Bab 1. Jatuhnya Sang Putra Mahkota
“Maaf Pak, kartunya ditolak,” ucap seorang pelayan sedikit keras di tengah berisiknya lounge VIP yang disewa oleh Adrian Aditama, untuk merayakan ulang tahunnya.
Adrian menoleh geram pada pelayan itu. Ini sudah kedua kalinya pelayan itu datang kepadanya dan menyampaikan hal yang sama.
“Heh! Apa kau sudah gila! Isi di dalam kedua kartu itu ada ratusan juta tau!” sembur Adrian tidak terima.
“Tapi memang gak bisa, Pak,” jawab pelayan itu mulai takut.
“Apa kamu yakin alatnya gak rusak. Gak mungkin kartu dia ditolak. Apa kamu gak tau siapa dia?” sahut salah satu teman Adrian.
“Dia Adrian Aditama. Pewaris satu-satunya dari Aditama Grup!” sambung teman Adrian yang lain.
“Ta-tapi kartunya ditolak, Pak.” Badan pelayan itu mulai gemetar setelah mendengar nama perusahaan besar yang pernah dia dengar itu.
“b******k! Coba pake ini!” Adrian mengeluarkan kartunya lagi lalu melemparkannya ke arah pelayan.
Dengan cepat pelayan itu mengambil kartu Adrian yang mendarat di atas meja. Dan sekali lagi bunyi tit-tit itu menggema di telinga mereka.
“b******k! Ada apa ini?!” Adrian mulai murka.
Belum sempat Adrian melampiaskan kemurkaannya, tiba-tiba pintu lounge kembali terbuka.
Dua orang pria berbadan tegap dan memakai setelan hitam masuk ke dalam ruangan. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya memakai kaos polo dan celana panjang kain, ikut masuk dan berdiri di depan semua orang yang sedang ada di ruangan itu.
Surya Aditama, berdiri di depan putranya dengan wajah sedingin es.
“Papa,” ucap Adrian yang kaget melihat kehadiran papanya di acara ulang tahunnya.
“Eh matiin. Cepet matiin. Matiin.” Para teman Adrian sibuk mencari alat pengendali musik jedag-jedug yang mereka putar dalam suara keras.
Seketika keadaan di dalam lounge mewah itu sangat hening. Tak ada satu orang pun yang berani bicara, bahkan sekedar menatap wajah Surya Aditama pun tidak berani.
Tentunya kecuali Adrian.
Surya menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Botol minuman keras dan makanan ringan, tersaji di meja dalam keadaan berantakan.
Ruangan itu penuh aroma asap rokok dan minuman keras yang sangat pekat. Tatapannya lurus ke arah putra tunggalnya yang duduk di tengah di dampingi dengan seorang wanita yang tak jelas asal usulnya.
“Papa, ngapain Papa ke sini? Tumben mau dateng ke ulang tahun Adrian,” tanya Adrian yang masih merasa aneh dengan kunjungan tiba-tiba ini.
“Menghapus namamu dari kartu keluarga dan juga daftar penerima warisan!” tegas Surya tanpa basa-basi.
“Apa?!” Adrian sampai berdiri mendengar jawaban papanya.
Adrian tertawa garing. “Pa, Papa becanda ya?” Adrian tepuk tangan, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Bagus banget kejutannya, Pa. Adrian sampe kaget,” lanjut Adrian sambil tertawa.
Para teman-teman Adrian juga ikut tertawa. Meski tawa canggung, karena wajah Surya tampak tidak sedang main-main.
Brug!
Sebuah koper berukuran besar dilemparkan oleh anak buah Surya ke lantai marmer yang ada di ruangan itu.
Suara berdebum itu langsung membuat tawa semua orang terhenti dan melihat ke koper yang tergeletak di depan mereka.
“Mulai saat ini semua fasilitasmu Papa cabut. Kartu kredit, tabungan, mobil, apartemen, vila, bahkan semua akses yang menggunakan namamu juga telah dicabut! Predikatmu sebagai putra mahkota Aditama telah dicabut!” tegas Surya.
Suara bisik-bisik kepanikan langsung terdengar. Teman-teman Adrian tidak percaya dengan keputusan besar dari orang terkaya di depan mereka.
Satu persatu, mereka keluar dari ruangan, takut mendapatkan imbas kemarahan Surya yang bisa saja menyeret nama keluarga mereka.
Adrian ditinggalkan sendirian.
Di tengah semua rasa terkejutnya, Adrian masih berusaha tertawa. Dia yang selama ini bebas melakukan apa saja tanpa halangan, tiba-tiba akan dicoret dari daftar keluarga. Sungguh tidak mungkin.
Apa lagi dia adalah penerus keluarga satu-satunya.
“Pa, becandanya gak lucu, Pa. Ini keterlaluan, Pa!” Adrian mulai berontak.
Wajah Adrian mulai memerah. Bukan karena mabuk, tapi karena malu dan marah.
“Papa serius!”
Surya melihat ke arah koper yang teronggok di lantai. “Di dalam sana ada beberapa bajumu dan juga uang 5 juta. Itu modal awalmu.”
“Modal awal? Itu uang jajan Adrian seminggu, Pa!” suara Adrian kian meninggi.
“Papa gak peduli! Bertahanlah selama 3 bulan tanpa menggunakan nama Aditama. Kalau kau bisa menunjukkan perubahan positif, Papa tidak akan segan mengangkatmu ke posisi tertinggi.”
“3 bulan?” Adrian tak mampu mengeluarkan banyak kata.
“Kalau kau gagal, bersiaplah pergi ke perkebunan sawit di pelosok Sumatra dan memulai semuanya dari bawah!”
Surya segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan Adrian yang masih terperangah sendirian.
Tanpa ampun Surya menghukum putranya yang selama ini sibuk berfoya-foya. Adrian juga selalu menolak jika disuruh bekerja.
Putra mahkota Aditama itu sibuk menghamburkan uang untuk flexing ke teman-temannya dan menghabiskan waktu di dunia malam.
Adrian jatuh terduduk di sofa. Kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya sendiri, karena hadiah besar yang baru saja dia terima.
Tak cukup hanya sampai di sana, beberapa saat kemudian dua orang keamanan lounge juga mengusirnya keluar dari ruangan itu. Meski Adrian berontak, tapi tak ada yang bisa dia perbuat lagi, karena dia bukan lagi anggota keluarga konglomerat Aditama.
Adrian berdiam di lobi lounge. Dia menghubungi mamanya dan teman-temannya untuk meminta bantuan. Dia bahkan menawarkan imbalan besar kalau ada yang mau membantunya.
Tapi sayangnya nama Adrian tanpa embel-embel Aditama di belakangnya sama saja seperti nama orang tak dikenal. Tak ada satu orang pun yang berani membantunya, termasuk mamanya sendiri.
Malam kian larut, Adrian sudah disuruh pergi karena lounge sudah akan tutup.
Dengan sangat terpaksa Adrian membawa koper besarnya berjalan ke luar gedung. Angin dingin mencekam menusuk tulangnya yang terbiasa terkena embusan angin sejuk dari pendingin mobil mewahnya.
Entah sudah berapa lama dia berjalan, kakinya sudah sangat sakit, bahkan sepatu puluhan jutanya itu tetap tidak bisa menghindari rasa sakit.
Adrian duduk di halte sepi. Jalanan di depannya juga sepi.
“b******k! Bisa-bisanya mereka semua pergi saat aku kayak gini. Awas kalian ya, kalo sampe aku balik lagi jadi penerus papa, kalian yang bakalan pertama kali aku hancurkan!” geram Adrian yang murka karena tak ada yang mau menolongnya saat dia sedang terpuruk.
Adrian menatap sebuah gedung hotel bintang 5 yang menjulang tinggi di depannya. Bisa saja dia menginap di sana malam ini, tapi bisa dipastikan beberapa hari kemudian dia harus jadi gembel di jalanan.
Adrian bersandar di halte. Dia bingung harus ke mana malam ini.
“Eh, apa ini. b******k!” umpat Adrian saat tiba-tiba sebuah selebaran terbang ke arahnya, jatuh di wajah tampannya.
Adrian yang sedang kesal, langsung membanting kertas itu begitu saja ke bawah. Dia yang kesal, melampiaskan dengan menginjak-injak selebaran sederhana tidak sopan itu.
Tapi tiba-tiba gerakan Adrian terhenti. Dia terpaku pada tulisan yang ada pada selebaran yang desainnya sangat tidak menarik itu.
Adrian mengambil kertas itu dan membacanya. “Dicari rekan sharring room apartemen. Apartemen Bintang.”
“Apartemen Bintang, di mana ini?”
Adrian segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi nomor yang tertera, agar dia bisa segera mendapatkan tempat tinggal sementara.
**
Adrian melihat ke apartemen yang dia datangi. Kecil, sempit, bahkan ukurannya sama dengan kamarnya di rumah.
Maya sang penyewa utama apartemen, duduk sambil cemberut dan melipat kedua tangannya di d**a saat dia harus menerima calon rekan sewanya itu malam ini.
“Jadi gimana, Mas? Jadi sewa di sini apa gak? Ini udah malem, aku harus tidur!” ucap Maya kesal karena sedari tadi orang di depannya ini hanya melihat-lihat saja, tanpa memberi kepastian.
Adrian melihat ke Maya. “Berapa sewanya?” tanya Adrian.
“5 juta perbulan!”
“5 juta?” Adrian teringat kalau uang dari papanya hanya 5 juta. Dan kalau dia bayarkan, maka besok dia tidak makan.
“Gak ada diskon? Ato cicilan mungkin?” tanya Adrian.
Maya mendengus kesal. Pria di depannya ini memakai setelan branded dari atas ke bawah. Tapi dengan mudahnya malah minta diskon.”
“Gak ada! Gak ada diskon. Aku di sini juga sewa dan minggu depan, sewanya harus dibayar penuh!”
“Tap-tapi aku gak bawa uang tunai.”
“Ya udah sih, tinggal transfer apa susahnya. Pokoknya kalo mau tinggal di sini ya bayar 5 juta!”
Adrian panik. Dia tidak mau jadi gelandangan di jalanan malam ini.
“Oh gini aja, saya bayar setengahnya dan saya kasih ATM saya ya. Itu jaminan. Iya, jaminan.” Adrian berusaha membujuk Maya.
Maya memonyongkan bibirnya. Matanya mulai menyipit melihat ke tamu anehnya. “Kapan mau di lunasi?” Maya butuh kepastian.
“Du-dua hari. Iya, dua hari bakalan saya lunasin.”
Maya mengangguk pelan sambil menyipitkan matanya, sedikit tidak percaya pada calon rekan sewanya. “Ok! Tapi kalau kamu bohong, saya nggak akan segan usir kamu dari sini. Ngerti!” tegas Maya memberi peringatan terakhir.
Maya mengambil uangnya. Dia berdiri dan menunjuk ke salah satu pintu yang ada di apartemen ini.
“Kamar kamu yang itu.” Maya menunjukkan kamar Adrian.
“Inget ya, di sini gak boleh berisik! Gak boleh makan makanan orang lain tanpa ijin dan harus selalu jaga kebersihan,” lanjut Maya.
“Jaga kebersihan?” ucap Adrian pelan.
Mata Maya membulat melihat pria branded tak jelas itu. “Iya lah! Emang di pikir di sini ada pembantunya apa. Ya udah, istirahat san. Inget, jangan berisik ya, aku lagi banyak kerjaan.”
“Iya-iya. Bawel banget jadi orang!” geram Adrian yang sedari tadi diceramahi terus oleh Maya.
Maya mendengus kesal lalu segera pergi ke kamarnya sendiri. Tentu saja kamar utama di apartemen ini.
“Orang aneh. Dia ini beneran kaya ato gak ya? Dari bajunya sih keliatan mahal, tapi masa uang 5 juta aja dia gak punya,” gumam Maya di balik pintu kamarnya.
“Ah udahlah! Awas aja kalo sampe dia gak bayar ya!”
Maya kembali ke meja kerja di kamarnya. Tumpukan berkas sudah menantikan untuk kembali disentuh.
Adrian menghela napas berat. Dia menyeret koper besarnya masuk ke kamar yang ditunjukan Maya.
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Matanya menatap nanar ruangan di depannya.
“Ini kamarku? Ini kamar apa gudang!” gerutu Adrian begitu dia melihat kamarnya.
Kamar itu bersih, tapi sangat sempit. Hanya ada satu tempat tidur single dengan seprai polos.
Sebuah lemari pakaian kayu sederhana berdiri di pojok ruangan dan satu kipas angin berdiri.
Ya, hanya kipas angin murah. Bukan AC dan membersih udara seperti di kamarnya dulu.
Gordennya terbuat dari kain tipis bermotif bunga yang tampak sangat murah, jenis gorden yang biasanya di pasang mamanya di kamar asisten rumah tangga mereka.
Dengan sedikit menyeret langkahnya, Adrian masuk ke kamar itu. Setidaknya malam ini dia gak akan jadi gelandangan mahal di jalanan.
Adrian duduk di pinggir tempat tidur yang terasa keras di bokongnya. Dia memejamkan mata sejenak, membayangkan kamar mandinya di rumah yang bahkan jauh lebih luas dan mewah daripada kamar tidur ini.
Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku jaket mahalnya yang sedikit lembap karena tadi sempat kena gerimis. Dia mengeluarkan sisa uangnya yang terlihat begitu dingin dan menyedihkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Adrian Aditama, dia merasakan ketakutan yang nyata akan hari esok. Dia menyandarkan kepalanya di tembok yang terasa dingin, sambil menggenggam sisa uangnya erat-erat.
“Ke mana lagi aku harus cari tambahan uang?” bisiknya pada kesunyian kamar sempit itu.