Keesokan harinya, Erland masuk sekolah seperti biasa. Hanya saja kali ini ia kembali diantar oleh sang ayah. Erland tidak mau cari penyakit, dan tidak ingin membuat ayahnya marah, jadi lebih baik menurut. Anak laki-laki itu sudah bertekad untuk fokus pada dirinya sendiri, tidak akan mengurusi siapapun termasuk Renata.
Erland melirik jam tangan yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya, menunggu lima menit lagi dan bel masuk sekolah akan dibunyikan, "Cepet, Yah. Aku takut telat," selorohnya dengan wajah panik serta suara yang masih terdengar parau.
"Erland ini Benz, bukan angkot b****k yang bisa ngebut tabrak sana tabrak sini," balas Arlan tanpa mengalihkan fokusnya pada aspal hitam didepannya, "kalau dirasa belum kuat jangan maksa kesekolah, udah Ayah bangunin kok tidur lagi," imbuhnya.
Erland hanya diam, namun saat menoleh kearah kaca jendela, ia melihat seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah sama persis dengannya tengah berdiri bingung di bahu jalan. Erland seperti mengenalnya-gadis itu yang pernah bersama dengan Renata.
"Ayah?"
"Hmm... "
"Berhenti, Yah."
Tanpa banyak bertanya Arlan menepikan mobilnya, "kenapa A? Mual lagi?"
Erland tidak menanggapi pertanyaan cemas sang ayah, ia membuka kaca jendela dan mengeluarkan kepalanya, "Kakak temennya Renata? Ayo naik bareng udah siang!" ujar Erland setengah berteriak.
Hana menelan ludahnya saat melihat mobil mewah berhenti tepat didepannya. Di dalam ada Erland yang mengajaknya untuk naik kemobil tersebut. Dewi fortuna memang sedang berpihak padanya, sudah hampir telat karna tidak ada angkutan yang lewat, Erland justru datang untuk memberinya tumpangan. Tanpa berpikir macam-macam Hana masuk kedalam mobil hitam metalic itu.
Suasana sunyi. Hana yang duduk di jok belakang hanya bisa mengamati tingkah keduanya. Ia teringat kejadian kemarin saat memergoki Erland tengah dipapah oleh lelaki tampan yang kini sibuk menyetir dalam balutan jas hitam juga dasi dengan warna senada. Dari model rambut hingga warnanya tidak ada yang beda antara dua lelaki yang duduk di jok depan itu. Dan sepertinya sikap Erland sekarang sama sekali tidak memberi bukti pada omongan sahabatnya-Renata-tempo hari.
Entah kenapa sudut bibir Hana tertarik membentuk seulas senyum. Tentu ia sangat beruntung jika bisa berteman atau dekat dengan orang sebaik Erland. Teman-bukan sebagai orang suruhan Renata.
Tanpa terasa, akhirnya mereka tiba di sekolah. Gerbang masih terbuka, syukurlah keduanya tidak akan terjebak dalam teriknya sinar matahari di tengah lapangan.
"Om, makasih banyak buat tumpangannya, ya," Hana mencium punggung tangan Arlan dengan santun.
"Sama-sama... hmm... "
"Hana, Yah." ujar Erland menyadari ayahnya kebingungan dengan nama kakak kelasnya itu.
Arlan tersenyum "Ya, sama-sama, Hana."
Setelah berpamitan, keduanya turun dari mobil dan mulai memasuki gerbang sekolah dan
Teeeettt
Bel masuk pun berbunyi.
"Hampir aja," dengus Erland dan Hana bersamaan.
***
Renata menatap takjub kedatangan sahabatnya yang bersamaan dengan Erland. Ah, apa secepat itu mereka dekat? Tapi, bukankah ini kabar baik? Dengan demikian Erland tidak akan pernah lagi mengganggunya.
"Duluan, ya, Kak."
Renata mendengar laki-laki itu berpamitan pada Hana, dan berjalan melewatinya begitu saja. Tanpa menggoda, atau hanya tersenyum seperti biasa. Erland benar-benar bersikap dingin.
Selepas kepergian Erland, Renata langsung menghampiri sahabatnya, "Cie, gencar banget nih PDKTnya. Katanya lo nggak bakal ikutin permainan gue."
"Gue emang nggak ikutin permainan lo. Tadi kebetulan dia lewat pas gue lagi bingung ke sekolah naik apa, dan dia nawarin tumpangan. Lo bakal nyesel buang orang baik kayak dia, Ren," Hana berujar pelan sembari berjalan meninggalkan sahabatnya.
***
Elena tengah membaca majalah di ruang keluarga. Tiba-tiba Reina berlari ke arahnya sembari menyerahkan sebuah CD, "Bunda mau nonton film."
"Film apa itu, Rei?" Elena menerima CD yang diserahkan Reina, dan matanya langsung membulat sempurna. CD itu berisi kenangan pahit Arlan ketika berjuang melawan penyakitnya. Arkan dulu sempat mengabadikan moment-moment perjuangan Arlan, dan setelah Arkan tidak ada, Elenalah yang melanjutkannya.
"Reina, jangan itu, ya, Nak. Kita lihat film lain aja."
"Gak mau. Leina mau ini. Dolaemon kan?"
Elena menggeleng, "Bukan, Nak. Sini Bunda pinjam dulu."
Reina menggeleng kuat, lantas memeluk CD tersebut.
"Kita keluar, yuk? Beli film baru, terus beli es krim. Mau?"
"Es krim? Mau Bunda! Ayo. Leina mau ganti baju dulu," gadis kecil itu melempar CDnya, kemudian berlari kecil menuju kamar.
Elena bisa bernapas lega sekarang. Ia mengambil CD yang dilempar Reina, dan langsung meletakannya di bawah meja. Putra-putrinya tidak boleh tahu, apa yang sempat terjadi pada suaminya di masa lalu.
***
Alvin tak henti memandangi Erland. Pasalnya sahabatnya itu kembali membawa bekal dari rumah, padahal kamarin saja bekal Erland, Alvin yang menghabiskan. Erland terpaksa membawa bekal, karena ia tidak boleh memakan makanan sembarangan. Daripada tersiksa seperti kemarin, lebih baik berusaha hidup sehat 'kan?
"Lo kemarin kenapa? Udah ke dokter?"
"Udah kok."
"Apa katanya?" tanya Alvin lagi.
"Lo kepo banget, sih, astaga."
"Ye, toge! Gue perduli, bukan sekedar kepo."
Erland tersenyum tipis, namun tetap tak bisa mengikis rona-rona kepucatan di wajahnya. Baru beberapa kali suapan, tiba-tiba segerombol anak laki-laki masuk ke kelasnya.
"Mana si bocah tengik!"
Suara lantang itu, Erland tahu milik siapa-Bagas. Namun ia berusaha tak menanggapi, dan melanjutkan aksi makannya. Derap langkah terdengar semakin mendekat ke arahnya.
"Oh, ini. Lagi makan bekal dari Bunda, ya, Dek?" sindir Bagas.
Erland tetap diam.
Bagas geram karena Erland tidak meladeninya. Ia merampas paksa kotak bekal Erland, kemudian menghempaskannya ke lantai hingga isinya berceceran.
"Gue lagi males ribut," tutur Erland dingin.
Bagas tak perduli, ia menarik Erland berdiri, "Bangun lo, b*****t! Udah gue kasih peringatan beberapa kali, masih aja lenjeh deketin Renata! Dia itu gak minat sama bocah ingusan kayak lo."
"Santai, Bro," Alvin berusaha menengahi, namun Bagas malah mendorongnya dengan kasar hingga jatuh.
Erland tak terima melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu. Ia menyentakkan tangan Bagas yang semula bertengger di kerah kemejanya, "Gue bilang males ribut anjing! Jangan sentuh sahabat gue. Urusan lo sama gue, bukan dia!"
Emosi Bagas semakin tersulut. Laki-laki itu melayangkan tinju tepat ke daerah perut Erland, hingga Erland terhuyung ke belakang menahan sakit. Bukan karena pukulan Bagas yang kuat, tapi memang karena ia belum benar-benar sembuh.
"Kalah kan lo baru gitu doang? Mau sok rebut Renata dari gue."
Erland bangkit. Ia tidak perduli jika sekarang dirinya jadi tontonan. Bagas sudah benar-benar memancing kemarahannya. Ketika hendak melayangkan bogem mentahnya, tahu-tahu Renata dan Hana masuk.
"Stop! Mau ngapain lo?" cecar Renata.
Bagas menghampiri kekasihnya, "Aku cuma mau peringatin dia baik-baik, Ren, tapi dia malah mau pukul aku. Banci banget kan?"
"Bener itu? Gue nggak nyangka sama lo, Erland. Gue pikir lo anak baik-baik, ternyata lo menghalalkan berbagai cara demi dapetin gue. Tapi sumpah, apa yang lo lakuin sekarang malah bikin gue makin ilfeel sama lo!" sentak Renata.
Erland tersenyum sinis, "Lo pikir gue sesuka itu sama lo? Sejak lo bilang kalau semuanya harus gue akhiri, sejak hari itu juga gue anggap semua berakhir, jadi jangan beranggapan kalau lo masih pantas buat gue perjuangkan. Lo ingat, gue pernah bilang kalau ini pertama kalinya gue jatuh cinta, dan lo udah berhasil buat gue jatuh sejatuh-jatuhnya. Makasih, Ren."
Mata Renata memanas. Mengapa ucapan adik kelasnya itu terasa sangat menusuk, hingga membuat hatinya sakit.
"Dan satu lagi. Kalian cocok. Yang satu penjilat, satunya lagi bodoh."
Dengan tangan yang masih tertahan di perut, Erland berjalan keluar dari kelas. Mulutnya mulai terasa asam dan pahit, sepertinya ia harus kembali merelakan makanan yang bahkan belum sempat dicerna sempurna.
Hana melirik tajam sahabatnya, "Ren, gue kecewa sama lo. Kalau gue tahu pada akhirnya cinta bakal bikin lo jadi jahat, gue nggak akan pernah biarin lo jatuh cinta!"
Bugh
Hana menyenggol keras, bahu laki-laki b******k yang telah mengubah sahabatnya.
***
Hana berlari-lari kecil menyusuri seluruh penjuru sekolah, mencari keberadaan Erland. Ia percaya kalau Erland tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Sesekali Hana bertanya pada siswa/siswi yang berdiri di sepanjang koridor, barangkali mereka melihat Erland.
"Eh, lihat Erland gak?"
"Anak kelas sepuluh yang agak bule itu?"
Hana mengangguk.
"Kayaknya tadi jalan buru-buru gitu ke arah belakang sekolah. Mau bolos kali."
"Makasih."
Hana melanjutkan langkahnya menuju belakang sekolah, dan benar saja ia menemukan Erland di sana tengah duduk di bawah naungan sebuah pohon rindang. Ada yang sedikit aneh. Erland bergerak-gerak gelisah di tempatnya, "Erland."
Erland menoleh, dan wajah pucat laki-laki itu kontan membuat Hana terkejut, "Lo nggak apa-apa? Pucat banget."
"Gue nggak apa-apa, Kak."
"Jujur sama gue, tadi Bagas apain lo?" tanya Hana penuh selidik.
Erland menggeleng. Percuma saja bicara, toh Hana adalah teman Renata, jadi pasti gadis itu akan lebih membela sahabatnya.
"Kak, mending lo tinggalin gue sendiri. Please!" bukan bermaksud mengusir, hanya saja Erland takut tiba-tiba muntah di depan gadis itu. Ia akan terlihat sangat menjijikan jika sampai itu terjadi.
"Gue mau nemenin lo di sini."
"Kak, please!" suara Erland terdengar seperti tercekat. Napasnya memburu.
"Erland lo nggak apa-apa, kan?"
Erland tak menjawab pertanyaan kakak kelasnya, dengan gerakan cepat ia berbalik ke belakang dan memuntahkan isi lambungnya di sana. Erland pikir Hana akan jijik dan berlalu menjauhinya, tapi ternyata salah. Tangan halus Hana terangkat, mengusap-usap punggungnya.
"Lo pasti lagi gak sehat, ya? Kemarin gue nggak sengaja lihat lo di rumah sakit. Maafin sahabat gue, ya. Dia benar-benar dibuat buta sama Bagas," tutur Hana selembut mungkin. Ia mengambil tissue dalam saku roknya, lantas menyerahkan beberapa helai pada Erland.
"Makasih, Kak."
"Bisa panggil gue Hana aja? Berasa tua banget jadinya," kata Hana sembari terkekeh kecil.
Erland memaksakan seulas senyum. Gadis yang cukup baik. Pikirnya.
"Sekarang mau gimana? Mau ke UKS apa pulang?"
"Gue mau ke kelas, Kak. Eh... Hana. Sebentar lagi juga bel, dan tadi gue ngotorin kelas."
Hana mengangguk. Ia membantu Erland berdiri. Hana sadar, mungkin Erlandlah yang bisa membuat sahabatnya kembali seperti dulu lagi. Sejak pertama Renata dan Bagas bersama, Hana memang tidak begitu suka pada Bagas, karena citranya sebagai playboy kelas berat melekat kuat, tapi karena tidak ingin menyakiti sahabatnya, Hana pura-pura ikut bahagia.
Bersambung...