The.Vi -14

1507 Words
Vivi dan Theo sedang mengerjakan tugas bersama, lebih tepatnya Vivi tengah membantu kekasihnya untuk menyelesaikan tugas sastra Indonesia yang diberikan oleh guru mereka. Theo sudah menguap saat Vivi menerangkan tentang maksud dari novel yang sedang dibacanya. Tidak suka dengan sikap kekasihnya itu, Vivi memukul kepala Theo menggunakan buku hingga cowok itu mengaduh kesakitan. "Yang, apaan sih!" protes Theo. "Lu dengerin gue apa kagak?" tanya Vivi kesal. "Dengerin kok!" "Mana coba?" Theo mengulang kembali semua yang Vivi terangkan padanya. Hal itu membuat Vivi tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Saat Vivi sedang fokus dengan novel yang ada di tangannya, sebuah dering ponsel terdengar nyaring ,dan membuat Vivi mengalihkan perhatiannya pada ponsel milik Theo yang berada di atas meja. "YANG! Itu ponsel bunyi dari tadi, astaga!" bentak Vivi. "Males! Pelatih pasti nyuruh latihan ke sekolah," ujar Theo. "Malem-malem gini?" "Iye, Ayang." "Tidur sendiri dong ...." Vivi terlihat memanyunkan bibirnya hingga membuat Theo gemas. Cowok itu segera mendekat dan mencium bibir Vivi dengan penuh gairah. "Ehm." Merasa jika tangan Theo mulai memegang dadanya, Vivi langsung menangkis tangan itu ,lalu melepaskan ciumannya. Theo memicingkan matanya menatap Vivi dengan penuh tanda tanya. "Gue lagi PMS ,Yang," bisik Vivi sembari meringis menunjukkan giginya. "Hmm." Theo berdiri lalu mengambil ponselnya yang tidak kunjung berhenti berdering. "Ada apa, Pak?" tanya Theo. "Saya tunggu di depan wall, Arde dan Rahmad sudah ada di sini," ujar pelatih Theo dari seberang telepon. "Yaelah ,Pak. Besok aja nape sih," bantah Theo. "Bukannya kamu itu tinggal di asrama ya?" "Hmm, iye, iye ,pak. Otewe kesana sekarang." Theo menutup sambungan telepon itu lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Cowok itu terlihat kesal dan berjalan malas ke kamar Vivi untuk mengambil tas yang berisi peralatan berlatihnya. "Jadi ke sekolah?" tanya Vivi. "Iya, biasa ... ada lomba beberapa minggu lagi," ujar Theo. "Ya udah, yang semangat dong latihannya." "Iya," jawab Theo. Theo mengenakan celana training dengan kaos berwarna abu-abu. Ia juga memakai sepatu yang baru saja dibeli beberapa hari lalu bersama Vivi.  "Besok gue gimana dong?" tanya vivi. "Besok gue jemput pagi-pagi, jangan lupa sekalian bawain bekal buat sarapan ya, Yang?" ujar Theo. "Oke." Theo mencium kekasihnya sekilas lalu berangkat menuju sekolah menggunakan mobil Lamborghini Veneno miliknya. *** Suasana malam hari di sekolah terlihat begitu sunyi dan juga sedikit menyeramkan. Theo memilih memarkirkan mobilnya di dekat gedung olah raga. Cowok itu turun dengan membawa tas berisi barang-barangnya.  "Theo," sapa seorang cewek dari belakang. "Kek setan aja lo," celetuk Theo. "Ikut lomba juga?" tanya cewek itu. "Kalo kagak ikutan , nape juga gue di sini sekarang!" "Ya kali lu mau ajarin anak-anak teknik biar bisa menang," ujar cewek itu. "Ama sape lu?" tanya Theo. "Sendiri," jawabnya singkat. "Sorry nih, sorry ... gue lupa nama lu," ujar Theo dengan terkekeh. "Ih, dasar! Gue Hulda, anak cheers juga, tapi suka beginian juga," jelasnya. "Owh, ceweknya Gecko?" "Yup, bener banget." Theo berjalan bersama Hulsa menuju tempat latihan. Di sana sudah ada pelatih dan juga beberapa anak yang mengikuti lomba. Theo meletakkan tasnya lalu menarik celana panjangnya ke atas. Ia juga melepaskan kaosnya, dan melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melanjutkan latihan utama. Selesai pemanasan, Theo kini mulai mengenakan harnes dan memakai sepatu khusus untuk panjat. Rahmad yang memiliki tubuh lebih besar dari Theo, kini menjadi rekannya untuk melakukan latihan. "Speed ya, The," ujar pelatih. "Siap." Theo mengambil posisi, dan menunggu aba-aba. Setelah terdengar peluit yang ditiup oleh pelatih, Theo mulai melompat naik ke atas dengan kecepatan yang membuat semua anak melongo melihatnya. "Good, lima menit." Theo mengatur napasnya, dan menggoyangkan tangannya. Sekali lagi ia akan melakukan latihan dengan speed. Tentu saja, Theo kembali melakukannya dengan sangat cepat dan waktu yang bisa dibilang melebihi target. "Oke, kamu istirahat dulu," ujar pelatih. Theo melepaskan kaitannya dari figure of eight, lalu berjalan mengambil air minum dan meneguknya. Samar Theo mendengar ponselnya berdering, ia segera mencari keberadaan ponselnya itu, lalu menerima panggilan dari Leo. "Ada apaan?" tanya Theo dari seberang telepon. "Awas! Singa galak!" ujar Leo mengulang bacaan yang Oris tempel di depan pintu kamarnya. Theo yang sudah mengerti maksud yang dikatakan teman samping kamar Oris seketika terdengar menghela napas dalam. "Gue lagi sama pelatih. Gue tidur di asrama! Biar gue yang urus si singa galak!" sahut Theo seraya memutuskan panggilan teleponnya. Cowok itu kembali meneguk air dari botol yang ada di tangannya.  "Pasti gara-gara tadi siang nih," gumam Theo. Theo melihat latihan itu terus berlangsung, hingga semua mendapatkan gilirannya. Saat Hulda melakukan lintas jalur, sebuah kecelakaan terjadi. Hulda terjatuh dengan tubuh yang menghantam papan hingga cewek itu tidak sadarkan diri. Terlihat beberapa anak menjadi panik saat mengetahui Hulda tidak sadarkan diri. "Tidurin di sini, jangan di kasih alas. Ada yang bawa minyak kagak? buru kasih sini," ujar Theo yang kini menangani Hulda. Theo mendekatkan botol minyak dengan aroma terapi itu ke hidung Hulda. Dan beberapa saat kemudian, kesadaran Hulda kembali. Cewek itu mengeluh pada pergelangan tangannya yang sakit akibat terkilir karena tidak bisa meraih point. "Ada yang tahu rumah Hulda kagak?" tanya Theo. Banyak murid di sana, tetapi tidak ada yang mengenal Hulda ,karena ia bukan anak kelas Bahasa melainkan anak kelas IPA. Theo menghubungi salah satu anak IPA yang ia kenal. "Gue lagi males angkat telepon!" ujar cowok itu dari seberang. "Yaelah. Terus nape lu angkat bhambang?" Tut Oris memutuskan panggilan telepon itu. Hal itu membuat Theo kesal dengan sikap acuh temannya. Ia kembali menghubungi Oris, dan kali ini panggilan itu ditolak. "Bangke!" umpat Theo. Akhirnya Theo mengirim pesan pada Oris mengenai tujuannya untuk menelepon.  Chat Pacar Rhea : Anda : Heh! Bangke lu! Gue mau nanya soal anak IPA, namanya Hulda. Pacar Rhea : Gak tau! Kenapa? Anda : Orangnya pingsan dimari, kagak ada yang tau dimana rumahnya ini. Pacar Rhea : Bentar. Read. Selama menunggu pesan balasan dari Oris. Semua murid yang ada di sana melanjutkan latihannya. Beberapa saat kemudian, Oris membalas pesan dari Theo dengan memberitahu mengenai alamat dari Hulda. "Pak, ini alamat rumahnya Hulda," ujar Theo sembari memberikan secarik kertas pada pelatihnya. "Kamu aja yang antar dia," ujar pelatih. 'Bangke!' batin Theo kesal. Theo mengambil napas panjang lalu meraih kaosnya dan mengenakan kaos itu lagi. Theo mendekati Hulda, lalu bertanya pada cewek itu. "Lu bisa jalan kan?" "The, lu kagak bisa mikir apa? Tu anak baru aja pingsan, kalo lu suruh jalan ke parkiran yang ada dia bakal pingsan lagi," ujar seorang murid perempuan di sana. "Terus gue musti gimana?" tanya Theo. "Ya, gendonglah! Bege banget sih jadi cowok." Theo membulatkan matanya mendengar ucapan cewek itu. Theo dengan terpaksa meraih tubuh Hulda, lalu menggendong cewek itu menuju mobilnya. Sebelum pergi, Theo berteriak pada Arde agar meletakkan barang-barangnya ke asrama setelah selesai urusan latihan itu. "Maaf," ucap Hulda lirih. "Nape dah?" "Maaf udah ngerepotin lu." "Hmm." Theo menurunkan Hulda tepat didepan pintu mobilnya. Lalu Theo membuka pintu itu dan mempersilakan Hulda masuk ke dalam sana. Theo melajukan mobilnya menuju alamat yang Oris kirim. Tetapi Hulda menolak untuk diantarkan sampai di rumah itu. "The, anter ke apartemen aja ya?"  "Lah, kenapa? Lu kagak balik ke rumah ortu?" tanya Theo ingin tahu. "Gue lagi tengkar ama abang gue, males pulang. Mending gue ke apartemen aja," ujarnya beralasan. "Ya udin. Dimana alamatnya?" tanya Theo. "Pasific Garden, lu tau kan?" "Oke." Theo segera mengantarkan Hulda sampai di apartemen itu. Cowok itu hanya mengantarkan Hulda sampai di lobby apartemen. Setelah itu ia kembali lagi ke asrama dengan secepat mungkin. Setelah mengantarkan Hulda, Theo kembali ke asrama untuk beristirahat. Namun, saat sampai di depan pintu kamar, Theo melihat kertas yang ditempel pada pintu kamar Oris. "AWAS!! SINGA GALAK!" Theo terkekeh membacanya, lalu mengetuk pintu itu.  Tok Tok Tok Tidak ada jawaban dari Oris, Theo kembali mengetuk dengan lebih keras. Ceklek Pintu terbuka, Oris memegang sepatu dan melemparkannya pada Theo. "Bangke! k*****t lu! Ini gue woy!" teriak Theo. "Lu buta? Kagak baca tulisan di sono?" ujar Oris sembari menunjuk pada pintu kamarnya. "Gue baca! makannya itu gue penasaran! Sejak kapan di asrama dibolehin bawa singa?" Oris mengatur napasnya perlahan. Lalu ia kembali masuk dan menutup pintu kamar itu. Brak "Wanjay sekali anda ... GUE MAU MAIN AH, KE KAMAR ANAK CEWEK! SIAPA TAHU AJA, RHEA MAU NEMENIN GUE!" teriak Theo.  Saat itu juga Oris kembali membuka pintu dan mengunci tangan Theo kebelakang, dengan tubuh bagian depannya ia hadapkan ke permukaan dinding. "Anjir! Sakit bangke! Ris, lepasin bege!" protes Theo. "Lu tadi bilang apa?" tanya Oris dengan nada dingin. "Gak ada. Gue kagak bilang apa-apa!" ujar Theo. "Sekali lagi lu bikin mood gue semakin naik, gue patahin tangan lu!" ancam Oris. Cowok itu melepaskan Theo dengan sedikit mendorong tubuhnya. Setelah itu Oris kembali ke dalam kamar dan mengunci kamar itu rapat-rapat. "Akh! Sakit a***y!" keluh Theo. Ia mengibaskan tangannya beberapa kali karena terasa nyeri. Akhirnya Theo memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri sebelum tidur. "Mati gue, ini tangan kalo besok kagak sembuh bisa berabe nih," gumam Theo. Theo merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian. Berulang kali ia mencoba memijat tangannya agar tidak terlalu sakit, tetapi sayangnya Theo merasa tangannya itu terkilir. Theo meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Ia menghubungi Vivi untuk memberitahu konsidinya saat ini. "Ehm, ada apa sih ,Yang? Udah malem, ngantuk." "Yang, besok ke sekolah naik ojek ya? atau bareng siapa gitu," ujar Theo. "Hah? Kenapa emang?" tanya Vivi. "Kayaknya tangan gue terkilir, ini masih sakit, kalo besok masih sakit gue kagak bisa jemput," jelas Theo. "Ya udah ,besok gue ama Ghea aja kalo gitu. Kok bisa terkilir sih, Yang?" "Mau ngerjain singa galak, eh ... gue yang kena batunya." "He? Lu sih! Bukannya udah tau ya kalo Oris lagi marah kayak gimana?" omel Vivi. "Iye tahu ... ya udah, tidur lagi gih! Gue juga mau tidur ini," ujar Theo mengakhiri panggilan itu. Setelah sambungan telepon itu berakhir, Theo kembali meletakkan ponsel miliknya ke atas nakas, lalu ia menutup tubuhnya dengan selimut. "Moga aja besok udah baikan." Theo memejamkan matanya dan terlelap dalam beberapa detik kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD