"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya.
"Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?"
"Masalah? Aku merasa tak ada masalah."
"Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!"
"Baiklah. Makasih, infonya!"
Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya.
"Gimana, Genta? Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir."
"Serius?"
"Iya."
"Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?"
"Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu."
"Buru-buru?"
"Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu."
"Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.
***
POV Genta
Rumah ini pilihan Ibu
Dipilih karena batu-batu rindu
Sapulah karena waktu
Karena Ibu tahu kemana langkah waktu
Karena Ibu...
Rumah ini apakah juga pilihan Ayah?
Aku tak begitu mengenal ayah
Apakah ia juga mengenal payah?
Sebuah cacatan kecil kutulisakan. Entah, pikiranku begitu gamang. Bagi seorang laki-laki pantang membuat orang sekitarnya bersedih. Menangis. Menangis karena bersedih. Dan itu, semestinya jadi tanggung jawab utama seorang ayah. Seorang Bapak. Tapi, kemana Bapak dulu?
Dan tanggung jawab itu beralih ke pundakku. Tepat di sebelah kamarku, ada jendela kecil. Dari luar, terlihat bougenvil berbunga rimbunnya. Ibu suka merawat bunga—tampak jelas dari begitu senang dan rapinya bougenvil itu berbunga.
"Bu, apakah Ibu akan tetap merawat bunga meski tiada aku?"
"Apakah Ibu akan tetap baik-baik saja, kalau aku jauh?"
Pertimbanganku sudah cukup. Hari ini juga aku bicarakan ke Ibu. Akankah sesuai rencana, atau justru begitu tak terduga? Kuhentikan pikiranku terus bertanya. Aku segera menemui Ibu.
***
Kucari ia ke ruang tamu. Tapi tiada. Kembali ke belakang, ada suara di dapur. Dan benar, di sanalah. Kulihat dari belakang, setiap lakunya. Daster motif bunga dahlia yang warnanya mulai luntur dimakan waktu. Kenapa engkau tetap terasa baik-baik saja? Tak pernah sedikitpun mengeluh, Bu?
"Genta, kamu berdiri disitu ngapain?" Suara Ibu mengagetkanku.
"Eh, enggak, Bu. Nungguin Ibu masak."
"Sudah lapar, ya? Sebentar, ya. Ibu beres-beres dulu. Ini sudah matang, ko." Tuturnya lembut.
"Iya, Bu."
Aku segera duduk di tempat makan. Tempat makan ala kadarnya. Disusun dari kursi kayu yang dicat sedemikian rupa—agar terlihat baru. Taplak warna peach motif bunga kesukaan Ibu. Dengan warna meja yang juga dicat selaras dengan kursinya.
"Nak, bisa tolong Ibu bawain ke meja?"
"Iya, Bu."
Aku membawa beberapa mangkok. Ada sayur asem favoritku. Pun ada laun lainnya sebagai pendamping. Tak ketinggalan, ikan asin dan sambalnya—lengkap sudah.
"Waaah, enak nih."
"Oh, ya Sukma mana, Bu? Kok dari tadi gak kelihatan?"
"Ouh, tadi mau main ke temen, katanya. Belum selesai berarti. Nanti juga pulang." Kata Ibu sambil merapikan bajunya.
"Bu... sebenarnya ada yang mau Genta omongin."
"Kenapa, Nak? Lauknya ada yang kurang?"
"Bukan, Bu. Tapi... keputusan Genta."
"Keputusan apa, Genta?"
"Beberapa hari lagi kan Genta lulus. Kalau
Genta merantau, boleh? Genta sudah persiapkan syarat-syaratnya buat melamar pekerjaan di kota nanti. Jadi, saat sudah ada pengumuman lulus SMA, Genta pengin segera kerja di kota." Aku berusaha menuturkan dengan suara paling rendah.
"Genta, kamu serius? Kamu kan belum lulus, Sayang."
Aku mengangguk.
Ibu mematung melihatku. Entah, apa yang sedang dirasakannya. Wajahnya seakan memucat begitu saja. Dan... ia.
"Bu, Ibu kenapa? Ibu gak papa 'kan?"
"Kamu jangan tinggalin Ibu."
"Bu, tapi... ini demi Sukma dan Ibu. Siapa lagi yang bantu Ibu cari uang kalau bukan Genta? Ini sudah jadi tanggung jawab Genta."
Kubantu Ibu untuk bersandar di kursi.
"Ibu minum dulu, ya. Tenang... Genta masih di sini. Genta bakal tetap berkabar, Bu. Kan ada telepon Sukma. Ibu bisa kapan aja telepon Genta."
"Sedemikian susahnya kah kita sampai kamu harus meninggalkan Ibu?"
"Ibu... jangan bilang gitu. Genta cuma ingin merantau. Bukan pergi. Nanti juga kalau ada saatnya, pasti pulang. Sebentar lagi Sukma masih butuh biaya buat sekolah, Bu. Genta ingin melihatnya tetap sekolah. Tolong, ya. Ibu ijinin."
"Siapapun... tak ada Ibu yang rela jauh dari anaknya. Membiarkan anaknya pergi. Atas nama apapun."
"Ibu, Genta gak pergi. Cuma merantau buat cari uang. Biar Sukma bisa tetap sekolah. Biar Ibu gak pusing mikirin biaya Sukma sekolah."
"Kamu sendiri emang gak mau lanjutin kuliah?"
"Tentang itu... biar nanti saja, Bu. Sekarang ini, cukup Sukma dulu. Ibu doain biar disana lancar. Cepar diterima kerja. Dan bisa bantuin Ibu."
"Aamiin... Maafin Ibu ya, anakku. Karena Ibu kamu jadi harus jauh."
"Ibu, sudah. Bukan salah Ibu. Ini memang sudah tugas Genta buat bahagiain Sukma dan Ibu."
Akhirnya kuutarakan juga niatku. Meski begitu berat meninggalkan Ibu, tapi inilah pilihannya. Pilihan yang kupilih sendiri. Sebagai seorang laki-laki. Seorang Kakak. Yang juga menanggung tanggung jawab kepala keluarga. Menggantikan Bapak yang sudah tiada.
***
Aku melihat adik perempuanku mendekatiku.
"Kak, Kakak yakin akan betah kalau kerja di luar sana?" tanya Sukma
"Ehmm, gatau."
"Kakak, ditanyain. Lagian kenapa sih harus kerja jauh-jauh? Emang tidak ada kerjaan di sini? Sampe Kakak harus merantau ke kota? Hum?"
Entah apa yang sedang dipikirkannya. Nampak, kecemasan dan takut cukup terbaca.
"Adik perempuanku, jagain Ibu, ya."
Dia menganggukkan kepala.
"Kakak juga jaga diri baik di sana nanti. Kalau ada apa-apa, telepon Sukma. Kabarin. Oh ya, satu lagi."
"Apa?"
"Kalau gabisa masak sayur asem yang ada jagung mudanya, telepon aja. Nanti Sukma tanyain ke Ibu."
"Apaan sih."
"Ihh, Kakak. Hummm." Ia menunduk.
"Kenapa lagi?"
"Sebenernya Sukma masih gak ikhlas kalau Kakak beneran pergi."
"Kakak gak pergi. Cuma beda jarak aja nanti."
"Ya tetep aja jauh. Pergi."
"Bukan pergi. Tapi berangkat."
"Tau, Ah. Kakak bercanda mulu. Sukma kawatir juga."
"Ssssstt, makasih, ya sudah kawatirin Kakak. Sukma jaga diri baik aja di rumah. Dan juga jagain Ibu. Kalau ada apa-apa telepon Kakak. Ok?"
Ia mengangguk pelan. Seolah terpaksa.
Sore yang cukup dingin. Meski tetap lebih dingin segala apa yang kuingin. Barangkali, nasib memang sering membercandai ingin.
Ada yang dibiarkan seolah-olah tak tergapai. Hanya untuk kita lebih merasai apa itu keinginan yang kita ingin. Adakah yang terbaik? Adakah yang dibutuhkan? Atau hanya keinginan yang dipaksakan atas nama keegoisan?
Aku tak memilih memangku nasib. Entah bagaimanapun ia menukar-nukarku dengan berbagai pilihan. Menawariku untuk lebih banyak pilihan kehidupan, ia akan ada jika dijalani.
Ya, apapun itu... aku harus jalani.
Berharap segala doa dan semoganya—turut senantiasa menyertaiku. Kulihat bulir mata bersiap jatuh. Tapi ditahannya. Jadilah berkaca-kaca. Matanya bersinar oleh segala ketulusannnya. Aku bercermin pada mata yang jernih itu.
"Ibu, apakah aku sudah jadi anak laki-laki yang baik bagi Ibu?"
Ingin rasanya menangis. Tapi melihat Ibu, kujedakan segala tangis. "Laki-laki tak boleh menangis. Tapi cukup menitikkan air mata." Dan, air mata pun berusaha tak kualirkan jalan bulirnya. Kutahan segala sedihnya.
"Sukma, nanti jaga Ibu baik-baik di rumah, ya, kalau Kakak sudah pergi jauh. Kakak titip Ibu. Inget, harus nurut sama Ibu." Ucapku pada Sukma, sambil mengusap kepalanya.