanya ke luar melalui pintu belakang minimarket.
"Aku akan bereskan urusan di sini!" Gadis itu berteriak. Xiao Yan mengangguk dan terus berjalan menelusuri gang sempit di bawah hujan yang kini hanya rintik-rintik saja.
Klinik tepat berada di persimpangan jalan. Keluar dari gang kecil di belakang minimarket maka dia tiba di samping klinik. Xiao Yan bergegas memasuki pelataran klinik yang nampak sepi.
"Syukurlah masih buka," gumamnya lega saat melihat lampu-lampu klinik masih menyala terang.
Dengan hati-hati didorongnya pintu kaca. Seorang petugas klinik menyambutnya dan segera melakukan tindakan.
"Tuan tunggulah di sini dan melakukan registrasi." Petugas itu menahannya saat hendak memasuki Unit Gawat Darurat.
Xiao Yan mengangguk dan kembali menuju resepsionis. Dia sedikit kebingungan karena wanita itu tidak memiliki identitas. Dia tidak membawa apapun bahkan juga tas.
"Siapa nama pasien?" Petugas klinik bertanya padanya.
"Begini, saya menemukannya di depan minimarket tempat saya bekerja. Saya tidak mengenalnya dan tidak tahu indentitasnya." Xiao Yan menyahut dengan ragu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu tolong daftarkan dia dengan nama Anda agar dia segera mendapatkan pertolongan dan perawatan. Kondisinya sungguh parah dan harus segera ditangani." Petugas klinik memberikan sarannya.
Xiao Yan tanpa ragu menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan dompetnya memberikan kartu indentitasnya. Kemudian petugas klinik mencatat datanya dengan cepat.
"Tuan, Anda harus melakukan deposito untuk menjamin tindakan akan segera dilakukan." Petugas itu kembali menatapnya.
Dia menyadari pemuda di depannya ini masih terlalu muda. Tidak mungkin dia suami wanita yang tengah dibawanya tadi. Namun, prosedur di klinik mereka memang mewajibkan adanya deposito untuk menjamin tindakan perawatan yang terbaik dan juga mencegah hal-hal lain di kemudian hari.
"Berapa?" Xiao Yan bertanya dengan ragu. Dia tidak membawa uang lebih.
Petugas klinik memberikan berkas yang tadi dicatatnya. Xiao Yan menatap jumlah uang yang harus didepositokan yang tertera di berkas itu.
"Baiklah! Saya akan ke ATM sebentar!" Xiao Yan melirik sekitar klinik dan di sudut ada sebuah gerai ATM.
"Silakan Tuan!" Petugas klinik itu mempersilakannya untuk pergi ke ATM terlebih dahulu.
Xiao Yan bergegas menuju ATM dan menarik sejumlah uang dari rekening tabungannya. Itu adalah tabungan miliknya yang ditabung selama bekerja di minimarket.
"Tidak apa, Xiao Yan! Wanita itu lebih membutuhkannya saat ini." Xiao Yan bergumam meyakinkan dirinya sendiri.
Di tidak akan melupakan ekspresi sedih dan kesakitan wanita yang ditolongnya tadi. Ekspresi yang sangat tidak ingin dilihatnya di wajah cantik seorang wanita.