Seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu dan sebisa mungkin Darrius tidak datang ke rumah itu jika tidak ada hal penting. Karena berada di dekat gadis itu selalu membuat dirinya darah tinggi dan ingin mencekiknya. Saat ini dia sedang tidak bekerja dan dirinya menikmati kopinya dengan santai hingga kemudian bel berbunyi.
Dengan perlahan dia berjalan ke pintu dan membukanya. Dirinya tersentak kaget saat menemukan Shirley dan Eleina berdiri di depan pintunya tapi dengan cepat dia mengendalikan raut wajahnya kembali.
"Masuklah!"
"Ada perlu apa, Shirley?" tanya Darrius sambil melihat bergantian antara Shirley, Eleina dan tas yang mereka bawa.
"Aku ingin menitipkan Eleina di sini selama seminggu karena aku harus keluar kota mungkin selama 1 minggu ini, apa boleh, Darrius?"
"Ma, aku bisa tinggal di tempat temanku," ujar Eleina terlihat sangat kesal karena malah dirinya yang mendatangi tempat laki-laki itu padahal selama seminggu ini hidupnya terasa damai sebab tak perlu melihat wajahnya dan mendengarkan lidahnya yang seperti pisau yang mengiris-iris hatinya dengan kata-katanya.
"Tidak!"
"Kenapa tidak menitipkannya pada Sara dan Leon saja?"
"Mereka sedang pergi ke Paris dan baru akan kembali 5 hari lagi. Tolong Darrius aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di rumah. Hanya kamu, Leon dan Sara saja yang bisa aku percaya."
Darrius sungguh merasa keberatan akan hal ini. Dia sengaja menghindar bertemu dengan Eleina tapi Shirley malah menitipkannya di apartemennya. Hal itu mirip dengan si kerudung merah yang diantar langsung ke tempat si serigala.
"Ma, aku bisa tinggal di tempat Adelia jika dia tidak mau menampungku."
"Tidak, Eleina!"
Eleina hanya bisa memasang wajah cemberut mendengar penolakkan Shirley akan keinginannya.
"Tolong, Darrius!" ujar Shirley mengenggam tangan Darrius dan Eleina merasa sangat kesal melihatnya.
"Baiklah, tapi jika dia akan tinggal di sini aku ingin dia mengikuti aturanku."
Shirley memandang Eleina bertanya.
"Apa peraturannya?"
"Tidak boleh keluar malam, tidak boleh mengajak laki-laki ke sini, tidak boleh membiarkan piring atau bekas makanan apapun berserakan di sini dan aku juga tidak mau bajumu berantakan bertebaran di mana-mana dan setelah dia pulang kuliah aku ingin dia langsung pulang ke rumah karena aku tidak punya waktu lebih untuk mencarinya."
"Aku tidak mau mengikutinya, Mama."
"Tolong, Eleina!"
Eleina menatap mata Shirley dan bisa melihat permohonan di sana. Dia tak ingin membuat mamanya bersedih.
"Baiklah."
"Terima kasih, Sayang," ujar Shirley memeluk Eleina erat.
"Baiklah, aku harus pergi, dia sudah menungguku."
"Siapa, Ma?" tanya Eleina curiga.
"Rekan bisnis, Mama, kami akan berangkat bersama ke sana."
Eleina bisa melihat jika mamanya tampak bahagia dan dia merasa curiga. Sudah beberapa hari ini dia merasa curiga sebab Shirley sering menelepon dan tampak sangat gembira.
Apa Mama berselingkuh dengan laki-laki lain dan menduakan Darrius?
"Mama pergi dulu, terima kasih Darrius."
Saat Shirley telah pergi tinggallah mereka berduaan saja di sana.
"Di mana kamarku, Om?" tanya Eleina sengaja memberikan penekanan pada panggilannya untuk Darrius. Karena ia tahu Darrius tidak suka jika ia memanggilnya Om.
Darrius mengeretakkan gigi marah mendengar panggilan Eleina padanya. Sejak pertama mereka bertemu ia selalu memanggilnya Om tapi gadis itu memanggil Leon dan Sara dengan sebutan Kakak padahal usianya dan Leon sama dan dia juga merasa sangat kesal mendengarnya sebab hal itu akan mengingatkannya betapa jauh jarak usia mereka.
"Aku harap selama berada di sini kurangi kadar kebinalanmu dan jangan mencobanya padaku karena aku tidak tertarik pada wanita murahan."
Eleina terbelalak mendengarnya dan dia merasa jika mungkin dia akan meledak marah karena hal itu.
"Tenang saja aku juga tidak tertarik pada Om, aku lebih suka yang seusia karena stamina mereka terjamin dan aku tidak perlu membayar mereka untuk melayaniku karena kami sama-sama menginginkannya tidak seperti Om yang harus membayar para wanita itu, apa hal itu bukan murahan juga namanya? Setidaknya aku melakukannya karena ingin bukan karena terpaksa," ujar Eleina untuk membalas kata-kata Darrius. Ia merasa senang saat melihat rona gelap pada wajah Darrius tapi ia pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak perlu membayar mereka sebab dengan senang hati mereka akan melompat ke atas ranjangku."
"Ya kemudian Om akan mengirimkan hadiah pada mereka, tentu saja dengan senang hati mereka akan melompat jika bayarannya hadiah mahal," sinis Eleina.
"Dan aku juga tidak suka berada di sini bersama, Om, jadi sebaiknya aku segera menyingkir dari sini. Di mana kamarku?"
"Mulutmu penuh dengan bisa beracun. Pergilah dari hadapanku sebelum aku mencekikmu. Pintu ke dua itu kamarmu," geram Darrius.
"Aku sudah belajar dari pakarnya," balas Eleina dan bangun menuju ke kamar yang Darrius katakan.
Dia memiliki 2 kamar di rumah ini dan kedua kamar itu bersebelahan.
Saat sampai di kamar tersebut Eleina melihat-lihat kamar itu, ia merasa begitu puas sudah berhasil menyakiti Darrius juga kali ini. Dia tak akan tinggal diam lagi mendengar kata-kata kejam dari laki-laki itu. Ia menatap ranjang dan merasa ranjang itu terlihat nyaman.
Ia berjalan di atas karpet cokelat dan meletakkan tasnya di dekat lemari. Ia bisa melihat terdapat meja rias di ruangan itu lengkap dengan isi-isinya yang pasti untuk wanita-wanita yang dibawanya ke sini. Eleina akhirnya sadar jika ini pasti kamar untuk simpanan laki-laki itu. Ia sedikit bergidik jijik saat menyadarinya tapi dirinya tak punya pilihan karena tak ingin Shirley khawatir padanya.
Eleina kemudian berjalan ke kamar mandi dan menemukan isinya juga lengkap oleh peralatan-peralatan wanita bahkan ada sabun untuk di tuangkan ke bathtub. Setelah itu dia pergi dari sana dan membuka lemari untuk merapikan baju-bajunya.
"Aku harus meletakkan pakaianku di mana jika sudah full lingerie di sini?" tanya Eleina saat melihat isi lemari itu.
"Dasar m***m!" ujar Eleina dan menggeser pakaian-pakaian itu ke samping kemudian memasukkan pakaiannya di sana.
Kemudian karena penasaran Eleina melihat-lihat pakaian itu dengan penasaran dan semua labelnya bahkan masih ada di sana.
Eleina mengambil beberapa pakaian seksi itu dan kemudian dia mengunci pintu serta mencoba beberapa pakaian itu. Dia sangat senang saat merasakan kelembutan pakaian itu menyentuh kulitnya. Tanpa bisa dia cegah pikirannya berkelana dan membayangkan seseorang masuk ke kamarnya dan mencumbunya dari belakang, kemudian laki-laki itu akan mengecup lehernya perlahan dan dia akan menikmatinya. Sampai laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap padanya dan memagut bibirnya perlahan dan ia membuka matanya memandang pria itu. Dirinya tersentak kaget saat pria dalam bayangannya itu adalah Darrius. Dengan cepat dia membuyarkan pikirannya tentang hal itu.
"Aku sudah tidak waras hingga membayangkan laki-laki itu," ujar Eleina mengacak rambutnya kesal dan dengan cepat melepaskan lingerie itu dari tubuhnya sebelum dia kembali memikirkan hal yang tidak-tidak.
***
Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^