Apakah Dia Laki-laki yang Baik?

1043 Words
Hari itu tiba. Hari dimana penantian jadi hal yang harus dilakukan. Apakah hari itu juga dinantikan kedua orang itu? "Sejak aku bertemu dengannya, hanya kebencian yang kurasa, dalam sekian bulan, takdir memerjalankanku menikah dengannya. Ya Rabb, apakah ini yang terbaik?" "Nak... kamu sudah siap?" "Iya, Bu." "Niken dimana?" "Tadi dia di belakang, Bu. Mungkin bentar lagi kesini." Baru saja dikatakan, perempuan berwajah ceria itu hadir dengan senyum sumringahnya. "Naya! Aku akan di sampingmu." "Bu..." sapa Niken sambil mencium tangan Ibunya Naya. "Nak... doakan Naya, yah?" pinta Kinanthi. "Iya, Bu. Aku akan selalu doain Naya yang terbaik." Dari jarak beberapa meter, suasana meriah memenuhi pandangan mata Naya. Berbagai tamu datang menyambut hari pernikahan itu. Hari pernikahan dua orang yang sama sekali tak tertebak akan menikah. Nata, laki-laki karismatik yang dikenal kaya dan sangat misterius di kotanya. Pintar, cukup diidolakan banyak perempuan di kalangannya. Meskipun begitu, Nata tak peduli segala hal tentang ketenaran. Setidaknya, itu pikir Naya. Entah takdir mana yang memerjalankannya menjalani pernikahan itu. Keyakinan, barangkali semacam energi terbesarnya memutuskan pilihan berat itu. Kabar pernikahan Naya dan Nata menjadi buah bibir hampir di seluruh kampung. Naya, siswa berprestasi yang populer juga sangat diincar para laki-laki di sekolahnya. Tak terkecuali Genta juga ada di sana. "Ya Tuhan? Apakah ini benar? Aku tak mimpi bukan?" gumam Genta, melihat Nata yang sedang bersiap mengucapkan ijab qabul di depan penghulu. Rambut Nata sedikit dipotong, hanya saja kini lebih nampak rapi. Rahang tegas dan hidung mancungnya padu padan ciptaan Tuhan yang sangat elegan. Matanya tajam tapi teduh. Hanya bibirnya yang cukup pelit untuk tersenyum. Ia terlihat monoton, jarang sekali nampak ceria. Entah apa yang membuat perempuan umumnya begitu tergila-gila pada sosoknya. "Nak... kamu terus berdoa, ya. Sebentar lagi Nata akan mengucapkan janji," pinta Ibunya. "Iya, Bu." Naya memandang Nata dari kejauhan. Wajahnya teduh, meskipun tak tersenyum. Ada aura berbeda yang dilihatnya hari ini. Bukan Nata yang terlihat menyebalkan saat pertama menjumpainya. Pun, bukan Nata yang terbayang seperti sosok kejam. "Ya Rabb, jika dia yang terbaik bagi dunia dan akhiratku, lancarkanlah. Ini semua demi Ibu." Gumam Naya seraya melihat Ibunya. Para hadirin dan tamu undangan juga mulai lebih khidmat. Menanti janji suci itu diikrarkan Nata. Nuansa berdebar itu barangkali merasuk siapa saja yang melihatnya. Kecuali Genta. Dia masih mematung kesal melihat realita itu. Gerutu di wajahnya kian kentara begitu Nata mulai mengucapkan ijab qabul. "Saya terima nikah dan kawinnya Nayanika binti Alan Syahputra dengan mas kawin dan perlengkapan sholat tersebut dibayar tunai," dengan lancar, Nata mengucapkan janji suci itu. "Bagaimana saksi, sah?" "Sah!!" "Alhamdulillah...." Doa dilantunkan penghulu dan diaamiinkan para hadirin yang datang di sana. Kecuali Genta, yang tak mengangkat tangan. Wajahnya kian beringsut kecewa. Ia masih mematung melihat suasana yang dibencinya itu. "Alhamdulillah, Nak. Sekarang kamu sudah sah menjadi istri Nata," ucap Ibunya. Naya menitikkan bulir mata. Entah, apa yang kini sedang dirasakannya. "Nak... kamu ndakpapa?" tanya Ibunya. "Naya ndakpapa, Bu. Naya hanya lega." "Syukurlah. Sekarang siap-siap, ya. Sebentar lagi kamu duduk di samping suamimu." "Iya, Bu." "Jaga dia baik-baik, Nak. Suamimu adalah pakaian bagi istrinya. Demikian juga sebaliknya." Sebuah nasihat yang sering Naya baca di novel-novel romance itu, kini ia dapatkan di kehidupan nyata. Ibunya dan Niken mengantarkan Naya duduk di samping Nata, begitu doa selesai dipanjatkan. Nata memasangkan cincin pernikahan di jemari Naya. Begitupun Naya yang memasangkan cincin pernikahan di jemari Nata. Naya memandang sebentar wajah suaminya. Tak lama kemudian menunduk khidmat. Mencium tangan suaminya. Sebelum Nata menyuruhnya mengangkat wajah, Naya tak menegakkan tubuhnya. Begitu Nata memberikan kode untuk menyudahi, Naya menegakkan tubuhnya kembali. Naya belum mengucapkan satu kata pun pada istrinya. Ia memandangi Naya. Beberapa saat kemudian, Nata mendekat ke wajah Naya. Ia mencium kening Naya dengan penuh khidmat. Seketika, hadirin dan tamu yang melihatnya, sontak membuat baper dan gemuruh "Wuuuuu so sweet." "Selamat!!" teriak salah seorang kawan Nata yang datang. Meskipun pernikahan itu begitu tiba-tiba, tapi tak menyurutkan kawannya hadir. Nata menengok ke sumber suara sekilas. Ia tersenyum berterima kasih melihat antusias teman-temannya yang turut hadir menyempatkan waktunya. Nata kembali ke hadapan Naya. Ia menatap mata Naya dengan tatapan penuh tanda tanya. Degup jantung yang kian terasa antar keduanya. Naya sempat menunduk, tapi ditegur Nata dan kembali mengangkat wajahnya. "Kenapa nunduk?" ucap Nata. "Nggakpapa." "Nay." "Ya?" "Terima kasih." Ucap Nata dengan senyum termanis yang baru Nata lihat dari wajahnya yang selalu tampak menyebalkan. Sebuah senyum yang membuat pipinya merona. Nata sempat menahan tawa melihat ekspresi Naya yang tergugu di dekatnya. "Kenapa nahan tawa?" ucap kesal Naya. "Udah, nggakpapa." Dari kejauhan nun di sana, Genta geram. Ia keluar dari barisan teman-teman seangkatan Nata. Nata pun melihat sosok Genta yang keluar. "Itu bukannya Genta?" tanya Naya. "Genta? Siapa dia?" "Ouh nggakpapa, Mas." "Kenapa dia keluar duluan? Bukannya belum ada ucapan selamat?" Nata meraih tangan Naya. Ia kembali memandangnya dan mengucapkannya dengan lembut. "Tanpa atau dengan ucapan selamat dari orang lain, yang penting pernikahan kita diridhoi Tuhan dan orangtua kita. Bukankah begitu?" Naya tak menyangka sosok yang semula dikira menakutkan, begitu terdengar bijak mengucapkan kalimat. Menuturkan kata-kata. Apakah ini bagian dari tanda-tanda dia memang laki-laki yang baik? Entahlah, Naya merasa tenang dan sangat tenang dengan ucapan Nata. Tak berapa lama kemudian, ucapan selamat mulai menyambut pasangan Nata dan Naya itu. Satu per satu mengucapkan selamat. Sesekali memotretnya. Mengambil momen bersama orang-orang berharganya. "Wooo!! Akhirnya sobat kita nikah juga!" Celetuk salah seorang rombongan laki-laki dengan beragam tampilan uniknya. Naya bercampur aduk dengan perasaan itu. Apakah dia harus senang karena apa yang dikawatirkan, tak terbukti? Apakah benar Nata ini adalah sosok laki-laki yang dikirimkan Tuhan untuk jadi pendamping yang terbaik? Sebenarnya, ia tak punya kuasa untuk mengetahui lebih sosok laki-laki yang kini sah jadi imamnya itu. Yang ada dalam benaknya adalah melihat Ibunya bahagia. Hanya itu caranya. Entah, apa sebenarnya alasan Nata mau membantu keluarganya dari jeratan hutang? Apakah benar niatan membantu atau ada hal lainnya? Kalaupun benar hanya membantu, bukankah ia tak perlu menikahi Naya juga? Bukankah ini seperti kisah-kisah klise seorang juragan yang memaksa korbannya menyerahkan anaknya untuk dijual? Digantikan dengan segala hutangnya yang sangat banyak? Sosok dan cerita seperti itu melekat dalam benak Naya. Meskipun, hal itu tak ia temui di diri Nata. Nata Najendra, laki-laki itu memang beberapa tahun lebih dewasa. Namun, tak ada tanda kekejaman dan sebagainya dalam wajahnya. Apakah benar? Apakah ini pertanda baik untuk kehidupan Naya selanjutnya? Bagaimana ia melanjutkan mimpinya untuk kuliah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD