(POV Genta)
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.
Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.
Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya.
"Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi.
"Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah."
"Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana."
"Kamu yakin?"
"Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama."
"Baiklah... hati-hati. Kabari Ibu kalau sudah sampai."
Kuyakinkan ayunan kaki. Meski ragu kian mengikuti. Barangkali memang benar kata penulis novel yang k****a. Jarak ragu dan yakin pun kadang hanya setipis benang saja.
Dan saat kita merasakannya, sungguh tak ada pilihan lain selain menjalankannya. Berusaha sekuat mungkkn. Itulah yang benar—yang baik untuk dilakukan.
Hari ini, aku berniat ke luar kota. Sekedar mencari hal baru dulu di sana. Sebelum nanti kuputuskan, akan benar-benar merantau.
Sebuah angkutan desa lewat tepat saat aku sudah sampai g**g perbatasan jalan raya. Ia seolah menyambutku. Siap sedia. Tak ada penumpang banyak di dalamnya. Hanya ada dua orang. Satu pedagang, terlihat dari barang bawaannya. Dan satu remaja yang entah mau kemana.
Sekitar lima menit angkutan ini melaju, ia beberapa kali berhenti. Bukan karena rutenya sudah sampai. Atau kendaraannya rusak. Tapi memang setiap melintasi yanh sekiranya ada orang menunggu di jalan—angkutan ini berhenti sejenak untuk menawarkan.
Angkutanku berhenti. Dua orang pemuda dan pemudi naik bersamaan. Mereka duduk di sisi kanan dan kiriku. Karena kebetulan, aku duduk di tengah bangku panjang. Yang tepian sisi kanan dan kirinyalah yang longgar untuk orang baru naik angkot.
Aku tersenyum biasa. Sebagaimana keramahan khas desa, yang ditebar pada siapa saja. Selebihnya, kulihat smartphone dan jam tanganku. Memastikan sampai di terminat, dengan tepat waktu. Aku tak begitu suka gaya meng-akrabi orang yang baru kenal. Meski kelihatannya di samping kanan dan kiriku seumuran, aku enggan mengajak mereka dalam obrolan.
Alhasil, aku hanya terus memantau smartphone. Mencari kabar kepastian jadwal tes, jadwal kapan sampai di Bekasi. Dan tentu... tempat awal untuk singgah pertamaku. Ya, aku menghubungi salah satu kenalan yang juga bekerja di daerah yang sama. Aku berkabar untuk memastikannya.
"Bro, gue lagi otw ke Bekasi. Mungkin, nanti sore sampai sana. Lo di kost-an 'kan?"
"Iya, kesini aja, Bro. Gue di rumah."
"Ok. Thanks, ya."
Tak ada kawatir yang menyelimutiku. Setidaknya berkurang satu demi satu. Dia adalah Kakak dari temanku. Sudah beberapa tahun bekerja di Bekasi. Meski belum diangkat sebagai karyawan tetap, tapi ia memilih tetap bekerja.
Sekitar beberapa menit lagi menuju terminal. Pemuda dan pemudi yang duduk di samping kanan dan kiriku, turun dahulu. Aku menarik ranselku yang agak turun dari pundak—merapikannya.
"Akhirnya bentar lagi sampai."
"Terminal ya, Pak."
"Siap, Mas!"
"Mau merantau, ya Mas?"
"Hehe niatnya begitu, Pak. Tapi ini mau cari-cari lowongan dulu di sana, Pak."
"Belakangan ini nyari kerja di desa memang susah ya, Mas. Ada juga jadi petani. Tapi kebanyakan mana mau panas-panasan jadi petani. Gengsi. Akhirnya pada ke kota semua."
Aku hanya tersenyum mendengarkan curahan sopir angkotnya.
"Masnya sendiri juga gitu? Kalau jadi petani gak mau?"
"Kebetulan memang belum punya sawah, Pak. Jadi merantau." Jawabku sekadarnya.
"Ouh, gitu. Saya doain semoga sukses ya, Mas. Jangan lupa pulang ke desanya kalau sudah sukses. Kasian, kalau gak ada anak mudanya."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Sampai, Pak. Suda...," ucapku.
"Ouh iya. Sekali lagi, semoga sukses kerjanya nanti, ya."
"Iya, Pak. Terima kasih" Aku tersenyum sambil membayar lima dua lembar dua ribuan yang sudah kusiapkan di saku jaketku.
***
Sesampainya di terminal, aku segera mencari Bus yang akan melaku ke Bekasi. Tepatnya ke Cibitung.
"Cibitung... cibitung...,"
"Surabaya... surabaya...,"
"Cirebon... cirebon... ." Suara teriakan menggema di terminal. Segera kupesan tiketnya terlebih dahulu. Sampai loket, aku memeriksa dompet di saku belakang celanaku.
"Hah? Dompetnya mana? kok gaada?"
"Kayaknya aku udah bawa dari rumah. Gak mungkin ketinggalan."
"Tadi pas bayar angkot, aku tak meriksa dompet. Tapi...,"
Kaget tapi berusaha tenang. Aku balik antri dahulu dari loket pembelian tiket.
"Maaf, .. dompet saya hilang. Ehmm."
"Terus gimana, Mas? Jadi pesan tiketnya?"
"Ada apa, Mas? Kecopetan, ya?" Seorang Bapak di antrian belakangku ikut bertanya.
"Iya, Pak. Saya sendiri bingung."
"Memangnya mau kemana?"
"Cibitung, Pak."
"Kebetulan searah. Mas pake uang saya dulu aja. Gampang nanti digantinya. Kasian, sudah sampai terminal."
"Eh, jangan, Pak. Ngrepotin."
"Sudah, gakpapa."
"Mba, pesan skalian dua, ya."
Seorang Bapak berjaket kulit coklat maju sejajar denganku. Membayar dua tiketnya.
"Ayo, Mas."
"Pak, Bapak kan ndak kenal saya. Kenapa mau bantu?"
"Gapapa. Kita kan sama-sama perantauan. Senasib." Bapak berjaket coklat itu menjawabnya dengan tenang. Ramah.
"Memangnya sudah berapa tahun merantau?" Ia membuka obrolan.
"Baru kali ini mau berangkat, Pak."
"Ouh, baru. Banyakin sabar, ya, Mas. Hidup di rantauan itu ndak mudah. Bapak sudah belasan tahun. Tepat seumuran Masnya dulu. Lulus SMA 'kan?"
"Iya, Pak."
"Iya. Jadi keinget pas muda dulu. Saya semangat sekali pergi merantau. Sampai saya sekarang ini, selalu nasehatin anak saya untuk gak merantau seperti Bapaknya."
"Lho, kenapa, Pak?"
"Ya karena saya sendiri sudah merasakan hidup di rantauan. Mau sesusah apapun, kalau bisa punya usaha yang gak jauh dari rumah, Mas. Itu anugerah tersendiri. Apalagi kalau nanti Masnya sudah berumahtangga. Pasti bakal ngrasain nikmatnya punya usaha yang bisa tiap hari berjumpa anak istri."
"Tidak seperti saya." Imbuhnya.
Aku mendengar seksama. Setiap obrolannya seperti nasihat seorang bapak kepada anaknya.
"Ah, Bapak? Bapak sebenarnya dimana?" Pikiranku beralih. Jadi cukup kacau.
"Bagaimana aku nanti? Seluruh uang saku yang kutaruh di dompet hilang sudah. Padahal kuprediksi untuk kebutuhan sebulan ke depan. Ya Allah, aku mesti gimana?" Keluhku memandangi jendela Bus kota. Di sampingku ada Bapak berjaket coklat tadi.
"Eh, iya. Masnya namanya siapa? Trus gimana tadi? Kenapa bisa kecopetan?"
"Ouh, iya. Saya Genta, Pak. Saya sendiri gatau kenapa bisa hilang dompetnya. Darirumah tadi naik angkot. Mungkin, kecopetan di angkot."
"Nama yang unik. Yang sabar ya, Mas."
Aku mengangguk.
"Bapak sendiri, dengan Bapak siapa?"
"Saya Rusmadi, Mas. Ada yang panggil Pak Rusmad, ada juga yang panggil Pak Adi. Terserah saja gimana enaknya."
"Sebelumnya makasih ya, Pak. Sudah bantu saya tadi."
"Gapapa, Mas."
"Ehm, maaf sebelumnya. Saya benar-benar gatau mesti bayar dengan apa. Karena memang semua uang yang saya bawa di dompet yang hilang itu, Pak. Kalau boleh, saya minta nomor hpnya Bapak. Biar nanti pas saya sudah kerja, saya ganti, Pak."
"Tak usah dipikirkan, Mas."
"Ini saya kasih nomor hp buat silaturrahmi saja, ya. Siapa tahu nanti ketemu kembali di sana. Soal uang tiket, gampang nanti. Tenang saja."
"Makasih ya, Pak Adi." Aku terus berterimaksih pada orang di sampingku ini.
"Kalau boleh tau, di sana mau baru cari kerja atau sudah ada panggilan?" Kembali, Pak Adi membuka obrolan. Sedikit banyak meredakan kegamanganku karena dompet yang hilang.
"Belum, Pak. Mau cari lowongan kerja dulu di sana. Sekalian main. Liburan. Biar segera nanti berkerja seperti Bapak."
"Aamiin. Tapi jangan seperti saya. Kalau bisa, pas sudah punya modal cukup, bikin usaha sendiri di rumah. Jadi pas sudah dapat uanh, terus belajar apapun. Biar punya kemampuan. Kata orang sekarang, biar punya skill."
Aku tersenyum menanggapi.
"Itu, di sana, Mas. Lihat...," Ia menunjuk deretan pedagang kaki lima yang melintas—dan terlihat dari jendela kaca Bus.
"Kelihatannya remeh. Pedagang kaki lima. Dagang gorengan, bubur ayam, dan lainnya. Tapi jangan salah, Mas. Kalau dihitung, gajinya bisa tiga kali lipat dari saya. Bahkan kalau sudah benar-benar laris, gaji karyawan tetap. Itu dia yang saya maksud, Mas."
"Bapak sendiri pernah kepikiran buka usaha seperti mereka?"
"Pernah, Mas."
"Trus, gimana?"
"Bangkrut. Saya masih perlu banyak belajar lagi, Mas. Akhirnya ya gini sampai sekarang, tetap bekerja meski bukan jadi karyawan di perusahaan-perusahaan. Tetap saja namanya kuli, Mas."
"Makanya saya kalau lihat anak muda seperti Mas ini, rasanya ada penyesalan tersendiri. Kenapa tidak dari dulu belajar ketrampilan, bikin usaha. Jadi kalau pun bangkrut, masih muda. Masih panjang waktunya. Beda lagi kalau sekarang. Kalau bangkrut, anak istri makan apa?"
Lagi, aku hanya tersenyum. Menyimaknya penuh seksama.
Pak Adi. Hari ini kutemui pelajaran kehidupan begitu berarti. Sebuah langkah awal tak terduga. Penuh rintangan. Masalah sudah menyambutku bahkan saat aku belum bekerja. Apakah ini artinya? Aku sempat bersuudzon kepada-Nya, tapi tak kubiarkan.
"Ya Allah, apapun nanti yang terjadi di sana. Ridhoilah usahaku. Aku seorang pria. Ada tanggung jawab pada Ibu dan Sukma. Berkahilah untuk mereka." Desirku.