Dengan sepuluh orang lainnya, Viola ditugaskan untuk bahu-membahu dibagian dapur, memasak makanan untuk puluhan orang untuk seharian tiga kali makan, besoknya lagi akan diganti dengan siswa-siswi lain yang bertugas memasak.
"Vi, iris nih sayurannya!" perintah Angel menunjuk satu wadah besar berisi berbagai macam sayuran, padahal Viola sedang mengaduk nasi dalam panci besar.
"Lo aja, punya tangan kan lo!" tentang Viola berani.
"Lo berani bantah ya! gue aduin Bu Grace tau rasa lo!" sungutnya menunjuk-nunjuk Viola.
"Dahlah lo anak pindahan nurut aja, kita senior di sini!" bela Caca---sahabat Angel---bersedekap tangan.
"Kenapa harus? gue ngerjain ini, lah elo nggak ngapa-ngapain merintah-merintah mulu kerjaan lo!"
Mereka yang ada di dapur hanya bisa melongo melihat keberanian Viola yang tak terduga, karena selama ini Angel tak terkalahkan.
"Ngelunjak ya lo dibilangin baik-baik!" bentak Angel mendekat ingin menjambak rambut Viola, namun dihentikan oleh Nathan.
"STOP! STOOOP!" pekiknya di tengah-tengah keributan yang hampir terjadi. "Apa-apa'an sih kalian ini? Nggak ada kerjaan apa? Udah tau banyak kerjaan malah berantem, pasti lo kan yang cari gara-gara, Ngel!" hardik Nathan.
"Tuls!" ucap Viola menyeringai, mengiyakan perkataan Nathan.
"Kok lo nyalahin gue, ya salahin si anak baru ini lah, kenapa dia nggak nurut gue suruh motong sayur!" ujar Angel memalingkan muka.
"Iya, dianya aja yang ngeselin!" bela Caca lagi.
"Udah-udah, kalian cepet beresin, dan lo Angel, Caca, kalo kalian nggak bisa bantu-bantu di sini mending bantuin gue pasang peralatan buat outbond, ayok!"
"Oke, siapa takut, males juga di sini, ntar kuku-kuku gue yang cantik ini bisa patah, oh, nooo!" rengek Angel sambil melangkah pergi mengikuti Nathan.
"Iyaps, betul!" celetuk Caca.
Mereka bertiga pergi meninggalkan tenda dapur, Viola dengan delapan orang lainnya akhirnya bisa fokus memasak tanpa dipenuhi drama.
Makanan sudah siap diwadah-wadah saji, dan waktunya sarapan. Pak Luki menyuruh semua anak didiknya untuk bergantian makan, mengantre di depan tenda dapur. Sedang mereka yang bertugas memasak tadi lima orang membantu mengambilkan nasi, sayur dan lauk tersebut.
Saat semua sudah kebagian makanan barulaha Viola mengambil makan, ia bergabung dengan Elora dan Olin. Tak lama setelah itu datang Jonathan dan dua anak buahnya.
"Gue ikutan boleh, kan?" tanyanya.
Tak ada yang menjawab, ketiganya saling melempar pandang dan dia dengan percaya dirinya duduk di atas kayu besar di samping Viola. Mereka jadi tak enak makan, Viola jadi tak berselera makan, karena Jonathan terkenal sebagai pembuat masalah, dia akan mengganggu orang yang tak disukainya.
"Ayo makan lagi, kenapa berhenti?" tanya Jo lagi, menyuap nasi ke mulutnya. Viola bangkit membuat mood makannya hilang. Ia melangkah pergi menuju tendaa untuk mencuci piringnya bersama El dan Olin.
"Lo sabar aja ya, Vi," saran Olin menepuk pundak sahabatnya.
Viola mengangguk, ia mencuci piring bekas makannya lalu setelahnya kembali ke tenda. Mereka berganti pakaian karen setelah ini akan jelajah alam.
Beberapa saat kemudian.
Mereka semua berjalan menyusuri jalan setapak, hanya membawa ransel kecil untuk menyimpan minum dan barang penting lainnya. Ada tugas untuk masing-masing kelompok untuk diselesaikan, perjalanan mereka tentunya tak mulus, ada banyak rintangan yang harus dilalui untuk berhasil kembali lagi ke tempat perkemahan.
Viola dikelompokkan dengan Elora, Max, Angel, dan Gracia. Sedangkan Olin dengan Caca dan tiga orang lainnya, kelompoknya terbagi menjadi sepuluh kelompok. Para guru akan menunggu di tempat api unggun kemarin, siapa yang menang akan mendapatkan sejumlah uang sebagai apresiasi.
Mereka semua berangkat, kelompok Viola dipimpin oleh Max yang berjalan dahulu di depan, diikuti Angel, lalu Viola, Elora dan terakhir di belakang sendiri Gracia. Viola sangat risih melihat Angel terus berusaha mencari perhatian Max, memegangi lengannya menggelayut manja, namun Max selalu menepis itu, dan akhirnya ia kesal dan berhenti berjalan. Mungkin sebagai aksi protesnya, mogok berjalan ... sangat kekanak-kanakan.
"Nggak lucu, Ngel. Cepetan jalan!" protes Max, Angel pasti sedang terbang membumbung tinggi diangkasa karena rencananya berhasil, membuat Max membujuknya. Dengan sombongnya ia bersedekap, memalingkan muka dan memainkan sepatunya itu.
"Bisa nggak sih jangan kayak bocah!" bentak Viola jengah.
"Jangan ikut campur ya lo!" balas Angel tak kalah sengit, melotot ke Viola.
Viola memutar bola mata malas melihat tingkah si ratu drama, ia mengajak Elora berjalan karena masih banyak misi yang menunggu.
"Lo berani banget, gue bangga sama lo, Vi." Elora bertepuk tangan, senyum mereka merekah.
Ada tanda panah ke kiri dan mereka berbelok ke kiri mengikuti arahan tanda panah dari kayu tadi, setelah berapa menit berjalan, mereka dihadapkan dengan pohon besar menjulang tinggi, sangat rimbun dan akar-akarnya menjuntai ke bawah, tak bisa dibayangkan betapa menyeramkannya saat malam hari.
Ada kotak seperti kotak pos di sana, Viola dan Elora mendekat untuk mencari tahu. Saat keduanya akan menyentuh untuk membukanya ...
"VI!" teriak seseorang, dan tak ada orang saat keduanya menoleh, Elora mendekat ke Viola lalu memegangi lengannya takut-takut. Mata mereka mengawasi sekeliling.
"Viola!" teriak seorang lelaki yang tak asing dipendengaran.
Viola segera membuka kotak itu, mengambil satu amplop dan mengambil selembar kertas berisi petunjuk, membacanya lirih.
"Temukan botol yang berada dalam tanah di sekitar akar pohon besar"
"Viola!"
Mereka menoleh dan ternyata muncul Max, Angel dan Gracia. Jantung yang semula berdetak kencang sekarang mulai kembali normal. Keduanya bisa bernapas lega, mereka mendekat lantas Angel meraih kertas yang dipegang Viola.
Setelah membaca sekilas, Angel menyerahkannya pada Max, ia menatap Viola sinis, seperti punya dendam.
"Yuk kita cari sama-sama," ucap Max kemudian, mencairkan suasana yang membeku.
"Yuk," timpal Angel mengikuti Max. Viola dan Elora serta Gracia mencari di titik berbeda. Mereka mengais-ais tanah, sedangkan Max memungut ranting dari dekatnya berjongkok, digunakannya untuk menggali tanah dan beberapa menit kemudian ia menemukan botolnya.
Max membuka botol itu mengambil gulungan kertas dari dalamnya, membaca isinya.
"Pergi ke arah timur, temukan rumah pohon"
"Semuanya! Ayo kita cabut!" seru Max bangkit lalu melangkah pergi diikuti Angel yang tersenyum sinis, menatap remeh Viola dan yang lain.
"Apa sih tuh orang, songong banget!" gumam Elora.
"Palingan liat uler juga nangis!" katanya kesal, Gracia sudah mengikuti Max. Vi dan El yang tertawa lalu mempercepat langkah agar tak tertinggal.
Mereka terus berjalan, tanpa ada percakapan dan beberapa menit kemudian menemukan rumah pohon yang dimaksud dalam lembaran petunjuk.
Krusek-krusek Krasak Krusuk
Suara-suara dedaunan kering dan ranting kering yang diinjak jelas terdengar, sukses membuat jantung mereka berpacu lebih cepat, anehnya tak ada yang nampak, hewan ataupun manusia.
"Alah, pada takut kan lo pada!" ucap Angel dengan sombongnya.
Tak ada yang menanggapi ucapannya.
"Sana lo naik, biar nggak jadi beban doang di grup kita," perintah Angel tiba-tiba saat semua sudah berada di depan rumah pohon.
Pohon tersebut lumayan tinggi, rumah pohonnya berukuran sedang, berada ditengah-tengah cabang batang besar. Viola mendekat ke pohon, bersiap memanjat karena ia merasa tertantang omongan Angel.
"Nggak usah naik, biar aku aja," cegah Max menarik lengan Viola.
"Nggak, gue nggak kaya dia yang banyak drama, banyak gaya, bisanya cuma nyuruh-nyuruh doang! kali ini gue yang cari petunjuknya!" ujar Viola kesal. Ia menaiki pohon, kakinya menapak pada tangga dari kayu yang dipaku pada pohon. Tak ada pegangan di samping kiri maupun kanan, jadi cukup untuk memacu adrenalin.
Satu ... dua ... tiga ...
Saat hampir sampai, Viola hampir terpeleset namun tak jatuh, semua yang ada di bawah khawatir.
"Ati-ati, Vi!" seru Elora cemas.
Viola masuk ke rumah pohon lalu mencari sesuatu, matanya mengedar ke seluruh penjuru, dan berhenti pada kantong yang terbuat dari karung goni tergantung didinding kayu, ia merogoh dalamnya, mengambil satu amplop.
"Yes, ketemu," ucapnya lirih.
Ia menatap bawah bersiap turun, menunjukkan amplop dalam genggamannya. Mereka tersenyum, tidak dengan Angel, bibirnya manyun. Viola balik badan lalu bersiap turun, satu persatu kakinya turun, namun saat kakinya ingin menginjak tangga ketiga, kakinya terpeleset dan jatuh dari atas. Mereka semua refleks berteriak.
"Viiii!"