Mendadak Halal

1096 Words
Hari ini merupakan hari penting bagiku dan Pak Devan. Sebentar lagi akad nikah pernikahan kami. Keluarga Pak Devan resmi melamarku tidak lama setelah dia mengatakan di butik bahwa dia menginginkan pernikahan kami dipercepat. Persiapan matang sudah selesai dari beberapa hari lalu sebelum kami berdua fitting baju.  Kedua orang tua kami yang sibuk menyiapkan semuanya dibantu oleh beberapa saudara. Sedangkan kami berdua masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pak Devan masih mengajar tiga hari menjelang pernikahan. Aku pun tak kalah, menyibukan diri dengan tugas-tugas kuliah. Lebih tepatnya, aku menyibukan diri agar tidak memikirkan pernikahan yang tidak aku impikan. Pagi ini di dalam masjid sudah berkumpul keluarga dan tamu undangan. Dari celah shaf khusus wanita aku melihat mempelai pria sudah siap duduk di tempat akad. Aku melihat Pak Devan menunduk, entah karena gugup atau mencoba menghapal kalimat ijab kabul. Dia duduk ditemani oleh dua saksi dan ayahku. Penghulu hadir tepat pukul 8 pagi. Setelah mengecek berkas calon pengantin dan dirasa komplit, akad nikah segera dilaksanakan. Aku menanti dengan gugup. Meskipun ini bukan pernikahan yang aku inginkan, tapi tak urung jantungku berdebar menanti Pak Devan mengucapkan ijab kabul.   “Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Ayu Larasati binti Syarief Rahmadi dengan mas kawin emas 10 gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.”  Pak Devan mengucapkan kalimat suci itu dengan satu tarikan napas, tenang dan sangat lancar.   “Bagaimana saksi?” Tanya Penghulu.   “SAH.” Jawab kedua saksi serempak.   “SAAHH.”  Teriak keluarga dan tamu undangan yang hadir. Aku menarik napas lega. Ketika selesai, penghulu meminta agar aku keluar dan duduk bersama Pak Devan.   Aku berjalan pelan digandeng Bunda dan Maminya Pak Devan menuju tempat akad nikah. Aku mengenakan kebaya putih yang panjang menjuntai hingga ke lantai dengan jilbab putih terurai menutup d**a dan dihiasi melati. Aku duduk disebelah Pak Devan yang kini sudah mengambil alih tanggung jawab atas diriku dari ayah. Aku melirik Pak Devan. Jas elegan warna putih membalut tubuh tegapnya. Wajah tampannya mampu menghipnotis banyak pasang mata yang hadir. Aku dan Pak Devan saling pandang. Dia menyunggingkan senyum. Aku pun tersenyum manis meskipun terpaksa. Aku sama sekali tidak terkesima dengan ketampanannya. Aku hanya memikirkan bagaimana menjalani hidupku ke depan setelah menjadi istrinya. Ya Allah, aku serahkan semua kepadaMu. Kataku dalam hati. Kami pun bertukar cincin. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat mendarat di keningku. Pak Devan menciumku di depan kedua orang tuaku, kedua orang tuanya dan para tamu undangan yang hadir. Aku sejenak terpana. Kulihat dia mengulurkan tangannya. Gugup kuraih tangan Pak Devan dan menciumnya takzim. Duh Gusti, aku salting luar biasa!   ***** Resepsi dilaksanakan malam hari di aula gedung persis sebelah masjid pelaksanaan akad nikah tadi pagi. Tidak banyak tamu undangan yang hadir karena sesuai permintaan kami, pernikahan dilaksanakan secara sederhana, hanya dihadiri keluarga dan kerabat dari kedua belah pihak. Aku dan Pak Devan sibuk bersalaman dengan para tamu undangan. Jika tamu sedang sepi, Pak Devan akan menggenggam tanganku. Aku tak bisa mengelak mengingat  sekarang dia adalah suamiku. Berkali-kali dia memberiku minum yang tersedia dibelakang kursi pelaminan. Setelah resepsi, kedua orang tua kami pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Pak Devan membawaku ke apartemennya. Dia bersikeras menyetir mobil sendiri , padahal ayah sudah menawarkan Pak Ahmad, sopirnya untuk mengantarkan kami dengan alasan takut kami kelelahan setelah resepsi. Selama perjalanan menuju apartemen, aku dan Pak Devan lebih banyak diam sampai akhirnya aku tertidur. Aku terbangun ketika sebuah tangan menyentuh bahuku. “Kita sudah sampai.”  Kata Pak Devan, lalu melepaskan sabuk pengamanku. Kami berdua turun dari mobil dan langsung masuk gedung apartemen. Pak Devan membuka pintu apartemennya lalu masuk. Aku mengikutinya dibelakang. “Wah, apartemen Bapak rapi sekali, padahal ini apartemen laki-laki lho.” Komentarku ketika masuk. Aku memandang sekeliling. Nuansa hitam, putih dan abu-abu mendominasi ruangan. Buku-buku tersusun rapi di rak tanpa debu, meja kerja Pak Devan tersusun rapi di rak tanpa ada kertas berserakan. Tempat tidur dengan seprei abu-abu tidak berantakan. “Aku tidak suka berantakan, aku suka semuanya tertata rapi dan pada tempatnya.” Jelasnya. Aku hanya bisa berdecak kagum. Benar-benar rapi, tertata dan bersih. Pak Devan langsung masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan aku yang masih mengagumi apartemennya. Aku menghapus make up di sofa besar yang menghadap ke balkon sambil menunggunya selesai mandi.  Tidak ada cermin. Aku terpaksa bercermin pada pintu kaca yang memisahkan balkon dengan kamar tidurnya. Pak Devan keluar kamar mandi dengan rambut berantakan yang masih basah. Tubuhnya terbalut kaos putih dan celana cargo sebatas lutut. Secepat kilat aku mengenakan jilbab yang tadi sempat kulepas saat menghapus make up. Kulihat dia meletakkan handuknya di atas tempat tidur dan berjalan menghampiriku. “Kenapa jilbabnya nggak dilepas?” Tanyanya sembari menatapku. Aku menundukkan kepala, setengah mati menahan rasa gugup karena wajahnya hampir menyentuh wajahku. Kulihat Pak Devan tersenyum. “Di lemari ada beberapa baju dan jilbab yang aku belikan untukmu. Semoga cocok.” Katanya. “Aku tidur di sofa, kamu silahkan tidur di kasurku.” Sambungnya. Lalu dia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Aku segera menuju lemari dan membukanya. Boleh juga seleranya. Batinku senang ketika melihat deretan gamis, jilbab dan pashmina di lemari. Kuraih piyama panjang berbahan sutra yang terselip di antara deretan gamis dan pashmina lalu membawanya ke kamar mandi. Aku belum mau memperlihatkan aurat di depan Pak Devan meskipun dia telah sah menjadi suamiku. Selesai mandi aku melihat Pak Devan duduk di atas tempat tidur. “Rambutmu masih basah, nggak baik ditutupi.” Katanya sembari berdiri dan melangkah mendekatiku. Tangannya melepas pashmina yang aku sampirkan begitu saja di kepalaku. Dia meraih handuk yang tadi diletakkan di atas kasur, lalu mengusap rambutku yang masih basah. Aku bergeming, menatapnya dengan tatapan heran. Jantungku kembali berdebar kencang. Pak Devan mengerutkan keningnya melihatku diam tak bergerak. “Udah belum mengagumi wajah suaminya?” godanya membuatku tersentak dari lamunan. “I-tuu …, tadi Bapak ngapain?” tanyaku gugup, setengah mati menahan debar di d**a. Dia tersenyum. Handuk yang tadi dipakai untuk mengeringkan rambutku digantungkan di lehernya. “Mengeringkan rambut istriku.” jawabnya sambil menjawil hidungku. Buru-buru aku menundukkan kepala. “Kiran, sampai kapan kamu memanggilku dengan sebutan itu? Di rumah aku bukan dosen kamu.” katanya sambil mengangkat daguku. “Aku harus manggil apa?” tanyaku “Terserah, apapun itu yang penting bisa menambah ketakdziman kamu pada suami.” katanya. Hah? Sebenarnya gimana sih perasaan Pak Devan? Sulit banget ditebak. “Mas Devan.” kataku pelan. Dia maju selangkah, mengikis jarak di antara kami. Tangannya terulur mengelus pipiku. Aku memejamkan mata dan  menghela napas pelan untuk meredakan laju jantungku. “Begitu lebih baik.” ujarnya, lalu melangkah menuju sofa dan membaringkan tubuhnya. Aku merasakan wajahku memanas. Astagfirullah. Kenapa sih hobi banget bikin aku malu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD