Sisi Baik Max

1069 Words
Viola menerka-nerka sambil terus berjalan mendekat ke tenda perkemahan, mereka yang melihat kedatangan Viola langsung menghampirinya, untuk menanyakan keadaannya, wajahnya sedikit pucat, pandangannya kosong. "Vi, lo nggak papa kan?" tanya Elora dan Olin kompak, mencemaskan sahabatnya. Olin mengguncang-guncang bahu sahabatnya, agar lekas sadar karena Viola terlihat aneh sekali. "Lo kenapa?" tanya Olin lagi. "Lo nggak papa kan, Vi?" sahut Elora. Viola terkesiap, sadar kalau ia sudah berada di tengah-tengah mereka, menampilkan senyum paksanya. "Gu-gue gak papa, gue mau istirahat boleh, kan?" "Ka-kamu pulang sendiri? kamu bisa tersesat gimana, Vi?" tanya Pak Luki dengan napas terengah-engah, rupanya ada Nathan dan teman laki-laki lainnya yang mendekat dengan bercucuran keringat. "Lo balik ama siapa?" "Ih, caper pake ngilang segala, padahal bisa balik sendiri!" "Iya, ish greget!" "Caper, anak baru makanya banyak tingkah, liat aja ntar." Suara-suara dari belakang mengganggu pendengaranku. "Sa-saya, ketemu Max di dalam, Pak," ucap Viola jujur. "Ooh ... jadi Max yang nemuin kamu?" cerca Pak Luki. "Emm ... bukan-bukan, Pak." "Gak sengaja, Pak. Tadi masuk ke hutan, eh, dia ngelamun jadi saya ajakin balik, ngapain sendirian di hutan," tampik Max menutup-nutupi faktanya. "Ooh, jadi penyelamatnya si Max ..." kata beberapa orang lirih, namun terdengar jelas ditelinga Viola. "Yaudah, kamu boleh istirahat, Vi," ucap Bu Grace menuntun Viola menuju tenda mereka. Viola mengangguk, diikuti Elora dan Olin, mereka semua bubar karena acara api unggun akan segera dimulai. "Mau ibu temenin?" tanya Bu Grace saat sudah berada di depan tenda. "Ng-nggak usah, Bu. Ada Olin dan El kok yang nemenin," jawab Vi. "Oh, yaudah. Kalo ada apa-apa cari ibu atau guru lain ya?" "Iya, Bu ... makasih," kata mereka bertiga kompak. Mereka lantas masuk ke dalam tenda dan Olin juga Elora menanyakan kebenaran yang disembunyikan Viola. "Gue ambilin makan yah?" ucap Elora menawarkan hal yang tak tepat. Viola menggeleng lemah, lalu ia mengambil peralatan mandi dalam tasnya. "Anterin gue mandi yuk." "Cerita dulu, lo kenapa aneh gitu?" "Aneh gimana?!" "Ya aneh, tatapan lo kosong tadi, dan diem ... pucet gitu," jelas Olin. "Nggak, nggak papa," elak Viola bangit, membuka tenda. "Vi!" seru sahabatnya ikutan keluar. Viola mengedarkan pandang ke sekeliling, mencari toilet dan penglihatannya menangkap bangunan jauh nan di sana yang mungkin benar itu toilet karena ada yang keluar masuk dari sana. Viola yang tak kenal takut melangkah menuju toilet untuk membersihkan diri, kayu bakar sudah dinyalakan, sebentar lagi api unggun besar akan menghangatkan badan mereka yang menggigil kedinginan. Elora dan Olin menemani Viola yang sedang di toilet, Elora memakan camilan dengan santainya, kunyahannya menimbulkan suara berisik. Olin juga mencomot sedikit makanan yang dipegang Elora. Viola sudah selesai dari toilet mengajak keduanya kembali ke tenda. Sesampainya di sana Elora dan Olin nampak girang karena api unggun sudah menyala, apinyaberkobar-kobar. Mereka semua mengelilingi api, menyanyikan lagu serempak. Viola yang melihat itu jadi kasihan. "Kalian gabung aja, aku nggak papa," ucap Vi tiba-tiba. Mereka saling lempar pandang, antara ingin dan tak tega. Viola mengangguk tanda benar-benar tak perlu dicemaskan. "Ayok kita ke sana bertiga, Vi," bujuk Olin. "Gue capek banget, pengen rebahan," balas Viola. "Gimana, El?" tanya Olin pada Elora. "Yaudah kita gabung aja ke sana, biar Viola bisa istirahat, nggak lama juga kan?" "Iya kali, nggak tau sih." "Udah, kalian nikmatin malam, aku juga mau tiduran, rasanya capek." "Yaudah, kita tinggal ya ... kalo ada apa-apa langsung teriak aja, kita pasti denger," imbuh Elora. "Iya-iya," balas Vi. Akhirnya mereka meninggalkan Viola sendiri, ia langsung menutup tenda dan membaringkan tubuhnya dikantong tidur. Viola merasa sedikit bersalah karena pernah membenci Max terlalu berlebihan, nyatanya Max lah yang menyelamatkannya tadi. Dan bagaimana caranya dia bisa menemukan dirinya semudah itu, tanpa membawa senter atau apapun ... sungguh aneh. Nathan ... Nathan juga ikut mencari dirinya, namun idolanya itu tak menemukannya, padahal mereka beramai-ramai dan membawa senter besar. Pikiran itu terua mengganggu Viola, ia tak bisa tidur karena terus memikirkan itu. *** Kokokan ayam tak terdengar ditelinga, hanya suara benda dipukul yang begitu berisik, yah mungkin kakak kelas yang memukulnya menyuruh adik kelasnya bangun. "Bangun! Bangun-bangun!! ini kemah jangan molor terus woy!" teriakan lelaki terdengar. Viola duduk mengumpulkan nyawa, Olin juga ikut duduk, sambil mengucek matanya, sedangkan Elora ia sama sekali tak terganggu dan masih tidur pulas. Keduanya lantas membangunkan El lalu pergi ke kamar mandi untuk bebersih diri. Di sana, di depan toilet antrean mengular, dengan terpaksa harus menunggu walau sudah ingin buang air kecil. "Aduh, gue udah nggak tahan, nih," ujar Olin menyilangkan kakinya, membuat Olin dan El tertawa. "Mau gimana lagi? Oh ... atau ke semak-semak aja?" usul Vi tersenyum, mengacungkan jari telunjuknya karen sepintas ide itu muncul. "Gak ah! Gila!" balas Olin memukul lengan Viola. "Lha terus gimana?" "Ada sungai kek, parit kek, apa itu tolong ada yang ngasih tau gueee ..." rengeknya, mungkin benar-benar diujung tanduk. Tak lama datang Max, Viola sedikit kaget karena jantungnya berpacu kencang, biasanya jantungnya akan berdegup kencang jika dia melihat Nathan. 'Mau ngapain nih anak, jangan-jangan' batin Viola menatap Max malu-malu. "Yuk, di sana ada sungai kalo mau gue anterin," ucapnya dingin namun membantu. "Iya, yuk anterin, ayok Vi, El!" ajak Olin langsung mau-mau saja, terpaksa El dan Viola mengikuti keduanya. Langkah Max begitu cepat, Viola dan Elora kewalahan, tertinggal agak jauh, sedangkan Olin berhasil menyamakan langkah karena Olin juga tinggi, jadi langkahnya pun lebar. "Ayok cepet!" ucap Olin melambai-lambaikan tangannya ke Vi dan El. Elora berhenti, menumpu setengah bobotnya dilututnya. Napasnya ngos-ngosan, sedang Viola ia bingung. Karena jika tak berjalan akan kehilangan jejak, dan tak mungkin ia meninggalkan Elora sendiri karena kelihatannya El sudah lelah sekali. "Ayok, El, bentar lagi nyampe," ucap Vi menyemangati. "Huft ... huft ... huft!" El menegakkan badan, melangkah perlahan agar tak tambah lelah. Dengan perjuangan penuh, akhirnya mereka sampai disungai jernih dan lebar. Ada air terjun juga di ujung sana, sangat indah. Lelah mereka terbayarkan melihat air terjun tersebut, senyum mereka mengembang. "Gue balik ya? tau kan jalan pulang?" kata Max pada Olin dan Viola. "Ta-tau," jawab Vi terbata karena ia seperti tak mampu berkutik di depan Max. Max melangkah meninggalkan ketiganya, Vi menatap punggung Max yang semakin menjauh. Olin yang muncul dari balik batu tersenyum lebar. "Legaa, hehe," ucapnya. Mereka lalu mandi, bersembunyi dibalik batu besar, saling bergantian hingga semuanya selesai dan ingin melangkah pergi dari sungai, Max tiba-tiba sudah muncul saja. "Cepetan, semua udah nungguin kalian," ucapnya dingin. "Okee ... Max," balas Olin. Viola terus bertanya-tanya dalam benak, padahal ia terus mengawasi sekitar saat menunggu Elora mandi, namun tiba-tiba Max muncul begitu saja seperti hantu, dia manusia atau hantu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD