6. Honeymoon?

705 Words
Aku dan Mas Devan mengambil cuti tiga hari sehabis pernikahan kami. Namun, sesuai kesepakatan tidak ada bulan madu. “Kiran, nanti siang kita makan siang di luar sekalian ke supermarket. “ kata Mas Devan, lalu duduk di sampingku. “Boleh, kulkas kamu nyaris kosong.” Kataku tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang k****a. “Aku ada sedikit kerjaan yang harus segera kuselesaikan . Nanti kita berangkat habis salat Dzuhur ya.” lanjutnya. Kemudian dia beranjak menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan membaca. Dari ekor mataku, kulihat dia mulai sibuk dengan laptopnya. Sehabis salat Dzuhur, kami berangkat menuju supermarket yang letaknya tak jauh dari apartemen. Kami berdua belanja dalam diam. Aku dengan cermat memilih semua kebutuhan rumah tangga sedangkan Mas Devan mengikuti dengan medorong troli besar. Ketika kami sedang mengantri di kasir untuk membayar, ponsel Mas Devan berbunyi. “Assalamualaikum Bun. Iya ini lagi di supermarket sama Kiran.” “ ….” “ Ya sudah, nanti kami ke sana.”  Mas Devan menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. “Bunda minta kita datang untuk makan siang.” katanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba tangan kekarnya sudah berada di atas tanganku yang memegang troli , lalu mendorong troli mendekati kasir. Aku mendongak dan menemukan senyum tulus di bibirnya.   Duh Gusti, kenapa sih dia selalu bikin jantung aku berdebar?   *****   Kami tiba di rumah mertuaku empat puluh menit kemudian. Lalu kami berjalan menuju ruang makan. Semua sudah berkumpul untuk makan siang, termasuk Mama, Papa dan Kian. “Bang Devan, gimana rasanya punya istri? “ pertanyaan Kian yang tiba-tiba membuatku melotot ke arahnya.  “Enak, mau cobain?”  jawab Mas Devan santai. “Kiran kan kalau tidur nggak bisa diem, dia--,” Kian tak jadi melanjutkan kalimatnya karena keburu aku bungkam mulutnya. Saudara kembarku itu berusaha melepaskan tanganku dari mulutnya. “Kiran, Kian, kalian ini masih kayak anak-anak. Nggak malu sama Om dan Tante Adhi?” hardik mama. Aku buru-buru melepaskan tanganku dari mulut Kian dan duduk di samping Mas Devan. “ Kalian gimana hari pertama jadi suami istri? “ tanya Bunda sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ayah. “Alhamdulillah kami bahagia, Bun, “ jawab Mas Devan sambil meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Wah, tidak salah ya Mas Syarief  kita menjodohkan mereka.” ujar Ayah yang disambut oleh senyum Papa. Aku segera melepaskan genggaman tangan Mas Devan dan mengambil piring dan menaruh nasi di atasnya. “Segini cukup nasinya?” Aku bertanya kepada Mas Devan. “Cukup.” katanya mengambil piringnya dari tanganku. Lalu aku mengambilkan lauk pauk sebelum akhirnya mengisi piringku. Semua yang ada di ruang makan melihat kami dan saling melempar senyum. “Kalian berdua nggak ada rencana untuk honeymoon?” tanya Bunda. “Nggak.” jawabku dan Mas Devan kompak. “Lho kenapa?” tanya Mama heran. “Hmmm, minggu depan Devan harus menghadiri seminar di Malaysia, Bun, Ma. “ jelas Mas Devan membuatku bernapas lega. “Apa nggak ada dosen lain yang bisa menggantikanmu, Devan?Kamu kan baru menikah, masa sudah sibuk lagi?” Ayah tak terima dengan jawaban Mas Devan. “Kiran nggak apa-apa, Yah. Mas Devan harus menghadiri seminar itu, nggak bisa digantikan dengan dosen lain. Kiran juga minggu depan harus mempersiapkan skripsi, “ terangku. Aku melirik sekilas ke arah lelaki disebelahku dan kembali menyantap makananku. “Seminar di Malaysia cuma dua hari Yah, Devan akan langsung pulang.” ujar Mas Devan.   Sungguh drama yang sempurna.   “Ya anggap aja resiko mahasiswi menikah sama dosennya, “ celutuk Kian. Semua tergelak mendengar perkataan saudara kembarku itu “Gimana kalau Kiran ikut kamu ke Malaysia? Jadi bisa sekalian honeymoon, “ tiba-tiba Papa menimpali. Aku terbatuk mendengar perkataan Papa. Buru-buru Mas Devan menyodorkan air putih dan mengusap pelan punggungku. “Minggu depan Kiran harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya, Pa.” Mas Devan membantuku memberi alasan. “ Ya sudah kalau begitu, tapi sempatkan waktu untuk honeymoon. Kami sudah ingin secepatnya menimang cucu.” kata Bunda.   Duuuh, gimana mau cepet kasih cucu kalau aku tidur di kasur dan Mas Devan di sofa.   “Jangan khawatir Bun, kami akan secepatnya menghadirkan cucu.” Perkataan Mas Devan sukses membuatku ingin menghilang. Kucubit pahanya dan dia hanya bisa meringis.   Ini akting atau beneran sih, Mas?.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD