5

918 Words
Akhirnya saat jam menunjukkan pukul 5 sore, Eleina mendengar pintu di buka dan di tutup dan ia menyadari jika Darrius sudah pulang. Tapi tak terdengar langkah kaki laki-laki itu menuju ke kamarnya. Saat sudah lelah menonton dia kemudian memutuskan untuk menelepon Adelia. "Halo," jawab Adelia. "Adelia." "Eleina? Kenapa kamu menelepon?" "Aku sedang bosan, tidak bisa keluar karena dia mengancam akan memasukkanku ke asrama jika aku menemui kalian." "Ya dan dia juga mengancam kami semua agar tidak bertemu denganmu lagi atau dia akan membuat kami masuk ke penjara." "Berani-beraninya dia!" ujar Eleina marah. "Sudah dulu ya, aku ingin mengajaknya perang," sambung Eleina kemudian menutup telepon dan berderap pergi ke kamar Darrius lupa mengenakan jubahnya. "Apa maksud Om mengancam teman-temanku?!" tanya Eleina kesal saat membuka pintu kamar Darrius dan berderap masuk ke dalam. Dirinya begitu terkejut saat menemukan laki-laki itu tanpa sehelai pakaianpun sebab baru selesai mandi. Matanya menyusuri d**a telanjang Darrius dan turun ke bukti gairahnya yang menegang. "s**t! Selain murahan kamu juga tidak tahu sopan santun ternyata!" bentak Darrius dan menutup bagian bawah tubuhnya dari pandangan Eleina. "Mau apa kamu ke sini?" Eleina tersadar dari keterpanaannya dan kembali mendekati Darrius. "Apa maksud Om mengancam teman-temanku?" "Selama kamu tinggal di sini aku tidak mengizinkamu bergaul dengan mereka!" "Om tidak berhak!" "Tentu saja aku berhak karena mamamu menitipkanmu padaku!" Kebencian mereka akan satu sama lain berdesis di udara. "Kenapa? Apa kamu marah karena kekasihmu dengan senang hati menjauh darimu?" "b******n!" bentak Eleina marah dan ingin memukul Darrius tapi laki-laki itu menghindar hingga ia kehilangan keseimbangan. Dengan refleks Darrius meraih pinggangnya tapi berakibat dia juga kehilangan keseimbangan sebab handuknya terlepas jadi konsentrasinya menghilang. Mereka terjatuh di atas ranjang dengan Eleina berada di bawah tubuh Darius yang menindihnya. Ia bisa merasakan bukti gairah Darrius yang menekan area intimnya yang memakai baju begitu tipis. Eleina terbelalak apalagi wajah dan bibir Darrius begitu dekat dengannya. "Darrius jika kamu ingin bercinta setidaknya tutuplah pintu," ujar Leon saat masuk ke kamar dan menemukan Darrius sedang dalam posisi menimpa seseorang. "Bagaimana jika Eleina melihat?" tanya Sara. "Dan di mana gadis itu?" sambungnya lagi. Mereka tak menyadari tubuh Darrius yang sudah kaku mendengar suara mereka. "Kalian pergilah dan tutup pintunya." "Kakak!" panggil Eleina dari bawah tubuh Darrius tak menyadari situasi akan berbahaya jika mereka sampai tahu kalau dia yang Darrius tindih. Semua orang terdiam saat mendengar suara Eleina dan mau tidak mau Darrius beranjak dari atas Eleina dengan cepat menutup tubuh bagian bawahnya dengan handuk kembali. "Ada apa? Kenapa kalian semua diam?" tanya sebuah suara yang akan makin memperparah situasi ini." "Mama, sudah pulang!" seru Eleina senang tak menyadari jika situasi semakin memanas. "Apa yang kamu lakukan di kamarnya dengan pakaian seperti itu Eleina?!"  tanya Shirley dengan marah. Eleina baru menyadari jika ia tak memakai jubah dan dengan cepat dia menutup tubuhnya dengan selimut. "Setelah kalian berpakaian yang lebih sopan, keluarlah dalam waktu 5 menit," ujar Shirley. "Semua ini karenamu," ujar Darrius memelototi Eleina. "Salah Om sendiri kenapa membuatku marah," ujar Eleina. "Kamu pasti merencanakan ini semua bukan? Aku mendengar pembicaraan kalian yang berusaha menjeratku dan ya aku akan mengabulkannya, kita akan menikah dan aku akan membuatmu menyesal serta menderita karena menikah denganku." "Kenapa kita harus menikah?" "Berhentilah bersandiwara, aku tahu kamu sengaja datang ke kamarku dengan baju seperti itu dan berharap mereka menangkap basah kita dalam posisi yang mencurigakan hingga aku harus menikahimu." "Apa?!" "Ini, tutupi tubuhmu, aku jijik melihatnya." Dengan kesal Eleina memakai jubah yang Darrius berikan dan kemudian mengikuti laki-laki itu keluar dari kamar. *** Shirley hanya bisa duduk diam di sofa dan menatap keluar apartemen. Dia tak menyangka jika akan menemukan anak gadisnya dan pengacaranya berada satu ranjang. Selama ini dia tak melihat adanya ketertarikan di antara mereka dan yang ada hanya permusuhan tapi sepertinya dia sudah salah menduga. "Mama!" panggil Eleina pelan. Darrius bisa melihat tatapan menuduh pada mata Sara dan senyum tersembunyi di bibir Leon. Jika tidak ada orang lain saat ini bersama mereka mungkin dia akan menghajar Leon sebagai tempat pelampiasannya. Darrius bisa melihat Shirley yang bergeming diam di sana tak menggubris Eleina yang mengajaknya berbicara. Dia sungguh merasa bersalah pada wanita itu, setelah mengalami siksaan dari suaminya, sekarang harus melihat putrinya di ranjang seorang laki-laki. Darrius tahu jika Shirley pasti tak tahu seberapa liar hidup Eleina selama ini dan ia tak mungkin mengatakannya karena tidak ingin wanita itu semakin terluka. "Aku akan menikahinya," ujar Darrius akhirnya dan mereka semua menatap tak percaya padanya apalagi Eleina. "Jika Anda mengizinkan, aku akan menikahinya," ucap Darrius kembali pada Shirley. "Apa?! Tidak, Mama! Itu tidak perlu__," ucapan Eleina tidak terselesaikan sebab akhirnya Shirley meledak marah. "Kenapa?! Apa kamu akan membiarkan dia tidak perlu bertanggung jawab setelah menodaimu?" "Dia tidak__" "Mama tidak mau dengar apa-apa. Dia sudah menodaimu dan kamu harus menikah dengannya." "Tapi Ma, itu tidak seperti yang terlihat," ucap Eleina. "Apa maksudmu? Apalagi yang harus kami lihat saat kalian berdua tanpa busana yang lengkap dan berada di atas ranjang?!" "Tapi, Ma__" Eleina berusaha menjelaskan jika mereka tidak melakukan apapun malah mereka bertengkar sebelumnya. Posisi itu hanya karena kecelakaan saja. Darrius menatap gadis itu yang berusaha menjelaskan semuanya. Hebat sekali aktingnya, padahal aku tahu jika dia pasti senang karena berhasil menjebakku. "Aku akan segera menyiapkan semuanya," potong Darrius cepat sebab dia akan menikahi Eleina dan membuat gadis itu merasa di neraka setelah mereka menikah nanti. "Tapi__" Darrius menatap Eleina dengan tatapan membunuhnya hingga Eleina diam dan tak berani bersuara lagi. "Pernikahannya akan dilakukan tiga hari lagi dan sebaiknya kamu ikut mamamu pulang untuk mempersiapkan semuanya. Besok pagi aku akan mengirim orang untuk membantumu menyiapkan semuanya," ujar Darrius kaku dan kemudian pergi ke kamarnya setelah mengatakan itu semua. Dengan marah dia memukul dinding merasa kesal karena masuk ke dalam jebakan gadis itu. Dia harus meminta kembali kuncinya pada Leon agar hal seperti ini tidak terjadi lagi nantinya. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD