episode 6

1081 Words
Merasa semua sudah selesai Ica buru buru keluar dari kamar suaminya. Ya kamar suaminya karena mereka tidak tidur sekamar tentu saja Ryan yang punya perintah. "Aww." TIba-tiba saja ia terjatuh karena kakinya tersandung saat meletakkan baju Ryan dikasur. Wajahnya seketika pucat, dan matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana tidak, di sana! Di lantai sudah berserakan serpihan kaca dari figura yang membingkai wajah 2 anak cowok yang berfose ceria, dua orang yang disayangi. "Apa yang lo lakukan hah??" "I..Ica ..." Plak !!! "Kurang ajar, gue cuma suruh lo siapin baju gue bukan yang lain. Apa lo belum puas bunuh adik gue sampe harus hancurin fotonya kek gini?" Kilatan merah terlihat jelas di manik mata Adrian yang memang marah dan bahkan sangat marah jika berkaitan dengan adiknya . "Ma..mafin Ica kak, Ica ga sengaja." "Jangan banyak alasan, gue tau lo sengaja!!" Ryan menarik kasar dagu istrinya. "Ica bener-bener ga sengaja kak." "Keluar !!!" "Tapi kak .." "Gue bilang keluar!!!! Dan jangan pernah lagi masuk kamar apalagi sentuh barang-barang gue!" Hardiknya. Ica berlari dengan bercucuran air mata, baru saja ia masih senang bisa layan keperluan suaminya dan sekarang dia membuat nya marah besar dan menghilangkan kesempatan itu, menyiapkan segala yang dibutuhkan Ryan. "Fan..apa ga ada kata maaf lagi yang pantas untuk Ica hikss ... Ifan tau kan Ica sayang banget sama kak Ryan hikss ... Fan kenapa bukan ica aja dulu yang pergi bukan kamu ..." Ica menatap foto nya bersama sahabatnya yang tersimpan di dalam buku diary nya. "Ica harus kuat, Ica pasti bisa buat kak Ryan tau kalau bukan Ica yang buat kamu jatuh!! iya harus." dihapus nya air matanya dan segera keluar dari kamar setelah membersihkan sisa air matanya. Dilihatnya mobil Ryan baru saja keluar dari parkiran ia menghela nafas berat. Ryan pergi tanpa pamit harusnya dia biasa saja tapi kali ini benar-benar berbeda Ryan nya pergi dengan marah, Ryannya semakin membenci dirinya. *** "Hei ko mukanya gitu? Kenapa? Ada masalah, cerita dong sama gue." "Ga pa-pa ko,Ra. Gue cuma lagi capek aja kemaren abis begadang." "Aelah kalau itu mah gue faham, meskipun belum nikah gue faham kok Suami istri biasa begadang hahaha" Zahra membuat Anisa melotot tak percaya, bagaimana mungkin sahabatnya bisa menggodanya dengan kata-kata itu dan berhasil membuatnya tersipu. "Bocah kaga usah mikir aneh-aneh deh." sungut nya malu-malu. "Tuh kan muka lo merah hahahah." "Udah ah jangan di bahas." "Oke-oke Ibu dokter cantik." Mereka tertawa riang sampai seseorang datang datang tawanya. "Hai !!! selamat siang,Dok,Suster." "Siang Dokter." timpal Zahra. "Dokter Ica, gimana tugas negaranya udah kelar kan?" Zahra menatap ica tak mengerti, Sementara Ica malah menahan tawa mengingat isi pesan nya tadi pagi. "Sudah Dok,makanya saya bisa masuk sekarang, makasi ya Dokter udah izinkan saya datang terlambat." "Sama-sama,Dok. Oya ada pasien di ruangan melati yang harus di kontrol. Kemarin katanya Dokter yang tangani." "Iya dok memang itu pasien Ica." "Ya sudah kamu coba cek ya saya ada urusan lain." "Baik Dok." Ica segera pergi mengikuti Zahra sebelum tangan kekar menahan sahabatnya membuat nya serentak menoleh. "Tunggu!!" "Eh dok ada apa?" tanya Zahra heran. "Suster ikut saya ya,saya butuh bantuan." "Oh baiklah,Dok." Ica berlalu meninggalkan kedua nya yang masih ngobrol tanpa ingin mengganggu. "Ada apa dok?" "Saya cuma mau ajak kamu makan siang." . "hah? Dokter ga lagi sakit kan, atau Dokter baru bangun tidur, iya,Dok?" "Ya enggak lah kamu ini lucu sekali." Alif terkekeh menampilkan deretan gigi yang rapi. "Lalu kenapa Dokter tiba-tiba ngajak saya makan?" "Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah bersedia membantu saya selama ini." "Hahaha Dokter ada -ada aja. Kan sudah kewajiban saya sebagai perawat disini untuk membantu dokter segalanya." "Pokonya saya mau Terimakasih aja ke kamu, kamu mau kan temani saya makan." "Yah kalau bos yang minta bagaimana bisa di tolak apalagi sama saya yang perawat di rumah sakitnya." Mereka terkekeh penuh keriangan Semenjak hari itu dimana Anisa sah menjadi istri seorang Adrian, Laki-laki yang orang tuanya pilihkan, Sejak itu Dokter Alif dan Zahra sering bicara padahal sebelumnya Mereka hanya bicara ketika di waktu tertentu dimana jika Zahra kebetulan menjadi perawat pada pasien Dokter itu. *** "Gimana keadaannya, masih ada yang sakit???" "Kalau di rawat Dokter cantik gini pasti sakit nya ilang" godanya. "Apaan sih kak! Inget lo Ica udah punya suami." "Yah .... iya lupa, sakit lagi deh." mereka terkekeh bersama. Pria yang terbaring disana sebelah dua belas dengan sifat baim padanya Sama-sama tulus bantu dia dalam keadaan apapun meskipun pria ini sering sekali modusin dia. Berbeda dengan Baim yang sengaja mendekatkan dirinya dengan Adrian, suaminya sekarang. "Oya kamu udah jengukin ibu,belum?" tanyanya antusias. “Belum kak. Ica belum sempat kesana. Rencananya nanti sore sih, Ica kangen banget sama ibu tapi yah..kakak tau sendiri Ica sibuk apalagi ngurusin pasien satu ini." Ica menghela nafas panjang seolah-olah sedang dalam masalah besar . "Yee..kamu mah gitu, bentar lagi juga sehat kok " "Buruan biar ga manja gini." lirihnya. "Iya Bu Dokter, serem amat." "Lagian siapa suruh balapan jadinya kek gini kan,haha lucu tau liatnya kenapa ga sekalian aja mukanya yang di perban biar kaya mumi." ejeknya dan mendapat pukulan kecil di lengannya oleh pria itu. "Nanti salam buat ibu ya, ka Dika janji deh kalok udah sehat langsung jengukin ibu.Kangen juga tau sama beliau." "Iya nanti Ica salamin, nih obatnya minum dulu Ica mau liat pasien lain." "Iya iya iya bawel." Ia mengambil dengan kasar obat yang di sodorkan Ica. "Buruan minum! Ica masih liatin nih." Ica mendengar pria itu berdecak kesal namun tetap menurut perintah Ica Ia sangat tahu bahwa pria itu begitu sulit minum obat. Kalau ga ditungguin pasti obatnya dibuang seperti di lakukan nya kemarin,dia membuang nya di tong sampah untung saja Anisa cepat tau dan memaksanya untuk minum obat kembali. "Dasar malu-maluin, segede gini masih aja takut minum obat." gerutunya sembari meninggalkan ruang rawat pria itu, pria yang sudah seperti kakaknya selama ini. Pria itu mengerucutkan bibirnya sebelum Anisa menutup pintu membuat Anisa terkekeh geli "Sialnya aku dirawat kamu ya gini." "Nanti Ica balik kasih obat lagi." godanya dan menutup pintu ruang rawatnya. "Dasar Anisa ....." Gerutu Dika dengan senyuman yang mengambang di bibir manisnya melihat kepergian gadis itu. Dia sendiri tak tau kenapa Anisa selalu menganggapnya bercanda ia menyatakan cintanya dengan terang-terangan, tapi ia masih bersyukur Anisa tidak pernah canggung dan menjauhinya apalagi sekarang gadis itu sudah menikah dengan pastinya Anisa yakin bahwa Dika tak menggangu nya. Dika menatap tumpukan obat yang belum di minumnya dan menghela nafas berat, ini juga karena ulahnya ikut balapan kemarin dan alhasil bukannya menang dia cedera karena ban bocor saat ngebut untung saja lukanya tak terlalu parah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD