Arlan mencari-cari keberadaan putri kecilnya, yang menghilang sejak lima belas menit lalu. Ia berderap menuju kamar Reina, namun Reina tak nampak di sana-di kamar Erland. Tadi putri bungsunya itu bilang ingin menemui sang kakak.
Arlan membuka pintu kamar Erland, dan benar saja putra-putrinya tengah tidur dengan pulasnya. Arlan tersenyum, lantas menghampiri keduanya. Matanya membulat sempurna saat melihat es krim di genggaman Reina sudah mencair, dan mengotori tempat tidur Erland. Jika Elena tahu, pastilah istrinya itu akan kembali mengomel. Untung istrinya itu sedang sibuk memasak. Arlan memindahkan Reina ke kamarnya, dan setelah itu ia membangunkan Erland untuk mengganti spreinya.
"A, bangun dulu," ujar Arlan sembari mengguncang tubuh putranya.
Erland menggeliat, dan mulai membuka matanya perlahan, "Apa, Yah?"
"Spreinya ganti dulu, nanti banyak semut. Ini ada bekas es krimnya."
Erland mendengus sebal. Ia turun dari tempat tidurnya, kemudian duduk di meja belajar dan kembali memejamkan mata. Erland memang masih sangat mengantuk. Baru tidur beberapa menit, sudah dibangunkan lagi.
Arlan yang tengah mengganti sprei, sesekali melirik putranya. Salah Elena menyuruh Erland tidur, biasanya jika tidur nyenyaknya diganggu, Erland akan rewel seharian. Kegiatannya terhenti begitu melihat tangan Erland tertahan di bagian perut, "A, perutnya masih sakit?"
"Hm... "
"Kita ke dokter, ya? Apa mau dokternya yang dipanggil ke sini?"
Erland mengangkat kepalanya, "Nggak usah, Yah. Aku cuma butuh makan."
Arlan mendesah pasrah. Setelah mendengar racauan Erland tempo hari, rasanya tidak mungkin ia terus memaksakan kehendaknya. Erland sudah dewasa. Kalau memang ia benar-benar sakit, pasti akan meminta bantuannya, "Yaudah cuci muka, gih, A. Kayaknya Bunda juga udah selesai masak. Kita turun."
***
Renata mendecih tak suka melihat foto yang baru saja diposting Erland di akun instagramnya. Benar-benar tukang cari perhatian. Pikirnya. Setelah sebelumnya mengeluh sakit, sekarang laki-laki itu pamer ketampanan. Renata akui, laki-laki itu memang tampan, tapi sayang dia terlalu berani-berani mengusik hubungannya.
Hana-sahabat Renata yang kebetulan sedang menginap, mengernyit heran melihat tingkah sahabatnya itu, "Lo kenapa sih?"
Renata menoleh, "Bocah ini bener-bener gila, tahu nggak Han! Dia terang-terangan nantangin Bagas."
"Nantangin apaan?"
Kelopak mata Hana melebar, "Gila! Dia beneran anak kelas sepuluh, kan? Berani banget. Untung Bagas gak nanggepin."
"Bagas emang gak nanggepin di situ, tapi gue takut kalau Bagas main kasar lagi sama dia. Tahu bakal kayak gini, dulu pas dia pingsan gak usah gue tolongin aja. Nyusahin jadinya," ujar Renata.
"Lah emang dia baper cuma karena lo tolongin waktu itu?"
Renata mengangguk samar. Padahal dulu ia hanya berusaha bersikap profesional sebagai anggota PMR, tidak ada maksud lain. Merasa ada yang harus ditolong, ya Renata bergerak menolong. Mana ia tahu kalau orang yang ditolong ternyata terbawa perasaan?
Hana terdiam beberapa saat. Ia takjub sekaligus heran ada orang semacam Erland di dunia ini, "Takjub gue," imbuhnya.
"Gue ribut mulu sama Bagas. Sekarang aja Bagas nggak ada ngabarin gue. Kayaknya dia masih ngambek gara-gara masalah tadi."
"Lo sabar, ya, kalau emang lo sama Bagas berjodoh, cobaan sebesar apa pun pasti bisa kalian lewati."
"Han, bisa bantuin gue nggak?" tanya Renata.
Hana menautkan alisnya, "Bantu apaan?"
Renata mencondongkan tubuhnya, lantas membisikan sesuatu di telinga sahabatnya.
Hana awalnya menanggapi dalam diam, namun ketika apa yang direncanakan Renata sedikit kelewatan gadis itu langsung bereaksi, "Lo gila, Ren! Nggak gue nggak mau."
Renata menatap intens wajah sahabatnya, "Please, Han. Gue cuma bisa minta tolong sama lo."
Hana menghela napas panjang, "Gue usahain, tapi gue nggak bisa janji sama lo."
***
Elena masih terlihat sibuk berjalan ke sana kemari memindahkan makanan dari dapur ke meja makan. Arlan sudah terlihat duduk manis di salah satu kursi, tapi Elena tak melihat siapapun lagi selain suaminya itu. Setelah meletakkan hidangan terakhir, Elena langsung menanyakan keberadaan anak-anaknya, "Lan, Erland sama Reina mana?"
"Reina tidur, tapi Erland tadi udah bangun kok. Udah aku suruh turun."
"Kok belum turun juga? Aku susul sebentar, ya."
Arlan hanya mengangguk, mengiyakan.
Elena menaiki satu per satu anak tangga, hendak menemui putranya di lantai atas. Kalau sudah bangun, kenapa Erland tidak juga turun. Bukankah tadi Erland yang mengeluh lapar? Wanita itu mengetuk pintu kamar Erland.
Tokk... Tok.. Tokk
"Aa... "
Karena tak juga mendengar jawaban, Elena langsung masuk ke dalam kamar Erland, dan tak ada siapa pun di sana. Telinganya menangkap suara gemerecik air dari kamar mandi. Elena memindai sekeliling. Ponsel Erland yang diletakan sembarang di atas tempat tidur berbunyi beberapa kali. Iseng, Elena melihat ponsel putranya, dan ada pesan masuk dari seseorang. Renata.
Renata : Gue mohon sama lo, jauhin gue. Jangan deketin gue lagi. Bagas itu bukan tipe orang yang suka main-main sama omongannya. Gue takut dia celakain lo. Gue mohon dengan sangat, pergi dari hidup gue. Banyak cewek di luar sana yang pasti mau jadi cewek lo. Gue udah sangat bahagia sama Bagas.
Setelah mengurung diri selama beberapa menit di kamar mandi karena rasa mual yang sedari tadi menyiksa perutnya, Erland keluar. Ia kaget melihat sang bunda tengah memegang ponselnya, "Bunda lagi apa?"
"A, kamu gangguin perempuan yang udah punya pacar?" tanya Elena to the point.
Erland meneguk ludah, "Ng... nggak, Bunda," tukasnya.
"Ini apa?" Elena menunjukan chat yang masuk dari Renata.
"Bukan gitu, Bunda. Aku... aku..."
"Hubungan yang dijalin diatas rasa sakit orang lain, nggak akan bertahan lama, A. Tragisnya mungkin kamu akan mengalami hal yang sama dengan orang yang kamu sakiti. Bunda tegasin, jangan cari masalah. Bunda udah bilang, kan, kalau lebih baik sekarang ini kamu belajar. Jangan mikirin perempuan dulu!" cecar Elena.
Erland menunduk.
"Sekarang turun. Kita makan sama-sama. Tadi katanya lapar."
"Nanti aja. Aku mau main futsal sama teman."
"Tapi, A... "
Belum selesai sang bunda bicara, Erland sudah memotongnya, "Temanku udah nunggu. Nggak enak kalau dia nunggu lama."
Jangankan ingin makan. Rasa laparnya menguap begitu saja karena pesan yang dikirim Renata. Lagi pula ia sama sekali tidak berselera untuk makan, usai aksi muntahnya barusan.
***
Bagas memarkir mobilnya tepat di depan sebuah kafe. Seseorang sudah menggunya cukup lama di dalam sana. Untungnya gadis ini begitu baik, jadi tidak masalah ketika Bagas lebih memprioritaskan urusannya dengan Renata daripada gadis itu.
"Hallo, sayang," Bagas menegur kekasihnya yang kini tengah menikmati hidangan lezat.
"Hai, lama banget sih, Gas? Udah setengah jam aku nunggu," gadis yang memakai sebuah mini dress warna baby pink itu mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang. Aku banyak masalah."
Irene tersenyum miring, "Renata lagi? Putusin aja, sih!"
Bagas menggeleng, "Buat saat ini belum bisa. Si bocah tengik itu pasti kesenengan kalau aku putusin Renata. Lagian aku belum dapat apa-apa dari Renata."
Irene menyenggol bahu Bagas, "b******k ya kamu, Gas," tuturnya sembari tersenyum.
Bukan Bagas namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Gadis yang pernah menjalin hubungan dengannya, rata-rata pasti sempat dia pakai, sedangkan dari Renata? Ia belum mendapatkan apa pun, jadi tidak semudah itu melepaskannya.
"Biar b******k juga kamu sayang."
Irene langsung bergelayut manja di lengan kokoh kekasihnya. Ya, Bagas sudah menjalin hubungan cukup lama dengan Irene tanpa sepengetahuan Renata.
"Karena kamu telat. Kamu aku hukum!"
"Hukumannya apa?" tanya Bagas.
Cup
Irene mengecup singkat bibir laki-laki itu. Tak perduli ia sekarang berada di tempat umum. Irene pasti melakukan apa pun yang bisa membuat Bagas betah bersamanya. Apa pun.
***
"Erland! Udahan dulu. Gila lo main dua jam lebih! Mau mati lo?" teriak Alvin sembari menarik lengan Erland.
Sudah dua jam lebih Erland memainkan si kulit bundar, tapi tak juga punya niatan untuk berhenti. Jika saja Alvin tidak menariknya, mungkin bola tak berdosa itu akan tetap jadi pelampiasan kemarahannya. Di satu sisi Erland marah, kesal, sedih, mengapa Renata begitu keras menolaknya, tapi di sisi lain ia bangga pada gadis itu, karena ternyata Renata tipe gadis yang setia. Apa Erland harus benar-benar pergi sekarang? Mungkin iya.
Erland menjatuhkan dirinya di pinggir lapangan. Peluh sudah membanjiri tubuhnya, napasnya tak beraturan. Salahnya sendiri bermain tanpa kontrol.
"Lo kenapa sih? Kalau ada masalah tuh cerita, jangan main gila-gilaan gini!" Alvin menyodorkan air mineral dingin pada sahabatnya.
"Bisa pending dulu gak marahnya? Perut gue sakit banget nih," keluh Erland. Ia menekan pusat rasa sakitnya, berharap besar dengan demikian bisa meredakan sakit itu.
Alvin menatap Erland penuh tanya, "Kenapa? Kok bisa sih? Lo nggak punya penyakit parah, terus kumat kan?"
"k*****t! Jangan kebanyakan baca novel lo. Cariin apotek yang deket dong, Vin, beliin gue obat. Maag gue kumat kayaknya."
"Maag doang astaga. Mau yang tablet apa sirup?"
"Sirup!"
"Yang botol besar apa kecil?"
"Anjir kebanyakan nanya lo!"
"Duitnya dari gue dulu deh, nggak usah diganti, gue kan sahabat lo yang paling baik."
"Alvin, gue bu... Huekk," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Erland tiba-tiba muntah dan membuat Alvin semakin panik.
"Eh, lo nggak apa-apa, kan?" Alvin mengangkat tangannya memijat tengkuk leher Erland. Ia bergidik geli melihat cairan bening yang baru saja dimuntahkan Erland.
"Gue mau langsung pulang aja deh, Vin. Hhh... "
"Gue antar deh."
Erland menggeleng. Setelah minum, ia langsung menyampirkan tasnya, "Gue balik duluan, ya."
"Hati-hati!"
Alvin geleng-geleng. Benarkah itu seorang Arkana Erland? Dan Erland sampai sakit hanya karena seorang perempuan? Alvin tahu, ah... Alvin hanya menebak, tapi memang benar siapa lagi yang bisa membuat Erland sekacau tadi jika bukan Renata.
Bersambung...