Dunia Rosella & Mafia
“Lelang kita mulai dari 1 miliar, ya,” kata Baimm Rachmandi dengan suara lantang.
Harga penawaran pun langsung melonjak dengan sangat cepat. Angka bertambah menjadi puluhan, seolah semua orang menganggap nominal itu sangat murah untuk mendapatkan Rosella.
Dio hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Dia menunggu sampai harga tawaran menjadi terlalu mahal dan mereka semua mundur perlahan-lahan dengan sendirinya.
Di sebelahnya, Hans mengepalkan tangannya sekuat tenaga, sama seperti yang dilakukan Dio. Keduanya sangat sulit menahan diri agar tidak langsung menghajar orang-orang itu.
Pasalnya, seluruh pria di sana menatap Rosella dengan penuh nafsu, bahkan ada yang sampai mengeluarkan air liur, serta membicarakan hal-hal kotor mengenai apa yang akan mereka lakukan nanti malam.
“Kayaknya nggak semua orang semangat, ya,” ujar Baimm sambil menatap tepat ke arah Dio. “Mungkin ada yang masih ragu sama apa yang akan kalian dapatkan nanti.”
Pria itu kemudian membalikkan badan dan menatap putrinya. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulutnya membuat Dio langsung mencengkeram gagang pistol di pinggangnya dengan erat.
“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”
“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.
“Aku nggak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.
Rosella pun menarik napas panjang agar tidak langsung meninju ayahnya saat itu juga. Dia tahu, jika melakukannya, sama saja dia menandai akhir hidupnya sendiri.
Baimm tidak akan pernah memaafkan penghinaan yang dilakukan putrinya di hadapan banyak orang. Yang terburuk, kematian Rosella tidak akan terjadi dengan cepat, karena ayahnya pasti akan membiarkan orang-orang jahat itu menyiksanya terlebih dahulu.
“Baimm,” sergah Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu nggak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”
“Buat kamu mungkin nggak perlu, tapi aku pengen lihat d**a montoknya,” sahut salah satu pria dengan tatapan kotor.
“Aku juga mau,” timpal pria tua yang tatapannya tidak beralih dari tubuh Rosella.
Pria-pria lain pun mengangguk tanda setuju.
“Semua setuju, kan? Jadi begitulah aturannya,” kata Baimm tegas.
“Aku nggak setuju!” potong Dio dengan nada dingin. “Kalau dia sampai telanjang di sini, aku bakal pergi. Aku gak mau semua orang di ruangan ini tahu bentuk tubuh calon istriku.”
“Kamu serius mau pergi cuma gara-gara itu?” tanya Baimm tidak percaya.
Dio langsung menatap lurus ke arah ayah Rosella. “Aku tawar 100 Miliar buat dia, utuh dan apa adanya sekarang. Kalau sampai ada yang lepas satu saja gelang jelek murahan yang dia pakai, aku bakal tarik tawaran ini dan langsung pulang!”
***
(SATU BULAN SEBELUMNYA)
Di dunia mafia, semua orang percaya kalau yang pantas menjadi pemimpin hanyalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya berfungsi untuk melayani dan memuaskan birahi mereka. Sebagai Putri tertua pemimpin Bataviarch, Rosella tumbuh di tengah kondisi itu, tapi dia bertekad tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Rosella berdiri perlahan dan berhati-hati agar tidak menginjak atau terkena genangan darah pria yang baru saja dia bedah. Sejak kecil, dia selalu tertarik mempelajari struktur dan anatomi tubuh manusia. Pria yang terbaring tewas di hadapannya sekarang ini adalah bukti nyata akan hal itu. Namanya Ken Ilyas.
"Si berengsek ini orang paling menjijikkan yang pernah ada!" gumam Rosella pelan.
Pria itu bukan hanya sering menyiksa istrinya sendiri, tapi juga memperlakukan buruk para pekerja seks yang disiapkan khusus untuk ayah Rosella.
"Rosella!"
Suara itu membuat Rosella langsung menoleh. Dia lalu tersenyum tipis saat melihat saudara perempuannya berdiri di dekat pintu. Usia mereka hanya berbeda dua tahun, dan Verlistya adalah satu-satunya adik yang bisa sekaligus menjadi sahabat sejatinya.
"Aku udah selesai urusannya, kok," kata Rosella sambil mundur perlahan. Dia berusaha sebaik mungkin agar jaket motor yang dipakainya tidak terkena darah.
"Masih aja ngomongin teori tentang warna darah sama jiwa itu, ya?" tanya Verlis sambil melirik luka kecil di telapak tangan Rosella.
Rosella duduk di bangku tua di sudut ruangan. Verlis hanya menggeleng dan memutar mata karena kesal. Verlis tidak pernah menganggap Rosella gila, meski orang lain mungkin akan berpikir begitu. Dia justru lebih khawatir kalau suatu hari nanti Rosella akan bertindak terlalu jauh dan sulit untuk berhenti.
"Terus hasil pemeriksaan kali ini gimana? Beneran beda warnanya?" tanya Verlis lagi dengan penasaran.
Rosella kembali berjongkok lalu menempelkan telapak tangannya di samping d**a Kenn yang terbuka lebar. Darah dari lukanya sendiri berwarna merah terang, sedangkan darah pria itu tampak sangat pekat dan gelap.
"Ya ampun, warnanya gelap banget. Paling gak kamu sendiri masih aman deh buat masuk surga," ejek Verlis sembari tersenyum.
Rosella langsung menjulurkan lidah ke arah Verlis sebagai balasan. Dia tahu Verlis khawatir karena dia sering melukai tangannya sendiri cuma untuk membandingkan warna darah. Baginya, darah orang jahat selalu lebih gelap. Dia sangat takut berubah menjadi orang jahat, tidak punya hati nurani, atau menjadi monster seperti mereka.
Memang terdengar aneh, mengingat mayat di bawah kakinya ini mati di tangannya sendiri. Namun Rosella selalu punya alasan jelas setiap kali dia mengeluarkan pisau dan bertindak.
Kali ini alasannya sangat kuat. Kenn sudah memukuli istrinya sampai keguguran, sehingga bayi yang belum lahir itu tidak sempat melihat dunia. Rosella berharap wanita itu nanti bisa mendapat pasangan yang jauh lebih baik. Atau yang paling penting, dia bisa bebas memilih sendiri siapa yang ingin dia nikahi.
"Ayo kita pergi, udah telat nih!" kata Rosella sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sebentar lagi para penjaga akan berganti jadwal, dan itu adalah satu-satunya celah agar mereka bisa keluar masuk tanpa ketahuan.
Rosella naik ke atas motornya, diikuti oleh Verlistya di motornya sendiri. Mereka memasang helm rapat-rapat lalu melaju meninggalkan gudang kosong itu.
Di area sekitar sana memang tidak ada kamera pengawas. Tapi mereka tetap membawa kendaraan cadangan dan berganti kendaraan sebelum pulang ke rumah. Di perjalanan, mereka juga mengganti pakaian menjadi baju pesta yang rapi.
Kalau ada yang curiga atau menanyakannya, jawabannya sudah siap. Mereka cuma perlu bilang habis pulang dari klub malam. Karena di tempat itu kebetulan ada dua perempuan yang sangat mirip mereka dan memakai baju yang sama persis. Uang bisa membeli segalanya di dunia ini. Bahkan bisa menyewa orang kembaran untuk dijadikan alibi.
Rosella berhasil masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur tanpa ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya. Verlis juga berhasil melakukan hal yang sama di kamar sebelah. Semua perempuan yang tinggal di rumah besar itu tidur di lantai dua. Sedangkan ayah mereka menguasai seluruh ruangan di lantai tiga.
Di sana ada ruang kantor pribadi dan juga beberapa kamar tidur. Bukan cuma ada satu kamar. Sebab pria itu sering membawa lebih dari satu perempuan pulang ke rumah. Dia juga pandai membuat masing-masing wanita itu percaya kalau dirinyalah satu-satunya wanita di hatinya.
Padahal itu semua cuma tipuan murahan. Wanita-wanita itu hanya terbawa perasaan dan berharap berlebihan.
Sebenarnya mudah sekali melihat kebenarannya. Laki-laki berusia lima puluh tahun yang diam-diam mendekati gadis seusia anaknya sendiri, jelas tidak akan punya niat menikah atau berkomitmen serius.
***
Keesokan harinya ....
Saat suara alarm berbunyi, keinginan terbesar Rosella adalah mematikannya lalu tidur lagi. Setelah pembunuhan semalam, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas. Tapi hari ini dia tidak boleh bermalas-malasan. Sebelum makan siang bersama ayahnya, dia masih harus menyelesaikan satu urusan penting.
Rosella bangkit dari kasur lalu melihat kembali luka kecil di tangannya. Lukanya dangkal dan tidak parah, cukup ditutup dengan plester biasa saja. Kalau ada yang bertanya nanti, dia akan bilang terluka saat sedang berlatih memasak.
Ya, saat ini dia memang sedang berpura-pura belajar menjadi wanita yang sopan dan baik-baik. Semua ini dia lakukan karena ulang tahun Dahlia tinggal sebulan lagi. Dan itu artinya, proses pencarian calon suami untuk Rosella akan segera dimulai.
Rosella berpakaian rapi lalu keluar kamar tanpa sempat sarapan. Dia mengendarai mobil Mini Cooper miliknya sampai ke toko kue kesukaan mendiang ibunya. Dia membeli beberapa kue manis dan satu botol s**u stroberi untuk dibawa.
Hari itu cuaca sangat cerah. Awal musim penghujan membuat kota Jakarta tampak hijau dan langitnya bersih. Sesampainya di pemakaman San Diego Hills, Rosella memarkirkan mobilnya lalu mengambil kantong plastik berisi makanan yang sudah dibelinya tadi.
Dia berjalan langsung ke makam ibunya, meski sempat melewati deretan makam istri mafia lain yang bernasib serupa. Perempuan-perempuan itu meninggal di usia muda dan dimakamkan di sini.
Saat duduk di samping batu nisan ibunya, Rosella menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Hai, Mama. Maaf ya, aku baru bisa datang lagi. Aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini," katanya pelan sambil mengeluarkan alat pengacak sinyal dari tas mahalnya.
Ini bukan kali pertama polisi memasang alat penyadap di tempat sepi seperti pemakaman. Rosella tidak mau ada satu pun percakapannya terekam oleh siapa pun.
"Kita berhasil selamatkan satu orang lagi, lho, Ma. Kali ini untung banget ada orang gila yang lagi bikin rusuh, dia baru aja menusuk seseorang pakai pisau. Nanti pas mayat Kenn ketemu, semuanya bakal dituduhkan ke orang itu."
Rosella mengambil kue lalu menggigitnya. Dia mengusap bibir dengan tisu, baru setelah itu menyesap minuman s**u strawberinya pelan-pelan.