"Dasaarrr! Sini lo balik ke siniii! gue buat perhitungan sama lo!" teriak Viola keras, namun nyatanya suaranya sama sekali tak terdengar sampai telinga Max. Ia melajukan motornya lagi, membelah jalan yang diterpa hujan deras bercampur angin. Viola mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah, ia duduk sendirian di halte. Menunggu ojek atau angkutan umum barangkali ada yang lewat di depannya.
Ia teringat, lupa mengamankan ponselnya agar tak terkena air hujan. Untung saja ada kantong plastik yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga disaat tamu bulanan datang. Ia membungkus ponselnya dengan kantong plastik tersebut lalu memasukkannya kembali keranselnya. Duduk kembali menunggu, setelah beberapa menit kemudian berhentilah motor sport didepannya. Sang empunya turun lalu menghampiri Viola. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar hangat. Menempelkan ke pipinya sesekali.
"Kalo ujan-ujan gini gak ada angkutan umum yang lewat, apalagi ojek. Yuk aku anterin pulang," ajak Nathan sedari tadi berdiri setengah meter di depan Viola.
Viola takut namun tetap berpikir positif, bagaimana jika ia terjebak sampai larut malam di sini? Tak bisa dibayangkannya ia menunggu sendirian di halte. Apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti hal yang sama akan ditawarkan oleh orang lain juga, entah benar membantu atau hanya memanfaatkan kesempatan. Lagipula dia yang membantunya tadi siang. Dia tepis pikiran negatif.
"Aku nggak bakal macem-macem sama kamu tenang aja," imbuh Nathan seperti tahu apa yang dipikirkan Viola.
Sekilas ia melirik nama yang tertera di d**a kanan seragamnya. "Nathan F."
"Iya, makasih ya ... Na-than," ucap Viola ragu-ragu.
"Yuk naik, keburu hujannya tambah deres lagi."
Nathan bersiap memacu motornya dan Viola segera naik ke atas jok motornya. Hujan bertambah deras, ia melajukan motornya sangat hati-hati takut tergelincir karena air hujan juga mengalir ke jalan aspal.
Viola mendekap tasnya takut buku pelajarannya basah, hening tak ada pembicaraan serius hanya suara deru mobil dan motor yang menyalip mereka.
"Pegangan aku boleh kok, nggak ada juga yang bakal marah," ucap Nathan tiba-tiba, Viola tersipu malu, dadanya berdebar tak karuan, seperti ribuan kupu-kupu mengelilinginya saat ini juga.
"Eem, iya," jawabnya sambil mengulurkan satu tangan untuk memegang seragam Nathan dibagian pinggangnya.
Suasana berubah romantis, di bawah guyuran hujan Viola tersenyum-senyum sendirian setelah berpegangan pada Nathan.
"Terus ke mana sekarang?" tanya Nathan menghentikan motornya di pinggir jalan bercabang menunggu jawaban Viola.
"Eh, ehm ... belok ke kanan sana, terus lurus rumahnya ngelewati kebun," kata Viola sedikit berteriak karena hujan belum juga reda.
Nathan mengangguk lantas melajukan motornya lagi berbelok sesuai arahan Viola.
Beberapa menit kemudian.
Viola turun dari motor diikuti Nathan mengekor di belakangnya. Sang Nenek---Rose---dari dalam mendengar motor berhenti langsung keluar untuk menghampiri Viola yang basah kuyup akibat menerjang hujan deras.
"Aduh, Naak ... kamu basah kuyup, ayo ganti dulu bajunya," ucap Neneknya merangkul cucu semata wayangnya.
"Ehm, Nek. Ada Nathan kedinginan juga," balas Viola menoleh ke belakang saat akan dibawa masuk ke dalam rumah, keduanya berhenti melangkah.
"Eh, iya. Nenek hampir lupa, bentar nenek ambilin handuk, kamu jangan pulang dulu ya ...." Nenek masuk sedang keduanya berdiri canggung saling tatap sesekali.
"Eh, ini, Nak. Kamu pakai keringkan rambut terus ini teh hangat untuk kamu," ujar Nenek sambil menyerahkan handuk dan segelas teh hangat.
"Kamu kok masih ada di situ sih, Nak? Sana buruan mandi ato ganti baju!" usir Nenek menatap Vi tajam.
"Hehe, iya-iya, Nek," balas Viola melangkah cepat ke dalam rumah sebelum Neneknya murka.
Keduanya tersenyum saling pandang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Yaudah kamu lanjutin minum tehnya ya, Nak. Nenek masuk dulu,"
Baru saja Nenek melangkah menuju pintu, Nathan mengejutkannya.
"Maaf, Nek. Saya izin pamit pulang, maaf merepotkan Nenek dan terima kasih teh juga handuknya," ucap Nathan berdiri, Rose balik badan mengurungkan niat untuk masuk rumah lalu kembali lagi mendekat ke arah Nathan.
"Belum juga habis, hujannya juga belum reda, kenapa nggak nanti aja? nenek makasih banyak sama kamu karna udah nganterin Viola, makasih banyak, Nak," ucap Nenek seraya menerima handuk basah dari tangan Nathan.
Nathan dan Nenek sama-sama tersenyum.
"Nanti keburu petang saya dicariin orang tua, Nek. Saya pamit dulu."
"Yaudah, hati-hati dijalan, Nak!" seru Nenek menatap kepergian Nathan.
"Nek, Nathannya mana?" sahut Viola tiba-tiba muncul dari pintu, ia mencari-cari Nathan sambil memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang habis keramas.
"Ah, kamu tuh telat, Nak. Dia siapa? calon pacar?" tanya Nenek menggoda dengan menjawil hidung cucunya.
Pipi Vi merah merona, ia tak mengiyakan ataupun menyangkalnya karena tak tahu kedepannya seperti apa, ia sedikit merasa bersalah karena belum mengucapkan terima kasih namun Nathan sudah pergi.
"Besok juga ketemu lagi, yuk masuk," ajak Nenek berjalan dahulu masuk ke dalam rumah, Viola menurut meski seperti tak mendengarkan perkataan Neneknya.
***
"Vi, kamu kemarin pulang naik apa?" tanya Elora diiyakan Olinda yang menghadap ke belakang, ke bangku mereka.
"Eemm ... a-aku di-anter Na-than," jawabnya gugup.
"What?!" tukas keduanya membelalakkan mata tak percaya.
"Nathan, ketua OSIS bukan?" tanya Olin menggebu.
"Eem ... aku nggak tahu dia OSIS apa bukan, namanya Nathan F ..."
"Fix! Nathan kan cuma 2 di sekolah kita, gila ... lo keren!" sahut Elora mengacungkan dua jempolnya yang gendut.
"Aaah, gue iriii ama looo ..." rengek Olin menunduk lesu.
"Lah, kalian kenapa sih?" tanya Vio benar-benar tak mengerti.
"Nathan itu idaman cewek-cewek di sekolah, dan nggak ada isu dia pacaran atau nerima cewek yang nembak dia, lah sekalinya lo dateng, dia malah udah nganterin lo pulang tanpa lo perlu ngejar-ngejar dia, lo udah menang sebelum berjuang," jelas Elora panjang lebar, bertepuk tangan ria. Sedangkan Olin berakting menangis, mengelap air mata gaib dengan tisu sakunya.
"Pagi anak-anaak ..." seru Bu Guru Lisa masuk ke dalam kelas setelah bel masuk berbunyi.
"Pagii, Buuu ....!" sahut mereka semua dengan antusias.
"Mari berdo'a dulu, ketua kelas pimpin do'a," imbuhnya.
"Mari berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdo'a mulai ... berdo'a selesai," ucap seorang laki-laki duduk dibangku deretan kiri.
"Baik, sekarang keluarkan buku paket kalian halaman 58, baca dan pahami lalu kerjakan lima soal dibuku kalian!" seru Bu Guru Lisa lantang, ia menuliskan inti materi dalam pelajaran dipapan tulis.
'Kenapa gue mikirin dia ya? jangan-jangan ini ... cinta?' batin Vi sumringah, seperti menghirup angin segar.
"Vi? Viola? kamu bisa dengar saya bicara?" tanya bu guru dari depan.
Elora menendang pelan kaki Viola berkali-kali, namun teman sebangkunya itu tak juga sadar dari lamunannya malah sekarang tersenyum-senyum sendiri.
"Viola!" seru Bu Guru lantang.
Vi terkesiap, ia sadar lantas menatap depan dan terkejut.
"Ke sini kamu!"
Viola bangkit dan berjalan ke depan, ia sangat malu karena tindakannya yang ceroboh, saat jam pelajaran berlangsung malah ketahuan melamunkan Nathan.
"Kamu berdiri di sini, biar fokus nggak ngelamun-ngelamun lagi, kalo perlu cuci muka sana," ujar Bu Lisa kemudian melanjutkan menjelaskan materi pelajaran.
"Huuuuuu!" seru beberapa teman sekelasnya.
"I-iya, Bu."
Viola menunduk lesu, ia hanya bisa pasrah sesekali ia menatap ke arah teman sekelasnya.
Dari arah luar jendela, ia melihat pangeran tampan yang selalu membantunya di kala sedang susah, sedang berjalan diluar kelas ia sangat malu kalau sampai tahu kalau dirinya sedang dihukum di depan kelas. Vio menutup wajah bagian kirinya, namun usahanya gagal karena Nathan malah masuk ke kelasnya.
'Gila!' umpatnya kesal, menyaksikan Nathan tersenyum memandang Viola melewatinya begitu saja. 'Ngapain sih dia pake masuk ke sini segala pas gue dihukum?'
Nathan terlihat menyampaikan sesuatu pada Bu Lisa, Viola hanya bisa membuang muka tanpa menutup mukanya lagi karena percuma.