Erland mengangguk-anggukan kepala, menikmati alunan musik yang bersumber dari iPodnya. Matanya terpejam, sesekali ia menggumamkan lirik dari lagu yang tengah didengarnya. Kelas masih cukup sepi, karena terbilang masih pagi. Tiga puluh atau lima belas menit sebelum masuk, barulah nampak lebih ramai. Di sampingnya, Alvin asik sendiri memainkan ponselnya.
"Lan, ini i********: lo? Masih sepi banget kayaknya," ujar Alvin tanpa mengalihkan pandangannya. Merasa tidak ditanggapi, Alvin menarik earphone yang dikenakan Erland dan langsung membuat laki-laki itu memelototinya.
"Apaan, sih?"
"Ini i********: lo?"
"Mana?" tanya Erland.
Alvin menyerahkan ponselnya pada Erland, memperlihatkan akun i********: Erland.

Erland mengangguk, "Iya, itu punya gue. Apa lo lihat-lihat?"
"Kayaknya i********: lo masih sepi banget, belum banyak diburu."
"Orang baru bikin."
Alvin melotot, meski tetap saja matanya hanya nampak segaris, "Baru bikin? Anak SD aja udah pada pake ampun dah."
"Kata Bunda gue nggak boleh terlalu aktif di sosmed, takut diculik. Gue kan lucu."
"Najis lo!"
Erland terpingkal melihat reaksi temannya. Bukan itu alasan sebenarnya, Erland memang malas membuat akun-akun sosial media karena ia paling tidak suka diganggu, tapi karena penasaran dengan Renata ia terpaksa membuat i********:. "Lo jangan bilang siapa-siapa, ya! Awas aja mulut lo ember gue sambel!"
Alvin tersenyum jahil, "Woy! Follow IG Erland! Namanya Arkanaerland tanpa spasi!"
Erland langsung membekap laki-laki berwajah oriental itu, "Taik banget ya lo jadi temen!"
Alvin meronta minta dilepaskan, karena ia nyaris kehabisan oksigen, "Hhhh... hh... Sorry. Eh iya, Lan, lo abis nyolong anak siapa itu?"
"Itu Adek gue pas masih bayi. Gue ganteng banget, kan, di sana? Iya gue tahu kok."
"Eh sempak kuda, nyerocos aja ya mulut lo. Astaga!"
Tiba-tiba Erland teringat sesuatu. Ia mengacak-acak isi tasnya dan mengambil sebuah kotak bekal, "Gue mau nyamperin Renata. Lo jangan ngintilin gue mulu, nanti dikira kita homo. Bye Alvin bye!"
Laki-laki itu berlari membawa kotak bekal yang disiapkan bundanya. Bodo amat. Erland tidak mungkin memakan bekalnya di sekolah. Gengsi. Ia memilih menyerahkan bekalnya pada Renata, siapa tahu gadis itu belum sarapan. Itung-itung pendekatan.
***
Padahal Arlan sudah tidak apa-apa, tapi Elena tetap menahan suaminya untuk tidak bekerja. Biarlah toh perusahaan milik Arlan, bolos sehari tidak akan terlalu masalah. Elena takut jika kejadian kemarin terulang lagi.
"Kalau aku nggak masuk hari ini, bisa-bisa besok aku lembur," Arlan masih bersikeras membujuk istrinya.
Elena yang tengah mencuci tumpukan piring kosong di dapur, "Nggak ada, Lan. Sehari ini aja aku minta kamu istirahat."
"Aku udah nggak apa-apa, El."
"Terserah. Kalau sakit lagi aku nggak mau urus," kata Elena ketus.
Grep
Arlan memeluk tubuh istrinya dari belakang, berniat menjahili istrinya. Elena benar-benar menyeramkan ketika tengah marah, tapi tetap menggemaskan. Aroma shampo menguar dari rambut istrinya yang masih basah, "Jangan marah."
"Aku kesel sama kamu. Hobi banget bikin istri khawatir. Disuruh istirahat sehari aja kayak disuruh pensiun," omel Elena.
Arlan terkekeh, "Aku kerja buat siapa? Buat kamu sama anak-anak kita."
Elena mencuci tangannya, lantas menghadapkan wajahnya pada Arlan, "Nggak usah terlalu keras bekerja. Aku nggak perlu segala sesuatu yang berbau kemewahan. Aku cuma butuh kamu."
Arlan tersenyum tipis. Ia bukan tidak ingin duduk bersantai dengan keluarganya, tapi tabungan untuk pendidikan putra-putrinya nanti haruslah dipersiapkan. Arlan paling tidak bisa bergantung pada orang lain, apalagi hanya mengandalkan apa yang diberikan orang tuanya. Bagi Arlan, keluarga kecilnya sekarang sepenuhnya tanggung jawab Arlan.
"Kamu wangi banget, sih, El," Arlan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah godain. Aku mau antar Reina sekolah."
"Aku ikut, ya? Nanti pulangnya jalan-jalan."
Elena menaikan sebelah alisnya, "Jalan-jalan? Tanpa Erland?"
"Cuma sebentar, El."
Elena mengangguk.
***
Seharian ini, selama belajar, wajah Erland tertekuk. Ia kesal bukan main ketika Renata menolak makanan yang Erland berikan.
Erland melangkah dengan riangnya menuju kelas sang pujaan hati—Renata—yang ada si lantai dua. Ia mengabaikan tatapan kagum dari gadis-gadis yang melihatnya. Setiap ada yang memanggilnya, Erland dengan percaya diri akan berkata, "Jangan lihatin gue, nanti jatuh cinta. Kalau udah jatuh cinta, bikin repot. Gue udah punya cewek."
"Hallo, Rena."
Renata yang tengah mengobrol di bangkunya terkesiap melihat kehadiran Erland, "Lo ngapain di sini? Kalau Bagas lihat bisa gawat!"
"Biarin. Namanya juga usaha."
"Astaga Erland! Lo batu banget, sih, muka udah dibikin bonyok juga nggak ada kapok-kapoknya."
"Ini makanan buat lo. Spesial buat lo, jangan dikasih ke orang. Kalau orang lain yang makan pasti kejang-kejang, karena makanan ini ada sensornya. Cuma bisa dimakan sama cewek cantik."
Renata geleng-geleng, sementara teman-teman sekelasnya tertawa kecil. Tak ingin menjadi pusat perhatian, Renata menyeret Erland ke dekat tangga.
"Lah, belum apa-apa udah mau ngajakin mojok. Jadian dulu, yuk?" tawar Erland.
"Jadian sana sama onta! Lan, berapa kali gue harus bilang kalau gue udah punya cowok. Gue sama Bagas itu saling cinta, dan lo nggak boleh ganggu hubungan gue sama dia."
"Kasih gue waktu sebulan buat buktiin kalau gue bisa bikin lo jatuh cinta sama gue. Kalau dalam jangka waktu sebulan itu lo ternyata nggak cinta juga sama gue, ya gue mundur," Erland bernegosiasi.
Renata menggeleng, "Itu sama aja lo nyuruh gue selingkuh. Nggak bisa. Bawa balik makanan lo. Bagas juga masih bisa jajanin gue."
Erland tersadar dari lamunannya, ketika sebuah spidol mendarat tepat di kepalanya. Anak laki-laki itu meringis, "Ish, siapa sih yang lempar?" tanya Erland setengah berteriak.
"Saya yang lempar Erland, kenapa?"
Erland menoleh, dan mendapati guru mata pelajaran Biologi yang bertubuh tambun sudah berdiri tak jauh dari bangkunya. Erland tersenyum kikuk, "Eh, Ibu. Maaf, ya, Bu. Saya nggak tahu kalau Ibu yang lempar."
Guru itu bertolak pinggang, "Kamu ini, saya perhatikan kerjaannya melamun terus! Lain kali kalau ketahuan melamun lagi, kamu tidak boleh ikut pelajaran saya!"
"I... iya, Bu."
***
Reina masih terlihat bahagia usai jalan-jalan bersama orang tuanya. Ia dibelikan banyak boneka, dan buku dongeng seri terbaru, "Bunda, bonekanya simpan. Nanti Aa mau."
Elena terkekeh, "Aa kan laki-laki, Rei. Mana mungkin suka boneka," tuturnya sembari menciumi pipi gembul gadis kecilnya.
"Aa suka mau apa yang Leina punya," keluh Reina lagi. Bukan tanpa sebab, dulu Erland memang pernah menghabiskan makanan ringan untuk Reina. Jadilah sekarang Reina lebih berhati-hati.
"Bunda, Ayah mau dicium juga dong," goda Arlan.
Elena menghadiahkan cubitan pedas pada pinggang suaminya. Kesal, karena Arlan berani menggodanya di depan Reina.
"Assalamu'alaikum. Aku pulang."
Mereka menoleh ke sumber suara, tidak terkecuali Reina. Tapi ada hal lain yang dilakukan bocah kecil itu. Menyembunyikan es krimnya dari jangkauan sang kakak.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arlan dan Elena serempak.
Erland melangkah lemas ke arah orang tuanya. Ia langsung mengambil posisi duduk tepat di samping sang ayah.
"Kok lemes gitu, A, kenapa?" tanya Elena.
Erland menggeleng. Tidak mungkin ia jujur tentang Renata, karena sudah pasti bundanya akan mengomel. Bukan tak mungkin juga orang tuanya akan menertawakan, "Bun, makan sama apa?"
"Tumben pulang-pulang minta makan? Tadi bekalnya dimakan nggak?"
"Dimakan kok."
"Bohong, ya?" tanya Elena penuh selidik.
"Ih Bunda malah bawel. Perut aku udah melilit minta diisi."
"Bunda belum masak. Baru pulang jalan-jalan. Aa tidur dulu sebentar, ya, selama Bunda masak," bujuk Elena.
Erland mengerucutkan bibirnya, "Tahu, ah! Aku mau tidur aja. Nggak akan bangun-bangun lagi. Bye Bunda. Jalan-jalan aja terus!" ia bangkit dan langsung meninggalkan orang tuanya.
Arlan melirik istrinya, "Itu anak kamu?"
"Anak kita!"
"Ayah, Bunda, Aa malah gak dikasih es klim? Leina mau kasih Aa," Reina turun dari sofa, berlari-lari kecil hendak menemui kakaknya.
***
Erland membuka seragam sekolahnya, hingga kini tubuhnya hanya terbungkus kaos putih polos dan celana pendek, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Erland menelan salivanya. Cairan lambungnya terasa naik hingga ke tenggorokan, menimbulkan rasa pahit di mulutnya. Perutnya pun sakit, kondisi semacam ini normal ketika Erland telat makan. Tadi pagi ia tidak sarapan, dan setelah ditolak Renata, bekalnya Alvin yang menghabiskan.
Cklek
"Aa."
Bukannya menjawab, Erland malah pura-pura tidur. Bukan waktu yang tepat untuk menjadi mainan Reina saat ini.
"Aa mau es klim? Leina punya satu. A tadi Leina beli boneka sama buku dongeng balu."
"Keluar, Rei. Aa mau tidur," sahutnya tanpa membuka mata.
Reina malah naik ke tempat tidur Erland. Ia tidur tengkurap sambil mengamati wajah kakaknya. Es krim di tangannya dibiarkan meleleh sampai mengotori tempat tidur Erland, "Leina mau bobo sama Aa, boleh?"
Lagi-lagi Erland tidak menanggapi. Matanya sudah tertutup sempurna. Anak laki-laki itu tidur sungguhan sekarang.
Mata Reina mengerjap beberapa kali, mulai terlihat mengantuk. Ia lelah seharian jalan-jalan. Akhirnya gadis kecil itu ikut tertidur di samping kakaknya yang sudah terlelap lebih dulu.
***
Pertengkaran dalam suatu hubungan hanyalah batu kerikil. Dan pertengkaran kecil semacam itulah yang kini menimpa Renata-Bagas. Bagas marah begitu mengetahui Erland sempat ke kelas Renata dan memberikan makanan, meskipun makanan itu tidak diterima Renata.
"Kamu sadar nggak, sih, semenjak ada bocah ingusan itu kita jadi sering berantem?"
Renata menunduk, "Udahlah nggak usah bawa-bawa dia."
"Emang bener, kan, dia gangguin kamu terus? Anak gak tahu malu. Cewek udah punya cowok masih aja digangguin."
Renata mendelik, "Kayak siapa coba? Kamu banget, kan? Nggak inget kamu juga dulu pernah ngejar-ngejar Irene, padahal dia udah punya cowok, dan kamu pun udah punya aku!"
"Kok kamu bahas Irene lagi, sih? Yang penting sekarang aku nggak kayak gitu. Kalau sekali lagi bocah itu ganggu kamu, aku bakal kasih peringatan serius buat dia!"
"Awas aja kalau kamu berani main k*******n lagi. Aku nggak akan segan-segan mutusin kamu!" sentak Renata.
"Kita lihat aja," Bagas menimpali. Ia langsung bergegas menjauhi kekasihnya. Bagas tidak main-main dengan ucapannya. Sekali lagi Erland mengganggu Renata, ia pastikan Erland habis di tangannya.
Bersambung...