6

1463 Words
Tiga hari kemudian hari pernikahan merekapun tiba. Semenjak hari itu Eleina tidak pernah bertemu dengan Darrius lagi. Dia hanya mengirimkan orang untuk membawanya memilih baju pengantin dan lainnya. Eleina tahu jika laki-laki itu pasti marah padanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kantor catatan sipil di mana pernikahannya akan dilangsungkan. Saat sampai di sana dengan gugup Eleina menyusuri sepanjang jalan menuju tempat di mana Darrius berada. Ia bisa melihat betapa tampan laki-laki itu dalam tuksedo hitam yang dikenakannya tapi wajah Darrius masih tampak kaku dan dingin saat menatapnya. Akhirnya ia tiba di hadapan Darrius dan mereka mulai melangsungkan pernikahan itu yang bagi Eleina terasa menyentuh hatinya entah karena apa, padahal ini hanya pernikahan terpaksa. Ia bahkan merasa sesuatu berkelebat di manik mata Darrius saat menatapnya. Aku pasti berkhayal, sebab dia hanya memiliki perasaan benci padaku, batin Eleina saat berada di mobil yang sama dengan Darrius menuju ke apartemennya. "Kamu akan tetap tidur di kamar tamu seperti kemarin dan aku tetap tak akan menyentuhmu karena aku tidak mau kamu mengklaim bayi dikandunganmu sebagai anakku, aku tahu karena itulah kamu mencoba menjebakku," ujar Darrius saat sampai di apartemennya kembali. "Kamu tak akan pernah menjadi istriku yang sebenarnya," sambungnya lagi. Eleina tak bisa berkata-kata mendengar ucapan laki-laki itu padanya. "Mungkin, selamat menjadi Papa dari anak laki-laki lain, setidaknya aku berhasil memberikan anak ini namamu jadi tidak ada yang akan menganggapnya anak haram lagi, kamu tidak bisa mengumumkan kalau dia bukan anakmu karena itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, Mr. Warren," ucap Eleina sarkasme kemudian bergegas masuk ke kamarnya. Ia merasa senang karena kembali membuat Darrius lepas kendali tapi tahu laki-laki itu tidak akan bisa melakukan apapun padanya. "Jangan mencoba menggodaku karena jika kamu berjalan telanjang di hadapanku pun aku tak akan tertarik, banyak wanita lain yang lebih menarik darimu," ucap Darrius membalasnya yang masih sempat ia dengar. Entah kenapa ia rasanya ingin menangis saja mendengar ucapan Darrius padanya. Karena kesal ia mencoba membuka pakaiannya dengan susah payah dan dengan keras kepala ia terus mencobanya hingga berhasil karena ia tak sudi meminta bantuan laki-laki itu. Selesai membersihkan riasannya ia kemudian mandi dan setelah itu dirinya hanya bisa duduk diam di pinggir ranjang tak tahu harus melakukan apa. Ia tak berani keluar karena tidak mau bertemu dengan Darrius. "Sepertinya aku akan terjebak hingga layu bersamanya," desah Eleina pasrah. *** Di kamarnya Darrius menarik dasinya hingga lepas dengan kesal dan membuangnya sembarangan. Dirinya sangat kesal karena harus menikah karena terpaksa. Mau tidak mau dia harus bertanggung jawab setelah tertangkap basah seperti itu. Dia harus waspada karena dirinya tak tahu apa yang sesungguhnya gadis itu rencanakan dan dia tak akan membiarkan rencana gadis itu berhasil. Mereka bertemu saat makan malam dan bersikap layaknya orang asing yang tinggal satu rumah. Eleina memakai baju yang menutup rapat tubuhnya karena ia tak mau laki-laki itu merasa besar kepala karena mengira ia mencoba merayunya. Semua itu terus berlanjut hingga satu minggu kemudian, mereka tak bicara satu sama lain apalagi bersikap seperti pengantin baru. Eleina tak tahan lagi terus berada di sana bersamanya jadi ia memutuskan pergi ke rumah Adelia saja dan tak ingin kembali ke apartemen Darrius. Ia tak mungkin pergi ke rumah mamanya sebab ia tak bisa mengadukan masalahnya pada Shirley. Eleina terus melanjutkan kuliahnya meski sudah menikah karena itulah ia bisa melarikan diri ke rumah Adelia saat siang. "Jadi kamu masih belum bercinta dengannya hingga sekarang?" tanya Adelia. "Begitulah, lagi pula aku tak sudi ia sentuh. Sial sangat hidupku menikah dengan musuhku." "Apa kamu yakin?" "Tentu saja! Aku bahkan bergidik jijik membayangkannya." "Tapi kalian begitu panas saat bersama." "Ya, merasa panas ingin saling membunuh." Adelia tertawa dan jika itu yang temannya ingin pikirkan maka akan dia biarkan saja tapi sebuah ide terbesit dipikirannya. "Apa kamu yakin dia tidak menginginkanmu juga?" "Ya, dia sendiri yang mengatakannya dan terus menerus menghinaku dengan mengatakan tubuhku seperti tubuh anak kecil." "Apa kamu ingin dia menjilat kata-katanya sendiri?" "Apa bisa? Apa yang harus aku lakukan?" "Rayu dia dan lihat reaksinya bagaimana, jika berhasil maka itu lebih baik lagi, kamu bisa menolaknya saat kamu berhasil atau buat dia jatuh cinta padamu dan kemudian kamu bisa mencampakkannya." "Haruskah aku seperti itu?" "Apa kamu tidak membaca majalah? Dia saja menghinamu jadi kenapa kamu tidak membalasnya." "Apa maksudmu?" Adelia kemudian memberikan Eleina majalah di mana terdapat foto Darrius bersama wanita lain. "Oh, mungkin ini hanya kliennya saja." "Terserah jika itu yang ingin kamu pikirkan," ujar Adelia dan memberikan Eleina 3 majalah lagi di mana terdapat foto Darrius bersama 3 wanita yang berbeda lagi. "Baiklah, aku harus pulang sekarang karena tidak lama lagi dia akan pulang." "Baiklah, beritahu aku jika kamu berubah pikiran." "Hmmm." Sampai di apartemen Darrius foto di majalah itu tak bisa menghilang dari pikirannya dan saat laki-laki itu pulang kemudian mengabaikannya lagi seperti biasa, ia merasa sangat marah. "Apa kamu bersama wanita lain setelah kita menikah?" tanya Eleina saat mereka makan malam. "Kamu bukan istriku yang sesungguhnya hingga bisa bertanya akan hal itu dan mereka terlihat lebih menarik daripada dirimu, sudah aku katakan bukan aku akan membuatmu menderita karena menjebakku ke dalam pernikahan ini," ujarnya dan pergi ke kamarnya tak menyadari Eleina yang menatapnya marah. Mungkin aku ikuti saja saran Adelia hanya agar bisa melihat dia menjilati ucapannya sendiri. Eleina kemudian berhenti makan dan masuk ke kamarnya. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi Adelia. "Halo." "Adelia." "Eleina! Kamu menghubungiku di saat yang tidak tepat." "Kenapa?" "Sudahlah gadis perawan sepertimu tak perlu tahu." Eleina hanya tertawa renyah dan seketika dia tahu apa yang sudah ia ganggu. "Maaf." "Ada apa? Aku tak bisa lama-lama." "Aku berubah pikiran dan akan mengikuti saranmu. Jadi ajari aku cara menggoda laki-laki agar mau bercinta dengan kita?" "Baiklah. Apa kamu sudah menyediakan kertas untuk mencatat?" "Sebentar," ujar Eleina dan segera mencari kertas dan pulpen di tasnya. "Aku sudah siap," ujar Eleina. "Pertama, perlihatkan tali bramu, bahu merupakan bagian tubuh yang seksi juga. Hanya dengan mengintip dan melihat bahu dan bramu dia akan berimajinasi liar akannya. Kedua, curi kesempatan untuk berbisik sesuatu yang menggoda di telinganya." "Apa yang harus aku bisikkan?" tanya Eleina bingung. "Hmmm, bisikan jika kamu menyukai bau tubuhnya dan buat suaramu seolah-olah kamu b*******h hanya dengan mencium bau tubuhnya." "Bagaimana suara yang b*******h?" "Bicara dengan perawan memang sangat melelahkan." Eleina hanya tertawa mendengar kekesalan temannya. Dia memang masih perawan di usianya yang ke 22 tahun, dia pergi ke club hanya ikut bersama teman-temannya saja. Dia sengaja membuat Darrius berpikir begitu tentangnya sebab ia tahu percuma ia menyangkalnya karena laki-laki itu tak akan percaya. Tiga laki-laki yang bersamanya hanyalah teman-teman saja. Salah satunya merupakan kekasih Adelia, sedangkan Rick dan John merupakan pasangan kekasih. Karena itulah Eleina berani berbaring di paha Rick sebab laki-laki itu tak akan tertarik padanya. "Lakukan saja dan aku yakin dengan alami kamu akan bisa melakukannya." "Baiklah. Selanjutnya apa?" "Ketiga, merintihlah." "Kenapa aku harus merintih?" Adelia di ujung sana sudah sangat frustrasi dengan temannya ini. "Tentu saja agar gairahnya bangkit, Eleina!" pekik Adelia. "Oh, bagaimana caranya?" tanya Eleina terkikik geli. "Saat dia sedang duduk sendiri di sofa atau di mana pun itu, kamu duduklah di dekatnya sambil sedikit meregangkan badan, keluarkan suara erangan sedikit dan belai tubuhmu perlahan. Dijamin dia tidak akan bisa menolakmu." "Benarkah? Bagaimana jika dia tetap tidak peduli padaku?" "Pakai lingerie seksi saat kamu melakukan hal itu." "Aku sudah pernah memakai lingerie dan dia malah mengatakan jika dia tak tertarik pada tubuh anak kecilku," ungkap Eleina dengan marah. "Apa kamu berjalan menggoda atau lainnya?" "Tidak. Kenapa harus?" "Tentu saja dia masih mampu menahan diri jadinya karena kamu tidak menggodanya hanya memamerkan saja. Tanpa dia menyentuhnya, dia masih sanggup menahan dirinya untuk tidak menyentuhmu." "Apa memang seperti itu?" "Coba saja." "Baiklah. Apa masih ada jurus lainnya?" "Sampai nomor berapa kita tadi?" "Nomor tiga." "Keempat, jika mengenakan lingerie tidak mempan padanya berjalan tanpa busana saja di hadapannya, aku jamin dia akan langsung on!" "Sepertinya aku tidak akan melakukan bagian itu. Itu sedikit terlalu terang-terangan," ujar Eleina walaupun kemarin dia memang sempat memikirkannya tapi dia ragu jika dia akan berani melakukannya. "Terserah kamu saja, aku hanya memberikanmu pilihan-pilihannya, jika kamu tidak bisa atau terlalu takut melakukannya kamu bisa mencoretnya dari daftar list." "Baiklah. Apa masih ada lagi?" "Kelima, pakailah kaus putih dan pura-puralah menumpahkan air atau apapun pada dadamu dan jangan memakai bra hingga payudaramu akan nampak jelas dari balik pakaianmu dan aku yakin dia akan semakin tergoda. Keenam, luncurkan bibirmu dengan sensual pada mulut botol dan belai dengan perlahan, hal itu akan membuat lututnya lemas dan imajinasinya berjalan. Ketujuh, beri sentuhan lembut di dadanya karena kebanyakan bagi pria bagian itu merupakan zona sensitif mereka. Kobarkan gairahnya dengan membelainya menggunakan bibirmu atau lidahmu di dadanya," ujar Adelia. "Jika semua itu tak berhasil, kamu bisa mencoba membuatnya cemburu dan jika masih tak berhasil, sarankan padanya untuk memeriksakan dirinya ke dokter," sambung Adelia tertawa. Eleina juga ikut tertawa mendengarnya, "Terima kasih, Adelia! Maaf sudah menganggumu, kamu bisa kembali melanjutkan kegiatanmu," ujar Eleina. "Sama-sama, beritahu aku apa hasilnya nanti." "Ya." Mereka pun mematikan sambungan telepon dan Eleina membaca daftar yang sudah ia tulis dan memilih mana yang akan ia praktekkan terlebih dahulu, kemudian ia menambahkan di bagian ujung kertas tulisan lainnya. "Buat dia jatuh cinta lalu campakkan" Ia menatapnya tapi merasa tak ingin berbuat sampai sejauh itu jadi dia menambahkan tulisan lain. "Atau buat dia menginginkanmu dan kemudian tolak dirinya." *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD