Devan Sebastian Adhiwijaya (POV)
Malam ini aku sulit memejamkan mata. Aku meraih laptopku dan duduk di sofa. Kiran tertidur pulas di ranjang. Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa itu.
Aku teringat bagaimana pertama kali aku bisa jatuh dalam pesona cantik seorang Kirana Ayu Larasati, istriku.
Aku termasuk orang yang bisa disebut biasa saja, tidak punya keinginan menggebu atau target dalam satu hal termasuk jodohku. Aku hanya mencoba melakukan hal terbaik untuk sesuatu hal yang aku jalani di depanku.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2 di Jerman, aku diberi kekuasaan penuh oleh Ayah untuk mengelola perusahaan keluarga. Selang enam bulan setelah aku memimpin perusahaan, Om Hanif, adik ayah memintaku menjadi dosen di Universitas miliknya. Awalnya aku ragu harus mengerjakan dua hal sekaligus. Namun, setelah dicoba ternyata tidak begitu sulit karena aku hanya mengajar tiga kali dalam seminggu.
Siang itu ketika hendak salat Dzuhur di masjid utama kampus, aku melihat mahasiswi berhijab duduk di pojok serambi sambil melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Terdengar sangat fasih dan lancar. Aku terpukau mendengar suara merdunya sebelum akhirnya tersadar dan bergegas mengambil wudhu.
Sejak hari itu, entah mengapa bayangan gadis itu seolah tak mau pergi dari pikiranku. Aku sering melihatnya menunaikan salat Dzuhur dan Ashar di masjid kampus. Tanpa aku sadari, jadwal aku salat pun mengikuti dia agar bisa melihatnya. Aku jadi rutin mendengarkannya mengaji, Masya Allah.
Namun, sebisa mungkin aku menghilangkan bayangannya. Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa aku tertarik padanya.
Suatu hari aku melihatnya di kelasku. Ternyata dia adalah salah satu mahasiswiku. Entah aku yang tidak memperhatikan atau bagaimana, tapi seingatku aku tidak pernah melihatnya selama mengajar di kelas ini.
Akhirnya aku tahu namanya Kirana Ayu Larasati. Nama yang cantik sesuai pemiliknya.
Aku jadi sering diam-diam mengamatinya di kelas.
Butuh waktu sekitar satu tahun untukku mengaguminya dalam diam dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku tertarik padanya.
Setelah pemikiran panjang, akhirnya aku membulatkan tekad untuk mencoba mendekatinya dan mengenalnya lebih jauh. Namun, sepertinya Allah tidak meridhoi.
Ayah memberitahukan bahwa aku akan dijodohkan dengan anak temannya. Rasanya ingin menenggelamkan diri ke laut. Di saat aku sudah menemukan seseorang yang cocok di hatiku, pada saat yang bersamaan aku dituntut untuk berbakti pada kedua orang tuaku.
Aku mencoba menyampaikan keinginanku pada Ayah dan Bunda. Namun, mereka bersikeras menjodohkanku.
Beberapa hari aku berperang dengan batinku sendiri. Kuhamparkan sajadah, meminta petunjuk terbaik pada Allah dan rasanya aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku berusaha membuang rasaku pada Kirana dan meyakinkan diriku untuk menuruti perjodohan ini.
Hari itu, aku dipaksa Ayah untuk cuti kerja karena kami akan pergi menemui calon istriku. Entah mengapa, pikiranku masih tertuju pada Kirana.
Kami tiba di sebuah rumah bertingkat dua yang cukup mewah. Saat mobil memasuki halaman rumah itu, tak urung hatiku deg-degan.
Kami disambut oleh lelaki seumuran Ayah. Dari penampilannya aku bisa menebak kalau dia adalah calon ayah mertuaku. Beliau dan istrinya menyambut kami dengan baik.
Jujur aku sangat gugup dan masih sulit membuang wajah Kirana dari pikiranku.
Cukup lama aku berusaha mengendalikan perasaanku ketika seorang gadis berhijab dan seorang pria muncul di ruang tamu. Aku diam terpaku di tempat dudukku, berusaha menahan laju detak jantung yang mulai tak beraturan.
“Kiran, Kian, ini Om Adhi, temen papa waktu kuliah dulu. Itu istrinya, Tante Dewi, dan itu Devan, anaknya Om Adhi.” Begitu Om Syarief memperkenalkan kami.
“Iya Kiran sudah kenal Pa. Pak Devan dosen Kiran di kampus.” ujarnya. Lalu Kiran dan Kian menyalami Ayah dan Bunda dan mengangguk ke arahku.
“Jadi Kiran yang mau jadi menantu saya?” Tanya Ayah.
Pertanyaan ayah mengagetkanku.
Apa??Jadi Kirana calon istriku? Ya Allah, rezeki anak sholeh yang nurut sama orang tua.
Aku tak peduli ketika mata tajam Kirana menatapku. Aku tidak mendengar jelas lagi apa yang mereka bicarakan karena sibuk dengan perasaan bahagiaku.
“Jadi gimana Devan? Ini anak Om Syarief yang akan jadi istrimu.” Ayah kembali mengagetkanku.
“Devan ikut aja, Yah.” Akhirnya dari ribuan kata bahagia yang ada di otakku, hanya itu yang keluar dari mulutku.
“Kalau begitu secepatnya saja, Mas Adhi.” ujar Om Syarief.
Masya Allah papa mertua, I love you!
“Bagaimana kalau bulan depan, Mas Syarief?” kata Ayah antusias.
Ya Allah, I love you more Ayah. Jangankan bulan depan, saat itu juga aku siap.
“Allahu Akbar!”
Gadis cantik itu nyaris berteriak cukup kencang. Namun, Kian, saudara kembarnya segera membungkam mulutnya.
Tapi buatku sudah tidak penting lagi bagaimana perasaan Kirana. Aku benar-benar bahagia, lega dan bersyukur.
*****
“Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Ayu Larasati binti Syarief Rahmadi dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas sepuluh gram dibayar tunai.”
Aku dengan penuh kesadaran mengucap ijab kabul di depan papanya Kirana dengan lancar dan mantap. Aku sudah menghapalnya jauh sebelum ini dan tentunya dengan wajah Kirana dalam bayanganku.
Aku sudah sah menjadi suaminya. Tapi sepertinya dia belum sepenuhnya bisa menerimaku. Aku tidak ingin memaksanya. Aku akan sabar sampai dia benar-benar ikhlas menyebut dirinya sebagai istriku.
Aku membawanya ke apartemen milikku setelah acara pernikahan kami. Tidak ada yang terjadi saat malam pertama. Dia tidur di ranjangku dan aku merelakan diri untuk tidur di sofa.
Tanpa dia tahu, aku tidak bisa memejamkan mata semalaman karena sibuk memandang wajah cantiknya yang damai saat tidur.
Pagi harinya setelah salat Subuh aku membuatkan Kirana sarapan. Aku memintanya untuk tidak ikut ke dapur. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri jika dia berada dekat denganku.
Aku memintanya untuk membaca atau menonton televisi.
Namun, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan sentuhan kecil untuknya. Enggak apa-apa kan? Sudah sah juga.
Akhirnya aku memberanikan diri memeluk pinggang rampingnya ketika Kirana sedang mencuci piring.
“Nggak bisa ya dilepas dulu? Aku jadi nggak fokus cuci piringnya.” Katanya.
“Nggak bisa Kiran, “ ucapku sembari mengeratkan pelukanku.
Aku merasakan getaran dahsyat dari diriku saat aku menyentuhnya.
Pelukanku pagi itu diakhiri dengan Kirana menyipratkan air ke wajahku. Tak apalah, aku sudah cukup bahagia bisa memeluknya walaupun sebentar.
Pernikahan kami sudah seminggu dan tidak banyak yang berubah. Aku belum meminta hakku sebagai suaminya. Tujuanku menikah adalah membuatnya bahagia. Aku akan tetap bersabar sampai dia sendiri yang rela melakukan kewajibannya.
Kalau boleh jujur, sebenarnya berat banget aku menahan semua ini. Aku masih lelaki normal dan sudah sah jadi suaminya. Kirana cantik, imut, menggemaskan dan dia istriku.
Sepertinya aku harus ekstra mengendalikan diriku agar tidak melakukan hal yang macam-macam sebelum dia siap.