5. Pagi Termanis

847 Words
Aku melihat ke arah Mas Devan yang sudah terlelap di sofa.  Aku merasa perasaannya terhadapku masih belum jelas meskipun sejak menjelang  pernikahan kami, Mas Devan bersikap baik. Setelah pernikahan pun sikapnya manis. Namun, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa dia mencintaiku. Sikapnya sulit sekali ditebak. Pernikahan kami terjadi bukan karena kami saling mencintai tapi karena karena keinginan orang tua kami. Meski aku tidak tahu akan seperti apa masa depanku dengan Mas Devan, aku tidak berharap dia akan mencintaiku karena aku juga tidak ingin berusaha mencintainya. Kubaringkan tubuh lelahku. Ketika terbangun nanti, aku harus belajar menjadi istri bagi Mas Devan.   *****   “Kiran, bangun. Ini sudah subuh. Yuk kita shalat berjamaah.”  Sayup-sayup terdengar suara berbisik di telinga kananku. Aku merasakan tangan dingin menepuk pelan pipiku. Namun, aku masih enggan untuk membuka mata. “Hmmm, aku masih ngantuk. Salat duluan aja, nanti aku belakangan.”  Aku membalikkan tubuhku ke arah kanan membelakanginya. Kulanjutkan lagi tidurku yang sempat terganggu. Aku berusaha terlelap, tapi gagal. Kubalikkan tubuhku menghadap sebelah kiri. Mataku melihat sosok tinggi tegap memakai baju koko putih dengan bawahan sarung tengah khusuk menjalankan salat Subuh. Mas Devan! Aku segera bangun dan mengucek kedua mataku. Kulirik ke arahnya yang kini berzikir. Dia menoleh ke arahku. Aku terkejut dan langsung menutup wajahku. “Sudah bangun, Kiran? Salat dulu.” katanya lembut. “Hmm, iya aku tahu. Ini juga mau salat.” Aku beranjak dari kasur, menuju kamar mandi untuk berwudhu. Dinginnya air terasa menusuk tulangku. Keluar kamar mandi, aku melihat Mas Devan duduk di sofa, melantunkan ayat-ayat suci. Aku sejenak terpana. Inikah dosen killer yang terkenal di kampus? Sosoknya di luar kampus berbeda sekali. Batinku. Tiba-tiba hatiku merasa hangat. Segera kutunaikan salat Subuh. Selesai salat, aku melihat Mas Devan memandangiku dari sofa. Aku sedikit jengah, segera kupalingkan wajahku. Dia terkekeh dan menghampiriku yang masih duduk di atas sajadah. “Mulai besok, kita salat Subuh berjamaah karena berjamaah di awal waktu itu besar pahalanya.”  Jelasnya. Aku hanya bisa mengangguk, lalu berdiri dan melipat mukenaku. “Kamu mau sarapan apa?” tanya Mas Devan. “Biar aku yang bikin sarapan, Mas. Ada apa di dapur?” tanyaku. Ketika kakiku hendak melangkah, dia memegang tanganku. “Kamu duduk manis aja ya, biar aku yang menyiapkan sarapan.” katanya. Aku jadi tambah bingung melihat sikap manisnya. Namun, aku hanya bisa mengangguk. “Aku bantuin di dapur boleh ya, Mas?” pintaku. Aku merasa nggak enak karena seharusnya istrilah yang menyiapkan sarapan. Mas Devan membalikkan badan, menatapku intens. “Kata mama, kamu nggak bisa masak? Daripada rasanya masakannya jadi nggak karuan, lebih baik kamu tunggu aja, baca buku atau nonton televisi.” katanya. Aku mendengus kesal. Kuhempaskan tubuh di sofa mungil depan televise dan menyalakan remote. Hampir satu jam aku menonton televisi, tapi Mas Devan masih di dapur. Wangi masakan menyeruak di ruangan. Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Kulihat dia sedang memotong sesuatu. “Kamu duduk di kursi makan aja, Kiran.” ujarnya tanpa membalikkan tubuhnya. Aku tercekat, dia punya indera keenam? “Dan jangan protes.” sambungnya. Aku menurut, lantas duduk di kursi makan. Kuperhatikan gerakan Mas Devan yang sedang menuang nasi goreng ke dalam piring. Kemudian menyusun tomat dan mentimun di pinggir piring, lalu membawanya ke meja makan. “Happy breakfast, Kiran.” Ucapnya seraya tersenyum dan menyerahkan piring ke hadapanku. Lagi-lagi aku dibuat terpana oleh sikapnya. “Nggak usah sampai segitunya memandang suami.” Lanjutnya sambil menjawil hidungku. Aku tertunduk malu, lalu  menyuapkan nasi goreng ke mulutku. “Enak?” Tanya Mas Devan. Aku mengangguk dan kembali fokus menghabiskan nasi goreng. Kulirik lelaki dihadapanku yang menikmati nasi goreng sambil membaca pesan di ponselnya. “Aku udah selesai, kamu udahan belum makannya?” Tanyaku. Mas Devan mengangguk tapi matanya tak lepas dari ponsel. “Biar aku yang cuci piring.” Kataku sambil mengangkat piring kotor milikku dan miliknya dan membawanya ke dapur. Aku fokus mencuci piring sampai akhirnya aku merasakan tangan kokoh Mas Devan melingkar di perutku. Perlakuannya itu sontak membuat jantungku seperti lari marathon. “Mas, ka-mu--,” Ucapanku menggantung ketika Mas Devan berbisik ditelingaku. “Biarkan seperti ini sebentar saja, Kiran.” Lalu dia meletakkan dagunya dibahuku. Satu detik … dua detik … tiga detik, Mas Devan tidak juga melepaskan pelukannya. Dia malah semakin membenamkan wajahnya dibahuku. “Nggak bisa ya dilepas dulu?Aku jadi nggak fokus cuci piringnya.” kataku. “ Nggak bisa, Kiran.” Ucap Mas Devan sambil mengeratkan dekapannya. Buru-buru aku menyelesaikan cuci piring. “Udah selesai, Mas. Lepasin dulu dong.” Pintaku. “Kok cepet banget? Kamu sengaja ya di cepet-cepetin, ya?” protesnya. “Enggak. Lagian cuma dua piring dan dua sendok.” Katanya. “Itu coba sekalian cuci gelas-gelasnya, Kiran!” perintahnya sambil menunjuk deretan gelas-gelas yang tersusun rapi dan bersih di dekat tempat cuci piring. Aku membalikkan badan dengan kesal. Namun, Mas Devan tidak juga melepaskan tangannya dari pinggangku. “Gelas yang mana? Yang ini?” Aku mencipratkan sisa air di tanganku ke wajahnya. “Aduuuh!” teriaknya sambil memalingkan wajahnya. Sontak dia melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku terkekeh geli. Setengah berlari aku meninggalkan dapur. Kenapa hatiku jadi nggak karuan gini sih?      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD