“Mas, buruan!! Saya mau kerja ini. Lama amat sih di kamar mandi!” teriak Maya sambil menggebrak pintu kamar mandi, saat dia mendapati penghuni baru apartemennya sejak tadi di dalam kamar mandi, sedang dia harus segera ke kantor.
“Pake aja kamar mandi lain!” jawab Adrian santai di dalam sana.
“Mana ada kamar mandi lain. Ini kamar mandi bersama! Buruan!”
Mendengar teriakan Maya yang terdengar sangat panik, sepertinya ini memang kamar mandi satu-satunya di apartemen sempit ini. Dengan sangat terpaksa, Adrian mengakhiri semedi paginya di atas kloset.
Tiap habis minum minuman beralkohol, setiap pagi, perut Adrian selalu bermasalah tapi tidak mudah keluar juga. Itulah yang membuatnya lama di dalam bilik perenungan itu.
Adrian keluar dari kamar mandi. Tatapan sinis Maya sudah menyambutnya.
Maya mengibaskan handuk yang menggantung di lehernya sambil mendengus. “Ngapain aja sih di kamar mandi. Lama banget! Buang air apa gali kubur!” geram Maya kesal pada penduduk baru yang tidak tahu aturan itu.
“Suka-suka aku lah! Dasar bawel!” balas Adrian tidak mau mengalah karena merasa sudah punya hak yang sama di tempat ini.
Maya mengerucutkan bibirnya melihat partner barunya itu. Kalau saja dia tidak butuh uang, pasti dia akan segera mengembalikan semua uang Adrian dan mengusir pria itu dari apartemennya.
Rekan sewa Maya yang sebelumnya, mendadak pindah tanpa pemberitahuan dan tanpa meninggalkan uang sewa yang harusnya dibayar. Pada saat yang sama Maya juga baru saja mengirim uang ke orang tuanya di kampung. Oleh sebab itu, saat Adrian datang, dia langsung menerimanya.
Maya keluar dari kamar mandi sambil memegangi handuk di atas kepalanya. Dia berjalan santai sambil bersenandung pelan menuju ke kamarnya.
“Sarapannya mana?” tanya Adrian tiba-tiba.
Maya menghentikan langkahnya. Dia melihat Adrian duduk santai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya dengan dua tangan.
“Apa? Sarapan?” tanya Maya mengulangi lagi apa yang dikatakan Adrian.
“He em. Perutku udah laper, semalam gak sempat makan.”
“Apa peduliku! Bukannya kemaren udah aku bilang ya kalo di sini semuanya ngurus sendiri-sendiri. Termasuk makanan!” Maya mengingatkan Adrian.
Adrian menoleh dengan mata yang menyipit. “Aku udah bayar mahal semalam. Setidaknya ada sarapan roti bakar ato omelet.”
“Dih! Dipikir di sini hotel kali ya. Bikin aja sendiri! Aku sibuk!”
Maya langsung pergi meninggalkan Hamzah begitu saja, tidak mau mood-nya rusak.
Tapi sebelum dia masuk ke dalam kamar, Maya kembali melihat ke Adrian. “Jangan ambil makanan milik orang lain tanpa ijin! Itu peraturan kedua!” Maya segera mengingatkan Adrian, takut bahan makanannya yang sudah limit di akhir bulan itu diambil oleh Adrian.
“Tapi aku gak punya makanan!” teriak Adrian, berharap Maya akan mengasihinya.
“Beli di bawah. Ada supermarket dan warung,” teriak Maya dari dalam kamarnya.
Adrian mendengus kesal mendengar jawaban Maya. Dia menggerutu sendiri sambil menatap layar ponselnya.
“s**t! Ini kenapa semua sih mereka. Kenapa malah pada keluar dari grup! b*****t! Jadi mereka beneran mau ninggalin aku!” murka Adrian saat dia melihat teman-teman nongkrongnya yang dulu selalu memujanya, kini malah meninggalkannya sendirian di dalam grup obrolan chat. Padahal dulu dia yang diundang ke dalam grup dan mereka sering menghabiskan malam bersama.
Maya berdiri di depan cermin panjang di kamarnya. Tangannya yang hendak mencolokkan kabel hair dryer jadi terhenti.
Dia malah sibuk mendengarkan umpatan dan luapan amarah Adrian yang entah sedang bicara dengan siapa di luar sana. Maya mengembuskan napas beratnya sambil menancapkan kabel pengering rambutnya.
“Apa jangan-jangan dia baru aja bangkrut? Kayaknya dia dihindari sama temen-temennya,” gumam Maya bermonolog sendiri sambil mengeringkan rambut.
“Kalo diliat dari penampilannya kemaren sih, bajunya emang kayak asli. Dia dulu usaha apa sih kok bisa sampe pailit gitu?”
Mata Maya tiba-tiba terbuka lebar. Dia sampai mematikan mesin pengering rambutnya. “Eh tunggu bentar! Dia masih punya uang kan? Hmm ... awas aja kalo sampe besok dia gak bayar ya! Aku bakalan tendang dia dari sini!” gumam Maya yang siap menendang teman sewanya jika ingkar janji.
Setelah rambutnya kering, Maya keluar kamar. Dia masih melihat Adrian duduk di sofa dengan wajah serius.
Sesekali pria itu tampak kesal, bahkan tak segan memukul sofa dengan tinjunya. Maya yang sedang mengoles selai di rotinya, diam-diam menguping dan mengawasi pria pendatang baru itu.
“b*****t! Bayar ut ... halo. Halo! Halo!” pekik Adrian saat panggilan teleponnya tiba-tiba diputus oleh orang yang hendak dia tagih.
“b******k!” maki Adrian makin kesal karena temannya yang dulu berhutang padanya malah memblokir kontaknya.
Sepertinya kabar pengusiran dirinya dari keluarga Aditama sudah tersebar luas, sampai tidak ada yang mau membantunya.
“Mas. Mas,” panggil Maya pelan sambil berdiri di belakang meja dapur.
Adrian menoleh. “Apa?!” tanya Adrian ketus.
“Mas kenapa? Abis bangkrut ya?” tanya Maya ingin tahu.
“Apa, bangkrut? Mana ada aku bangkrut! Uangku banyak tau!” sembur Adrian.
“Kalo emang uangnya banyak, kenapa gak lunasi aja sekalian uang sewanya.”
Seketika Adrian kembali teringat dengan sisa uangnya yang sudah tidak genap 2 juta karena kemarin sudah dia pakai untuk bayar ongkos taksi ke apartemen Maya.
“Eng ... kalo ... kalo soal itu ak-aku mas—“ Adrian kebingungan menjawab.
Maya mengangkat bagian kanan atas bibirnya sambil menyipitkan matanya. Sepertinya tebakannya benar kalau pria di depannya itu telah bangkrut.
“Sebaiknya kalo ada sisa uang segera bayarkan. Itu juga kalo Mas berminat tinggal di sini!” ucap Maya sinis yang kemudian langsung menggigit rotinya dengan geram.
“Gak usah khawatir soal uang! Aku ini anak tunggal konglomerat. Bahkan apartemen ini ... gedung apartemen ini bisa aku beli kalo aku mau!” bual Adrian yang masih tidak terima.
Maya memutar bola matanya mendengar bualan Adrian yang terlalu tinggi. “Pagi-pagi udah ngebual!” gerutu Maya.
“Aku gak ngebual. Aku beneran anak konglomerat!”
Maya menganggukkan kepalanya. “Ok, kalo kamu anak konglomerat, maka aku anak raja minyak!” jawab Maya sambil berjalan ke arah kamarnya lagi.
“Gawat! Dia orang stres kayaknya,” keluh Maya, menyesal menerima teman sewa tidak jelas.
“Anak raja minyak. Anak raja minyak gak ada yang kumel kayak kamu tau!” Adrian juga mencemooh penampilan Maya yang sangat terlalu sederhana untuk kalangan orang kaya.
**
Seharian ini Adrian tidak tenang. Ini adalah hari di mana dia harus melunasi pembayaran sewa di apartemen menyedihkan ini. Tapi sialnya, dia sama sekali tidak punya uang.
Uang sisa yang dia punya sudah berkurang banyak, untuk kebutuhannya. Kemarin dia sudah mencoba datang ke rumah orang tuanya, sekedar meminta belas kasihan mamanya, tapi dia tetap tidak mendapatkan uang.
Mamanya hanya bisa menyelipkan uang satu juta di celananya, sambil menangis karena sekarang keuangan dan semua gerakan mamanya di awasi sang papa. Adrian bahkan dilarang membawa barang mewah miliknya yang banyak terkumpul di kamarnya.
Adrian sudah benar-benar dibuang!
Lebih sialnya lagi, papanya telah membungkus pakaian tak berharga di dalam kopernya. Padahal, baju branded mahal koleksinya lebih mendominasi lemari bajunya.
Tak cukup sampai di sana, saat dia berusaha menjual barang branded miliknya yang melekat di badannya saat diusir, ternyata barang itu hanya dihargai tak lebih dari satu juta.
Adrian stres berat!
“Duh, gimana ini. Duitku cuma ada 3 juta. Kalo kukasihkan ke si bawel itu, bisa gak makan aku ntar. Duh gimana ya?” gumam Adrian sendirian di dalam kamarnya sambil melihat tumpukan uangnya.
Belum lagi Adrian sempat menemukan jalan keluar tentang keuangannya, ketukan di pintu kamar itu membuatnya kaget sekaligus kaget. Rasanya seperti malaikat maut datang menjemputnya.
“Mas, Mas Adrian. Belum tidur kan?” panggil Maya dari depan kamar Adrian.
“Duh, gimana ini. Apa aku pura-pura tidur aja ya?” gumam Adrian dalam kegundahan.
“Mas, jangan pura-pura tidur. Saya punya kunci duplikatnya loh. Inget janji kita kan? Ato Mas bakalan say—“
“Iya, aku keluar!” potong Adrian yang kesal mendengar ancaman yang sama selama dua hari ini dari mulut Maya.
Adrian menarik napas panjang. Dia belum pernah merasa sangat gugup begini, meski dia pernah diajak papanya bertemu pangeran Dubai.
Adrian melihat Maya sudah duduk di kursi makan. Kuku wanita itu menari di atas meja kayu yang bunyinya mirip dengan lagu pengantar ke pemakaman.
Adrian duduk di kursi kayu di depan Maya. Tentu saja memilih tempat agak jauh, siapa tahu nanti dia dicakar Maya.
Maya menatap Adrian. Pria yang biasanya selalu cerewet itu, kini tampak seperti kucing mahal yang habis kejebur kolam.
“Mana uangnya, Mas?” tanya Maya tanpa basa-basi.
“Ada,” jawab Adrian dengan suara sedikit bergetar.
Adrian meletakkan uang kekurangan pembayaran sewa di atas meja makan.
Maya melihat tumpukan uang berwarna merah di depannya. “Et dah! Tipis amat ya?” gumam Maya dalam hati.
Tangan Maya segera mengambil uang itu dan menghitungnya. “Kok cuma sejuta. Kan kurangnya dua juta,” ucap Maya protes.
“Ya itu dulu. Sisanya nanti,” jawab Adrian.
“Nanti kapan? Saya butuh uangnya besok!”
Bola mata Adrian bergerak-gerak. “Ya pokoknya itu dulu!” Adrian tidak mau menyerahkan sisa uang miliknya, karena itu modal dia bertahan hidup.
“Tapi ini kurang, Mas! Perjanjiannya 5 juta. Gimana sih!” Maya mulai kesal.
“Ya adanya masih itu.”
Maya menyandarkan punggungnya dan menatap tajam ke Adrian. “Katanya anak konglomerat. Katanya ATM-nya isinya ratusan juta. Masa bayar dua juta aja gak bisa,” sindir Maya.
“Bawel amat sih jado orang! Udah dibayar masih aja cerewet! Masih bagus aku mau bayar!” hardik Adrian tidak terima dengan sindirian Maya.
“Masalahnya ini uangnya kurang!”
“Ya udah terima aja itu! Bukannya makasih, malah ngomel!”
“Ck! Beneran stres ni orang,” gumam Maya yang makin yakin kalau Adrian kena gangguan mental.
Adrian melirik sinis ke Maya. Dia berharap Maya tidak akan menagihnya lagi.
Maya terus menatap Adrian. Pria di depannya ini tampak jujur tentang keuangannya yang menipis.
Sejak kemarin Maya tidak banyak melihat Adrian beli makanan mahal. Bahkan pria itu terlihat sangat irit saat membeli makanan untuk stok di rumah.
Adrian melirik Maya. Tidak ada pergerakan, berarti dia sudah menang dari Maya.
“Tunggu bentar, Mas,” panggil Maya saat Adrian akan berdiri.
Adrian kembali deg-degan dan menoleh lagi ke Maya. “Apa lagi?” nada suara Adrian masih tinggi.
Maya mengetuk-ngetukkan lipatan uang di tangannya ke meja. “Ok, aku terima uang ini. Tapi sisanya masih harus di bayar,” ucap Maya lebih tenang.
“Udah kubilang aku c*m—“
“Gak perlu pake uang!” potong Maya.
Maya menatap Adrian yang sudah berdiri di depannya. “Bayar pake tenaga. Iya ... pake tenaga aja. Bersihkan rumah ini tiap hari.”
“Apaaa!!!!” pekikan Adrian menggetarkan tembok apartemen.