Bagaimana keyakinan bekerja? Adakah ia mengendap-endap dalam keheningan? Ataukah masuk dalam tawa ceria meskipun duka lara menimpa?
Salah seorang novelis populer pernah mengatakan bahwa kalau perempuan disuruh memilih, ia akan lebih memilih hidup dengan orang yang dicintainya, daripada menikah dengan orang yang sama sekali tak dicintainya.
Namun, bagaimana keyakinan dan cinta bekerja pada orang-orang dahulu? Pernahkah kita memikirkannya?
Bukankah dahulu kala pun tak sedikit orangtua kita yang menikah awal mulanya tanpa cinta? Bahkan, mungkin sama seperti Naya. Tak mengetahui siapa namanya, sebelum pertunangan itu tiba.
"Nak, kamu mantap melanjutkan pernikahan nantinya?" tanya Ibunya Naya.
"Iya, Bu. Ibu tenang saja. Doakan Naya yah."
Ibunya melihat cincin yang melingkar di jari manis Naya. Beberapa saat kemudian tersenyum. "Cincin itu tampak manis sekali di jemarimu, Nak. Jaga, ya?"
"Iya, Bu. Naya akan pakai. Aya akan jaga sebaik mungkin. Aya pamit dulu, yah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak."
Orang-orang dahulu menikah, bahkan karena hanya menuruti orangtuanya. Ekonomi dan kesadaran pada masa itu, agaknya jadi cukup pemicu. Bukankah kita tak bisa lantas mengatakan mereka tak bisa hidup bahagia?
Lihatlah, berapa banyak orangtua di pedesaan pada zaman dahulunya yang menikah karena terpaksa? Tak sedikit bahkan yang menikah masih di bawah usia delapan belas tahun? Angka perceraian jarang ditemukan, meskipun tetap ada.
Orang-orang pada masa itu justru terkenal dengan banyak anaknya. Mungkin, karena masih memegang teguh, "Banyak anak, banyak rezeki."
"Apa mungkin selalu benar? Cinta dan benci sedemikian tipisnya?" gumam Naya berjalan perlahan sambil memerhatikan cincin di jemari manisnya.
"Enaknya ini cincin kulepas atau ndak, ya?"
"Hei!! Hayo lagi ngapain?" Niken, sahabat karibnya tiba-tiba mengagetkannya.
"Naya? Wah... cincin apa nih? Jangan bilang habis ada orang yang melamarmu. Hayo?" Niken menangkap basah Naya yang sedang memerhatikan cincin di jemarinya itu.
Naya sempat bingung akan berkata jujur atau berkelit. Namun, ia tak memiliki persiapan apapun untuk menyangkal pertanyaan Niken.
"Ssst.... jangan keras-keras, Nik. Kita bicara di tempat lain yang sepi," jawab Naya sambil menarik lengan Niken. Mengajaknya ke sebuah taman tak jauh dari sekolah.
"Nah.... kita di sini aja. Mumpung belum banyak orang."
"Emang kenapa sih? Segitunya mau jawab pertanyaanku? Jangan-jangan benar ini cincin lamaran? Ayo! Siapa tang melamarmu, Nay?" cerocos Niken.
"Ssst... sudah kubilang jangan keras-keras."
"Oh iya. Sorry... sorry..."
"Duduk yang tenang."
"Ok, Nona."
"Iya, Nik. Ini cincin lamaran. Cincin pertunangan. Sebelumnya, maaf banget aku gak ngabarin. Aku emang sengaja gak ngabarin siapapun. Please, tapi jangan buruk sangka dulu," tutur Naya.
Niken diam. Matanya mulai mengeluarkan berbagai warna curiga. Sempat, kecewa terlihat dari raut wajahnya.
"Ehm, sebenernya ini sulit dimaafkan. Sebagai sahabatmu, jelas aku kecewa. Momen seperti ini aku ndak dikabarin."
"Please.... dengerin aku dulu. Aku juga sudah bilang tadi, kan? Aku sengaja ndak ngabarin siapapun dulu. Tapi terserah kalau kamu gamau dengerin penjelasanku."
Naya hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, Niken menahannya.
"Sebentar. Aku emang kecewa. Tapi aku juga tak mau egois, dengan tidak mendengarkan alasanmu, Nay. Duduklah. Aku akan mendengarkannya."
"Baiklah."
"Sebenarnya... aku punya sesuatu hal."
"Sesuatu? Apa ini ada kaitannya dengan lamaran itu?"
"Ya. Aku terpaksa melalukan ini."
"Namun, aku teringat nasihat Ayah. Sebelum beliau meninggal. Aku juga bertekad untuk menikah nantinya, sesuai pilihan Ibu."
"Aku bahkan tak ingin mengetahui siapa orang itu sebelum pernikahan tiba."
"Meskipun aku mengetahui lebih dulu, saat pertunangan kemarin. Karena tak mungkin, aku tak mendengarkan nama calon suamiku di acara lamaran kemarin."
"Setidaknya, aku tak perlu menyimpan nama laki-laki terlalu lama. Aku tak ingin batinku terluka, melihat Ibu terluka dan marah."
"Kamu pasti tahu kan, Nik? Bagaimana aku kala itu menghadapi semuanya? Aku hanya punya Ibu sekarang."
Bulir mata hampir turun dari mata bulat Naya. Niken berusaha menenangkannya.
"Ssst... iya-iya. Aku mengerti. Apapun keputusanmu hari ini, lain kali tolong kabari aku. Aku merasa tak dianggap kalau seperti kemarin. Yah?"
Naya menganggukkan kepala.
"Maafkan aku, Nik."
"Ya sudah. Lupakan. Yang penting kamu sekarang sudah menerimanya bukan? Bukannya meskipun kamu sebut terpaksa, tapi kamu yang memutuskannya bukan?"
Naya menganggukkan kepala.
"Syukurlah. Itu artinya kamu bertanggung jawab penuh dengan segala konsekuensi pilihan ini. Benar kan?"
"Ya. Meskipun.... aku tak yakin kalau laki-laki itu...," ucapnya pelan.
Naya menjedakan ucapannya. Hal itu membuat Niken sedikit cemas dan mulai penasaran.
"Laki-laki itu siapa? Kenapa?"
"Laki-laki itu tentu lebih dewasa daripada aku, Nik. Sebenarnya... aku sangat bingung sekarang," ucapnya tersedu. Menahan sendu.
"Nay, kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Ya. Aku memutuskan hal ini dengan sadar, ko."
"Apa yang membuatmu begitu yakin?"
"Aku tak bisa mengatakannya sekarang, Nik. Maaf. Tapi, biarlah untuk hal ini jadi privasiku. Cukup hal tadi saja. Gapapa kan?"
"Yasudah, ndakpapa. Tapi kamu beneran yakin? Kamu akan melanjutkan ke pernikahan?"
"Doakan saja."
"Berapa lama sampai ke hari pernikahan?"
"Mungkin, paling cepat satu bulan."
"Aku cuma bisa support segala keputusan terbaikmu, Nay."
"Meskipun... mendengarnya sepeti mimpi."
"Ya. Aku juga kadang merasa seperti itu, Nik. Apakah aku sedang bermimpi? Kenapa hati ini seolah digerakkan untuk menyetujui?"
"Entahlah. Aku cukup tenang, ko. Hanya sedang bingung saja. Sebaiknya cincin ini tetap kupakai atau dilepas saja?"
"Hustt! Jangan dilepas. Ini justru bagus. Kalau dilepas bahaya!"
"Bahaya?"
"Ya. Kamu apa gak inget? Kamu ini seperti bintang sekolah. Banyak laki-laki yang tentu mengejarmu. Dengan memakai cincin ini, bisa jadi tanda kamu sudah diikat," tutur Niken menasihati.
"Tumben kamu rada bener, Nik."
"Ish... Niken gitu lho."
"Terus terus?"
"Ya... pokoknya tetap pakai aja. Bukannya kamu yakin dengan pilihan ini kan?"
"Oh ya, kamu inget temen kita dulu? Yang sok narsis itu?"
"Yang rambutnya ikal?"
"Yah! Itu kulihat dia ada perasaan sama kamu. Dengan pakai cincin ini, bisa jadi biar dia tak coba deketin kamu lagi. Pokoknya mesti terus dipakai. Yah?"
"Siap, Bu!"
"Serius, Nay."
"Iya, serius, Nik. Thanks, ya. Aku sebelumnya takut kamu kecewa."
"Ya tadinya juga kecewa. Tapi aku gamau kayak kita dulu. Mudah saling benci dan salah paham. Ini bukan saatnya kaya gitu lagi."
"Bagaimanapun, kita sudah selangkah jadi dewasa bukan?"
"Bijaknya sobatku."
"Udahlah. Yuk, masuk kelas!"
Naya dan Niken memang sudah lulus masa putih abu-abu, mereka berangkat hendak mengurus segala keperluan berkasnya.
Tak jauh dari tempat duduk Naya dan Niken di taman, ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi memerhatikannya. Rambutnya yang rapi lengkap dengan jasnya. Ia menarik garis senyum di wajahnya yang berahang tegas itu.
"Semoga kita lancar nanti, sayang."
Laki-laki itu, tak lain adalah Nata Najendra, seorang pengusaha muda yang sukses. Ia mengantarkan calon istrinya, memastikannya baik-baik saja.
Apakah perjalanan Naya dan Nata akan lancar di pernikahan nanti? Bagaimana pula kabar Genta?