Bab 3. Kesepakatan Baru

1385 Words
​“Heh! Jangan kurang ajar kamu ya! Apa maksud kamu aku harus jaga kebersihan, hah?!” sembur Adrian tidak terima. Wajahnya merah padam, merasa harga dirinya sebagai pangeran Aditama Group diinjak-injak oleh wanita yang tidak selevel dengannya. ​Maya melipat tangan di d**a, tenang sekali. “Itu udah konsekuensinya, Mas. Kamu kan bayar kurang satu juta. Makanya tenaga kamu buat nutupin sisanya. Adil, kan?” “Lagian aku juga liat kamu gak kerja sekarang. Jadi, dari pada bengong di rumah, mending bersih-bersihkan,” lanjut Maya dengan nada santai. “Jangan kurang ajar kamu ya! Lagian kata siapa aku gak kerja. Aku ini—“ Leher Adrian mendadak tercekat karena ingatan tentang statusnya saat ini langsung muncul di kepalanya. Maya sedikit memiringkan kepalanya. “Kenapa, Mas. Baru nyadar ya kalo udah bangkrut sekarang,” celetuk Maya dengan nada meledek. Adrian memalingkan wajahnya karena sepertinya wanita menyebalkan di depannya ini tahu kalau dia telah bangkrut, bahkan tanpa sisa uang sedikit pun. Maya menyandarkan badannya di sandaran kursi makan. Dia menatap kasihan pada teman sewanya itu yang sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan tentang keadaannya saat ini. “Lagian kerjaannya juga gampang kok, Mas. Kan di sini cuma kita berdua aja. Ruangannya juga gak gitu gede. Mas cukup nyapu dan ngepel tiap hari. Dan jangan lupa kamar mandi juga di sikat.” Maya memaparkan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Adrian. “Gak mungkin! Aku gak mungkin ngerjain itu semua!” tolak Adrian mentah-mentah. “Kalo gak mau, ya lunasin semuanya. Lagian cuma sejuta doang, apa susahnya sih!” tegas Maya kesal pada sikap Adrian yang masih sok kaya padahal sudah miskin. Adrian dibuat diam. Kalau sudah masalah uang, dia tidak bisa membantah lagi. Adrian memasang wajah memelas tapi tatapannya masih kesal pada Maya. “Tapi aku gak pernah kerja kasar kayak gitu! Kamu tahu gak tangan aku ini harganya berapa? Tangan ini buat tanda tangan kontrak milyaran, bukan buat pegang sapu!” Adrian memberitahu Maya kelas sosialnya, mencoba mengintimidasi dengan sisa-sisa wibawa palsunya. Maya melepas nafas berat bahkan sampai menengadahkan kepalanya, bosan mendengar cerita Adrian yang terdengar sangat tidak nyata. “Woy, Mas! Bangun dong, bangun! Kalo tanganmu masih buat tanda tangan milyaran, kamu gak di sini sekarang. Noh, Senopati. Kamu dah tidur enak di kawasan Senopati sana!” sembur Maya kesal. Maya mendengus kesal. Dia menatap Adrian penuh emosi. “Nyebelin banget sih! Udah tau idupnya udah susah, masih aja mimpi. Bangun, Mas! Perut gak kenyang kalo cuma mimpi!” Amarah Maya meluap. Dia tidak tahan lagi dengan sikap manja dan sok kaya Adrian. Maya yang dibesarkan oleh orang tuanya dalam kehidupan sederhana, mengajarkan dia untuk selalu berjuang agar bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Keberuntungan membawa Maya yang dari kampung di pinggiran Jawa, bisa bekerja di perusahaan sebesar Aditama Grup. Meski awalnya dia kesusahan saat harus beradaptasi di kehidupan yang serba mahal, tapi kini Maya sudah bisa menjalaninya dengan lebih baik, meski dia masih kerap harus mengencangkan ikat pinggangnya saat ingin membeli sesuatu agar bisa menabung. Adrian terdiam. Dia tidak berani membantah lagi. Meski dia dulu kerap kali membantah orang tuanya, tapi kali ini dia harus bertindak hati-hati. Bagaimana pun juga, saat ini separuh nasibnya ada di tangan Maya. Maya menatap ke Adrian. “Jadi gimana sekarang? Mau bantuin beres-beres ato mau pindah aja?” tanya Maya dengan suara ketus. “Tapi aku gak bisa ber—“ “Oke! Oke, aku setuju!” teriak Adrian frustrasi, setelah dia melihat mata Maya melotot padanya. Maya mengangguk lega. “Nah, kali gini kan enak. Lagian cowok kok lembek banget. Gentle dong!” “Aku gak lembek ya!” bantah Adrian. “Gak lembek sih. Tapi males,” gumam Maya pelan sambil memutar bola matanya. Kekesalan Adrian makin besar pada Maya. Wanita itu benar-benar akan mendapatkan pembalasannya pertama kali, saat statusnya kembali. “Sebelum aku ngerjain semuanya, aku punya syarat!” ucap Adrian tiba-tiba. “Mau apa lagi?” tanya Maya malas. Adrian diam sejenak. “Nanti ... nanti kalo aku sudah bisa bayar sisa uangnya, aku gak mau ngurus rumah ini lagi. Urus masing-masing!” “Deal!” Maya setuju tanpa perlu berpikir lagi. “Dan satu lagi, jangan bilang siapa-siapa kalau aku tinggal di sini, apa lagi aku ... nyikat kamar mandi.” Suara Adrian semakin kecil di akhir kalimatnya. Maya terdiam dan melihat Adrian lekat-lekat. Dia kemudian menempelkan dadanya di pinggir meja, agar badannya bisa lebih mendekat ke Adrian. “Emang kenapa, Mas? Apa kamu pewaris yang lagi dicari sama keluarga konglomeratmu?” tanya Maya pelan penuh rasa penasaran. Maya menegakkan punggungnya, lalu dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri. “Udahlah, Mas. Capek idup kalo dalam mimpi. Meski ini sulit, tapi ini nyata. Lagian siapa yang bakalan nyariin kamu. Paling juga penagih utang,” lanjut Maya sambil berdiri, hendak kembali ke kamarnya. “Kamu bakalan nyesel kalo tau siapa aku sebenernya. Aku anak orang terkaya di sini!” tegas Adrian mengingatkan Maya. Maya membuka pintu kamarnya. “Uh, takutnya. Kalo gitu aku juga keponakan Ratu Elizabeth yang ilang,” jawab Maya asal lalu segera masuk ke kamarnya. “Haduh, kasian. Orang kalo gak siap jatoh itu ya kayak gitu. Kasian banget,” gumam Maya yang segera masuk ke selimut hangatnya. ** “Mas, kamu gak jadi sikat kamar mandi tadi?” tanya Maya saat dia keluar kamar mandi setelah dia pulang kantor. Adrian yang ada di ruang tengah, sedang asyik menonton film sambil menikmati hamburger. “Udah,” jawab Adrian singkat. “Udah? Apanya yang udah. Itu sudut-sudutnya masih kotor, Mas. Emang tadi gak kamu sikat.” “Udah.” “Kalo udah ya harusnya bersih dong.” “Ya mana aku tau. Yang penting udah.” Adrian menggigit hamburgernya, tanpa memedulikan Maya. Maya mendengus kesal melihat sikap Adrian. Dia segera berjalan ke ruang tengah. Dia mengambul remot TV yang tergeletak di sofa, lalu mematikan TV tersebut. Adrian yang sedang asyik menonton TV, kaget karena tiba-tiba layar datar itu menjadi hitam. Adrian menoleh ke Maya dengan wajah marah. “Kenapa dimatiin sih? Rese amat jadi orang!” tegur Adrian kesal. Maya memasang wajah serius di depan Adrian. “Bersihkan lagi sekarang!” tegas Maya. “Gak mau! Tadi aku udah bersiin kok,” tolak Adrian. “Tapi itu masih kotor!” “Ya mana aku tau. Yang pasti aku udah sikat semuanya!” “Boong! Kamu nyikat pake gaya apa? Itu lebih ke kamu elus dari pada kamu sikat, Mas!” bentak Maya kesal. Adrian mendengus kasara. “Aku udah sikat tadi! Tapi obatnya itu baunya menyengat banget, bikin pusing! Aku gak tahan. Aku gak bisa napas!” Adrian mencari alasan. “Ya namanya juga obat perontok kerak. Kalo wangi itu parfum namanya! Gak ada alasan! Pokoknya kerjain sekarang atau perjanjian batal!!” Maya meraih pergelangan tangan Adrian dan menyeretnya ke kamar mandi. Dia menunjukkan bagian mana saja yang masih harus di sikat. “Sikat itu semua! Jangan males!” “Aku gak tahan baunya! Aku gak mau! Tanganku juga sakit semua jadinya!” Adrian tetap menolak. Pekerjaan ini membuatnya kelelahan parah tadi siang. “Pake masker! Lagian itu ada sarung tangan kan.” “Pink? Yang bener aja aku pake warna pink!” Adrian menunjuk sarung tangan yang sejak tadi ada di dalam lemari penyimpanan. Maya mendengus kesal. “Itu kan c*m—“ ucapan Maya terhenti saat ada telepon masuk. Ada deretan nomor tak dikenal menghubunginya. Dia pun segera menerima panggilan itu, siapa tahu penting. “Apa, mau sewa kamar?” ucap Maya dengan suara kencang dan melihat ke Adrian dengan dagunya yang sedikit terangkat. “Apa ... mau bayar langsung 6 bulan ke depan?” lanjut Maya lagi. Mendengar ucapan Maya, posisi Adrian di rumah ini terancam. Tanpa bicara lagi, dia segera mengambil sarung tangan yang dia benci itu dan segera berjalan ke arah kamar mandi. “Iya, aku kerjain!” ucap Adrian yang penuh dengan amarah. Adrian berdiri di dalam kamar mandi yang lembap, memegang sikat plastik warna merah. Tangannya sudah memakai sarung tangan warna pink yang dia benci. Dia melihat botol obat kamar mandi sambil memegangnya kuat-kuat. “Arghhh! b*****t! Papa jahat banget! Liat aja, Adrian akan segera balik ke rumah! Liat aja, pa!” Adrian mulai bekerja sambil mengomel sendiri. Dia menyikat lantai dengan gerakan brutal sambil merutuki Maya. “Sialan kamu Maya! Awas ya kalau aku kaya lagi, kamu bakal aku suruh sikat seluruh gedung kantorku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD