Entahlah ini jodoh kehendak Tuhan atau kehendak orang tua.
Suka nggak suka, mau nggak mau harus terima kan?
Memang takdir itu terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Pernikahan aku dengan Pak Devan
tinggal tiga minggu lagi.
Semua urusan terkait pernikahan sudah
di urus oleh orang tua kami.
Alasannya mereka tidak ingin kuliahku dan pekerjaan Pak Devan terganggu.
Aku baru saja keluar dari perpustakaan kampus ketika ponselku berdering.
Aku mengangkat telepon dan mendengar suara Bunda di ujung sana.
“Assalamualaikum Bun, ada apa?” tanyaku.
“Waalaikumsalam sayang, nanti pulang kuliah ke butiknya Tante Dewi dulu ya bareng sama Devan.” jawab Bunda.
“Harus ya bareng Pak Devan? Kiran nggak mau ah, Bun. Apaan bareng sama dia. Bunda kan tahu dia dosen Kiran.” aku mengiba.
“Devan calon suami kamu, Kiran. Ingat ya pernikahan kalian tinggal tiga minggu lagi. Pokoknya nanti siang kalian berdua ke butik Tante Dewi buat fitting baju.” tegas Bunda.
“Ya sudah, iya deh.” sungutku
“Gitu dong sayang. Assalamualaikum.” pamit Bunda.
“Waalaikumsalam, Bun.” lirihku.
Aku menutup ponsel dan bergegas menuju kelas.
Aku menghampiri Maya dan Mira yang sudah berada di kelas.
“Eh, ada yang punya nomor ponsel Pak Devan?” tanyaku.
Kedua sahabatku itu langsung melihat ke arahku.
“Yang bener aja lo minta nomornya Pak Devan.” sahut Maya dengan mimik wajah tak percaya.
“ Gue belum ngumpulin tugas.” jawabku asal.
“Udah, cepeten gue minta nomornya Pak Devan, nanti keburu disamperin dia nih gara-gara telat ngumpulin tugas.” sambungku.
“Gue udah kirim ke WA .” kata Mira.
“Ok, makasih, Mir.” ujarku dan diangguki oleh Mira.
Selesai kuliah aku bergegas menuju perpustakaan.
Aku rasa perpustakaan adalah tempat paling aman untuk menghindar dari dua sahabatku yang kadar kepo nya di atas rata-rata.
Aku mengambil tempat duduk di sudut dan mulai mengetik pesan untuk dosen killer itu.
Assalamualaikum Pak, ini Kiran, Tadi kata Bunda, kita harus fiiting baju nanti siang di butik Tante Dewi.
Waalaikumsalam, iya saya tahu. Temui saya di parkiran dosen nanti jam 12.30. Jangan sampai telat, nanti saya tinggal!
Ya Allah Pak, yang mengirim pesan calon istri lho, galak amat! Sungutku dalam hati.
Kuketik balasan untuknya dengan hati mangkel.
“Iya Pak, baik! Saya akan tepat waktu!
*******
Tepat pukul 12.30 aku menunggu Pak Devan di parkiran dosen.
Begitu melihatnya membuka pintu BMW 5201, aku langsung berlari dan masuk kedalam mobil.
Aku takut katahuan anak-anak kampus kalau pulang bersama dosen idola mereka.
Sepanjang perjalanan menuju butiknya Tante Dewi, aku dan Pak Devan saling diam.
Berulang kali aku melirik pria di sampingku. Namun, dia bergeming.
Ini dosen fokus banget sih nyetirnya, nanya kek buat basa-basi . Bodo ah, gue diemin balik aja. Ucapku dalam hati.
“Kenapa lirik-lirik terus daritadi? Wajahku memang tampan.” Tiba-tiba suara datar Pak Devan mengagetkan aku.
Astaga Pak !!
Wajahku terasa memanas.
Aku segera turun dari mobil begitu sampai tujuan.
Pak Devan mengikutiku dari belakang.
Semua karyawan tersenyum dan menyapanya.
“Di mana Mami?” tanyanya pada salah satu karyawan.
“Ada di lantai dua, Mas.” jawab karyawan itu.
Aku pun mengikuti Pak Devan menuju lantai dua.
Kedatangan kami di sambut senyuman oleh Bunda dan maminya Devan.
Mereka meminta aku dan Pak Devan untuk mencoba baju-baju yang sudah disiapkan.
“Devan, Mami dan Bunda tunggu di bawah ya. Kalian pilih sendiri mana yang akan kalian pakai untuk akad dan resepsi nanti.” kata maminya Pak Devan.
Lalu berjalan turun ke lantai bawah bersama Bunda.
Namun, ternyata berdiskusi dengan Pak Dosen ini tidak semudah perkiraanku.
Beberapa kali kebaya yang aku pilih untuk akad ditolak olehnya. Begitu juga dengan gaun untuk resepsi.
“ Terlalu ketat, Kiran!”
“Warnanya norak!”
“Nggak cocok di kamu!”
Duh Gusti. Keluhku dalam hati
“Pak, udah yang ini aja ya, saya sudah cape.” ucapku jujur.
Pak Devan menoleh dan mengamati kebaya putih dan gaun hijau pastel di tanganku.
“Pak, please …” aku mengiba.
“Hmmm, yang sudah kalau gitu. Ok, yang itu.” jawabnya.
Aku menarik napas lega dan meminta karyawan yang sedari tadi menemani kami untuk membawanya ke lantai bawah.
Aku dan Pak Devan turun untuk menemui Bunda dan Mami.
“Mami, Tante, Devan ingin pernikahan ini dipercepat. “ kata Devan seraya menggenggam tanganku.
Hah ?!
Jantungku terasa mau copot mendengar perkataannya.
Kemudian aku merasakan tanganku semakin digenggam erat.
Ya Allah, apa tiga minggu lagi masih kurang cepat, Pak?!