Hari mulai gelap, dan Erland baru saja menginjakan kakinya di rumah. Ia sudah siap kalau seandainya sang bunda mengomel. Erland tahu betul di mana letak kesalahannya. Pertama, ia tidak mau makan. Kedua, ia pergi terlalu lama tanpa mengangkat telfon atau sekedar membalas pesan bundanya. Dan ketiga, Erland pulang dalam keadaan seperti ini.
"Bunda... "
Rumahnya sedikit sepi. Mungkin ayah serta bundanya ada di lantai atas menemani Reina. Erland meringkuk di sofa, tanpa melepas sepatunya. Huh... apa sebaiknya Erland menyerah saja untuk dibawa ke dokter? Sepertinya ia benar-benar butuh obat.
"Aa! Akhirnya pulang juga. Kenapa Bunda telfon nggak diangkat? Chat Bunda juga nggak ada yang kamu balas," cerocos Elena.
"Bun, perut aku sakit," keluh Erland.
Wajah Elena berubah cemas. Dengan langkah cepat Elena mendekati putranya, "Kamu bandel sih, A. Disuruh makan susahnya minta ampun. Sekarang sakit lagi kan?"
Erland diam tak menanggapi celotehan sang bunda.
Elena mendaratkan punggung tangannya di dahi Erland, "Kamu demam A. Kita ke dokter aja, ya?"
Erland mengangguk. Kalau hanya batuk pilek saja ia pasti memilih diam, tapi karena sakit diperutnya terbilang sedikit lebih parah dari biasa, jadi Erland menurut saja.
"Bunda mau panggil Ayah dulu."
Baru saja Elena hendak memanggil suaminya, Arlan sudah terlihat di ujung anak tangga sembari menatapnya.
"Erland kenapa?" tanya Arlan penuh selidik.
"Perutnya sakit. Mau kamu atau aku, Lan, yang antar Erland ke dokter? Reina nggak ada yang jagain kalau kita semua pergi."
"Tadi disuruh ke dokter gak mau. Disuruh makan juga gak mau, malah pergi main futsal. Pulang-pulang sakit. Batu banget sih A kalau dibilangin sama orang tua. Sekali-kali nurut aja kenapa? Jangan kebiasaan ada yang sakit nggak dirasa, kalau tiba-tiba parah gimana?"
Perkiraan Erland salah. Ia pikir sang bundalah yang akan mengomel panjang lebar, ternyata justru ayahnya yang demikian. Begitulah sang ayah, ia bisa sedingin es bisa pula jadi super bawel jika sudah menyangkut masalah kesehatan.
***
Sepanjang jalan Hana terus melamun memikirkan rencana Renata. Sebenarnya ia tidak begitu setuju, pasalnya jika sampai ketahuan pasti akan sangat menyakiti Erland. Bukankah Renata sudah memberi peringatan keras pada bocah laki-laki itu? Lantas apalagi? Mengapa rencana ini harus tetap ia lakukan?
"Pak, stop di sini," gadis itu meminta sang supir taksi menghentikan laju kendaraannya. Hana menyamakan alamat yang tertera pada secarik kertas dengan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya, "Bener ini alamatnya," gumamnya.
Ketika hendak membuka pintu taksi, tiba-tiba ia melihat Erland dipapah oleh seorang laki-laki masuk ke dalam mobil, "lho, itu orang kenapa? Mau ke mana udah malem-malem begini?"
Hana mengurungkan niatnya untuk turun, dan memilih langsung mengikuti mobil keluarga Erland dari belakang.
***

GERD adalah singkatan dari Gastroesophageal reflux disease merupakan penyakit saluran pencernaan yang bersifat kronis. GERD terjadi ketika asam lambung atau terkadang isi lambung naik kembali ke esofagus (refluks) sehingga seseorang akan mengalami mual bahkan muntah. Akibat naiknya asam lambung maka akan mengiritasi dan membakar esofagus atau kerongkongan sehingga menimbulkan rasa panas di d**a (heartburn) sampai bagian dalam leher bahkan tenggorokan.
Arlan melirik putranya yang kini tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Fabian mengenai medical record putranya, bisa dipastikan Arlan akan semakin memperketat pengawasannya terhadap Erland. Ia lengah sedikit saja, Erland sampai seperti ini.
"Dok, kalau tidak ditangani dengan baik apa mungkin akan berbahaya?"
"Tentu saja. GERD jika tidak ditangani dengan baik bisa jadi pencetus penyakit lainnya. Misalkan kanker esofagus, tapi kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk putra anda," terang Dokter Fabian.
Arlan mengangguk, "Anak saya harus dirawat atau bagaimana, Dok?"
"Lebih baik memang dirawat, tapi kalau anak anda sudah merasa lebih baik, setelah infusnya habis boleh pulang."
"Yah... "
Arlan langsung menoleh ke sumber suara, dan mendapati putranya sudah membuka mata, "Kenapa, A? Ada yang sakit?"
"Pulang," jawab Erland dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan.
"Udah baikan emang, A? Kata dokter tunggu infusnya habis."
Erland menggeleng samar, "Pulang, Yah."
Dokter Fabian berusaha memaklumi keinginan pasiennya. Ya, lagi pula siapa yang betah berlama-lama di rumah sakit? Ia berjalan mendekat, "Kamu boleh pulang, tapi tolong jaga pola makan kamu. Tidak boleh merokok, apalagi minum-minuman keras. Tidak boleh makan dalam porsi yang terlalu banyak. Hindari mengkonsumsi makanan yang terlalu asam, pedas, atau mengandung banyak lemak. Satu lagi, minum obatnya dengan teratur."
Erland nampak mengangguk.
"Ini resep yang harus anda tebus. Yang tiga ini untuk lambung, dan satunya lagi untuk penurun demam," ujar Dokter Fabian sembari menyerahkan selembar resep.

Arlan meraih secarik resep itu, lantas mengulurkan tangan, menjabat tangan Dokter Fabian, "Makasih, Dok."
Dokter Fabian tersenyum.
***
Reina tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sang bunda yang sedari tadi mondar-mandir di depannya, "Bunda, Leina pusing. Bunda mondal-mandil telus."
Elena menghentikan langkahnya, kemudian melempar senyum kikuk pada putri bungsunya, "Maafin Bunda, ya, Rei. Bunda cemas, Aa belum ada kabar juga."
Elena : Erland gimana?
Elena : Arlan! Anak kita gimana?
Elena : Yaampun, Lan, bales ?
Elena : Asli ya kamu jahat banget, chat aku nggak diread juga!
Elena : DEVANIO ARLAN EMERALDI UTAMA
Elena : Lan ???????
Elena : BALESSSSSSSSSS. ANAKKU GIMANAAAA SEKARANG? KOK NGGAK PULANG-PULANG? HARUS DIRAWAT APA GIMANA? DIA SAKIT APA?
Elena : Lan kalau kamu nggak bales juga, aku sama Reina nyusul!!!!!
Elena menatap nanar pesan yang tak kunjung dibaca oleh suaminya. Perasaannya tak karuan. Takut, kesal, sedih, semuanya jadi satu.
Lineee
Buru-buru Elena membuka pesan yang masuk melalui aplikasi line. Ia yakin kalau itu balasan dari suaminya.
Arlan : Nanti aku jelasin di rumah, sekarang mau pulang kok. Tadi Erland harus infus dulu. Kata dokter takut dehidrasi, dia muntah kan gak cuma sekali.
Elena : Gitu kek bales dari tadi. Bikin panik aja!
Arlan : Kamu pasti tau kalo aku panik juga. Boro-boro inget hp, liat anakku lemes gitu jadi gak tega.
Elena : Erland lagi ngapain sekarang?
Arlan : Lagi dicopot infusnya sama suster.
Elena : Flashback masa-masa perjuangan kamu dong ?
Arlan : Berisik.
Elena : Arlan si pengidap Leukimia yang udah di ujung maut sekarang bisa jadi suaminya Elena yang ehm... ehm roti sobeknya ganahan ???
Arlan : Diem
Elena : Botak, pucet, kurus kering kerontang
Read
Elena tertawa terbahak-bahak ketika Arlan hanya membaca pesan yang dikirimnya. Tujuannya hanya untuk sedikit mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Salah Arlan juga membuatnya cemas setengah mati karena tidak diberitahu apa yang terjadi pada Erland.
"Bunda napa?" tanya Reina polos.
"Eh," Elena menutup mulutnya kemudian menggeleng, membuat putri kecilnya semakin bingung.
***
"Ren, gue mau mundur dari rencana lo!"
Renata melotot. Mengapa sepulang dari rumah Erland, sahabatnya itu jadi berubah pikiran? Padahal sebelumnya Hana sudah berjanji untuk membantu Renata, "Kenapa, Han? Kok tiba-tiba berubah pikiran?"
"Erland anak baik kayaknya. Gue nggak tega harus jadi orang yang mupus cintanya buat lo. Dia juga kayaknya lagi sakit, deh. Tadi gue lihat dia dipapah sama cowok ganteng, mungkin bokapnya, terus mereka ke rumah sakit. Gue sempet ngikutin mereka. Si Erland kesakitan banget, jalannya aja sampai agak bungkuk gitu."
"Please, Han, kalau gak ada cewek yang deketin dan curi perhatiannya Erland, selamanya dia bakal jadi pengganggu hubungan gue sama Bagas."
Hana menghela napas berat, "Asli gue gak tega. Coba deh lo tadi lihat sendiri dia gimana. Kasihan. Lagian dia ganteng, gue takut baper. Ribet kalau sampai gue suka beneran."
Renata memang meminta tolong pada sahabatnya untuk mendekati Erland. Ia pikir dengan demikian Erland perlahan bisa melupakannya karena kehadiran orang baru. Renata sadar ini sedikit jahat, tapi bagaimana lagi? Renata sangat mencintai Bagas dan ia tidak ingin akhirnya mereka putus hanya karena Erland.
"Please, Han."
"Gue nggak janji, ya, Ren. Gue bukan mau bener-bener bikin dia lupain lo. Gue mau deketin dia, berteman sama dia, dan bikin dia perlahan lupain lo tanpa harus merasa sakit."
Renata mengangguk cepat, "Makasih banget, ya, Han. Lo emang sahabat gue deh."
***
Elena langsung menyambut kedatangan putranya. Erland masih terlihat pucat, tapi kalau sudah boleh pulang berarti keadaannya lebih baik daripada tadi. Ia segera membantu suaminya memapah Erland.
"Gimana tadi kata dokternya, Lan?" tanya Elena.
"Erland kena GERD. Nanti aku jelasin. Kita antar Erland istirahat dulu."
Sesampainya di kamar Erland, Arlan langsung membantu Erland berbaring, dan Elena menyelimuti putranya. Jelas sekali terlihat kalau Erland sangat lemas.
"El, bantalnya ditumpuk aja biar agak tinggi. Kata dokter kalau posisi tidurnya datar kemungkinan nanti Erland muntah lagi."
Dalam perjalanan ke rumah sakit tadi, Erland memang sempat dua kali muntah di mobil Arlan, dan ketika ditanya keluhan ternyata tak hanya di mobil, tapi di rumah juga di lapangan futsal pun Erland sempat muntah.
Elena menuruti perintah suaminya.
Reina berbaring di samping sang kakak, "Aa sakit? Leina sedih Aa sakit."
Erland tersenyum tipis. Diusapnya pelan puncak kepala Reina, membuat gadis kecil itu merasa nyaman.
"Rei, Aa jangan digangguin dulu, ya? Kasihan lagi sakit."
Reina mengerucurkan bibirnya, "Leina gak ganggu Bunda."
"Celananya sempit gak A? Kalau sempit ganti aja. Perutnya nggak boleh sampai ketekan."
Erland menggeleng.
"Yaudah kamu istirahat dulu. Ayah sama Bunda ke bawah. Kalau ada apa-apa telfon aja nggak usah turun. Rei ke luar, yuk," ujar Arlan.
"Leina mau di sini. Jagain Aa, takut Aa sakit nanti nangis."
Arlan tersenyum, "Reina bobo juga deh."
Gadis kecil itu mengangguk mantap. Arlan dan Elena langsung meninggalkan putra-putrinya.
Bersambung...