Vivi terbangun dari tidurnya, merasa berat dibagian perutnya ,cewek itu menengok kesamping. Benar saja, Theo masih tertidur pulas saat ini. Vivi mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Theo. Namun, bukannya terlepas justru Theo semakin mempererat pelukannya.
"Yang, udah pagi. Bangun, sekolah!" ujar Vivi sembari mencoba melepaskan diri.
Perlu diketahui, mereka tak mengenakan baju sama sekali saat ini. Semalam Theo benar-benar seperti bayi yang merengek pada ibunya. Cowok itu menggempur Vivi hingga pukul dua dini hari.
"Yang, bisa telat nih!"
"Jam berapa sih?"
"Jam setengah enam nih."
"Hmm, lu tuh kenapa selalu bangun pagi sih, kan sesekali telat gapapa!"
"Ihh, ogah. Emang lu!"
Theo melepaskan Vivi dari pelukannya. Tentu saja kesempatan emas itu digunakan dengan baik. Vivi berjalan sedikit tertatih masuk kedalam kamar mandi.
"Aduh duh ... kok sakit sih dibuat pipis," gumam Vivi.
Cewek itu mencoba meraba bagian intimnya. Benar saja, bagian bibir kewanitaannya mengalami luka akibat gesekan yang Theo lakukan semalam.
"Aakh!" pekik cewek berambut cokelat itu.
"Yang, lu kenapa?" tanya Theo di depan pintu kamar mandi.
"Ha? Gapapa, yang."
CEKLEK
"Ih kok masuk sih!" ujar Vivi kesal.
"Mau mandi bareng aja, biar cepet."
Theo menyeringai melihat tubuh telanjang kekasihnya. Ia mulai menggoda dengan mengedipkan matanya. Sayangnya Vivi tak tergoda dengan rayuan Theo kali ini.
"Yang, ini beneran sakit! Udah gue mau mandi terus berangkat sekolah. Kalo lu berani serang gue sekarang, gue pastiin lu ga bakal liat gue dalam satu minggu kedepan!" ancam Vivi.
"Kok sekarang berani ngancem gitu sih! Hmm, nakalnya si Shap nular nih," ujar Theo.
"Yeee, habisnya lu dibilangin kagak bisa!"
Theo memilih diam, cowok itu berjalan menuju shower dan menyalakannya. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, membersihkan diri tanpa menghiraukan kekasihnya yang berdiri mematung.
"Lu ga mandi, yang?" tanya Theo.
Vivi mengerjapkan matanya, dia berjalan mendekati Theo lalu membasuh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Theo membantu kekasihnya untuk membersihkan area punggungnya, begitupun sebaliknya.
"Yang, gak pengen pake motor?" tanya Vivi tiba-tiba.
"Tumben?"
"Lagi pengen aja, liat si Lia ama Anjeli kek mesra gitu kalo naek motor."
"Hmm, ya entar gue suruh orang rumah buat anterin motor kesini."
"Oke."
Setelah dua puluh menit, akhirnya mereka keluar dari kamar mandi. Lalu keduanya menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian seragam sekolahnya.
Vivi turun terlebih dahulu, ia melihat diatas meja makan sudah siap sarapan untuknya dan Theo. Cewek itu menggigit sandwich isi keju dan ham, sembari menggeser layar ponselnya melihat berita terkini di medsos.
Theo terlihat turun dari lantai dua, ia langsung saja duduk disamping Vivi dan mengambil sandwich bagiannya.
"Yang, makan dulu nape! Ada apaan sih di hape?" gerutu Theo yang kesal melihat Vivi.
"Hmm, hiya hiya ... hehewet hanget sih!"
"Telen dulu, Ayang! Mana ngerti gue, lu ngomong apaan ... haha hehem gitu."
Theo mendengus kesal, ia buru-buru menghabiskan sandwich miliknya lalu berjalan keluar untuk menyiapkan mobil.
Setelah menunggu lima menit, Theo mulai sedikit kesal sama cewek satu itu.
"Yang, buruan!" teriak Theo.
Vivi berlari menghampiri Theo, ia tersenyum sembari memberi kecupan di pipi kekasihnya lalu masuk kedalam mobil.
"Yang, nanti gue ada latihan. Lu balik sendiri pake mobil apa nungguin gue kelar?" tanya Theo.
"Hmm, liat entar aja deh. Oya, katanya mau baca novelnya Agatha Christie, nih gue bawain," ujar Vivi.
"Ow iya, hampir aja lupa. Makasih, Ayang."
"Hmm."
***
Sampai di sekolah, Kedua pasangan itu berjalan dengan tangan Vivi yang melingkar pada lengan Theo. Banyak pasang mata yang melihat keduanya, terutama seorang musuh bubuyutan anak GAS. Siapa lagi jika bukan Tuti Maryati, kakak kelas yang selalu jadi pelaku utama keisengan di antara anak-anak GAS.
"Gak bisa bedain antara sekolah ama mall ya?" celetuk Tuti.
"Yang, denger ada yang ngomong gak?" tanya Theo pada Vivi.
"Hmm? Emang ada yang ngomong? Kok gue kagak denger apa-apa sih."
Mereka berlalu melewati Tuti tanpa melihat pada cewek itu. Hingga sampai di kelas Vivi, Theo juga ikut masuk ke dalam sana dan duduk di bangku tempat teman Vivi duduk. Vivi mengeluarkan buku untuk dibaca dan dipelajari ini, sementara Theo memilih untuk membaca novel Agatha Christie yang menjadi tugasnya beberapa hari lalu.
"Yang, kok lu masih di sini?" tanya Vivi.
"Emang kenapa kalo gue di sini?"
"Lah kan kelas lu di sebelah ,Ayang!"
"Gak mau, maunya di sini! Entar lu kabur lagi! Gue mau naik banding biar bisa pindah kelas."
"Udah deh, jangan mulai lagi! Kan semalem udah dapet jatah. Kenapa sekarang kek anak kecil lagi sih?" protes Vivi.
"Hmmm, iya, iya ... gue balik kandang ... eh, balik kelas!"
"Nanti jam istirahat ke kantin bareng! Jangan tinggalin gue!" ujar Vivi.
"Iye, Ayang gue yang paling sekseh!" jawab Theo sembari mengecup bibir Vivi lalu pergi bergitu saja.
Sementara Natalia dan juga Ghea hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua pasangan ini. Mereka terlihat begitu mesra meski banyak yang menjadi penghalang.
"Cap, jalan yuk!" ajak Ghea.
"Kemana?" tanya Vivi.
"Mall dong, gue mau cari baju buat kado nih," ujar Ghea.
"Oke, kebetulan nanti Theo latihan tuh."
"Sip!"
Ghea tersenyum lalu duduk di samping Vivi. Karena lonceng tanpa pelajaran pertama berbunyi ,dan kegiatan belajar akan segera di mulai. Vivi dengan tenang mengeluarkan buku dan juga alat tulis lainnya, ia kembali membaca beberapa pelajaran yang sebelumnya diajarkan.
"Cap, lu ngerti yang ini gak?" tanya Ghea sembari memperlihatkan soal yang sedang ia kerjakan.
"Iya, kenapa?"
"Gue lupa, bisa bantuin gak?"
"Sini."
Vivi menjelaskan pada Ghea soal pelajaran itu. Saat ini meeka sedang mempelajari pelajaran matematika. Meski jurusan Bahasa, tetapi pelajaran matematika selalu ada dan di pelajari seperti jurusan lainnya.
Sementara itu, di kelas Theo. Cowok itu sedang mengerjakan tugas sastra Indonesia, padahal saat ini mata pelajaran yang sedang diterangkan oleh sang guru adalah bahasa Inggris. Theo selalu saja tidak mengikuti aturan di kelas maupun di sekolah. Ia selalu absen di ruang guru BK karena kenakalan yang dibuatnya.
"Matheo, what are you doing there?" tanya Mam Berta.
"Nothing," jawab Theo.
Mam Berta berjalan mendekati Theo, dan melihat apa yang sedang Theo kerjakan. Arde yang duduk di samping Theo merasa khawatir, karena hukuman dari Mam Berta selalu membuat dirinya pusing. Setelah memastikan jika Theo hanya sedang mencatat pelajaran hari ini, Mam Berta kembali menjelaskan mengenai pelajaran bahasa Inggris.
"Oke ,class ... work on pages twenty-three to page thirty, don't forget to collect them before class ends," ujar Mam Berta.
"Astaga ,Mam," keluh seluruh siswa di kelas.
Theo tiba-tiba saja berdiri dari tempatnya, lalu berjalan mendekat dengan membawa buku tugasnya. Ia tersenyum sembari memberikan buku itu pada Mam Berta yang terdiam melihat Theo.
"Mam, i'm done," ucap Theo.
"Oke, thank you , Matheo."
Theo berjalan keluar dari kelas, dan berjalan menuju kamar mandi. Saat sampai di kamar mandi, ia mendengar suara desahan dari dalam bilik. Theo yang merasa risih menggebrak pintu hingga anak yang mendesah itu terkejut dan mengumpat dengan kencang.
"k*****t! Anjing! Siapa woy!" teriak anak itu.
"Bacot lu! Keluar buruan!" seru Theo.
Anak itu terdiam mendengar suara yang ia kenal. Terdengar suara pintu terbuka perlahan, dan memperlihatkan seorang siswa dengan wajah yang tidak Theo kenali keluar dari sana.
"T-theo ... so-sorry, gue kagak tau kalo itu ta-tadi elu," ucapnya terbata.
"Lu ulangin lagi, gue pastiin bakal FYI tuh desahan di satu sekolah," ujar Theo.
"Ja-jangan dong."
"Apa?"
"Ja-jangan ... gue bakal lakuin apapun asal lu kagak jadiin gue sebagai bahan anak GAS," ujarnya.
"Sekarang lu ke kantin, beliin gue makanan gih! Keknya lu lebih kaya dari gue nih," celetuk Theo.
"Ga-gak gitu ,The. Gu-gue kagak sekaya yang lu pikir, keluarga gue cuma pebisnis biasa aja," jelas anak itu.
"Nama lu siapa sih?" tanya Theo.
"Deni."
Theo mengibaskan tangannya, lalu melangkah masuk ke dalam bilik kamar mandi untuk menuntaskan kegiatannya di sana.
"Buruan pesenin makanan!" teriak Theo dari dalam sana.
Deni berlari menuju kantin , memesan makanan untuk Theo di sana. Sementara Theo yang selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi, kini berjalan menuju kantin sekolah. Saat hampir sampai di kantin, Theo melihat Oris yang berjalan sendirian.
"Ris, darimana?" tanya Theo.
"Ruang guru, lu mau kemana?" tanya Oris balik.
"Kantin, mau ikut?" tawar Theo.
Oris menggelengkan kepalanya lalu menjawab ,"gue bukan lu yang suka bolos pelajaran."
"Yeee ... gue kagak bolos kali ,Ris! Lagian gue udah kelar ngerjain tugas, makannya mau ke kantin makan. Ada kacung baru nih, yakin kagak ikutan?"
"Kagak, udah deh ... gue balik dulu! Pelajaran kimia menanti," ujar Oris sembari mengangkat satu tangannya.
Theo hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kembali berjalan menuju kantin. Sampai di kantin, ia melihat Deni yang duduk dengan meja penuh dengan makanan. Theo menyeringai melihat pemandangan itu, ia meraih ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Ranjiel.
"Dimana lo?" tanya Theo.
"Rooftop, nape dah?"
"Ada kacung baru traktir makan nih! Mau kagak?"
"Otewe."
Setelah itu Theo mendekati Deni dan duduk di sana. Beberapa detik kemudian terlihat seorang cowok dengan senyum manisnya berlari menghampiri Theo dan Deni.
"Widih ... ada yang baik hati nih," celetuk Ranjiel.
"Makan kuy!" sahut Theo.
Ranjiel duduk di samping Theo. Mereka langsung saja menyantap makanan itu hingga habis tak tersisa.
"Nape tiba-tiba mau jadi kacung?" tanya Ranjiel.
Theo mendekat, lalu berbisik pada Ranjiel mengenai kegiatan yang Deni lakukan di dalam kamar mandi. Deni hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat kedua anggota GAS yang terlihat kompak itu.
"The, udah kan? Gue mau balik ke kelas nih," pamit Deni.
"Oke, jangan lupa bayar dulu semua ini!" celetuk Theo.
Deni mengangguk, lalu berlalu dari tempat itu menuju kelasnya. Sementara kedua anggota GAS itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke rooftop bersama.
"Lu kagak ada pelajaran, Njiel?" tanya Theo.
"Males, Lia lagi PMS!" jawab Ranjiel.
"Lah ... Lia yang PMS nape lu yang sensitif?"
"Kan kita sehati ... gak usah gaya kaget lu!"
Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia benar-benar dibuat bingung dengan tingkah Ranjiel kali ini. Tidak ingin berlarut memikirkan Ranjiel, Theo mengambil vapor dari dalam saku celananya dan menghisap alat itu.
"Baru lagi ,The?" tanya Ranjiel.
"Iya, yang lama udah males pake. Gue kasih ke Arde," jawab Theo.
"Owh, oiya ... gue ada plan buat kita jalan-jalan ke kebun kelapa sawit bokap. Lu ama Pipi ikut kan?"
"Vivi oke, gue juga oke ... emang siapa aja yang ikutan?" tanya Theo balik.
"Semua ikut keknya, biasalah ... anak-anak GAS doang!"
"Oke."