Dosen Pembimbing

868 Words
Usai menunaikan salat subuh, aku berkutat dengan peralatan masak d dapur. Aku membuat menu sederhana untuk sarapan, yaitu roti gandum selai kacang untuk Mas Devan dan sandwich dengan isian sosis untukku. Ketika hendak memberi tahu Mas Devan, rupanya lelaki itu sudah duduk di kursi makan dan sedang menatapku. “Mas, udah lama di situ? “ tanyaku sedikit jengah. “Baru kok, “ jawabnya singkat. Mas Devan melahap roti gandumnya ditemani secangkir kopi hitam, sedangkan aku  segelas s**u coklat hangat. “Kiran, lusa Mas pergi ke Malaysia selama dua hari,” ucap Mas Devan memecah kesunyian di antara kami. Dia sudah menyelesaikan sarapannya. Aku menelan gigitan terakhir sandwichku. “Oia Mas, nanti aku siapkan keperluan kamu, “ kataku. “Enggak perlu Kiran, aku sudah menyiapkan keperluan untuk selama di Malaysia,. Baju-baju sudah di dalam koper. Mungkin tinggal berkas-berkas saja.” terang Mas Devan. “Baiklah, kabari saja nanti kalau kamu sudah tiba kembali di Jakarta.” ucapku yang dijawab anggukan olehnya. “Mas, selama kamu di Malaysia, aku boleh menginap di rumah orang tuaku?” tanyaku. “Terserah kamu saja, “ jawabnya datar. “Hari ini kamu pergi kuliah sendiri ya, aku buru-buru ke kantor, ada banyak yang mesti diurus sebelum pergi ke Malaysia, “ lanjut Mas Devan. Aku mengangguk. “Aku pergi dulu, “ pamit Mas Devan seraya mengulurkan tangannya. Aku menciumnya takzim. Lalu beranjak berdiri untuk membereskan meja makan. Ketika hendak membuka pintu apartemen, Mas Devan berhenti dan memutar tubuhnya. “Ada yang ketinggalan Mas, biar aku ambilkan,” kataku. “Ada,” sahutnya dan melangkahkan kaki ke arahku. Aku melihat senyum mencurigakan di bibirnya.  Aku melangkah mundur, tapi Mas Devan segera meraih tanganku dan sesuatu yang hangat menyentuh keningku. “Belum cium istriku, “ katanya. Lalu dia mengelus pipiku perlahan. “Kalau sempat aku jemput kamu di kampus nanti siang,” sambungnya lalu bergegas keluar apartmen meninggalkan aku yang masih bengong. Ya Allah, kenapa hatiku jadi ngak karuan gini? **** Pagi ini Mas Devan berangkat ke Malaysia. Sopir kantor yang akan mengantarnya ke bandara sudah menunggu di depan lobi apartmen. Mas Devan tak sempat sarapan, jadi aku membekalinya brownies. Dia menolak aku antar ke bandara, alasannya takut menganggu jadwal kuliahku. Memang, hari ini aku ada jadwal kuliah pagi. Namun, aku menawarkan diri untuk menjemputnya di bandara ketika dia pulang nanti. Seperti biasa, Mas Devan mencium keningku lalu berkata, “Baik-baik selama aku pergi dan pastikan kamu merindukan aku.” Duuuh, punya suami kok percaya diri sekali. Setelah mengantarnya sampai lobi apartemen, aku bergegas mengemudikan honda civicku menuju kampus. Aku melangkahkan kaki menuju kantin kampus. Tadi aku tidak sempat untuk sarapan. Masih ada waktu empat puluh menit sebelum kuliahnya Pak Rama dimulai. “Kiran!” suara milik Maya tiba-tiba menyapa telinga. Aku menoleh ke arah suara. Maya setengah berlari menuju ke arahku  Aku menghentikan langkahku. “Pengumuman dosen pembimbing sudah keluar. Aku dapat Pak Rama. Baru kali ini aku ngerasa semangat buat bikin skripsi.” cerosos Maya. “Serius kamu, May?Aku dapat siapa ya?” tanyaku antusias. “Aku lupa saking senengnya dapat Pak Rama. Mending kita lihat ke sana yuk,” ajaknya Berbanding terbalik dengan Mas Devan, Pak Rama adalah dosen yang kharismatik dan ramah. Pantas jika Maya terlihat senang. Aku mengurungkan niatku untuk ke kantin dan mengikuti langkah Maya. Terlihat mahasiswa tingkatku sudah berkumpul melihat pengumuman dosen pembimbing. Aku semakin penasaran siapa yang jadi dosen pembimbingku, asalkan jangan Mas Devan. Masa dia lagi sih? “Wah Kiran, kamu beruntung banget!” teriak Maya yang girang melihat nama dosen pembimbingku. “Siapa memang?” tanyaku. “Tuh lihat sendiri, “ sahut Maya. Devan Sebastian Adhiwijaya. Astagfirullah! Cobaan apa ini? “Enak kan bisa bimbingan di rumah, “ ucap Mira yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Aku menarik napas panjang. Mas Devan jiwa profesionalnya setinggi langit, mana bisa bimbingan di rumah. Dia nggak pernah mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.. Meskipun aku istrinya, aku sama dengan mahasiswa lainnya, harus belajar ekstra supaya lulus di mata kuliahnya. Setelah kuliah Pak Rama berakhir, aku berniat untuk ke kantin bersama Maya dan Mira sambil menunggu waktu mata kuliah selanjutnya dimulai. “Kirana!” panggil Pak Rama ketika aku baru melangkah keluar kelas. “Kita nunggu di kantin ya, “ bisik Mira. Aku mengangguk. Lalu melangkahkan kaki menuju Pak Rama yang masih duduk di kursinya. “Ada apa, Pak?” tanyaku. Pak Rama menyodorkan paper bag putih kepadaku. “Tadi ada seseorang menitipkan ini untuk Devan, “ jawabnya sambil tersenyum menatapku. Sejenak aku tertegun. Kuraih paper bag dari tangannya. “Selamat ya atas pernikahan kalian,” lanjut Pak Rama mengagetkanku. “Bapak tahu darimana?” tanyaku. “Devan sendiri yang memberitahu saya, tapi kamu tenang saja Kirana, rahasia kalian aman, “ jawabnya. “Saya duluan ya,“ sambungnya seraya melangkah keluar kelas meninggalkan aku yang masih terpana. Suamiku, aku akan bikin perhitungan setelah kamu pulang nanti. **** Aku melirik paper bag putih yang aku letakkan di meja kerja Mas Devan. Rasa penasaran membuatku melihat isi di dalamnya. Sebuah kotak jam tangan merek terkenal dan kartu ucapan berwarna merah jambu. Kuraih kartu ucapan itu dan perlahan membukanya. Dear Devan, Seperti janji aku. -Andini-   Hah? Apa ini? Siapa Andini? Tiba-tiba perasaan asing hinggap di hatiku. Aku butuh menenangkan diri untuk menstabilkan perasaanku.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD