Grup chat FoGAS :
Anjeli : Yang ngerasa lakinya Rhea, ke UKS. Sebelum perawan Rhea digondol maling :V.
Read.
Theo mengeryitkan alisnya, kemudian dia menghubungi Oris. Sayangnya, semua panggilan itu tidak terjawab. Entah dimana makhluk laknat satu itu, kenapa bisa dia kecolongan soal Rhea. Akhirnya Theo berjalan menuju UKS, dia juga bertemu Raga dan Ami yang sudah terlihat panik karena kabar dari Ranjiel di grup chat.
"Kalian mau ka UKS juga?" tanya Theo.
"Iyalah, emang mau kemana lagi," sahut Ami.
"Vivi mana?" tanya Raga yang tidak melihat Vivi bersama Theo.
"Lagi ngurusin cheers, entar juga dateng kalo udah gue kasih tau," jelas Theo.
"Lo sengaja kagak kasih tau Vivi karena takut cewek lo ngamuk kan?" sela Raga.
"Ye, lu tau sendiri gimana Vivi kalo udah marah, apalagi kalo tau sahabatnnya kek begini, yang ada ni sekolah bisa ambruk," celoteh Theo.
Setelah sampai di UKS ,mereka melihat Oris yang keluar dari UKS menuju tempat Tuti berada. Sementara Rhea berusaha melepas selang infus secara paksa, hingga tangannya mengeluarkan darah dan menetes di lantai. Ami yang khawatir segera mengikuti Rhea, sedangkan Raga dan Theo saling tatap karena bingung.
"Itu Oris?" tanya Theo.
Ketiga anak itu akhirnya melangkah mengikuti Oris dan Rhea.
"Si Tuti emang pembuat onar," gerutu Theo.
Sampai di gedung olah raga, Theo, Raga, dan Ami dibuat terkejut saat melihat Rhea menampar Tuti dengan keras. Bahkan suara tamparan itu menggema di ruangan itu.
"Rhea luar biasa," celetuk Ami.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke UKS. Dengan berjalan sedikit sempoyongan, Rhea dan Oris saling menutup mulut tidak berkata apapun. Sedangkan diantara ketiga teman lainnya, hanya Ami yang berani mendekati Rhea dan membantunya kembali berbaring.
Untuk beberapa saat ruangan itu terlihat sunyi. Menyadari jika kedua orang itu membutuhkan tempat untuk berbicara empat mata, Ami segera berpamitan pada Rhea, dan diiyakan oleh dua cowok lainnya.
Theo kembali ke kelas menghampiri teman-temannya. Dia duduk dengan wajah yang terlihat kesal. Membuat Arde dan Rahmad bertanya-tanya.
"Nape, Boss?" tanya Rahmad.
"Tuti bikin onar, dia nyeburin ceweknya Oris ke kolam tadi."
"What the puk! Sini Boss, kasih ke gue itu nenek lampir, biar gue gundulin sekalian rambutnya," celoteh Arde yang tidak tahan mendengar penjelasan Theo.
"Apaan sih, udah di tanganin ama empunya," ujar Theo.
"Oke deh, kalo butuh orang, gue siap buat maju di garda depan," celetuk Arde lagi.
Theo beranjak dari tempatnya, lalu berjalan keluar lagi dari kelas itu.
"Mau kemana ,Boss?" tanya Rahmad.
"Nyamperin Ayang gue," sahut Theo.
Theo berjalan santai menuju ruang cheers, tempat dimana Vivi sedang mengadakan rapat pengurus untuk keikutsertaan lomba.
"Cap, dicariin," bisik Ghea.
Vivi melirik ke arah jendela dari ekor matanya. Dia melihat Theo sedang melambaikan tangan menyapa Vivi.
"Oke, rapat hari ini selesai. Kalian bisa kembali ke kelas masing-masing." Tutup Vivi pada rapat itu.
Setelah ruangan itu terlihat sepi, Theo melangkah masuk dan memeluk Vivi dari belakang.
"Yang, entar kalo ada yang liat gak enak tau!" protes Vivi.
"Biarin, mana ada yang berani ganggu kita," ujar Theo.
Merasa tidak dihiraukan oleh Vivi, Theo menjahili kekasihnya itu dengan memberikan kecupan-kecupan kecil pada leher jenjang Vivi.
"Ehm, yang ... jangan, ahh ...."
"Jangan berhenti kan?" goda Theo dengan melanjutkan aksinya.
Tangan Theo kini menelusup masuk ke dalam pakaian seragam Vivi. Tangannya meremas d**a cewek itu dengan lembut, memberikan pijatan-pijatan sehingga terdengar suara desahan yang keluar dari mulut Vivi.
"Aahh ... yang, ini di ruang cheers! Di rumah aja kenapa sih," protes Vivi lagi.
"Gak mau, maunya sekarang!"
Kini Vivi tidak bisa menolak sentuhan itu, dia semakin larut dengan kegiatan yang Theo lakukan.
Kling ...
Suara ponsel Theo membuat keduanya sedikit terkejut. Theo tidak menghiraukan ponsel itu, dia masih melanjutkan aksinya dengan membalikkan tubuh Vivi untuk menghadap padanya. Theo mencium bibir Vivi dengan penuh gairah, dengan tangannya yang masih setia bermain dibagian d**a cewek itu.
Kling ...
Kling ...
Kling ...
"Bangke! Siapa sih!" seru Theo yang merasa terganggu.
Theo melepaskan Vivi lalu melihat ponselnya. Chat dari grup GAS kembali mengganggu kegiatan Theo. Dia melihat pada layar ponselnya dan membaca pesan itu.
Grup chat FoGAS :
Pacar Rhea : Kalau kalian ada yang lihat si Tuti, seret dia ke kolam renang. Gue mau kasih pelajaran sama dia.
Opiknya Sharap : Ada apaan emang?
Anjeli : Astaga ... istigfar smile meris.
Raganya Ami : Si Rhea gak kenapa-kenapa?
Anda : Kalian semua berisik, ganggu gue lagi enaena ama Vivi aja.
Pacar Rhea : Gue gak suka lihat Rhea kayak gini. Dia kayak ketakutan dan gak mau ditinggal. Semua gara-gara si Tuti.
Read.
Theo memilih memasukkan kembali ponsel miliknya. Lalu dia melihat Vivi yang sudah rapi dengan tangannya yang berada di pinggang.
"Lihat hapenya!" ujar Vivi.
Takut jika kekasihnya mengamuk Theo memberikan ponselnya pada Vivi, dan setelah melihat isi chat anak GAS, Vivi memukul kepala Theo dengan keras.
Plak ...
"Kenapa gak bilang dari tadi?" tanya Vivi kesal.
"Hmm, lupa."
Vivi mengembalikan ponsel Theo dengan sedikit mendorong tubuh cowok itu. Dia langsung berjalan dengan cepat menuju asrama sekolah.
"Yang! Kemana?" tanya Theo.
"Kemana lagi? Ya jelas samperin Rhea!" tegas Vivi.
"Mampus deh! Bakal ada perang nih!" gumam Theo.
***
Sampai di asrama cewek, Pak Benny lagi-lagi mencegah para cowok untuk masuk ke asrama itu.
"Yang boleh masuk cuma cewek! Kamu cewek?" tanya Pak Benny.
"Gak usah basa basi deh, Pak! Apa perlu gue ingetin buat yang kemaren?" celoteh Theo.
"Dasar anak orang kaya!" celetuk Pak Benny sembari berbalik badan meninggalkan mereka.
"Holang kaya mah bebas."
Theo berlari menyusul Vivi yang sudah berada jauh di depannya. Hingga mereka sampai di depan pintu kamar Rhea.
Tok
Tok
Tok
"Rhe! Buka!" teriak Vivi yang sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Yang, sabar," ujar Theo.
"Mana bisa gue sabar baca curhatan Oris di hape lo!" gerutu Vivi.
"Kok Ayang malah marah-marah ama gue sih?" protes Theo.
Vivi membalikkan tubuhnya menghadap Theo, dia menggerutu dan membalikkan keadaan jika semua itu terjadi pada dirinya. Sementara itu, Theo tidak mendengarkan Vivi, tetapi ia tengah menatap Oris dan Rhea yang berada di pintu.
Vivi langsung meraih tangan Rhea ,dan membawanya pergi dari sana. Tubuhnya yang lemas membuat Rhea hanya pasrah pada sahabatnya itu. Saat berjalan menuju tempat Tuti berada, mereka melihat Shap, dan Ami yang juga ingin melihat keadaan Rhea.
"Shap, Mi, kita temuin si Tuti gila!" ajak Vivi.
Setelah beberapa detik saling bertatap mata, akhirnya Shap dan Ami berbalik badan mengikuti langkah Vivi.
Sepanjang perjalanan, Vivi terus menggerutu mengenai Tuti yang berani menyerang sahabatnya tanpa sepengetahuan dirinya. Sementara itu, di bagian belakang ada empat cowok yang mengekor mengikuti kemana para ceweknya pergi.
"Gue yakin, akan ada perang jambak yang terjadi," gumam Ovi.
Ketiga cowok lainnya menatap Ovi dengan bersidekap.
"Perang jambak?" tanya Oris yang tidak mengerti.
Ovi mengangguk lalu menjawab," jambak rambut sampai rontok."
"Haduh, kalau sampai kejadian, bisa-bisa gue bakal kena omel Vivi nih!" gerutu Theo sembari mempercepat langkahnya untuk menyusul sang pacar.
"Duh ... bar-bar sekali anak gadis," gumam Ovi.
"Yang gadis cuma si Rhea, sisanya udah berlubang," sahut Oris yang tidak terima.
"Rhea kalo gak berlubang, gimana caranya bisa masuk, Ris?" tanya Raga.
Theo terkekeh mendengar ucapan Raga, begitu juga dengan Ovi yang justru tertawa kencang.
***
Keempat cewek itu menyerang Tuti bersamaan, mereka sangat kesal dengan perbuatan Tuti pada Rhea. Hanya saja, saat mengingat jika sedang berada di area sekolah, mereka menghentikan aksinya dan keluar dari ruangan itu.
Shap mendengus kesal karena masih belum puas untuk memberi pelajaran pada Tuti. Sementara itu ketiga cewek lainnya juga menahan kekesalan yang sama dengan Shap. Saat mereka berjalan keluar, mereka melihat keempat cowoknya yang sudah menatap dengan tajam dan terlihat hendak mengomel.
"Yang!" panggil Theo.
Vivi tidak menggubris panggilan kekasihnya, ia justru berjalan semakin cepat bersama ketiga cewek lainnya menuju kantin sekolah.
"Mampus, gue yakin si Oris bakal marahin kita nih," ujar Ami.
"Lo juga si Vi, main seret bini orang," sahut Shap.
"Sialan lo semua, bisa-bisa gue diceramahin sampek pagi ama dia," tambah Rhea.
Sampainya di kantin, Theo meraih tangan Vivi dan membawanya pergi dari sana. Sedangkan anak GAS lainnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Theo yang kesal pada kekasihnya itu.
"Apaan sih ,Yang?" protes Vivi.
"Pulang sekarang juga!" ujar Theo dengan tegas.
"Kan mau makan dulu di kantin! Gue laper, Ayang!"
"Makan di rumah aja!"
Vivi memanyunkan bibirnya dan memilih pasrah saat Theo semakin mempercepat langkah kakinya. Mereka menuju tempat mobil Theo berada, lalu masuk ke dalam mobil itu dan melaju menuju rumah Vivi.
"Yang, mau makan di MacDi," rengek Vivi.
"Hmm, iya, iya."
Vivi tersenyum mendengar jawaban dari Theo. Akhirnya Theo menghentikan mobilnya tepat di area parkir restoran fast food itu.
"Yang, entar bantuin bikin tugas sastra ya?" ujar Theo.
"Belom kelas yang kemaren?"
"Kurang dikit lagi, entar bantuin revisi aja," jelas Theo.
"Owh, oke."
Vivi berdiri di meja pesanan, ia melihat dan ingin memilih makanan apa yang akan ia santap setelah ini.
"Selamat datang, makan sini atau dibawa pulang ,kak?" tanya seorang pegawai.
"Makan di sini," jawab Theo.
"Silakan menunya, mau yang paket nasi atau paket burger?"
"Burger aja, yang doble cheese burger sama mac flurry oreo, terus tambah satu ayam spicy bagian paha," ujar Vivi.
"Laper apa doyan?" celetuk Theo.
"Dua-duanya beda tipis, gak usah ngomel! buruan bayar!" tegas Vivi.
"Kan gue belom pesen, Yang! Gak boleh makan nih?"
"Hehehe, boleh Ayang ... pesen gih, kasihan mbaknya udah kesemutan kakinya nungguin lu," ujar Vivi.
"Paket panas 2 ,sama mac flurry hochija," ujar Theo.
"Baik, totalnya seratus tiga puluh ribu rupiah, kak."
Theo mengeluarkan dompetnya lalu membayar pesanan makanan itu. Mereka memilih untuk makan di area depan restoran.
"Yang, lu kok kagak bilang sih kalo Rhea habis di serang Tuti?" tanya Vivi sembari menggigit burgernya.
"Gue tau lo bakal marah gede kayak tadi, gue nggak mau sampai lo kena tegus guru gara-gara hajar anak donatur sekolah," jelas Theo.
"Hapikan, Huhi hang halah, Yang."
"Telen dulu nape sih! Kebiasaan dah," ujar Theo kesal.
"Tapikan, Tuti yang salah, Yang!"
"Nah gitu kan enak dengernya."
"Habisnya gue kesel, padahal selama ini kan, gue udah baik ama si Tuti," gerutu Vivi.
"Lagian udah di kasih tau kalo lu gak perlu baik ama tu nenek lampir, masih aja kasih dia hati," omel Theo.
Mereka melanjutkan perbincangan hingga makanannya habis ,dan menyisakan ice creame yang sengaja Vivi makan saat di dalam mobil. Theo kembali mengemudikan mobilnya hingga sampai di rumah Vivi.