3

1257 Words
Di kamarnya Darrius menyugar rambutnya dengan frustrasi dan sangat marah, jika bukan karena Shirley dia mungkin akan membungkam mulut berbisa gadis itu. Dadanya bergemuruh memberontak ingin memberi pelajaran gadis itu tapi ia menahan dirinya. Dengan cepat dia masuk ke kamar mandi dan memadamkan apapun yang dia rasakan pada gadis itu. Dia tidak akan terpancing oleh kata-kata dari seorang bocah. Selesai mandi Darrius kemudian menelepon salah satu kenalannya dan memintanya untuk datang ke apartemen untuk menghilangkan rasa frustrasinya. Tidak lama kemudian bel berbunyi saat dia sedang mandi dan dia keluar dari kamarnya hanya berbalut handuk. Saat dia keluar bertepatan dengan Eleina yang juga keluar, gadis itu hanya terbelalak menatap d**a telanjang Darrius yang masih nampak basah. Darrius kemudian membuka pintu dan menyambut wanita yang akan menemaninya. "Halo, Darrius, aku merindukanmu," ujarnya dengan suara menggoda. "Masuk, Kristabel!" Eleina semakin terbelalak saat melihat jika wanita itu memakai pakaian yang begitu seksi hingga bahkan payudaranya terlihat akan tumpah dan begitu besar. Tanpa bisa dia kendalikan dia menatap miliknya yang terlihat menyedihkan jika dibanding dengan wanita itu. "Bukankah, Om bilang tidak boleh membawa laki-laki ke sini? Tapi Om membawa wanita ke sini," pekik Eleina kesal. "Siapa, Darrius?" tanya wanita itu. "Oh, hanya anak teman yang menumpang di sini selama 1 minggu. Jangan pedulikan bocah itu." "Aku bukan bocah!" "Ini apartemenku dan tempatku, suka-suka aku akan melakukan apa di sini. Sedangkan kamu hanya menumpang di sini jadi ikuti aturanku dan jangan ganggu kami," ujar Darrius sambil membawa wanita itu ke kamarnya. Eleina merasa begitu marah dan ingin membunuh laki-laki itu karena mengkhianati mamanya bahkan di depan matanya. "Akan aku adukan pada, Mama!" "Silahkan saja," ujar Darrius dan menutup pintu. Dengan kesal Eleina kemudian menggedor-gedor pintu itu dan berteriak.  "Jika Om membawanya ke kamar aku juga bisa pergi menemui kekasihku, aku pamit dulu Om, kekasihku sudah menunggu," ujar Eleina dan beranjak ke kamar mengambil barang-barangnya. Saat dia keluar dengan marah Darrius menatapnya. "Apa yang kamu inginkan?!" cegat Darrius saat Eleina akan menuju pintu keluar. "Jika aku harus menahan diri selama tinggal bersama Om, maka Om juga harus melakukan hal yang sama," ucap Eleina dengan senyum mengejek di wajahnya. "Mungkin aku akan melampiaskannya padamu saja? Sekalian kita lihat apa staminaku kalah jika dibandingkan dengan kekasihmu. Aku bisa melihat kamu penasaran akan sentuhanku bukan?" bisik Darrius mendekat pada Eleina. Eleina terbelalak mendengarnya, berjalan mundur menghindari Darrius hingga ia sadar jika Darrius pasti berusaha menakut-nakutinya dan tawa meluncur dari bibirnya. "Aku tidak sudi menerima sentuhanmu, OM!" ujar Eleina. "Permisi!" sambung Eleina akan melewati Darrius tapi laki-laki itu mencekal lengannya. "Seminggu lagi mungkin aku akan mencekikmu karena tidak tahan lagi denganmu, jadi berharap saja ibumu pulang lebih cepat." "Om, tidak akan bisa menyentuhku karena Mama tidak akan tinggal diam, lagipula seorang pengacara tidak mungkin menjadi pembunuh." "Mungkin saja jika mereka semua bertemu denganmu," ujar Darrius dan kembali ke kamarnya, meminta Kristabel pergi dari sana. "Kamu harus segera menyingkirkan bocah ini, Darrius, agar tidak ada lagi gangguan nanti," ujarnya sambil memandang Eleina sinis. "Dasar murahan!" sindir Eleina. "Apa kamu bilang?!" "Oh...apa Anda merasa? Aku hanya mengacu pada wanita yang memamerkan payudaranya ke mana-mana dan dengan senang hati membuka lebar pahanya untuk dimasuki hanya demi uang atau barang mewah, jika Anda merasa ..." Eleina kemudian mengedikkan bahunya. "p*****r kecil!" bentaknya dan ingin memukul Eleina. "Coba saja jika berani! Apa kamu tidak tahu jika Kakakku adalah Leon Darrell?" tanya Eleina. Dengan kesal Kristabel pergi dari sana dan mengabaikan Eleina. Saat Eleina berbalik dia menemukan Darrius melipat tangan di d**a dengan bahu bersandar pada pintu sedang menatapnya. "Apa?!" tanya Eleina saat menemukan Darrius menatapnya. "Kamu tidak cemburu bukan?" "Kenapa harus?" "Sebab kamu terlihat berusaha sangat keras untuk memisahkan aku darinya." "Jangan besar kepala, Om, aku hanya ingin keadilan saja." "Dirimu juga jangan bermimpi anak kecil, aku tidak tertarik pada wanita yang hampir melakukan pesta seks kemarin dan bahkan mungkin sudah melakukannya." Eleina merasa sangat marah mendengarnya. "Aku yakin Om juga tidak akan bisa memuaskan aku karena butuh dua orang laki-laki atau lebih yang melakukan hal itu padaku," balas Eleina kesal dan bergegas pergi ke kamarnya sebab dia bisa melihat rona gelap kembali menyusuri pipi laki-laki itu. *** Saat malam tiba Darrius memesan makanan untuk mereka dan mengetuk pintu kamar Eleina. "Makananmu di meja gadis binal," ujar Darrius dan kemudian pergi dari sana kembali ke kamarnya. Di kamarnya Eleina merasa semakin marah mendengarnya dan dia tak ingin memakan apapun yang berasal dari laki-laki itu tapi sejak tadi perutnya terus berteriak-teriak minta makan dan akhirnya dia menyerah. Ia keluar diam-diam dan mengambil makanan itu. Selesai makan dia kembali merasa sangat marah. "Mungkin aku bisa pergi diam-diam bersama teman-teman," ujarnya. Dengan cepat dia berganti pakaian dan saat selesai perlahan-lahan dia membuka pintu dan mengintip. Saat ia merasa Darrius tak akan keluar dari kamarnya, ia kembali menutup pintunya dengan pelan dan berjalan mengendap-endap ke pintu. "Mau ke mana?!" "Awh!" jerit Eleina saat kepalanya membentur pintu yang baru akan dibukanya, dirinya begitu terkejut sewaktu pintu laki-laki itu tiba-tiba membuka. "Om bukan orang tuaku jadi tidak bisa melarangku akan pergi ke mana." "Apa kamu mau menemui kekasihmu dan memberikan tubuhmu padanya lagi? Aku tak tahu jika kamu semurahan itu hingga terus mengejar laki-laki atau kamu ingin melakukan pesta seks lagi?" "Ini tubuhku dan milikku, suka-suka aku jika ingin memberinya pada siapa dan jika ingin melakukan pesta seks, threesome atau apapun yang aku mau!" "Dasar murahan! Kembali ke kamarmu!" "Aku tidak mau!" "Aku akan mengikatmu di ranjang jika berani melawanku." "Aku tidak takut padamu, Pria Tua." Dengan kesal Darrius menghampiri Eleina dan memanggulnya di bahu, tak peduli dengan jeritan gadis itu dan pukulan di punggungnya. Saat sampai di kamar dengan kesal dia melemparnya di atas ranjang dan meninggalkannya di sana. Kemudian dia mengunci pintu dari luar. "Keluarkan aku!" jerit Eleina kesal. "Aku hanya akan mengeluarkanmu besok pagi saat kamu harus pergi kuliah, jadi sebaiknya hemat tenagamu untuk tidur saja." "Aku membencimu!" "Aku tidak peduli." "Dasar Om-Om tukang ikut campur urusan orang." "Berhenti memanggilku, Om! Aku bukan Ommu." "Om!" seru Eleina dan terus memanggil Darrius dengan sebutan Om hanya agar dia merasa kesal dan dia terus memanggilnya seperti itu sampai dia kelelahan. Dengan kesal dia memukul ranjang dan tanpa ia sadari air mata mengalir di pipinya. Belum apa-apa dia sudah merindukan mamanya jadi dia meraih ponsel dan menekan nomor Shirley. "Halo." "Mama!" "Eleina! Kamu kenapa?" "Aku merindukan, Mama. Kapan Mama akan pulang?" "Mungkin 6 hari lagi, Sayang. Jangan menyusahkan Darrius ya." "Aku membencinya!" "Kenapa?" Eleina terdiam sejenak tak tahu apa harus memberitahu pada mamanya atau tidak tapi dia tidak mau mamanya dibohongi laki-laki itu terus menerus. "Dia mencoba mengkhianati, Mama. Tapi aku sudah menghentikannya." "Siapa?" "Tentu saja kekasih, Mama." "Kekasih? Mama tidak punya kekasih Eleina." "Bukankah Darrius kekasih Mama?" "Apa?! Itu tidak mungkin Sayang, jadi kamu membencinya karena mengira dia kekasih Mama?" "Iya, aku tidak mau dia jadi papa tiriku." Shirley tertawa di seberang sana dan sekarang dia tahu kenapa anaknya jadi seperti itu. "Kamu salah paham, tidak ada hubungan apa-apa di antara kami selain bisnis. Mama paling hanya menganggap dia seperti adik saja, sama seperti Sara dan Leon. Dia jauh lebih muda dari Mama, mana mungkin kami menjalin hubungan. Tidak ada perasaan itu di antara kami, lagipula Mama sama sekali tidak ingin menikah lagi." Lalu kenapa dia ingin aku berpikir jika dia memiliki hubungan dengan Mama? Dia sama sekali tidak menyangkalnya. Apa dia sengaja ingin aku mengira seperti itu? batin Eleina "Baiklah, kamu tidurlah karena besok kamu harus masuk kuliah." "Ya, Mama." Eleina kemudian mencoba mencerna apa yang baru didengarnya. Tadi dia menyangkal rasa marahnya melihat Darrius bersama wanita lain karena menganggap Darrius mengkhianati mamanya tapi saat tahu Darrius bukan kekasih mamanya kenapa dia masih marah? "Itu pasti karena aku tidak terima dengan peraturannya padaku tapi dia sendiri melanggarnya," gerutu Eleina kesal. Tapi aku sangat penasaran kenapa dia tidak menyangkal hubungannya dengan Mama? Sepanjang malam pertanyaan itu terus berputar dibenaknya hingga membuatnya terbawa dalam tidur dan membuatnya memimpikan laki-laki itu. Bermimpi mereka bercinta dengan liar dan menggebu-gebu. Ia terbangun saat akan sampai di bagian tahap akhir. Dirinya sungguh merasa kesal. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD