Bab 8. Meminta Bantuan

1506 Words
“Nih, minum dulu. Biar otak kamu nggak konslet, Mas.” suara Maya memecah konsentrasi Adrian. Konsentrasi palsu, karena dia sejak tadi hanya sibuk menggerutu, tanpa bisa bekerja dengan baik. Sebuah gelas kopi kertas diletakkan Maya di samping laptop Adrian. Dia yang sejak tadi memperhatikan Adrian, merasa kasihan karena pria itu terlihat kesal dan gelisah. ​Adrian melirik sinis ke gelas di sampingnya. Adrian melihat Maya yang sudah duduk di depannya lagi. “Kopi saset? Kamu mau ngeracunin selera lidah aku?” protes Adrian. ​Maya mendengus kesal sambil memajukan bibirnya. “Udah bagus dibuatin, bukannya makasih malah ngomel. Bener-bener ni orang ya!” geram Maya kesal. “Ini kopi yang disediain kantor! Gratis! Jadi gak usah berharap tinggi kalo gratisan!” Maya memberikan lirikan tajam dengan sudut matanya. “Kalo mau yang mahal, beli di lobi sana!” ​Adrian mendengus. Dia kembali melihat gelas kopi berukuran kecil itu. “Lumayanlah. Dari pada gak ada,” gumam Adrian pelan yang kemudian segera meminum kopi murahnya. Adrian mencebikkan bibirnya, sambil melihat gelas kertas di tangannya “Lumayan lah, gak terlalu buruk.” Maya menggelengkan kepalanya sambil menyeringai melihat kelakuan Adrian yang selalu memiliki selera tinggi, tapi tak setinggi isi dompetnya. Beberapa kali Maya curiga kalau Adrian benar-benar manusia berdarah biru. Tapi hal itu selalu ter patahkan dengan kenyataan yang tidak sejalan. Orang stres di depan Maya ini punya kepribadian menjengkelkan tapi menarik. Adrian sesekali mendengus kesal. Dia bingung bagaimana dia harus mengerjakan tugas penting papanya. Dia sama sekali belum pernah melihat dokumen kantor selama ini. Yang dia lakukan hanya menghamburkan uang papanya yang banyak dengan alasan memberikan asupan kebahagiaan pada dirinya sendiri setelah lelah belajar. Adrian menjatuhkan kepalanya di atas berkas yang sedang dia periksa. Otaknya sudah mengebul rasanya. Maya yang juga sedang mengerjakan tugasnya, melihat ke Adrian. Dia merasa kasihan pada pria itu, yang sepertinya kaget dengan rutinitas barunya. Maya mengetuk kaca di depannya. Adrian sedikit mendongak dan kembali menunduk. “Mas, kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Maya. “Mau bantu. Aku aja gak bisa, apa lagi kamu!” ucap Adrian di dalam hati. Adrian menegakkan badannya lagi. Dia kemudian menggeleng. “Gak usah. Gak perlu!” “Beneran? Tapi kayaknya kam—“ ucapan Maya terhenti saat dia melihat pria di depannya itu malah berdiri dan menutup semua berkasnya. Adrian menutup semua berkas di tangannya. Dia membawa semua berkas itu dan keluar dari ruangan. Maya hanya melihat ke arah Adrian yang pergi entah ke mana. Ingin rasanya dia mengejar Adrian, tapi tugasnya menahan langkahnya. “May,” panggil teman kerja Maya yang duduk di samping Maya. Maya menoleh ke temannya. “Apa?” “Itu siapa sih? Kok kamu kayaknya kenal ama dia?” tanya teman Maya yang melihat keakraban Maya dengan pegawai baru. “Oh dia ... dia temen aku. Iya, dia temen aku di kampung,” jawab Maya mencari alasan. “Orang dari kampung kamu? Tapi kok mukanya perlente banget sih. Cakep banget lagi. Pacar kamu ya?” “Ih, apaan sih. Mana ada aku pacaran ama dia. Dia itu nyebelin tau! Ketus dan agak ....” Maya menggerakkan jari telunjuknya miring di depan keningnya. “Ih, masa sih, May? Tapi setelannya mahal loh itu.” “Tiruan itu. Ato beli bekas.” Maya mendekatkan badannya ke temannya. “Gaya hidupnya gila-gilaan. Orang butuh validasi,” bisik Maya. “Oh ya?!” Teman Maya kaget sampai memundurkan badannya. “Tapi emang cakep sih. Gak keliatan kalo palsu,” lanjut teman Maya. “Udah biarin aja. Makan ati pokoknya ama dia.” Teman Maya terkikik mendengar ucapan Maya. Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing. Sementara itu, Adrian sedang menuju ke tempat di mana dokumen di tangannya berasal. Dia tidak terima karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Adrian melangkah lebar ke arah ruang kerja papanya. Untungnya sekretaris papanya sedang tidak ada. Tapi saat dia akan menuju ke pintu kayu itu, langkahnya dihentikan oleh Beni. “Minggir!” perintah Adrian. “Pak Surya sedang ada tamu, Pak,” ucap Beni. “Aku ada urusan sama papa. Minggir!” Beni melihat ke berkas yang ada di tangan Adrian. “Apa ingin bertanya tentang berkas?” tebak Beni. “Iya! Udah gila apa ya ngasih kerjaan kayak gini. Aku gak ngerti!” Beni mengangguk. “Mari ikut saya, Pak. Saya akan jelaskan.” Adrian masih di depan ruang kerja papanya. Melihat pintu kayu yang berdiri gagah di depannya. “Ada siapa di dalam?” tanya Adrian. “Klien, Pak.” Mendengar kalau itu tamu penting, Adrian mengalah. Akan lebih salah kalau dia sampai menghancurkan sebagian masa depan perusahaan. Adrian melepaskan napas beratnya. Dia menoleh ke Beni. “Beri tahu aku bagaimana mengerjakannya. Agar gak kerja dua kali.” “Baik, Pak. Mari ke ruang rapat.” Beni memimpin jalan untuk menuju ke ruang rapat. Dia akan mengajari Adrian cara mengerjakan dan memahami apa yang akan dia hadapi setiap hari. Sangat wajar kalau Adrian meminta bantuan. Ini pertama kalinya dia melihat berkas, padahal biasanya dia melihat bills pengeluaran kartu kreditnya. Seperti yang diduga, Adrian menunjukkan kepintarannya selama ini. Dia langsung cepat mengerti penjelasan Beni. Tak butuh waktu lama, Adrian pun memutuskan kembali ke ruang kerjanya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, agar papanya kembali melihatnya dengan bangga. Jam istirahat tiba. Maya melihat ke Adrian. Pria yang tadinya kesulitan bekerja dan marah-marah terus, kini malah terlihat seperti sedang sangat menikmati pekerjaannya. Adrian sedari tadi sibuk membaca berkas dan mengetik sesuatu di laptopnya. “Mas, makan siang yuk,” ajak Maya. “Kamu aja. Kerjaanku masih banyak,” jawab Adrian tanpa melihat Maya. Merasa diabaikan, Maya bergerak mendekati Adrian. Dia penasaran juga pada pekerjaan yang sedari tadi menyita perhatian teman rumahnya itu. “Laporan keu—“ ucapan Maya terhenti saat Adrian tiba-tiba menutup laptopnya. Adrian melihat ke Maya dengan tatapan tegas. “Ngapain liat-liat. Lancang!” tegas Adrian yang tidak suka dengan cara Maya. “Eh, ma-maaf. Tad-tadi aku cuma mau liat aja kok. Maaf kalo kamu gak suka,” ucap Maya sedikit takut melihat tatapan Adrian yang menakutkan. Adrian melihat Maya canggung kepadanya. “Udahlah. Sorry, aku gak sengaja bentak kamu. Oh ya, makan. Ayo makan, pasti aku laper makanya emosi. Maya memberanikan diri melihat Adrian. Pria yang suka makan banyak itu, sepertinya mengatakan hal yang benar. “Makan di kantin?” tanya Maya yang sudah mulai bersikap seperti biasanya. “Boleh. Biar gak jauh-jauh. Males naik angkotnya lagi.” “Ya udah, yuk.” Adrian dan Maya merapikan meja mereka. Adrian meletakkan berkas pentingnya di bawah laptopnya, berharap agar tidak ada tangan jahil yang melihatnya. Maya mencuri pandang ke Adrian. “Laporan keuangan proyek. Kenapa dia meriksa laporan begitu ya. Bukannya itu harusnya di meja direktur. Tapi kenapa berkas itu malah ada di dia,” gumam Maya salam hati yang masih ingat dengan berkas yang tadi sempat dia lihat. “Ah, kalo dia direktur, ngapain dia di sini. Pasti ini titipan aja,” lanjut Maya menyangkal sendiri kecurigaannya. Saat mereka baru keluar dari ruangan menuju lift, seorang pria dengan setelan slim-fit abu-abu yang sangat rapi dan wangi parfum mahal berdiri di depan mereka. “Maya? Mau ke mana?” tanya pria itu dengan suara berat yang sangat berwibawa. Maya yang tadinya berjalan santai sambil berbincang menjelaskan perusahaan pada Adrian, langsung berdiri tegak dan tersenyum sopan. “Eh, iya Pak Gavin. Mau ke kantin. Kan udah jam makan siang,” jawab Maya sopan. “Pak Gavin baru datang?” lanjut Maya yang sejak tadi tidak melihat manajernya itu di ruangannya. “Iya, saya tadi ada tugas di luar.” Mata Gavin beralih ke Adrian. Dia memindai Adrian dari ujung rambut sampai sepatu. “Siapa ini, May? Pegawai baru?” tanya Gavin yang merasa belum pernah melihat pria di samping Maya di kantor ini. “Oh iya Pak, ini Adrian. Dia yang baru masuk hari ini. Tadi mau saya ajak laporan ke Pak Gavin, tapi Bapak gak ada,” terang Maya ramah. Adrian yang ada di samping Maya, balas melihat Gavin tanpa ada rasa bersalah dengan pandangan datar. Dia justru mengangkat dagunya, menatap Gavin, saat Maya memperkenalkannya. Gavin menatap tajam ke Adrian. “Siapa nama kamu?” tanya Gavin ketus. “Adrian,” ucap Adrian singkat. Gavin sedikit mengernyitkan alis. Tidak biasanya ada staf baru yang berani bersikap seperti Adrian. Biasanya mereka akan segan pada dirinya. Tapi yang satu ini, justru terlihat memaksa dirinya yang hormat pada si pegawai baru. “Setelah makan siang, laporan ke ruangan saya!” tegas Gavin yang sangat tidak suka dengan sikap Adrian. “Ya,” jawab Adrian santai. “Ayo May, aku udah laper.” Adrian pergi begitu saja meninggalkan Gavin tanpa rasa bersalah. Tentu saja hal ini membuat Maya semakin tidak enak pada Gavin. Maya pun segera berpamitan pada Gavin dan mengejar langkah Adrian yang sudah mendekati lift. Gavin melihat ke arah Adrian. Dia memindai penampilan Adrian yang tampak tidak biasa di matanya. “Siapa dia? Penampilannya bukan seperti orang biasa. Wajahnya jiga kayak gak asing. Tapi siapa ya?” gumam Gavin sambil melihat setelah mahal Adrian yang sangat dia kenal itu asli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD