Sudah tiga hari aku menyandang status sebagai istri Mas Devan. Harus kuakui bahwa Mas Devan itu orangnya sangat pengertian. Walaupun dia selalu berbuat sesukanya tapi sampai saat ini dia belum pernah meminta haknya padaku karena aku pernah menyampaikan agar bisa diberi waktu untuk menerima dan terbiasa dengan semua ini.
Kini setiap pagi aku akan menyiapkan sarapan untuk suamiku. Sarapan sederhana seperti nasi goreng, bubur ayam, omelet atau roti bakar selai kacang kesukaan Mas Devan.
Aku cukup senang karena dia selalu menghabiskan sarapan yang aku siapkan.
Hari ini cuti kami berakhir dan kembali ke Kampus.
“Kiran, aku ada kelas pagi, cepat habiskan sarapanmu.” Seperti biasa dia berbicara tanpa ekspresi.
Aku melirik jam di tangan kiriku. Masih ada waktu dua jam lagi.
“Mas kan ngajar di kelas aku pagi ini. Aku berangkat sendiri aja ya, nggak enak dilihat orang-orang kampus. Mereka kan nggak tahu kalau kita nikah, Mas,” Aku memohon.
Mas Devan yang sedang membereskan berkas-berkas di meja kerjanya menghampiriku di meja makan. Kulihat matanya menatapku tajam.
“Memangnya kenapa? Biar saja mereka lihat!” katanya.
“Nggak apa-apa Pak, eh Mas. Aku hanya belum siap diteror banyak fans nya Pak Devan Sebastian. Nanti aku mesti jawab apa? “ jawabku berusaha santai.
“ Ya jawab apa adanya!” Mas Devan mulai terlihat kesal dan berlalu mengambil tas dan berkas-berkasnya.
“Ayo Kiran, nanti kita bisa terlambat, kamu mau dapat hukuman dari Pak Devan?” katanya. Lalu dia beranjak membuka pintu apartemen. Aku bergegas mengambil tasku dan mengikutinya keluar.
Walau bagaimanapun aku tidak mau menjadi istri yang tak patuh. Aku tetap berangkat bareng dengan Mas Devan.
*****
“Mas, aku nanti turun di halte depan kampus ya.” pintaku.
Tak ada jawaban dari Mas Devan. Saat mobil mendekati halte kampus, Mas Devan melewatinya begitu saja. Dia terus melajukan mobilnya memasuki halaman kampus.
Aku hanya bisa menghembuskan napas kasar.
“Kenapa?Nggak baik kesel sama suami sendiri, “ ucapnya sembari memarkirkan mobilnya.
“Mana ada suami yang nggak dengar istrinya,” gumamku
“Apa?” Mas Devan menolehkan kepalanya.
“Eh nggak Pak, aku turun ya, “ kataku. Lalu aku memperhatikan keadaan sekeliling. Setelah memastikan keadaan sepi dan aman, aku langsung bergerak cepat membuka pintu mobil.
Namun, tangan Mas Devan menahan tanganku. Aku membalikkan tubuh.
“Apa lagi sih Pak? Keburu banyak orang nih, “ kesalku.
“Kita sudah sepakat kan kalau kamu nggak manggil Bapak lagi. Aku miris mendengarnya, Kiran, “ protesnya.
“ Ini kan di kampus Pak, bukan di rumah, “ sahutku.
“ Tapi kita masih di mobil Kiran,” balasnya.
Aku menatapnya sebal.
Dia yang bikin aturan, dia yang langgar!
“Baiklah Mas, Kirana turun ya, sebentar lagi kuliahnya Pak Devan di mulai dan aku nggak mau dapat hukuman karena terlambat masuk, “ cicitku. Lalu keluar dari mobil.
Namun, aku terduduk kembali saat Mas Devan menarik kembali tanganku.
“Astagfirullah, kenapa lagi sih Mas?” desisku.
“Pamit yang baik sama suami.” Dia menyodorkan tangannya.
Aku kembali menghembuskan napas kasar, akan tetapi aku tetap meraih dan mencium tangannya meskipun jengah.
Tiba-tiba Mas Devan memegang kedua pipiku dan mencium keningku.
“Menurut penelitian, mencium istri sebelum bekerja bisa membuat suami bersemangat, “ ucapnya menjelaskan sebelum aku bertanya.
Penelitian darimana, Maaaas?!
“Nanti pulangnya tunggu aku, “ lanjutnya sambil mengelus pipiku.
Aku hanya diam membeku mendapat perlakuan seperti itu.
“Aku tahu aku ganteng. Tenang aja Kiran, dosen ganteng ini suamimu, “ katanya sambil keluar dari mobil.
Suami siapa sih ini, kok percaya dirinya menembus langit?
*****
Kelas hari ini ada di gedung B. Aku melirik jam di tangan kiriku. Masih ada waktu tigapuluh menit lagi sebelum kuliah dimulai.
“Kirana!!”
Aku kaget dengan teriakan Maya dan Mira. Mereka tergesa-gesa menghampiriku dan menarikku ketempat sepi di samping kelas.
“Bisa jelaskan pada kita, kenapa kamu bisa berangkat bareng Pak Devan?” tanya Mira tak sabar.
Duuuh kok bisa ketahuan mereka berdua ya?
“Ya nggak apa-apa, bareng saja, “ jawabku berusaha santai.
“Yuk kita ke kelas, sebentar lagi kuliah dimulai. Pak Devan lho yang ngajar, “ elakku. Lalu aku melangkahkan kaki hendak meninggalkan mereka.
“Eeeeh sebentar, mau kemana? Kita belum selesai.” Maya menarik tasku.
“Cepat jelaskan!” desak Mira.
“Jelaskan apa?” tanyaku pura-pura polos.
“Kirana Ayu Larasati, jawab jujur dong, jangan muter-muter!” Mira mulai kesal.
“Baiklah aku jelasin, tapi janji ya jangan kaget dan jangan bilang siapapun!” Akhirnya aku menyerah.
“Iya janji, cepetan cerita!” kata Maya tak sabar.
Aku menghela napas panjang, menyiapkan mental untuk jujur pada kedua sahabatku ini.
“Aku dan Pak Devan menikah tiga hari lalu, “ kataku pelan.
Maya dan Mira saling pandang mendengar jawabanku. Kemudian mereka berdua tertawa.
“Bercandanya jangan keterlaluan, Kiran, “ kata Maya.
“Iya, perasaan selama ini kamu nggak pernah ikutan modusin Pak Devan “ Mira menimpali.
“Terserahlah kalian mau percaya atau tidak, tapi memang itu yang terjadi. Cerita lengkapnya nanti ya, lima menit lagi kelas dimulai, “ ucapku sambil memasuki kelas.
Maya dan Mira pun terpana mendengar jawabanku. Lalu mengikutiku masuk ke kelas. Wajah mereka masih menyisakan tanda tannya.
Tak lama berselang, Pak Devan masuk dan kelas mulai sunyi.
“Sekarang, kumpulkan tugas minggu lalu!” perintahnya dengan raut muka datar seperti biasanya.
Aku membuka tasku mencari tugas yang sudah aku selesaikan, tapi tak menemukannya.
Ya ampun, tugasku ketinggalan di mobil karena aku gugup dengan ciuman mendadak dari lelaki yang kini berdiri di depan kelas.
Kulihat dia memeriksa satu per satu tugas yang dikumpulkan di mejanya. Tanganku mulai berkeringat dingin. Aku benar-benar gugup sekaligus ngeri membayangkan dia tidak menemukan tugasku di tangannya.
“Kirana Ayu Larasati?” katanya.
Nah kaaaan!
“Saya, Pak !” jawabku.
“Belum ada tugas kamu di sini!” ujarnya tanpa mengalihkan matanya dari tumpukan kertas di tangannya.
“Saya sudah mengerjakannya Pak, tapi ketinggalan di mobil, “ kataku member alasan.
“Mesti saya suruh untuk mengambilnya?” Matanya menatap tajam ke arahku.
“Nggak Pak, maaf, “ lirihku.
“Lalu tunggu apa lagi?” tanyanya dengan nada dingin.
Ya Allah, bagaimana ngomongnya ini? Kuncinya kan dia yang bawa. Masa aku minta kunci sama dia, bisa heboh sekelas.
“Boleh saya mengumpulkan besok, Pak?” tanyaku gugup.
“Cepat ambil! Kamu pikir kerjaan saya hanya menunggu tugas kamu?!” marahnya.
Duuuh Mama, aku harus bagaimana ini?
“Tapi Pak--, “ aku masih berusaha meminta pengertian.
“Tapi apa?” geram Mas Devan.
“ Tapi saya nggak bawa kuncinya, Pak!” Akhirnya aku menyerah. Aku menundukkan kepala. Teman-teman kelasku mulai berisik. Aku pasrah apa yang akan terjadi setelah ini.
Kulihat Pak Devan diam dan masih berkutat dengan tugas-tugas di mejanya.
Aku menarik napas lega, bersyukur dia tidak menjawab apa pun. Setidaknya rahasia kami masih aman. Kulihat dia mengusap wajahnya.
“Ambil kuncinya di tas saya! “ perintahnya.
Allahu Akbar ! Rasanya aku ingin pindah planet aja kalau begini.
Suara riuh teman-teman mulai memenuhi ruangan kelas dan kedua sahabatku menatap dengan penuh tanya. Aku diam mematung.
“Pilih ambil atau mengulang kuliah saya di semester depan?” suara Pak Devan sukses membuatku lemas.
Masya Allah, kok dia tega banget sih sama istri sendiri.